ilustrasi


Jalan yang Sangat Menguntungkan bagi Umat Islam

(Dilengkapi Bahasa Jawa di bagian bawah)

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

نّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Allahu Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri yang berbahagia,

Pertama-tama, kami berwasiat kepada diri sendiri, kemudian kepada para jama’ah, hendaklah kita tetap bertakwa kepada Allah Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada kita dîn (agama) yang mulia ini, yaitu al-Islam. Allah telah menyempurnakan dan ridha Islam menjadi agama kita, dan sungguh, Allah Ta’ala telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (Qs al-Mâidah/5:3).

Pada hari yang berbahagia ini, kaum Muslimin di seluruh pelosok dunia, hingga pojok-pojok kota-kota, bahkan sampai ke pelosok desa dan gunung-gunung, semua membesarkan asma AllahTa’ala, mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. Kita dengar, lantunan kalimat ini menggetarkan angkasa dan merasuk ke dalam hati kita. Subhanallah, kaum Muslimin seluruhnya melantunkan syukur atas kenikmatan yang dianugerahkan Allah Ta’ala, setelah sebelumnya melaksanakan ibadah di bulan yang dimuliakan, yaitu ibadah di bulan Ramadhan. Kemenangan ini, insya Allah kita raih, yang tidak lain dengan meningkatkan takwa dan amal shalih. Dan jadilah diri kita sebagai insan yang benar dalam keimanan. Maka, hendaklah kita jlan  bersyukur, karena Allah Ta’ala telah memberikan hidayah kepada kita berupa akidah yang benar, sementara itu masih banyak orang yang tidak mendapatkannya.

Kaum Muslimin yang kami hormati. Allah Ta’ala telah memberikan keni’matan yang paling puncak yakni ni’mat iman dan Islam, yang dengan meyakini dan melaksanakan iman dan Islam itu ikhlas untuk Allah, maka akan Allah masukkan ke surga. Kenapa hal itu merupakan kenikmatan puncak? Karena tidak ada bagian surga sama sekali bagi orang selain Islam.

Allahu akbar. Berarti, nikmat Iman dan Islam adalah nikmat khusus. Kekhususan itupun disertai dengan kekhususan-kekhususan yang telah Allah gariskan. Hari raya Islam khusus cara Islam. Puasa Islam khusus cara Islam, walau disebut bahwa orang-orang sebelumnya pun diwajibkan puasa. Di antara pembedaannya, puasa Islam adalah pakai sahur, dan disebut ada keberkahannya.

Yang telah dikhususkan itu jangan sampai kemudian dicampur aduk dengan yang lain. Islam yang telah dikhususkan aturan-aturannya itupun tidak boleh dicampur aduk dengan lainnya. Bahkan sampai dalam hal berpakaian pun dikhususkan. Pakaian muslimah tidak sama dengan pakaian kafirin. Pakaian muslimah harus menutup aurat, yang istilahnya memang sudah dikenal dengan pakaian muslimah.

Ketika Islam ini segalanya telah dikhususkan, dan itu merupakan keistimewaan, hingga Islam itu ya’luu walaa yu’laa, unggul dan tidak diungguli, maka meniru-niru hal-hal yang dari non Islam pun dilarang, bila hal itu merupakan ciri khas apalagi syiar kekufuran. Bahkan diancam oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa yang menyerupai  dengan suatu kaum maka dia termasuk (golongan) mereka.

Gaya hidup Muslim memang harus beda dengan non Islam. Sampai-sampai, minum atau makan pakai tangan kiripun dilarang dalam Islam, karena itu cara makan dan minumnya syetan. Sedang syetan adalah musuh yang nyata.

Hanya cara makan dan minum saja dilarang meniru cara syetan, apalagi mengenai hal-hal yang sifatnya mengandung keyakinan ataupun ibadah. Oleh karena itu, hari raya kekufuran pun dilarang didatangi. Dilarang pula mengucapi selamat. Karena mendatangi ataupun mengucapkan selamat mengandung makna mengakui benarnya ataupun bolehnya. Sedangkan agama yang tidak dibenarkan oleh Allah Ta’ala, tidak boleh dibenarkan oleh Muslim.

 Selain menjauhi apapun yang bersifat kekafiran, Ibadah Ramadhan dan bahkan Islam itu sendiri menuntut umat ini untuk taat menepati syariat Islam. Baik itu aqidah keimanan, ibadah, hukum-hukumnya, mu’amalah pergaulan sesama manusia, maupun untuk prilaku akhlaq setiap Muslim. Tuntutan itu bukan menjadikan umat Islam yang taat menganggap dirinya diambruki beban berat, namun sebaliknya justru berupaya melaksanakannya dengan beromba-lomba. Sehingga, para sahabat Nabi saw mengajukan untuk ditunjuki oleh Nabi saw agar bisa berlomba dengan orang-orang kaya yang berkemampuan untuk banyak bersedekah dan berbuat kebaikan. Dalam hadits dijelaskan:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershodaqaoh? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh “. Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”.  (HR. Muslim no. 2376)

:: PENJELASAN DAN FAEDAH HADITS ::

Para Shahabat Bersemangat Dalam Melakukan Kebaikan

Kita dapat melihat dalam hadits ini bahwa para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’insangat bersemangat dalam melakukan kebaikan dan saling berlomba-lomba dalam melakukan amal kebaikan dan amal sholih. Setiap di antara mereka ingin mendapatkan sebagaimana yang didapati oleh yang lainnya.

Dalam hadits ini terlihat bahwa shahabat-shahabat yang miskin mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengadukan kepada beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai orang-orang kaya yang sering membawa banyak pahala karena sering bersedekah dengan kelebihan harta mereka. Namun, pengaduan mereka ini bukanlah hasad (iri) dan bukanlah menentang takdir Allah. Akan tetapi, maksud mereka adalah untuk bisa mengetahui amalan yang bisa menyamai perbuatan orang-orang kaya. Shahabat-shahabat yang miskin ingin agar amalan mereka bisa menyamai orang kaya yaitu dalam hal sedekah walaupun mereka tidak memiliki harta. Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan mereka solusi bahwa bacaan dzikir, amar ma’ruf nahi mungkar, dan berhubungan mesra dengan istri bisa menjadi sedekah. /rumaysho.com

***

Kenyataan di sebagian masyarakat Islam.

  • Rumah bukan diisi dengan mengaji Al-qur’an, berbuat kebikan-kebaikan, tetapi hampir setiap saat nyetel tv, alat2 canggih dsb yang mlalaikan. Berapa persen utk mengaji al-qur’an, mengabdikan diri kpd Allah.
  • Berbalikan dg sahabat Nabi saw yg ingin pahala banyak. Diri suami isteri dan anak2 belum tentu diarahkan ke persiapan bekal akherat.

 Padahal kalau ketaatan dibangun untuk meraih bekal akherat, maka kemudahan pun telah ditunjukkan dalam Islam. Di antaranya:

Ketika seorang Muslim membaca Al-Qur’an, satu huruf al-Qur’an yang kita baca, nilainya 10 kebaikan. Sedang alif laam mim, bukan hanya satu huruf tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf, jadi 3 huruf, maka 30 kebaikan.

Dalam hadits, Nabis sahallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ عليه أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ { ألم } حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ عشر وَلَامٌ عشر وَمِيمٌ عشر فتلك ثَلاثُونَ .( صحيح ) انظر حديث رقم : 1164 في صحيح الجامع .

Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya kamu sekalian diberi pahala atasnya, adapun aku tidak mengatakan “alif laam miim” itu satu huruf, tetapi alif itu sepuluh, lam itu sepuluh, dan mim itu sepuluh, maka itu 30. (hadits dari Ibnu Mas’ud, Shahih nomor 1164 dalam Shahih al-Jami’).

Padahal, berapa jumlah huruf dalam Al-Qur’an? Ya, jumlahnya sebgaimana dikatakan Ibnu Kastir : “Para ulama sepakat bahwa jumlah huruf dalam Al-Qur’an berjumlah 370.170 huruf”.

Pertanyaannya, berapa pahala yang diperoleh seorang muslim, ketika ia berhasil membaca seluruhnya di bulan penuh berkah ini dan berapa lipatan pahalanya?

Jalan yang sangat menguntungkan bagi Umat Islam itu, apakah sudah kita tempuh sebaik-baiknya?

Jalan baik yang sangat menguntungkan itu telah dijalani dan ditempuh oleh orang-orang shalih, bahkan pendahulu kita di sini dan di berbagai tempat dengan dipadukan dengan waktu yang diberkahi, misalnya menunggu shalat ke waktu shalat berikutnya. Contohnya, ba’da maghrib masih tetap duduk di masjid untuk menunggu waktu shalat Isya’ berjamaah. Itu ada keutamaan yang istimewa pula.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَلَسَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ

“Barangsiapa duduk di masjid dalam rangka menunggu shalat maka dia terhitung dalam keadaan shalat.” HR. an-Nasa’i dan Ahmad dengan sanad hasan dari sahabat Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat-derajat? Para sahabat menjawab, ‘Tentu wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat (yang berikutnya) setelah melakukan shalat, itu adalah ribath. HR Muslim.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ وَلَا تَزَالُ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا كَانَ فِي مَسْجِدٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ (مسند أحمد ٧٢٩٦)

dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Salah seorang dari kalian akan tetap dihitung shalat selama ia menunggu datangnya shalat berikutnya, dan para malaikat akan senantiasa bershalawat kepada salah seorang dari kalian selama ia berada di masjid, mereka berdoa; ‘Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah sayangilah dia.‘” ) Musnad Ahmad 7296(

Oleh karena itu beruntunglah orang-orang yang tetap berada di masjid setelah maghrib hingga shalat ‘Isya’ berjamaah. Mereka berdzikir, atau membaca al-qur’an, berdoa dan sebagainya. Mereka senantiasa dihitung masih shalat, dan didoakan oleh malaikat dimintakan ampun kepada Allah Ta’ala.

Kemudahan seperti itu mungkin di antara kaum wanita akan bertanya-tanya: ya, itu mungkin mudah bagi lelaki. Bagaimana pula bagi wanita.

Pertanyaan itu un sebenarnya ada jawabannya, di antaranya ini;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jalan-jalan mudah untuk meraih kebaikan telah ditunjukkan. Bahkan ramadhan itu sendiri banyak hal yang memudahkan Umat Islam untuk meraih kebaikan, hingga menjadi orang yang bertaqwa.

MA’ASYIRAL MUSLIMIN JAMA’AH ‘IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH!!!

Ramadhan yang tidak pernah absen dari tahun-ketahun, yang telah kita jalani sampai saat ini seharusnya telah mengantarkan kita menjadi pribadi-pribadi yang muttaqin, sehingga semua yang menjadi karekteristik al muttaqin telah ada pada diri-diri kita, karakteristik yang mulia seperti yang dijelaskan dalam banyak ayat-Nya. Di antaranya Allah subhanahu wata’ala berfirman,

اَّلذِينَ يُنْفِقُُونَ فِى السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَاْلكَاظِمِينَ اْلَغَيْظَ وَاْلعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِينَ. وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوااللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” (QS. Ali’Imran: 135)

MA’ASYIRAL MUSLIMIN JAMA’AH ‘IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH!!!

Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa di antara karakteristik mereka (al-Muttaqun) adalah:

  • mampu menginfakkan/menyedekahkan sebagian hartanya di jalan Allah baik dalam keadaan lapang (kaya, senang atau sehat) maupun dalam keadaan sempit (miskin, susah atau sakit). Kalau mayoritas masyarakat kita memiliki sifat seperti ini tentu ini akan menjadi kontribusi yang cukup besar dalam mengentaskan dan mengikis habis atau setidaknya meminimalisir tindakan pelaku-pelaku kemaksiatan yang pada umumnya selalu berdalihkan himpitan ekonomi di balik perbuatan mereka. Karena berarti ‘pintu’ yang mereka jadikan sebagai dalih di balik kejahatan yang mereka kerjakan telah ditutup dengan memberdayakan harta shadaqah yang dikeluarkan oleh almuttaqin tersebut. yang pada akhirnya dapat menjadi peredam kemurkaan dan adzab-Nya.
  • mampu meredam emosi dan amarah. Tidak kita ragukan lagi bahwa sederatan kemaksiatan dan tindakan kriminalitas terjadi karena tidak mampunya para pelaku dalam mengendalikan emosinya dan menahan syahwatnya. Tentunya dengan buah dari puasa Ramadhaninilah seharusnya kita semakin dapat mengendalikan dan meredakan emosi dan amarah tatkala ia bergejolak dan menahan hawa nafsu manakala ia mengajak kita ke jalan-jalan maksiat. Sehingga bencana-bencana yang merupakan jelmaan dari kemaha dasyatan murka Allah pun dapat diredakan dan tidak datang menimpa kita kembali.
  • mampu memaafkan kesalahan orang lain. sifat ini juga bisa menjadi salah satu faktor semakin berkurangnya kemaksiatan. Betapa tidak, karena kemaksiatan dan kejahatan tidak jarang terjadi karena permusuhan dan tidak saling memaafkan di antara mereka, atau masih terdapatnya di dalam diri mereka sifat dendam yang berakhir dengan saling menganiaya, saling membunuh dan lain sebagainya. Maka kasus-kasus ini dapat diatasi ketika manusia telah tumbuh dalam dirinya sifat pemaaf. Dan akhirnya dapat meredam kemurkaan-Nya.
  • segera meminta ampun dan bertaubat kepada Allah atas dosa-dosa yang telah diperbuat baik dari dosa kecil maupun besar, dan memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan-perbuatan dosa itu lagi.

MA’ASYIRAL MUSLIMIN JAMA’AH ‘IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH!!!

Buah Ramadhan bukan hanya mampu meredam murka Allah subhanahu wata’ala tapi juga dapat mendatangkan keberkahan untuk negri kita ini jika buah tersebut betul-betul telah dimililiki dan diraih oleh semua penduduk negri ini, sebagaimana janji Allah subhanahu wata’ala,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ اْلقُرَى آمَنُوا وَاتَّقََوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرٍضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-‘Araf: 96)

MA’ASYIRAL MUSLIMIN JAMA’AH ‘IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH!!!

Demikian, mudah-mudahan khutbah Idul fithri yang singkat ini dapat menggugah hati kita dan membuat kita semakin semangat untuk memperbaiki serta meningkatkan amal sholeh kita sehingga dapat menjadi peredam murka dan sekaligus pembawa berkah ilahi dan semoga semua ibadah yang kita lakukan di bulan ramadhan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala.(Muhammad Ruliyandi Abu Nabiel)/ Selasa, 09 Oktober 07

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri yang berbahagia,

Sebelum mengakhiri khutbah ini, kami ingin memberikan nasihat kepada kaum wanita, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat kepada para wanita.

Hendaklah kaum wanita bertakwa kepada Allah Ta’ala pada urusan wanita itu sendiri. Hendaklah kaum wanita menjaga aturan-aturan Allah, memelihara hak-hak para suami dan anak-anaknya.

Ingatlah! Wanita shalihah itu, ialah wanita yang taat dan menjaga apa yang harus dijaganya saat suami tidak ada. Seorang wanita jangan silau dan terpedaya dengan perilaku sebagian wanita yang senang keluar rumah (misal ke pasar, atau ke tempat lainnya) dengan dandanan norak, bau semerbak menusuk hidung, pamer kecantikan, atau dengan mengenakan pakaian tipis transparan.

Ingatlah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا (وَذَكَرَ) وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا

Ada dua kelompok penduduk neraka yang belum pernah aku lihat (lalu beliau n menyebutkan) wanita berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan lenggak-lenggok, kepala mereka bagaikan leher unta meliuk-liuk. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan aroma surga(H.R. Muslim).

Sehingga, jika seorang wanita terpaksa harus pergi ke pasar, maka berjalanlah dengan tenang, jangan berdesakan dengan kaum lelaki, jangan bersuara keras, dan jangan pula mengenakan pakaian yang dibenci pada anakmu, dan begitu pula jangan meniru pakaian kaum lelaki. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang meniru kaum laki-laki, dan jlan  kaum laki-laki yang meniru gaya kaum perempuan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kaum wanita,

رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ ِلأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

Aku melihat kebanyakan penghuni neraka itu adalah kalian. Kalian sering melaknat dan kufur terhadap suami. (H.R. al Bukhari Muslim).

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ   اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ

الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ,

يَامَنَّانُ يَابَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا ذَاالْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

أَنْ تَمُنَّ عَلَيْنَا بِمَحَبَّتِكَ وَالإِخْلاَصِ لَكَ

وَمَحَبَّةِ رَسُوْلِكَ وَالاِتِّبَاعِ لَهُ

وَمَحَبَّةِ شَرْعِكَ وَالتَّمَسُّكِ بِهِ

اللَّهُمَّ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ ,

يَامُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ  أَمْرِنَا

وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا

وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنُا

وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلّ خَيْرٍ

وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ؛ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ ؛ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّك وَعَدُوِّهِمْ ؛ وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ ؛ وَأَخْرِجْهُمْ مِنْ الظُّلُمَاتِ إلَى النُّورِ ؛ وَجَنِّبْهُمْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ؛ وَبَارِكْ لَهُمْ فِي أَسْمَاعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ مَا أَبْقَيْتهمْ . وَاجْعَلْهُمْ شَاكِرِينَ لِنِعَمِك مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْك ؛ قَابِلِيهَا وَأَتْمِمْهَا عَلَيْهِمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ . اللَّهُمَّ اُنْصُرْ كِتَابَك وَدِينَك وَعِبَادَك الْمُؤْمِنِينَ ؛ وَأَظْهِرْ الْهُدَى وَدِينَ الْحَقِّ الَّذِي بَعَثْت بِهِ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ . اللَّهُمَّ عَذِّبْ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِك وَيُبَدِّلُونَ دِينَك وَيُعَادُونَ الْمُؤْمِنِينَ . اللَّهُمَّ خَالِفْ كَلِمَتَهُمْ وَشَتِّتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ؛ وَاجْعَلْ تَدْمِيرَهُمْ فِي تَدْبِيرِهِمْ ؛ وَأَدِرْ عَلَيْهِمْ دَائِرَةَ السَّوْءِ . اللَّهُمَّ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَك الَّذِي لَا يُرَدُّ عَنْ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ . اللَّهُمَّ مُجْرِيَ السَّحَابِ وَمُنْزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ . رَبَّنَا أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا . وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تَمْكُرْ عَلَيْنَا ؛ وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الْهُدَى لَنَا ؛ وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا . رَبَّنَا اجْعَلْنَا لَك شَاكِرِينَ مُطَاوِعِينَ مُخْبِتِينَ ؛ أَوَّاهِينَ مُنِيبِينَ . رَبَّنَا تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا ؛ وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا ؛ وَاهْدِ قُلُوبَنَا ؛ وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا وَاسْلُلْ سَخَائِمَ صُدُورِنَا } . وَهَذَا رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ بِلَفْظِ إفْرَادٍ وَصَحَّحَهُ -مجموع الفتاوى – (ج 28 / ص 46)

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَأَعِدْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ هَذَا الْيَوْمِ

وَأَعِدْ أَمْثَالَهُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَمَتَّعُ بِاْلإِيْمَانِ وَالأَمْنِ وَالْعَافِيَةِ

(Bagian awal dan akhir diambil dari kumpulan khutbah Majalah As-Sunnah berjudul Meraih Kemenangan dengan Ketaatan yang dipublikasi ulang oleh salafiyunpad).

(nahimunkar.com)

***

Khutbah Idul Fithri: Dalan sing Nguntungke Banget kanggo Umat Islam

 (Bahasa Jawa)

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

نّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Allahu Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Jama’ah sholat ‘Idul-Fithri ingkang berbahagia, Kaping sepindah, kula berwasiat dhateng badan piyambak, lajeng dhateng para jama’ah, monggo kita sedaya tetap bertakwa dhateng Allah Ta’ala lan  bersyukur dhateng-Allah Ta’ala amargi nikmat ingkang sampun dianugerahaken dhateng kita sedaya. Allah Ta’ala sampun menganugerahaken dhateng kita sedaya dîn (agami) ingkang mulia niki, yaiku al-Islam. Allah sampun menyempurnakan lan  ridha Islam dados agami kita sedaya, lan  saestu, Allah Ta’ala sampun menyempurnakan nikmat-Nya dhateng kita sedaya.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Ing dina iki wis Kusempurnakan kanggo sira agamamu lan wis aku-cukupake marang sira nikmat-Ku, lan wis Aku-ridhai Islam kuwi dadi agamamu (Qs al-Midah/5:3) 

ing dinten ingkang berbahagia niki, kaum Muslimin ing sedaya pelosok donya, ngantos pojok-pojok kitha-kitha, bahkan ngantos datheng pelosok dhusun lan  redi-redi, sedaya ngagengaken asma Allah Ta’ala, mengumandangkan takbir, tahlil lan  tahmid. kita sedaya mireng, lantunan ukara niki menggetarkan angkasa lan  merasuk mlebet manah kita sedaya.

Subhanallah,kaum Muslimin sedayanipun melantunkan syukur amargi kenikmatan ingkang dianugerahkan Allah Ta’ala, saksampune saderengipun nglampahi ibadah ing wulan ingkang dimuliakan, yaiku ibadah ing wulan Ramadhan.

Kemenangan niki, insya Allah kita sedaya raih, ingkang mboten benten kaliyan ningkataken takwa lan  amal shalih. lan  dadosa badan kita sedaya dados insan ingkang leres lebet keimanan kita. mila, monggo kita sedaya ugi bersyukur, amargi Allah Ta’ala sampun nyukakaken hidayah dhateng kita sedaya berupa akidah keyakinan ingkang leres, sementara punika taksih kathah tiyang ingkang mboten angsal hidayah keyakinan ingkang leres menika.

Kaum Muslimin ingkang kami hormati. Allah Ta’ala sampun nyukakaken keni’matan ingkang paling puncak yakni ni’mat iman lan  Islam, ingkang kaliyan mitadosi lan  nglampahi iman lan Islam punika ikhlas dhumateng Allah, mila badhe Allah lebetaken datheng swargo. Sebab punapa hal punika ngrupikaken kenikmatan puncak? amargi mboten enten ingkang mlebet swargo babar blas kajawi tiyang Islam.

Allahu akbar. artosipun , nikmat iman lan  Islam menika nikmat khusus. Kekhususan punika dipun iringi kaliyan kekhususan-kekhususan ingkang sampun Allah garisaken. Hari raya Islam khusus cara Islam. siyam Islam khusus cara Islam, walau disebut menawi tiyang-tiyang saderengipun ugi dipun wajibaken siyam. ing antawis pambedanipun, siyam Islam yaiku ngangge sahur, lan  disebut wonten keberkahanipun.

ingkang sampun dikhususaken punika ampun ngantos lajeng dicampur aduk kaliyan ingkang sanesipun. Islam ingkang sampun dikhususkan tatanan-tatananipun punika mboten angsal dicampur aduk kaliyan sanesipun. Bahkan ngantos bab rasukan utawi pakaian ugi dikhususkan. rasukan muslimah mboten sami kaliyan rasukan kafirin. rasukan muslimah kedah menutup aurat, ingkang istilahipun pancen sampun dipun kenal sebutanipun pakaian muslimah.

nalika Islam niki samukawisipun sampun dikhususkan, lan  punika ngrupikaken keistimewaan, ngantos Islam punika ya’luu walaa yu’laa, linangkung unggul lan  mboten dipun ungguli, mila meniru niru hal-hal ingkang saking non Islam ugi dipun awisi, dilarang, menawi hal punika ngrupikaken ciri khas apalagi syiar kekufuran. Bahkan diancam dening Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sinten ingkang nyami rupeni kaliyan mukawis kaum (selain Islm), mila piyambakipun klebet (golongane) mereka. Cara hidup Muslim pancen kedah beda kaliyan non Islam. ngantos-ngantos, ngunjuk utawi nedha ngangge tangan kiwaa dipun awisi dening Islam, amargi punika cara nedha lan  minumipun syetan. saweg syetan yaiku mungsuh ingkang tenan-tenan musuh.

Namung cara nedha lan  minum kemawon dipun awisi niru cara syetan, apalagi ngengingi hal-hal ingkang sifate ngandung keyakinan utawia ibadah. Sareh dene punika, riyaya kekufuran ugi kita dipun awisi ndhatengi. Dipun awisi ugi mengucapi wilujeng. amargi ndhatengi utawia mengucapkan wilujeng ngandung makna ngakeni leresipun utawia angsalipun. padahal agami ingkang mboten dipun leresaken dening Allah Ta’ala, mboten angsal dipun leresaken dening Muslim.

kajaba ngadohi apa sing bersifat kekafiran, Ibadah Ramadhan lan bahkan Islam kuwi dhewe menuntut umat iki kanggo taat menepati syariat Islam. becik kuwi aqidah keimanan, ibadah, hukum-hukume, mu’amalah pergaulan sepadha manusia, lan uga bab akhlaq saben Muslim. Tuntutan kuwi ora ndadekake umat Islam sing taat nganggep awake diambruki beban abot, ning sawalike justru berupaya karo beromba-lomba. Contone, para sahabat Nabi saw ngajokake kanggo ditunjuki saka Nabi saw ben bisa berlomba karo wong-wong sugih sing mampu kanggo akeh bersedekah lan nggawe kebecikan. ing hadits dijelasake:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershodaqaoh? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh “. Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”.  (HR. Muslim no. 2376)

saka Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dheweke kandha, “sayekti sabagian saka para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kandha marang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, wong-wong sugih luwih akeh oleh ganjaran, dekne kabeh nindakake sholat padha karo kami sholat, dekne kabeh pasa padha karo kami pasa, lan dekne kabeh bershodaqoh kanthi kaluwihan bandane dekne kabeh”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah Allah wis dadekake kanggo kowe samubarang kanggo bershodaqaoh? sayekti saben-saben tasbih iku shodaqoh, saben-saben tahmid yaiku shodaqoh, saben-saben tahlil yaiku shodaqoh, ngongkon marang kebecikan yaiku shodaqoh, mencegah kemungkaran yaiku shodaqoh lan persetubuhan salah sawijine wong  neng antara kowe (karo bojone) yaiku shodaqoh“. dekne kabeh pitakon, “ Wahai Rasulullah, apa (nek) salah sawijine wong  neng antara kami nylurake syahwate, dheweke oleh ganjaran?” Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam njawab, “sira kabeh ngerti ta, yen seseorang nyalurake syahwate nyang sing haram, dheweke berdosa. mangkana uga nek dheweke nyalurake syahwate kuwi nyang sing halal, dheweke oleh ganjaran”.(HR. Muslim no. 2376) 

penjelasan HADITS ::

Para Shahabat saguh lan siap ingndalem nglakokake kebecikan. awake dhewe bisa ndeleng ingndalem hadits iki menawa para shahabat radhiyallahu‘anhum ajma’in sangat sanggup nglakokake kebecikan lan padha berlomba-lomba nglakokake amal kebecikan lan amal sholih. saben neng antara dekne kabeh pengen bisa padha karo sing dibisani wong liyane.

ingndalem hadits iki kedelok menawa shahabat-shahabat sing miskin nekani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. dekne kabeh taken marang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ngenani wong-wong sugih sing kerep nggawa akeh ganjaran amarga kerep bersedekah. ning, panggugatane dekne kabeh iki dudu hasad (iri drengki) lan dudu nggugat takdire Allah. ning, pangarahe dekne kabeh yaiku kanggo bisa meruhi amalan sing bisa madhani panggawene wong-wong sugih. Shahabat-shahabat sing miskin pengen ben amalane dekne kabeh bisa madhani wong sugih yaiku ingndalem hal sedekah senajan dekne kabeh ora nduweni banda. akhire, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menehi dekne kabeh dalan yen sejatine wacan dzikir, amar ma’ruf nahi mungkar, lan hubungan mesra karo bojone dewe-dewe iku bisa dadi sedekah. /rumayshocom

kenyataan ing sebagian masyarakat Islam. 

omah ora diisi karo ngaji Al-quran lan kebaikan-kebecikan, ning hampir saben wektu nyetel tv, alat2 canggih dsb sing melalaikan nglalekake, ora eling nyang Allah Ta’ala. pirang persen sing kanggo ngaji al-quran nyedhakake awak marang Allah.

Berbalikan karo sahabat Nabi saw sing pengen pahala akeh. Awake dhewe siki, bojo isteri lan anak2 durung tentu diarahke menyang siap2 bekal akherat.
Padahal yen ketaatan ditindakake kanggo meraih bekal akherat, mula kegampangan kemudahan pun wis ditunjukake ingndalem Islam. ing antarane:

Nalika wong Muslim maca Al-Quran sak huruf wae, ajine 10 kebecikan. kamongko alif laam mim, iku dudu mung siji aksara ning alif siji aksara, lam siji aksara, lan mim siji aksara, dadi 3 aksara, mula 30 kebecikan.
ono ing hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ عليه أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ { ألم } حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ عشر وَلَامٌ عشر وَمِيمٌ عشر فتلك ثَلاثُونَ .( صحيح ) انظر حديث رقم : 1164 في صحيح الجامع .

Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya kamu sekalian diberi pahala atasnya, adapun aku tidak mengatakan “alif laam miim” itu satu huruf, tetapi alif itu sepuluh, lam itu sepuluh, dan mim itu sepuluh, maka itu 30. (hadits dari Ibnu Mas’ud, Shahih nomor 1164 dalam Shahih al-Jami’).

wacanen Al-Quran amarga sayekti kowe sisan diwenehi pahala , ana dene aku ora ngandhaake “alif laam miim” kuwi siji aksara, ning alif kuwi sepuluh, lam kuwi sepuluh, lan mim kuwi sepuluh, mula kuwi 30. (hadits saka Ibnu Mas’ud, Shahih nomor 1164 ing Shahih al-jami’).

Padahal, pira cacahe aksara ingjero Al-Quran. ya, cacahe sebagaimana diaturake Ibnu Kastir : “Para ulama sepakat yen cacah aksarane Al-Quran jumlahe 370.170 aksara”.

pitakonane, pira ganjaran sing dipekoleh sawijine wong  muslim, pas dheweke kedadeyan maca kabehe nganti khatam Qur’an neng bulan Ramadhan sing kebak berkah  lan pira lipet tikele ganjarane?

Dalan sing menguntungkan banget kanggo Umat Islam kuwi, apa wis awake dhewe tempuh sabecik-becike?
dalan becik sing menguntungkan banget kuwi wis didalani lan ditempuh dening wong-wong shalih, bahkan pandhisik pendahulu awake dhewe neng kene lan neng macem-macem panggon karo dipadukan karo wayah sing diberkahi, kaya ta nunggu sholat menyang wayah sholat berikutnya. conthone, ba’da maghrib isih tetep lungguh ing masjid kanggo nunggu wayah sholat Isya’ berjamaah. kuwi ana kautaman sing istimewa uga.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَلَسَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ

“Barangsiapa duduk di masjid dalam rangka menunggu shalat maka dia terhitung dalam keadaan shalat.” HR. an-Nasa’i dan Ahmad dengan sanad hasan dari sahabat Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu.

“Sapa wonge linggih neng masjid  saperlu nunggu sholat mula dheweke kaetung ingjerone kahanan sholat.” HR. an-Nasai lan Ahmad karo sanad hasan saka sahabat Sahl bin Sa’d as-Saidi radhiyallahu ‘anhu.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Maukah kowe kabeh aku tunjukake babagan samubarang sing karone Allah mbusak dosa-dosa lan ningkatake derajat-derajat? Para sahabat njawab,‘Tentu wahai Rasulullah.’ Piyambakipun ngendika, ‘Menyempurnakan wudhu ing nalika kahanan sing ora disenengi, ngakehake jangkah menuju masjid, lan nunggu sholat sakwise sholat, kuwi yaiku ribath.” HR Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ وَلَا تَزَالُ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا كَانَ فِي مَسْجِدٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ (مسند أحمد ٧٢٩٦)

dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Salah seorang dari kalian akan tetap dihitung shalat selama ia menunggu datangnya shalat berikutnya, dan para malaikat akan senantiasa bershalawat kepada salah seorang dari kalian selama ia berada di masjid, mereka berdoa; ‘Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah sayangilah dia.'” ) Musnad Ahmad 7296(

saka Abu Hurairah, dheweke kandha; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “salah sawijine wong  saka kowe arep tetap dietung sholat sajrone dheweke nunggu tekane sholat berikutnya, lan para malaikat arep senantiasa bershalawat marang salah sawijine wong  saka kowe sajrone dheweke ana ing masjid,  malaikat berdoa; ‘ya Allah apuranen dheweke, ya Allah rahmati dheweke.'” ) Musnad Ahmad 7296(

sareh dene kuwi beruntunglah wong-wong sing tetep ana ing masjid setelah maghrib nganti sholat ‘Isya’ berjamaah. Mereka berdzikir, utawa maca al-quran berdoa lan sakpadhane. dekne kabeh senantiasa dietung isih sholat, lan didoakan dening malaikat dijalukake apura marang Allah Ta’ala.

kegampangan kemudahan mangkono mbok menawa neng antarane kaum wadon arep pitakon-takon: ya, kuwi bokmenawa gampang kanggo wong lanang. kepriye uga kanggo wadon.

pitakonan kuwi pun sabenere ana jawabane, neng antarane iki;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalan-dalan  gampang kanggo meraih kebecikan wis ditunjukake. Bahkan Ramadhan kuwi dhewe akeh hal sing njalari Umat Islam kanggo meraih kebecikan, nganti menjadi wong sing bertaqwa.

MA’ASYIRAL MUSLIMIN JAMA’AH ‘IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH!!! 
Ramadhan sing ora tau absen saka taun-ketaun, sing wis awake dhewe dalani nganti wektu iki sakudune wis ngiringaken awake dhewe dadi pribadi-pribadi sing muttaqin, dadine kabeh sing dadi karekteristik al muttaqin wis ana ing awak- awake dhewe, karakteristik sing mulia kaya sing dijelasake ono ing akeh ayat-Nya. ing antarane Allah subhanahu wata’ala berfirman,

اَّلذِينَ يُنْفِقُونَ فِى السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَاْلكَاظِمِينَ اْلَغَيْظَ وَاْلعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِينَ. وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوااللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” (QS. Ali’Imran: 135)

MA’ASYIRAL MUSLIMIN JAMA’AH ‘IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH!!! 

Ing ayat iki Allah nyebutake menawa ing antarane watake dekne kabeh (al-Muttaqun) yaiku:
bisa nginfakake/menyedekahkan sabagian bandane ing dalane Allah, becik nalika lapang (sugih, seneng utawa waras) arepa nalika kahanan sumpek ciut (miskin, mlarat utawa lara). yen mayoritas masyarakat awake dhewe nduweni sifat mangkene tentu iki arep dadi sumbangan sing cukup gedhe ingndalem ngentasake lan mengikis nganti entek utawa saorane ngurangi lakon kemaksiatan sing umume kanthi alesan himpitan ekonomi. amarga nduwe arti ‘lawang’ sing dekne kabeh dadekake alesan dibalik kejahatan sing dekne kabeh lakoni wis ditutup karo memberdayakan banda shadaqah sing diwetokake saka almuttaqin (wong2 taqwa) kesebut. sing ono ing akhire bisa dadi peredam ghadhabe lan adzab-Nya الله .

bisa meredam emosi lan nepsu. ora awake dhewe ragukan meneh menawa sederetan kemaksiatan lan tindakan kejahatan kedadean amarga ora bisa nyegah pelaku ingndalem ngendhalekake hawanefsune lan syahwate.Tentune karo buah saka pasa Ramadhan iki kudune awake dhewe tambah bisa ngendhalekake lan meredakan emosi lan nepsu tatkala dheweke bergejolak lan nyegah hawa nafsu manakala dheweke ngajak awake dhewe menyang dalan-dalan maksiat. dadine bencana-bencana sing ngrupakake jelmaan saka kemaha dasyatan murka Allah pun bisa diredakan lan ora teka bali menimpa awake dhewe.

bisa ngapurani kaluputane wong liya. Sifat iki uga bisa dadi salah siji faktor tambah ngurangi kemaksiatan.  amarga kemaksiatan lan kejahatan ora arang kedadean amarga mungsuhan lan ora padha ngapura-ingapura neng antara dekne kabeh, utawa isih anane neng jero awake dekne kabeh sifat dendam sing ngrambah karo padha menganiaya, paten-patenan lan liya-liyane dadine. mula kasus-kasus iki bisa diatasi pas manusia wis thukul ing jerone awake sifat pangapura. lan akhire bisa meredam kemurkaane Allah Ta’ala.

cepet njaluk ngapura lan bertaubat marang Allah tumrap dosa-dosa sing wis dilakoni, becik saka dosa cilik nganti arepa dosa gedhe, lan nduweni tekad sing kuwat kanggo ora mbaleni panggawe-panggawe dosa kuwi meneh.

MA’ASYIRAL MUSLIMIN JAMA’AH ‘IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH!!!

Buah Ramadhan bukan hanya mampu meredam murka Allah subhanahu wata’ala tapi juga dapat mendatangkan keberkahan untuk negri kita ini jika buah tersebut betul-betul telah dimililiki dan diraih oleh semua penduduk negri ini, sebagaimana janji Allah subhanahu wata’ala,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ اْلقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرٍضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-‘Araf: 96)

MA’ASYIRAL MUSLIMIN JAMA’AH ‘IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH!!!

makaten, muga-muga khutbah Idul fithri sing singkat iki bisa menggugah ati awake dhewe lan nggawe awake dhewe tambah semangat kanggo ndandani lan ningkatake amal sholeh awake dhewe supaya bisa dadi peredam duko ghadhab lan sisan panggawa berkah ilahi lan muga-muga kabeh ibadah sing awake dhewe lakoni ing wulan ramadhan katampa dening Allah subhanahu wata’ala.

 (Muhammad Ruliyandi Abu Nabiel)/ Selasa, 09 Oktober 07

Jama’ah sholat ‘Idul-Fithri sing berbahagia, sadurunge ngakhiri khutbah iki, kami pengen menehake pituduh marang kaum wadon, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tau menehi pituduh marang para wadon.

supaya kaum wadon bertakwa marang Allah Ta’ala ing urusan wadon kuwi dhewe. supaya kaum wadon njaga aturan-aturane Allah, njaga hak-hak para bojo lan anak-anake.

elinga! wadon shalihah kuwi, dheweke wadon sing taat lan njaga apa sing kudu dijagani wektu bojo ora ana ngomah. sawong wadon aja silau lan terpedaya karo panggawe saweneh wong wadon sing seneng metu omah (misal menyang pasar, utawa menyang panggon liyane) karo dandanan menor menor, ambu semerbak njojoh irung, pamer ayu, utawa karo macak tipis katon kulite.
elinga! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا (وَذَكَرَ) وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا

Ada dua kelompok penduduk neraka yang belum pernah aku lihat (lalu beliau saw menyebutkan) wanita berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan lenggak-lenggok, kepala mereka bagaikan punuk leher unta meliuk-liuk. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan aroma surga(H.R. Muslim).

Sehingga, jika seorang wanita terpaksa harus pergi ke pasar, maka berjalanlah dengan tenang, jangan berdesakan dengan kaum lelaki, jangan bersuara keras, dan jangan pula mengenakan pakaian yang dibenci agamamu, dan begitu pula jangan meniru pakaian kaum lelaki. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang meniru kaum laki-laki, dan  kaum laki-laki yang meniru gaya kaum perempuan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kaum wanita,

رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ ِلأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

Aku melihat kebanyakan penghuni neraka itu adalah kalian. Kalian sering melaknat dan kufur terhadap suami. (H.R. al Bukhari Muslim).

ana loro kelompok para warga neraka sing durung tau aku delok (nuli Nabi saw nyebutake) wong wadon klamben ning wuda, mlaku karo lenggak-lenggok, endhase dekne kabeh koyo punuk unta meliuk-liuk. dekne kabeh ora mlebu swarga lan ora oleh wangine swarga. (H.R. Muslim).

dadine, nek sawong wadon kepeksa kudu lunga menyang pasar, kudune mlakua karo tenang, aja dhesek-dhesekan karo kaum lanang, aja nyuwara leras, lan aja dandan macak sing dibenci dening  agamamu , lan ngono uga aja niru klambine kaum lanang. amarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wadon sing niru kaum la nang, karo kaum lanang sing niru gaya kaum wadon.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ngelingake kaum wadon,

aku ndeleng akeh-akehe penduduk neraka kuwi yaiku sira kabeh (wong wdon). Sira kabeh (wong wadon) kerep melaknat lan kufur (ora trimo) marang pawewehe bojo lanang. (H.R. al Bukhari Muslim). 

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ   اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ

الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ,

يَامَنَّانُ يَابَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا ذَاالْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

أَنْ تَمُنَّ عَلَيْنَا بِمَحَبَّتِكَ وَالإِخْلاَصِ لَكَ

وَمَحَبَّةِ رَسُوْلِكَ وَالاِتِّبَاعِ لَهُ

وَمَحَبَّةِ شَرْعِكَ وَالتَّمَسُّكِ بِهِ

اللَّهُمَّ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ ,

يَامُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ  أَمْرِنَا

وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا

وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنُا

وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلّ خَيْرٍ

وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ؛ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ ؛ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّك وَعَدُوِّهِمْ ؛ وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ ؛ وَأَخْرِجْهُمْ مِنْ الظُّلُمَاتِ إلَى النُّورِ ؛ وَجَنِّبْهُمْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ؛ وَبَارِكْ لَهُمْ فِي أَسْمَاعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ مَا أَبْقَيْتهمْ . وَاجْعَلْهُمْ شَاكِرِينَ لِنِعَمِك مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْك ؛ قَابِلِيهَا وَأَتْمِمْهَا عَلَيْهِمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ . اللَّهُمَّ اُنْصُرْ كِتَابَك وَدِينَك وَعِبَادَك الْمُؤْمِنِينَ ؛ وَأَظْهِرْ الْهُدَى وَدِينَ الْحَقِّ الَّذِي بَعَثْت بِهِ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ . اللَّهُمَّ عَذِّبْ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِك وَيُبَدِّلُونَ دِينَك وَيُعَادُونَ الْمُؤْمِنِينَ . اللَّهُمَّ خَالِفْ كَلِمَتَهُمْ وَشَتِّتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ؛ وَاجْعَلْ تَدْمِيرَهُمْ فِي تَدْبِيرِهِمْ ؛ وَأَدِرْ عَلَيْهِمْ دَائِرَةَ السَّوْءِ . اللَّهُمَّ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَك الَّذِي لَا يُرَدُّ عَنْ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ . اللَّهُمَّ مُجْرِيَ السَّحَابِ وَمُنْزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ . رَبَّنَا أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا . وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تَمْكُرْ عَلَيْنَا ؛ وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الْهُدَى لَنَا ؛ وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا . رَبَّنَا اجْعَلْنَا لَك شَاكِرِينَ مُطَاوِعِينَ مُخْبِتِينَ ؛ أَوَّاهِينَ مُنِيبِينَ . رَبَّنَا تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا ؛ وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا ؛ وَاهْدِ قُلُوبَنَا ؛ وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا وَاسْلُلْ سَخَائِمَ صُدُورِنَا } . وَهَذَا رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ بِلَفْظِ إفْرَادٍ وَصَحَّحَهُ -مجموع الفتاوى – (ج 28 / ص 46)

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَأَعِدْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ هَذَا الْيَوْمِ

وَأَعِدْ أَمْثَالَهُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَمَتَّعُ بِاْلإِيْمَانِ وَالأَمْنِ وَالْعَافِيَةِ

(Bagian awal dan akhir diambil dari kumpulan khutbah Majalah As-Sunnah berjudul Meraih Kemenangan dengan Ketaatan yang dipublikasi ulang oleh salafiyunpad).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 796 kali, 1 untuk hari ini)