Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat



 

Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat

Oleh: Ust.Miftahul Ihsan Lc

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

اَللّهُمّ صَلِّ عَلَى نَبِيّنَا مُحَمّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْيسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي وَإِيّايَ بِتَقْوَى اللهِ, لَقَدْ قَالَ الله تعالى :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿1﴾ ) النساء .

فَإِنَّ خَيْرَ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هُدَي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةَ ٌوَكُلَّ ضَلاَلةٍ فِي النَّارِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿70﴾ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴿71﴾ ) الأحزاب .

اَللّهُ أَكْبَرُ، اَللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اَللّهُ أَكْبَرُ، اَللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Sidang Jamaah Sholat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Kualitas seorang pemimpin akan kelihatan ketika krisis terjadi. Sebagaimana pelaut yang handal tidak lahir dari laut yang tenang, akan tetapi lahir dari ombak yang besar. Oleh karena itu Islam memberikan perhatian terkait kualitas pemimpin.

Hal ini dapat kita lihat ketika membaca hadits berikut ini:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ، وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

 

Artinya, “Dari Ibn umar R.A dari Nabi Shllallahu ‘alaihi wa Sallam sesungguhnya bersabda : Sesungguhnya Rasulullah Shllallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya. Seorang pembantu/pekerja rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya” (HR Muslim)

Kepemimpinan adalah tanggung jawab dan semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada akhirat kelak. Jika seorang muslim mempercayai hari akhir, percaya akan adanya hari berbangkit dan seluruh amalannya akan dipertanggungjawabkan, termasuk kepemimpinan yang dia pegang selama di dunia, maka ketika diamanahi kepemimpinan dia akan bekerja sebaik-baik mungkin. Dia akan menghindari segala hal yang akan memberatkan hisabnya di akhirat.

Adalah Nabi Sulaiman –alaihissalam– salah satu yang Allah jadikan potret sebagai pemimpin besar dalam sejarah manusia.

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Artinya, “Ia (Sulaiman) berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (QS Shad :35)

Dan doa Nabi Sulaiman ini dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Nabi Sulaiman dianugerahi kekuasaan yang besar yang tidak dimiliki oleh manusia setelahnya. Meskipun dengan kekuasaan yang sangat besar, Nabi Sulaiman paham betul akan tanggung jawab akhirat. Tanggung jawab akan kezaliman, tanggung jawab akan kepemimpinan yang Allah berikan.

Kehati-hatian Nabi Sulaiman terhadap kezaliman tergambar dalam cuplikan dialog beliau dengan semut yang diabadikan Al-Quran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

{حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (18) فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ } [النمل: 18، 19]

Artinya, “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. ()maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An-Naml 18-19)

Bahkan kepada sekumpulan semutpun Nabiyullah Sulaiman enggan untuk berbuat zalim dan semena-mena.

Dan kepemimpinan yang Allah berikan kepada Nabi Sulaiman, beliau gunakan untuk berdakwah, menyebarkan dan melindungi agama Allah.

Kita sama-sama tahu bagaimana Nabi Sulaiman menggunakan kekuasaannya untuk menaklukkan kerajaan Balqis yang menyembah matahari. Hal ini karena para pemimpin akan dimintai tanggung jawab tentang kepemimpinan yang Allah anugerahkan kepadanya.

Sidang Jamaah Sholat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Inilah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah pertama. Beliau mengerahkan pasukan untuk menjaga agama Allah dari kelompok murtaddun. Pasca Rasulullah Shllallahu ‘alaihi wa Sallam wafat, banyak dari kabilah-kabilah Arab yang murtad. Ada yang murtad karena enggan menunaikan zakat dan ada
yang mengikut Nabi palsu.

Kalau seandainya bukan karena pertanggungjawaban di hadapan Allah akan kepemimpinannya, mungkin saja Abu Bakar tidak mau bersusah payah untuk menumpas kelompok murtad. Tapi Abu Bakar paham, ketika beban kekhalifahan itu diletakkan di pundaknya, maka ketika itu pula tanggung jawab menjaga agama Allah dengan segala yang dimiliki menjadi tanggung jawabnya.

Inilah potret-potret para pemimpin yang memahami hakikat “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iiyatihi” (Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya).

Sedangkan di sisi lain kita mendapati potret para pemimpin yang tidak mengerti hakikat kepemimpinan, seolah mereka lalai bahwa kepemimpinan mereka akan dimintai pertanggungjawaban akhirat. Sehingga mereka dengan semena-mena melakukan kezaliman, mereka memakan harta kaum muslimin tanpa hak, mereka merusak agama, melakukan berbagai kemudharatan terhadap manusia dan agama.

Fir’aun adalah sosok yang paling sering Allah ceritakan di dalam Al-Quran. Potret kezaliman, kesemena-menaan, menolak wahyu dan melakukan persekongkolan untuk merusak dakwah dan para penyeru kebenaran.

Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang didoakan keburukan oleh Rasulullah Shllallahu ‘alaihi wa Sallam.

Rasulullah Shllallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

وعن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يقُولُ في بيتي هَذَا: اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ رواه مسلم.

Artinya, “Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shllallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda di rumahku ini, “Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku dan mereka menyesengsarakan mereka, maka sengsarakan mereka. Sedangkan barangsiapa yang mengurusi urusan mereka dan berlaku baik kepada mereka, maka rahmatilah mereka.” (HR Muslim)

Kebijakan yang menyengsarakan umat akan berakibat kesengsaraan akhirat, kezaliman di dunia adalah kegelapan di akhirat. Rasulullah Shllallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan barangsiapa yang menzalimi sejengkal tanah di dunia, maka di akhirat kelak dia akan dikalungkan tujuh bumi pada dirinya. Sangat banyak ancaman Allah kepada para pemimpin yang meyengsarakan dan mencurangi rakyatnya. Di antaranya:

1. Menjadi Manusia yang Paling Dibenci oleh Allah Ta’ala

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shllallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)

Allah Menelantarkannya pada Hari Kiamat dan Tidak Mengampuni Dosa-Dosanya

Sebuah riwayat dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah ): Orang (berumur) tua yang berzina, Penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabbur/ sombong.” (HR. Muslim)

2. Akan Dimasukkan ke Dalam Neraka serta Diharamkan Syurga Baginya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا رَاعٍ غَشَّ رَعِيَّتَهُ فَهُوَ فِي النَّارِ

“Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يُحِطْهَا بِنُصْحٍ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ. متفق عليه. وفي لفظ : يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاسِ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam lafadh yang lain disebutkan, “Ialu ia mati dimana ketika matinya itu dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan surga baginya.”

Tentunya masih banyak riwayat lain yang menyebutkan tentang ancaman Allah ta’ala terhadap para pemimpin yang menzalimi rakyatnya. Bentuk ancamannya pun tidak ada yang ringan, hampir seluruhnya mengingatkan akan besarnya dosa seorang pemimpin ketika dia berbuat zalim kepada rakyatnya. Apalagi ketika ia rela berbohong di hadapan rakyat demi mempertahankan jabatannya.

Sidang Jamaah Sholat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Imam An-Nawawi –rahimahullah- adalah contoh ulama yang tegas mengingatkan pemimpin dalam kebijakannya yang menyengsarakan rakyat. Hal ini bermula ketika sultan ketika itu memutuskan untuk memungut pajak kepada rakyat.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa pajak adalah kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Beliau berkata, “”Bahwasanya pajak termasuk sejahat-jahat kemaksiatan dan termasuk dosa yang membinasakan (pelakunya), hal ini lantaran dia akan dituntut oleh manusia dengan tuntutan yang banyak sekali di akhirat nanti.”

 

Padahal pajak yang akan dipungut kepada rakyat ketika itu adalah pajak untuk pembiayaan jihad di jalan Allah. Sultan Zahir Bebras mengumpulkan para ulama Damaskus dan meminta fatwa mereka agar dilegalkan memungut pajak dari rakyat untuk kepentingan jihad di jalan Allah.

Semua ulama ketika itu menyetujuinya kecuali imam Nawawi, Zahir Bebras tidak mendapatkan “tanda tangan” imam An-Nawawi. Lantas dipanggillah imam Nawawi ke istana untuk ditanya alasan penolakannya.

Imam An-Nawawi berkata, “Saya mengetahui bahwa Sultan dahulu adalah hamba sahaya dari Amir Banduqdar, anda tak mempunyai apa–apa. Lalu Allah memberikan kekayaan dan dijadikannya sebagai Raja. Saya dengar sekarang anda juga memiliki seribu orang hamba sahaya. Setiap hamba mempunyai pakaian kebesaran dari emas.”

“Selain itu, anda pun memiliki 200 orang jariah (budak perempuan), setiap jariah mempunyai perhiasan. Apabila anda telah nafkahkan itu semua, dan hamba itu hanya memakai kain wol saja sebagai gantinya, demikian pula para jariah hanya memakai pakaian tanpa perhiasan, maka saya berfatwa boleh memungut biaya dari rakyat.”

Inilah kejelian seorang Imam Nawawi, beliau tidak ingin membiarkan para pemimpin hidup dalam limpahan harta, berfoya-foya dengan berbagai fasilitas, sedangkan di saat yang sama pemimpin-pemimpin tersebut menerapkan pajak dan pungutan-pungutan yang menyengsarakan rakyat, padahal rakyat saat itu sedang dalam kondisi kesusahan, krisis terjadi di mana-mana sebagai dampak perang melawan Tartar.

Keberanian dan ketegasan Imam Nawawi membuat Zahir Bebras murka kemudian mengusir Imam Nawawi dari Damaskus.

Dari sini hendaklah para pemimpin dan orang-orang yang mengurusi urusan umat bertanya kepada diri mereka sendiri. Adakah pungutan-pungutan yang mereka ambil dari rakyat secara hak? Apakah kebijakan-kebijakan yang mereka berlakukan menyengsarakan rakyat? Adakah mereka mempersulit pelayanan-pelayanan umum kepada rakyat? Dan segudang pertanyaan lainnya.

Sidang Jamaah Sholat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Oleh karena itu tidak ada jalan selamat bagi seorang pemimpin dalam kepemimpinannya melainkan mengikuti tuntunan Allah dan RasulNya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Artinya, “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Selama para pemimpin menjalankan perintah Allah yang temaktub di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, yang mana jika mereka berpegang kepada keduanya, maka mereka akan berupaya menghindarkan diri dari hal-hal yang menzalimi rakyat, mereka akan melakukan segala macam upaya untuk tegak dan terjaganya agama Allah. Hal ini karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada pemimpin untuk berlaku adil dan berbuat baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil, berbuat baik dan memberi kepada karib kerabat, melarang perbuatan keji dan mungkar dan tindakan melampaui batas. Agar kalian menjadi orang yang ingat.” (QS AN-Nahl : 90)

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An-Nisa’ : 58)

Jika para pemimpin menjalankan ayat ini dengan sebaik-baiknya, maka pastilah mereka menjadi golongan yang mendapat naungan dan perlindungan Allah di hari kiamat nanti.

===

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

اَللّهُمّ صَلِّ عَلَى نَبِيّنَا مُحَمّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْيسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي وَإِيّايَ بِتَقْوَى اللهِ, لَقَدْ قَالَ الله تعالى :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿1﴾ ) النساء .

اَللّهُ أَكْبَرُ، اَللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اَللّهُ أَكْبَرُ، اَللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ علَىَ عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ. اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الظّالِمِيْنَ.

اَلَّلهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

الَّلهُمَّ ارْزُقْنَا قَبْلَ اْلَمْوتِ تَوْيَةً وَعِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةً وَبَعْدَ الْمَوْتِ رِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ.

اللَّهُمَّ إنّا نعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، والجُنُونِ، والجُذَامِ، وَسَيِّئِ الأسْقَامِ

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِنا شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِنا شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

والحمد لله رب العالمين

kiblat.net, Kamis, 21 Mei 2020 04:00

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 321 kali, 1 untuk hari ini)