Oleh Hartono Ahmad Jaiz

 

Bahasa Jawa di Bagian Bawah

sadranan08

Ilustrasi: suarakomunitas.net

 

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

 

 يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

 

 يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،

 

 أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

 

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah.  Kita hadir di masjid untuk shalat Jum’at ini tentunya ada semangat kebaikan dalam jiwa kita. Semangat mengerjakan kebaikan atau ibadah adalah merupakan anugerah Allah. Seandainya tanpa dianugerahi semangat, maka tentunya tidak ada semangat untuk kebaikan itu. Sehingga kalimat « لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ » dalam hadits Bukhari dan Muslim dinyatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kanzul jannah (simpanan surga). Karena maknanya adalah kepasrahan dan penyerahan diri kepada Allah, bahwa tidak ada daya untuk menolak keburukan dan tidak ada kekuatan untuk mencapai kebaikan kecuali karena Allah.

 

Setelah kita mengakui bahwa adanya semangat untuk melakukan kebaikan itu benar-benar dari Allah Ta’ala, maka kita pun wajib mensyukurinya. Di antara menysukurinya adalah menggunakan semangat kebaikan itu sesuai dengan ukuran yang datangnya dari Allah Ta’ala yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga akan tepat penggunaan semangat itu sesuai dengan aturan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Bila tidak, maka yang terjadi adalah semangat kebaikan itu menghasilkan perbuatan yang kurang pas. Boleh jadi kurang afdhol, tidak utama, dan sebaliknya boleh jadi justru menyimpang, namun dianggap baik oleh pelakunya.

 

Jama’ah jum’ah rahimakumullah. Dalam hadits diriwayatkan:

 

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ ، أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلا تَعُدْرَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

 

Dari Abu Bakrah bahwa dia (masuk masjid) hingga sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang beliau lagi ruku’ maka dia (Abu Bakrah) ruku’ sebelum sampai ke shaf, maka (setelah shalat) disebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: Semoga Allah menambahimu semangat (untuk kebaikan) dan jangan kamu ulangi. (HR Al-Bukhari).

 

At-Thahawi berkata, sabdanya, walaa ta’ud (jangan kamu ulangi) bagi kami mengandung dua makna. Jangan kamu ulangi untuk ruku’ di belakang shaf sehingga kamu berdiri dalam shaf. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu Ta’ala ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang kalian mendatangi shalat maka janganlah ia ruku’ sebelum sampai di shaf sehingga ia menempati shaf. Dan mengandung makna, jangan kamu ulangi untuk jalan cepat-cepat ke shaf dengan jalan cepat yang kamu didorong oleh nafsu di dalamnya. Sebagimana hadits yang datang dari Abu Hurairah radhiyallahu Ta’ala ‘anhu dari Rasulullah, beliau bersabda: Apabila didirikan shalat maka kalian jangan mendatanginya sedangkan kalian berjalan cepat-cepat dan datangilah shalat itu sedang kalian berjalan (biasa saja). Dan hendaklah kamu tenang, maka apa yang kalian jumpai maka shalatlah, dan apa yang luput dari kalian maka sempurnakanlah. (“Umdatul Qari Syarah Shahih Al-Bukhari juz 9 halaman 240).

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Ternyata, sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni Abu Bakrah yang telah bersemangat untuk kebaikan itu masih didoakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Allah tambahi semangat (untuk kebaikan), dan sekaligus dinasihati, agar tidak mengulangi. Yang maknanya adalah sesuatu yang kurang afdhal  (walau) sah pun jangan diulangi, apalagi kalau itu berupa penyimpangan atau pelanggaran yang besar. Dari sinilah perlunya kita sadari, semangat saja, walau semangat itu tinggi dalam hal kebaikan, tidak cukup. Masih perlu diterapkan pada aturan yang sesuai dan tepat.

 

Perlu diketahui, dalam hal ibadah itu sifatnya adalah tauqifi, yakni berhenti di atas dalil (ayat dan hadits yang sah). Tidak bisa kita sebagai muslim yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini melakukan ibadah yang tidak ada dalilnya yang sah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tegaskan:

 

« مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ » .

 

Siapa yang mengerjakan suatu amalan (ibadah) yang tidak berdasarkan atas perintah kami maka dia tertolak. (HR Al-Bukhari dan Muslim) .

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Dengan adanya aturan yang seperti itu, maka semestinya kita berhati-hati dalam beramal. Yakni perlu dilandasi ilmu, yaitu ada atau tidakkah dalilnya yang sah. Walau tidak hafal bunyi lafal dalilnya, yang terpenting sudah mengerti bahwa amal kita itu ada dalilnya yang sah.

 

Setelah kita tahu bahwa yang akan kita amalkan itu ada dalilnya yang sah, maka masih perlu pula mengetahui, benar atau tidak pemahamannya terhadap dalil itu. Walau tidak dituntut hafal lafal tentang pemahaman yang benar mengenai dalil itu. Karena tanpa benar pemahamannya, boleh jadi akan jauh dari kebenaran, dan masih atas nama dalil yang sah itu.

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Di sinilah pentingnya kita Ummat Islam ini menuntut ilmu terutama mengenai kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang menyangkut kehidupan kita di dunia ini. Tanpa menuntut ilmu, dan hanya mengikuti orang banyak, maka telah diancam oleh Allah Ta’ala:

 

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ [الأنعام/116]

 

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS Al-An’am: 116).

 

Lebih dari itu, kalau tidak mau mendengarkan apa-apa yang dibawa oleh Rasul maka penyesalan sangat dahsyat di akherat:

 

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (10) فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ [الملك/6-11]

 

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS Al-Mulk/ 67:10-11).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Apa yang dilakukan oleh banyak orang, dan tampaknya islami, bahkan sering dihiasi dalil, dapat kita temui. Misalnya amaliah dikaitkan dengan apa yang mereka sebut nishfu sya’ban atau pertengahan bulan sya’ban.
Demikian pula adanya gejala ramai-ramai ke kuburan di mana-mana di bulan Sya’ban atau menjelang Puasa Ramadhan. Ziarah kubur tiba-tiba banyak dilakukan orang menjelang Ramadhan, di Jawa disebut sadranan atau nyadran.

 

Ziarah kubur itu sendiri adalah sunnah, bila sesuai dengan tata aturan syari’at Islam. Di antaranya tidak menentukan waktu-waktu tertentu, dan tidak diulang pada waktu tertentu dengan acara tertentu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

…وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا. (رواه أَبُو داود بإسنادٍ صحيح) .

 

“… dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai ‘id (hari raya, yakni tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi secara berulang pada waktu dan saat tertentu)….” (HR Abu Dawud – 1746 dengan sanad shahih).

 

Kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak boleh dijadikan sebagai ‘id (hari raya, yakni tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi secara berulang pada waktu dan saat tertentu, dengan upacara tertentu), maka mestinya kubur siapapun tidak boleh juga . Kalau sekadar diziarahi dan sesuai syari’at Islam, tentu tidak apa-apa. Bahkan bila benar-benar sesuai dengan syari’at Islam pelaksanaan ziarah kuburnya, justru sunnah dan mengandung hikmah di antaranya untuk mengingat akherat. Namun ketika kebanyakan orang berziarah kubur itu setiap menjelang Puasa Ramadhan, maka perlu dilihat lagi hadits tersebut. Dan tampaknya apa yang dilakukan ramai-ramai banyak orang itu tidak cocok.

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, ketika dicocokkan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak cocok, maka perlu dicari sebenarnya dari mana asalnya kebiasaan tiap tahun itu, dan dianggapnya dari Islam itu?

 

Doktor filsafat lulusan Universitas Gadjah Mada yang kini menjadi pengajar di Universitas Negeri Yogyakarta, Purwadi, mengatakan, tradisi ziarah makam sudah sangat mengakar pada masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.

 

Ziarah ke makam wali, kata Purwadi, merupakan kepanjangan dari tradisi hinduisme bernama upacara srada. Tradisi ini sudah ada pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, raja yang memerintah Majapahit sekitar pertengahan abad ke-14.

 

Srada adalah upacara untuk memuliakan leluhur yang sudah meninggal. Dari kata srada itulah, masyarakat Jawa mengenal nyadran, yaitu kegiatan menziarahi makam leluhur. Biasanya nyadran ini dilakukan mendekati bulan puasa. Jadi, ziarah makam ini adalah bentuk akulturasi budaya Hindu dan Islam. (kompas cetak, Selasa, 18 Agustus 2009 | 12:00 WIB, dikutip Hartono Ahmad Jaiz dalam buku Kuburan-kuburan Keramat di Nusantara, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2011, halaman 280-281).

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Dari segi lafalnya, ziarah kubur adalah dari Islam. Sedang sadranan atau nyadran dari lafal srada (atau secara lisan jadi sadra) yang maksudnya upacara Hindu untuk memuliakan leluhur yang sudah meninggal, berasal dari upacara Agama Hindu setiap menjelang puasa.  Itu satu sisi.

 

Dari sisi tidak bolehnya kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijadikan ‘ied, tempat yang dikunjungi dengan acara tertentu dan secara berulang pada waktu tertentu, mestinya Ummat Islam lebih mentaati Nabinya daripada ibadahnya orang kafir musyrik lalu dibungkus seolah islami. Kenapa demikian? Karena Allah Ta’ala telah menegaskan:

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا [الأحزاب/36]

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al-Ahzab/ 33: 36).

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Ketegasan Allah Ta’ala sedemikian jelas. Sehingga kita tidak dibolehkan ada pilihan lain-lain lagi di luar keputusan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Dalam hal pelaksanaan dalil pun kita merujuk pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabatnya. Sehingga dalam apa yang disebut acara-acara nishfu sya’ban perlu merujukkan pula pemahaman dalil yang dipakai orang sekarang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

 

Kenapa mereka menganggap lailah Nishfi Sya’ban (malam Nishfu Sya’ban) sesuatu yang istimewa adalah karena salah pemahaman dari ayat pertama surat Ad Dukhan. Juga  karena berpegang pada hadits palsu.

 

Adapun ayat surat Ad-Dukhan

 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ(3)فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ(4)أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ(5)رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(6)

 

Artinya : Sesungguhnya kami menurukan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami dalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ad Dukhan : 3-6)

 

Mereka beranggapan bahwa Lailah Mubarakah (malam yang penuh berkah) itu adalah malam Nishfu sya’ban, sehingga mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Dan anggapan seperti itu sangat salah sekali, bertentangan dengan konteks ayat dan juga  bertentangan dengan ayat-ayat lain. Yang benar menurut konteks ayat dan sesuai dengan ayat-ayat lain adalah bahwa Lailah Mubarakah itu adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

 

Ayat-ayat itu adalah salah satu dari tiga ayat yang berbicara tentang turunnya Al-Qur’an juga  tentang waktunya. Adapun ayat yang kedua adalah :

 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1)

 

Artinya : Sesungguhnya kami menurunkan Al Qur’an di malam (Lailatul qodar) (Surat Al Qadr : 1)

 

Dan ayat ketiga menjelaskan bahwa itu di bulan Ramadhan :

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ

 

Artinya : (Adalah) bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan permulaan Al Qur’an (Al Baqarah : 185)

 

Jadi Lailah Mubarakah itu adalah Lailatul Qadr yang ada di bulan Ramadhan, malam itu disebut malam yang penuh berkah (Lailah Mubarakah) sebagaimana kitab suci Al Qur’an dinamai atau disifati Kitab yang diberkahi (Mubarak).

 

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ

 

Artinya: Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah kami turunkan yang di berkahi (Al-An’am: 92)

 

Jadi bukan pada tempatnya menjadikan ayat itu sebagai dalil untuk mengkhususkan malam Nifsu Sya’ban dengan ibadah tertentu.

 

Ibnu Katsir berkata: Dan orang yang mengatakan bahwa itu adalah malam Nifsu Sya’ban sungguh telah terlalu jauh (menyimpang dari kebenaran)( Tafsir Ibnu Katsir 4/167)

 

Dan Adapun Hadits yang mereka jadikan dalil adalah:

 

إِذَاكَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا……..

 

Jika ada malam nishfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban) maka sholatlah pada malamnya dan berpuasalah siangnya…

 

Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu) diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abdur Razzaq dari Abu Bakar Ibnu Abdillah Ibnu Abi Sabrah. Ibnu Ma’in dan Imam Ahmad mengatakan: Dia (Abu Bakar) suka membuat ‘Hadits Palsu. An Nasa’i mengatakan dia itu ‘Matruk’. (lihat ta’liq Al-I’tisham oleh Imam As-Syathibi w. 790H, 1/39)

 

Jadi jelas sekali apa yang dilakukan sebagian kaum muslimin di malam Nishfu Sya’ban adalah Bid’ah Munkarah (sesuatu yang diada-adakan secara baru lagi buruk) yang tak punya dasar.

 

Imam Asy Syathiby Al Andalusiy mengatakan, “Dan diantara hal yang bid’ah adalah rutin melakukan ibadah tertentu di waktu tertentu yang tidak pernah ada penentuan (waktu atau macam)nya dari syari’ah seperti (mengkhususkan) puasa di pertengahan bulan Sya’ban dan beribadah di malamnya. (Al ‘Itisham 1/39)

 

Dan tak pernah dikatakan (dan dikenal) oleh seorangpun di masa-masa awal (Islam). Syaikh Mahmud Syaltut mengatakan : Adapun khusus malam Nishfu Sya’ban dan kumpul-kumpul untuk menghidupkannya dan mengadakan shalat khusus di malam itu serta berdo’a dengan do’a (khusus), semuanya tidak bersumber sedikitpun dari Nabi (Al Fatawa 191)

 

Adapun contoh dari Nsabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah banyak berpuasa di bulan Sya’ban, itu untuk mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan tanpa membedakan dan tidak mengkhususkan hari-hari tertentu. (Disusun oleh Ustadz Abu Sulaiman, Imam Masjid di sebuah Yayasan di Jakarta tahun 1420H).

 

Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah dijelaskan:

 

وَبَيَّنَ الْغَزَالِيُّ فِي الْإِحْيَاءِ كَيْفِيَّةً خَاصَّةً لِإِحْيَائِهَا , وَقَدْ أَنْكَرَ الشَّافِعِيَّةُ تِلْكَ الْكَيْفِيَّةَ وَاعْتَبَرُوهَا بِدْعَةً قَبِيحَةً , وَقَالَ الثَّوْرِيُّ هَذِهِ الصَّلَاةُ بِدْعَةٌ مَوْضُوعَةٌ قَبِيحَةٌ مُنْكَرَةٌ .

 

Al-Ghazali menjelaskan dalam Kitab Al-Ihya’ (Ihya’ ‘Ulumid Dien) cara khusus untuk menghidupkan (nishfu Sya’ban). Tetapi sungguh As-Syafi’iyah (para pengikut madzhab Imam As-Syafi’i) mengingkari tatacara itu, dan mereka menyatakannya sebagai bid’ah qobihah (yang buruk). Dan Ats-Tsauri berkata, sholat (nishfu Sya’ban) ini adalah bid’ah maudhu’ah qobihah munkaroh (bid’ah bikinan yang buruk lagi munkar). (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, Wazarotul Auqof Was-syu’unil Islamiyyah Kuwait, 34 juz, juz 2, halaman 235-236, dikutip Hartono Ahmad Jaiz dalam buku Islam dan Al-Qur’an Pun Diserang,  Pustaka Nahi Munkar, Jakarta- Surabaya, 1430H/ 2009).

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Demikianlah pentingnya Ummat Islam ini mengetahui duduk soal apa-apa yang dikerjakan atas nama ibadah. Para ulama sudah menunjuki hal-hal yang perlu dihindarkan walau dilakukan banyak orang. Petunjuknya itu dilandasi pula dengan merujuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila para ulama yang shalih telah menunjuki sesuai yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang kita lebih memilih untuk mengikuti banyak orang, itu dari berbagai segi dan dalil-dalil di atas ternyata sikap kita ini keliru.  Setelah ternyata keliru, lantas bagaimana?

 

Perlu kita sadari bahwa Ummat Islam ini tetap diberi jalan baik apabila mengakui kekeliruannya, meninggalkannya, dan bertaubat. Dalam hadits dijelaskan,

 

 عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ } أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ ، وَسَنَدُهُ قَوِيٌّ

 

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Setiap bani Adam (manusia) itu banyak salah, dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat. (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya kuat menurut Kitab Subulus Salam).

 

Semoga kita termasuk orang-orang yang mau mengakui ketika bersalah atau keliru, dan termasuk hamba-hamba Allah yang banyak bertaubat atas kesalahan-kesalahan. Dan semoga dijauhkan dari sikap yang sombong, yakni tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan manusia. Amien ya Rabbal ‘alamien.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

 

Khutbah Kedua:

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

 

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

 

 أَمَّا بَعْدُ؛ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 (nahimunkar.com)

 

***

 

Bahasa Jawa

 

Khutbah Jemuwah Nishfu Sya’ban lan  Sadranan utawia Ruwahan

Dening Hartono Ahmad Jaiz 

 

 إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

 

 يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

 

 يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،

 

 أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

 

 

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, manggaa kita sedaya bersyukur dhateng Allah Subhanahu wa Ta’ala ingkang sampun berkenan nyukakaken werni-werni keni’matan bahkan hidayah dhateng kita sedaya. 
Shalawat lan  salam mugi-mugi Allah tetapkan kangge Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya,

para sahabatnya, lan  para pandherekipun ingkang setia kaliyan sae ngantos akhir zaman. 
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mangga kita sedaya senantiasa bertaqwa dhateng Allah kaliyan saleres-lerese taqwa,nindakaken perintah-perintah Allah sakiyat kesagedan kita sedaya, lan  nebihi larangan-laranganipun. 
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. kita sedaya dhateng ing masjid kangge sholat Jemuwah niki tentunya enten semangat kesaenan lebet jiwa kita sedaya. Semangat nindakaken kesaenan utawi ibadah yaiku ngrupikaken anugerah Allah. sak upami tanpa dianugerahi semangat, mila tentunya mboten enten semangat kangge kesaenan punika. dadosipun ukara «laa haula walaa quwwata illaa billaah» lebet hadits Bukhari lan  Muslim dipun yektosaken Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dados kanzul jannah (simpanan swargi). amargi jarwinipun yaiku kepasrahan lan  penyerahan badan dhateng Allah, menawi mboten enten daya kangge menolak keawonan lan  mboten enten kekiyatan kangge mencapai kesaenan kajawi amargi Allah. 
saksampune kita sedaya ngakeni menawi entenipun semangat kangge numindakake kesaenan punika leres-leres saking Allah Ta’ala, mila kita sedaya pun wajib mensyukuri. ing antawis menysukuri yaiku ngginakaken semangat kesaenanan punika kaliyan ukuran ingkang dathengipun saking Allah Ta’ala ingkang dipun bekta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. dadosipun badhe tepat antarane semangat punika kaliyan tatanan Allah Taala lan  Rasul-Nya. menawi mboten, mila ingkang kedadosan yaiku semangat kesaenanan punika ngasilaken pandamel ingkang kirang pas.  dados kirang afdhol, mboten utami, lan  sawalikipun justru menyimpang, nanging dipun anggep sae dening pelakunipun. 
Jama’ah jum’ah rahimakumullah. lebet hadits diterangaken: 

 

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ ، أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلا تَعُدْرَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

 

Dari Abu Bakrah bahwa dia (masuk masjid) hingga sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang beliau lagi ruku’ maka dia (Abu Bakrah) ruku’ sebelum sampai ke shaf, maka dia (setelah shalat) menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: Semoga Allah menambahimu semangat (untuk kebaikan) dan jangan kamu ulangi. (HR Al-Bukhari).

 

saking Abu Bakrah menawi piyambakipun (mlebet masjid) ngantos ngantos nalika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saweg panjenenganipun nembe ruku’ mila piyambakipun (Abu Bakrah) ruku’ saderenge dugi ing shaf, mila (saksampune sholat) disebutaken bab punika dhateng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mila panjenenganipun bersabda: mugi-mugi Allah ngimbuhi sampeyan semangat (kangge kesaenanan) lan  ampun sampeyan baleni. (HR Al-Bukhari). 
At-Thahawi wicanten, sabdanya, walaa ta’ud (ampun sampeyan baleni) mungguhe kami ngandung kalih jarwi. ampun sampeyan baleni kangge ruku’ ing wingking shaf dadosipun sampeyan ngadeg lebet shaf. sami kaliyan diriwayatkan saking Abu Hurairah radhiyallahu Ta’ala ‘anhu piyambakipun wicanten, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: menawi sinten tiyang saking sampean sedaya ndhatengi sholat mila ampuna piyambakipun ruku’ saderenge dugi ing shaf dadosipun piyambakipun (supados) ngenggeni shaf. lan  ngandung jarwi, ampun sampeyan baleni kangge mlampah tumunten datheng shaf kaliyan mlampah cepet ingkang sampeyan dipun surung dening nafsu ing lebetipun. kados hadits ingkang datheng saking Abu Hurairahradhiyallahu Ta’ala ‘anhu saking Rasulullah, piyambakipun bersabda:

 

 yen dipun dirikan sholat mula kowe aja nganti tekane kanthi kowe mlaku kesusu lan tekanana sholat kuwi kanthi kowe mlaku (biyasa wae). lan kudune kanthi tenang, mula apa sing kowe temoni mula sholata, lan apa sing luput saka kowe mula sempurnakanlah. . (“Umdatul Qari Syarah Shahih Al-Bukhari juz 9 halaman 240). 
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. jebulna, sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni Abu Bakrah

ingkang sampun sumagah kangge kesaenanan punika taksih didoakan dening Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kangge Allah tambahi semangat (kangge kesaenan), lan  sisan dipun pitedahi, kajengipun mboten mbaleni. ingkang jarwinipun yaiku sasamukawis ingkang kirang afdhal (walau) sah pun ampun dibaleni, apalagi menawi punika berupa penyimpangan utawi pelanggaran ingkang ageng. saking mrikia betahipun kita sedaya elingi, semangat kemawon, walau semangat punika atas lebet hal kesaenan, mboten cekap. taksih betah diterapkan ing tatanan ingkang leres lan  tepat. 
betah kasumarepan, lebet hal ibadah punika sifatnya yaiku tauqifi, yakni mendeg ing atas dalil (ayat lan  hadits ingkang sah). mboten saged kita sedaya dados muslim ingkang ndhereki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam niki numindakake ibadah ingkang mboten enten dalilnya ingkang sah. sami kaliyan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tegaskan:

 

 

 

« مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ » .

 

Siapa yang mengerjakan suatu amalan (ibadah) yang tidak berdasarkan atas perintah kami maka dia tertolak. (HR Al-Bukhari dan Muslim) .

 

sinten ingkang nindakakensamukawis amalan (ibadah) ingkang mboten berdasarkan atas perintah kami mila piyambakipun tertolak. (HR Al-Bukhari lan  Muslim) . 
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. kaliyan entenipun tatanan ingkang makaten, mila semestinya kita sedaya ngatos-atos lebet ngamal. Yakni betah dilandasi ilmu, yaiku enten utawi tidakkah dalilnya ingkang sah. Walau mboten apal ungel lafal dalilnya, ingkang wigati sampun ngertos menawi amal kita sedaya punika enten dalilnya ingkang sah. 
saksampune kita sedaya mangertos menawi ingkang badhe kita sedaya amalaken punika enten dalilnya ingkang sah, mila taksih betah ugi nyumerepi, leres utawi mboten pangertenipun majeng dalil punika. Walau mboten dituntut apal lafal babagan pangerten ingkang leres ngengingi dalil punika. amargi tanpa leres pangertenipun, saged ugi badhe tebih saking keleresan, lan  taksih atas nami dalil ingkang sah punika. 
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. ing mriki wigatinipun kita sedaya Ummat Islam niki menuntut ilmu paling utami ngengingi kewajiban-kewajiban lan  larangan-larangan ingkang ngusung kegesangan kita sedaya ing donya niki. Tanpa menuntut ilmu, lan  namung ndhereki tiyang kathah, mila sampun diancam dening Allah Ta’ala: 

 

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ [الأنعام/116]

 

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS Al-An’am: 116).

 

lan  menawi sampeyan mituruti akeh-akehe tiyang-tiyang ingkang ing rai bumi niki, niscaya piyambake sedaya badhe menyesatkanmu saking dalane Allah. piyambake sedaya mboten benten namunga ndhereki perkiraan belaka, lan  piyambake sedaya mboten benten namunga goroh (dhateng Allah) (QS Al-Anam 116). 
langkung saking punika, menawi mboten kersa mirengaken menapa-menapa ingkang dipun bekta dening rasul mila penyesalan dahsyat sanget ing akherat: 

 

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (10) فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ [الملك/6-11]

 

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS Al-Mulk/ 67:10-11).

 

lan  piyambake sedaya wicanten: “sakintenipun kami mirengaken utawi manahaken (pepelingan punika) niscaya  kamimboten klebet penghuni-penghuni neraka ingkang menyala-nyala.” 
piyambake sedaya ngakeni dosa piyambake sedaya. mila kebinasaanlah kangge penghuni-penghuni neraka ingkang menyala-nyala. (QS Al-Mulk/ 6710-11 
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. menapa ingkang dipun tumindakake dening kathah tiyang, lan  katingalipun islami, bahkan asring dihiasi dalil, saged kita sedaya panggihi. kados ta amaliah dikaitkan kaliyan menapa ingkang piyambake sedaya sebat nishfu sya’ban utawi tengah wulan sya’ban. mekaten ugi entenipun gejala ramai-ramai datheng kuburan ing pundi-pundi ing wulan Sya’ban utawi menjelang siyam Ramadhan. Ziarah kubur dumadakan kathah dipun tumindakake tiyang menjelang ramadhan, ing Jawi disebut sadranan utawi nyadran. Wonten ugi sebutan ruwahan, dihubungaken kaliyah arwah utawi roh. 
Ziarah kubur punika piyambak yaiku sunnah, menawi sami kaliyan tata tatanan syari’at Islam. ing antawisipun mboten menentukan wanci-wanci tertentu lan mboten dibaleni ing wanci tertentu. amargi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

 

…وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا. (رواه أَبُو داود بإسنادٍ صحيح) .

 

“… dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai ‘id (hari raya, yakni tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi secara berulang pada waktu dan saat tertentu)….” (HR Abu Dawud – 1746 dengan sanad shahih).

 

kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemawon mboten angsal dipun dadosaken dados ‘id (dinten raya, yakni panggen ingkang salajeng dikunjungi uga dipun dhatengi sacara berulang ing wanci uga kala tertentu, kanthi upacara tertentu), mila mestinya kubur sintena kemawon mboten angsal uga . menawi sekadar diziarahi lan sesuai kalian syari’at Islam, tentu mboten menapa-menapa. Bahkan menawi leres-leres sami kaliyan syari’at Islam anggenipun ziarah kubur, justru sunnah uga ngandung hikmah ing antawisipun konjuk ngelingi akherat. nanging nalika akeh-akehe tiyang berziarah kubur punika saben menjelang siyam Ramadhan, mila betah dipun tingali malih hadits kesebat. uga katingalipun menapa ingkang dipun tumindakake ramai-ramai kathah tiyang punika mboten gathuk. 
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, nalika dipun gathukaken kaliyan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mboten gathuk, mila betah dipun padosi saleresipun saking pundi asalipun kebiyasaan saben taun punika, uga dipun anggepipun saking Islam punika? 
Doktor filsafat lulusan Universitas Gadjah Mada ingkang sakmenika dados pamucal ing Universitas Negeri Yogyakarta,Purwadi, ngginemaken, tradisi ziarah makam sampun mengakar sanget ing masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawi. 
Ziarah datheng makam wali, kandhane Purwadi, ngrupikaken kepanjangan saking tradisi hinduisme nduwe nami upacara srada. Tradisi niki sampun enten ing masa pamerentahan Hayam Wuruk, ratu ingkang mrentah Majapahit sekitar madyan abad ka-14. 
Srada yaiku upacara konjuk memuliakan leluhur ingkang sampun pejah. saking tembung srada punika, masyarakat Jawi nepang nyadran, yaiku
kegiatan menziarahi makam leluhur. biyasanipun nyadran niki dipun tumindakake nyelaki wulan siyam. Dados, ziarah makam niki yaiku bentuk akulturasi budaya Hindu uga Islam. (kompas cetak, Selasa, 18Agustus 2009 | 12:00 WIB, dikutip

Hartono Ahmad Jaiz lebet buku Kuburan-kuburan Keramat ing Nusantara, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2011, halaman 280-281). 
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. saking segi lafalnya, ziarah kubur yaiku saking Islam. saweg sadranan utawi nyadran saking lafal srada/ sadra ingkang pangangkahipun upacara Hindu konjuk memuliakan leluhur ingkang sampun pejah, asalipun saking upacara agami Hindu saben menjelang siyam. punika setunggal sisi. 
saking sisi mboten angsalipun kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipun dadosaken ‘ied, panggen ingkang dikunjungi kaliyan acara tertentu uga sacara berulang ing wanci tertentu, mestinya Ummat Islam langkung mentaati Nabinya daripada ibadahnya tiyang kafir musyrik lajeng dibungkus seolah islami. punapa mekaten? amargi Allah Ta’ala sampun menegaskan: 

 


وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا [الأحزاب/36]

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al-Ahzab/ 33: 36).

 

lan  mbotena patut kangge kakung ingkang mukmin lan  mboten (ugi) kangge estri ingkang mukmin, menawi Allah lan  Rasul-Nya sampun menetapkan samukawis ketetapan, badhe enten kangge piyambake sedaya pilihan (ingkang benten) babagan urusan piyambake sedaya. lan  barangsiapa mendurhakai Allah lan  Rasul-Nya mila saestua piyambakipun sampun sesat, sesat ingkang yektos. (QS Al-Ahzab/ 33: 36). 

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Ketegasane Allah Ta’ala samekaten pertela. dadosipun kita sedaya mboten dipun angsalaken enten pilihan benten-benten malih ing luar keputusane Allah Ta’ala lan  Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. 
lebet hal wontenipun dalil pun kita sedaya merujuk ing Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lan  sahabat-sahabatnya. dadosipun lebet menapa ingkang disebut acara-acara nishfu sya’ban betah merujukkan ugi pangerten dalil ingkang kangge tiyang sakmenika dhateng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lan  para sahabatnya. 
punapa piyambake sedaya nganggep lailah Nishfi Sya’ban (dalu Nishfu Sya’ban) sasamukawis ingkang istimewa yaiku amargi klintu pangerten saking ayat setunggal serat Ad Dukhan. ugi amargi nyepeng ing hadits palsu. 
wodening ayat serat Ad-Dukhan 

 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ(3)فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ(4)أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ(5)رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(6)

 

Artinya : Sesungguhnya kami menurukan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami dalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ad Dukhan : 3-6)

 

artosipun : sayektos kami menurunkan ing samukawis dalu ingkang diberkahi lan  sayektos kamilah ingkang nyukani pepelingan. ing dalu punika dipun pertelakaken sasamukawis urusan ingkang kebak hikmah, yaiku urusan ingkang ageng saking sisi kami. sayektos kami dalah ingkang ngutus rasul-rasul, dados rahmat saking Tuhanmu, sayektos piyambakipun ingkang mupu mireng malih mupu nyumerepi. (Ad Dukhan : 3-6) 

 

sebagian tiyang sami nganggep menawi Lailah Mubarakah (dalu ingkang kebak berkah) punika yaiku dalu Nishfu sya’ban, dadosipun piyambake sedaya numindakake menapa ingkang piyambake sedaya tumindakake. lan  anggepan makaten klintu sanget, mbabagan kaliyan konteks ayat kalih mbabagan kaliyan ayat-ayat sanesipun. ingkang leres miturut konteks ayat lan  sami kaliyan ayat-ayat sanes yaiku menawi Lailah Mubarakah punika yaiku Lailatul Qadar ing wulan Ramadhan. 
Ayat-ayat punika yaiku salah satunggal saking telu ayat ingkang crios babagan mandhapipun Al-Quran ugi babagan wancinipun. wodening ayat ingkang kaping kalih yaiku : 

 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1)

 

Artinya : Sesungguhnya kami menurunkan Al Qur’an di malam (Lailatul qodar) (Surat Al Qadr : 1)

 

artosipun : sayektos kami mandhapaken Al Qur’an ing dalu (Lailatul qodar) (serat Al Qadr : 1) 
lan  ayat ketelu mertelakaken menawi punika ing wulan Ramadhan : 

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ

 

Artinya : (Adalah) bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan permulaan Al Qur’an (Al Baqarah : 185)

 

artosipun : (yaiku) wulan Ramadhan ingkang ing lebetipun dipun mandhapaken permulaan Al Qur’an (Al Baqarah : 185) 
dados Lailah Mubarakah punika yaiku Lailatul Qadr ingkang enten ing wulan Ramadhan dalu punika kanamaaken dalu ingkang kebak berkah (Lailah Mubarakah) sami kaliyan kitab suci Al Qur’an dipun nameni utawi disifati Kitab ingkang diberkahi (Mubarak). 

 

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ

 

Artinya: Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah kami turunkan yang di berkahi (Al-An’am: 92)

 

artosipun: lan  niki Al-Quran yaiku kitab ingkang sampun kami mandhapaken ingkang diberkahi (Al-Anam 92) 
dados sanes ing panggenipun, menawi ndadosaken ayat punika dados dalil kangge mengkhususkan dalu Nifsu Sya’ban kaliyan ibadah tertentu. 
Ibnu Katsir wicanten: lan  tiyang ingkang ngginemaken menawi punika yaiku dalu Nifsu Sya’ban saestu sampun ketebihen (menyimpang saking keleresan)( Tafsir Ibnu Katsir 4/167) 
lan  wodening Hadits ingkang piyambake sedaya dadosaken dalil yaiku: 

 


إِذَاكَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا……..

 

Jika ada malam nishfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban) maka sholatlah pada malamnya dan berpuasalah siangnya…

 

menawi enten dalu nishfu Sya’ban (tengah Sya’ban) mila sholatlah ing dalunipun lan  shiyamlah siyangipun… 
Hadits niki yaiku hadits maudhu’ (palsu) diriwayatkan dening Ibnu Majah lan  Abdur Razzaq saking Abu 
BakarIbnu Abdillah Ibnu Abi Sabrah. IbnuMa’in lan  Imam Ahmad ngginemaken: piyambakipun (Abu Bakar Ibnu Abdillah) remen ndamel ‘Hadits Palsu. An Na’sai ngginemaken piyambakipun punika ‘Matruk’. (tingali ta’liq Al-Itisham dening Imam As-Syathibi w. 790H,1/39) 
dados pertela pisan menapa ingkang dipun tumindakake sebagian kaum muslimin ing dalu Nishfu Sya’ban yaiku Bid’ah Munkarah (sasamukawis ingkang dipun enten-entenaken sacara enggal tur awon) ingkang mboten gadhah dasar. 
Imam Asy Syathiby Al Andalusiy ngginemaken, “lan  ing antawis hal ingkang bid’ah yaiku rutin numindakake ibadah tertentu ing wanci tertentu ingkang mboten nate enten penentuan (wanci utawi macam)nya saking syari’ah kados (mengkhususkan) siyam ing tengahe wulan Sya’ban lan  beribadah ing dalunipun. (Al ‘Itisham 1/39) 
. lan  mboten nate dipun ginemaken (lan  dipun tepang) dening satiyanga ing masa-masa awal (Islam) . Syaikh MahmudSyaltut, ngginemaken : wodening khusus dalu Nishfu Sya’ban lan  kempal-kempal kangge nggesangaken piyambakipun lan  ngawontenaken sholat khusus ing dalu punika mawi berdo’a kaliyan do’a (khusus), sedayanipun mboten bersumber sekedhik-sekedhika saking Nabi (Al Fatawa 191) 
Anapun contoh saking Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaiku kathah puasa ing wulan Sya’ban. punika kangge nyiapaken badan badhe datengipun Ramadhan tanpa nemtoaken dinten-dinten tertentu. (Disusun dening Ustadz Abu Sulaiman, Imam Masjid ing setunggal Yayasan ing Jakarta taun 1420H).

 

Ing lebet Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah dipun pertelakaken: 

 

وَبَيَّنَ الْغَزَالِيُّ فِي الْإِحْيَاءِ كَيْفِيَّةً خَاصَّةً لِإِحْيَائِهَا , وَقَدْ أَنْكَرَ الشَّافِعِيَّةُ تِلْكَ الْكَيْفِيَّةَ وَاعْتَبَرُوهَا بِدْعَةً قَبِيحَةً , وَقَالَ الثَّوْرِيُّ هَذِهِ الصَّلَاةُ بِدْعَةٌ مَوْضُوعَةٌ قَبِيحَةٌ مُنْكَرَةٌ .

 

Al-Ghazali mertelakaken lebet Kitab Al-Ihya’ (Ihya’ ‘Ulumid Dien) cara khusus kangge nggesangaken (nishfu Sya’ban).nanging saestu As-Syafiiyah (para pandherek madzhab Imam As-Syafii) mengingkari tatacara punika, lan  piyambake sedaya memandang punika dados bid’ah qobihah (ingkang awon). lan  Ats-Tsauri wicanten, sholat (nishfu Sya’ban) niki yaiku bid’ah maudhu’ah qobihah munkaroh (bid’ah bikinan ingkang awon tur munkar). Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah,Wazarotul Auqof Was-syuunil Islamiyyah Kuwait, 34 juz, juz 2, halaman 235-236,

dikutip Hartono Ahmad Jaiz lebet buku Islam lan  Al-Quran Pun diserang, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta- Surabaya, 1430H/ 2009). 

 

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. mekatena wigatinipun Ummat Islam niki nyumerepi lenggah soal menapa-menapa ingkang dipun tindakaken atas nami ibadah. Para ngulama sampun nunjuki hal-hal ingkang betah dihindarkan walau dipun tumindakake kathah tiyang. pitedahipun punika dilandasi ugi kaliyan merujuk dhateng Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. menawi para ngulama ingkang shalih sampun nunjuki sami ingkang katur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saweg kita sedaya langkung mileh kangge ndhereki kathah tiyang, punika saking macem-macem segi lan  dalil-dalil ing atas jebulna sikap kita sedaya niki klintu. saksampune jebulna klintu, lajeng kados pundi? 
betah kita sedaya elingi menawi Ummat Islam niki tetap dipun sukani dalan sae menawi ngakeni keklintonipun,
ninggalaken, lan  bertaubat.

 

 lebet hadits dipun pertelakaken, 

 


عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ } أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ ، وَسَنَدُهُ قَوِيٌّ

 

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Setiap bani Adam (manusia) itu banyak salah, dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat. (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya kuat menurut Kitab Subulus Salam).

 

saking Anas radhiyallahu ‘anhu, piyambakipun wicanten: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: saben bani Adam (manusia) punika kathah klintune, lan  sasae-saenipun tiyang ingkang kathah klintune yaiku tiyang-tiyang ingkang kathah bertaubat. (HR At-Tirmidzi lan  Ibnu Majah, sanadnya kiyat miturut Kitab Subulus Salam). 
mugi-mugi kita sedaya klebet tiyang-tiyang ingkang kersa ngakeni nalika klintu utawi salah, lan  klebet hamba-hamba Allah ingkang kathah bertaubat atas kalepatan-kalepatan. lan  mugi-mugi dipun tebihaken saking sikap ingkang sombong, yakni mboten kersa nampi keleresan lan  ngremehaken manusia. Amien ya Rabbal ‘alamien. 

 

 

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

 

Khutbah Kedua:

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

 

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

 

 أَمَّا بَعْدُ؛ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 (nahimunkar.com)

 

 

(Dibaca 17.024 kali, 1 untuk hari ini)