Khutbah Menag Fachrul yang Dinilai Tidak Sah, Dikemukakan Pula di DPR.

Inilah beritanya.

***

 

Disebut Tak Sah Khutbah Jumat, Menag Sempat Ingin Marah


Menteri Agama Fachrul Razi Khutbah Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta, 01 Nov 2019,/foto brtislm/kprn


Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengaku sempat ingin marah saat ada orang yang mengatakan Salat Jumat di Masjid Istiqlal pada 1 November lalu tidak sah saat dirinya menjadi khatib karena tidak membaca sholawat Nabi.

“Tadinya saya mau segera marah, teman saya bilang, ‘Pak, masa ah orang percaya, Pak, tapi ternyata kok percaya ya.’ Sehingga tadi saya bilang sama staf coba cari ambil rekamannya itu di TVRI atau di masjid Istiqlal,” kata Fachrul dalam Rapat Kerja Menteri Agama RI dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (7/11/2019), seperti dilansir CNNIndonesia.

Fachrul mengaku awalnya dia tak peduli dan malas menanggapi. Namun, dia kemudian meminta bawahannya mencari rekaman lengkap saat dirinya menjadi khatib.

Tujuannya untuk menyeimbangkan informasi dan asumsi negatif yang terlanjur beredar di media sosial.

Mantan Wakil Panglima TNI itu juga meminta stafnya mengkaji apakah rekaman khotbah di media sosial dipotong dan disunting. Lalu setelah verifikasi, rekaman asli itu Fachrul minta untuk disebar.

Beberapa pihak menyebut khutbah Menag Fachrul Razi tidak sah karena tidak membaca sholawat Nabi di khutbah pertama.

Pengasuh pondok pesantren Nadhlatul Ulama (NU), Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, KH.Imaduddin Utsman, menilai bahwa shalat Jumat tersebut tidak sah. “Karena kurang rukun khotbahnya,” katanya.

Sementara itu Wakil Ro’is Syuriyah PWNU Jakarta Zuhri Ya’kub dalam video yang diunggah di akun resmi Instagram Nahdlatul Ulama menyebut khutbah Jumat yang tidak membaca sholawat Nabi maka sholatnya tidak sah dan wajib di-qodo dengan shalat Dhuhur.

[Video – Penjelasan NU tentang Rukung Khutbah]

 

https://www.instagram.com/tv/B4fdzSDF5WN/

 

[portal-islam.id] 08 November 2019

 

***

Mereka Berhak Nyatakan Khutbah Menag Fachrul Tidak Sah karena tidak Baca Shalawat di Khutbah Pertama

Menag baru, Fachrul Razi begitu diangkat jadi menteri agama langsung bikin gaduh. Di antaranya soal radikalisme, wacana pelarangan cadar, dan celana cingkrang. Di sela2 gaduh itu malah Fachrul Razi berkhutbah Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta belum lama ini (01/Nov 2019).

Sontak ada tokoh yang menyatakan khutbah Menag Fachrul tidak sah, karena tidak baca shalawat di khutbah pertama. Seruan agar shalatnya diulang karena khutbahnya dinilai tidak sah pun menyebar di media.

 

Perlu diingat, menurut madzhab syafii, shalawat harus dibaca di khutbah pertama dan kedua. Demikian pula hamdalah (memuji Allah), dan wasiat taqwa. Adapun yang boleh di salah satu khutbah yaitu baca ayat al-qur’an. Sedang rukun kelima (dalam khutbah Jum’at, menurut madzhab syafi’i) yaitu baca doa di khutbah kedua.

Karena kebanyakan di Indonesia bermadzhab syafii, maka khutbah Menag Fachrul di Masjid Istiqlal itu menurut tokoh yang telah menyuarakan protesnya, mereka sebut tidak sah, karena tidak baca shalawat Nabi pada khutbah pertama. Sedang khatib, Menag Fachrul harus mengayomi semuanya, maka yang memprotesnya itu berhak, memang. coba lihat ini.

***

Rukun Khutbah Jumat Menurut Madzhab Syafi’i

By

 Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

 –

 April 10, 2015 

 

Apa saja yang termasuk dalam rukun khutbah Jum’at?

Disebutkan sebelumnya bahwa rukun khutbah hendaklah diucapkan dengan bahasa Arab. Lihat Syarat Khutbah Jumat.

Adapun rukun khutbah tersebut ada lima sebagai berikut:

1- Mengucapkan Alhamdulillah, dengan bentuk ucapan apa pun yang mengandung pujian pada Allah.

2- Bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan apa pun yang menunjukkan shalawat.

Di sini dipersyaratkan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut secara jelas, seperti menyebut dengan Nabi, Rasul atau Muhammad. Tidak cukup dengan dhomir (kata ganti) saja.

3- Wasiat takwa dengan bentuk lafazh apa pun.

Ketiga rukun di atas adalah rukun dari dua khutbah. Kedua barulah sah jika ada ketiga hal di atas.

4- Membaca salah satu ayat dari Al Quran pada salah satu dari dua khutbah.

Ayat yang dibaca haruslah jelas, tidak cukup dengan hanya membaca ayat yang terdapat huruf muqotho’ah (seperti alif laa mim) yang terdapat dalam awal surat.

5- Berdoa kepada kaum mukminin pada khutbah kedua dengan doa-doa yang sudah ma’ruf.

Demikian semoga dipahami apa yang menjadi pemahaman dalam madzhab Syafi’i mengenai rukun khutbah.

Wallahu waliyyut taufiq.

 
 

Referensi:

Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabi Al Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Khin, Dr. Musthofa Al Bugho, ‘Ali Asy Syabajiy, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H.


Selesai disusun 08: 16 AM @ Darush Sholihin Panggang, 20 Jumadats Tsaniyyah 1436 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

https://rumaysho.com/10770-rukun-khutbah-jumat-menurut-madzhab-syafii.html

***

Seorang penulis buku2 Islam, Hartono Ahmad Jaiz berkomentar singkat di fp nya:

Saya pernah jadi penyeleksi lomba penulisan khutbah nasional, dan bertugas mengumpukannya, menyuntingnya, hingga jadi buku khutbah ‘Kumpulan Khutbah Pilihan’ yang hingga kini beredar luas dan dicetak ulang berkali-kali.

Entah kenapa, ketika saya mendengarkan rekaman khutbah Pak Menag Fachrul Razi yang berkhutbah di Masjid Istiqlal Jakarta belum lama ini, saya merasa sangat malu mendengarkannya.

Demikian komen singkat Hartono, tanpa menyebut kenapanya…

Bila didengarkan, yang mendengar pun bisa jadi bingung. Misal, Khatib Menag Fachrul membaca ayat disebutnya surat Hud ayat 18, tapi kalau dicek ternyata tidak cocok, karena ayat 18 itu mengenai la’nat Allah atas orang-orang yang zalim. Sedangkan Khatib Menag Fachrul menegaskan ayat ummatan waahidah di ayat itu, tapi ternyata adanya di ayat 118 Surat Hud.

Juga ketika baca hamdalah, kedengaran sekali khatha’ jalinya (terang salahnya bacaan), karena alhamdulillahilladzii, dibaca: alhamdulillaahi lilladzii… yang itu sebenarnya mngubah makna…

***

Ada Hadits idza wusidal amru dan juga hadits mengenai tahun-tahun banyak tipuan

Hadits tentang bahaya menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, telah ditegaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ( البخاري)

 “Idzaa wussidal amru ilaa ghoiri ahlihi fantadziris saa’ah.”  Apabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat. (HR Al-Bukhari dari Abi Hurairah).

Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan: Apabila hukum yang berkaitan dengan agama seperti kekhalifahan dan rangkaiannya berupa kepemimpinan, peradilan, fatwa, pengajaran dan lainnya diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, yakni apabila (pengelolaan urusan) perintah dan larangan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat, sebab hal itu sudah datang tanda-tandanya. Ini menunjukkan dekatnya kiamat, sebab menyerahkan urusan dalam hal amar (perintah) dan nahi (larangan) kepada yang tidak amanah, rapuh agamanya, lemah Islamnya, dan (mengakibatkan) merajalelanya kebodohan, hilangnya ilmu dan lemahnya ahli kebenaran untuk pelaksanaan dan penegakannya, maka itu adalah sebagian dari tanda-tanda kiamat. (Al-Munawi, Faidhul Qadir, juz 1, Darul Fikr, Beirut, cetakan 1, 1416H/ 1996M, hal 563-564).

Ada peringatan yang perlu diperhatikan pula, yaitu keadaan lebih buruk lagi di mana pendusta justru dipercaya sedang yang jujur justru didustakan, lalu pengkhianat malah dipercaya. Dan di sana berbicaralah ruwaibidhah, yaitu Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan umum. Itulah yang diperingatkan dalam Hadits:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kedustaan, saat itu pendusta dipercaya, sedangkan orang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang amanah justru dikhianati, dan saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya: “Apakah Ruwaibidhah itu?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh namun dia membicarakan urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah No. 4036, Ahmad No. 7912, Al-Bazzar No. 2740 , Ath-Thabarani dalam Musnad Asy-Syamiyyin No. 47, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 8439, dengan lafaz: “Ar Rajulut Taafih yatakallamu fi Amril ‘aammah – Seorang laki-laki bodoh yang membicarakan urusan orang banyak.” Imam Al-Hakim mengatakan: “Isnadnya shahih tapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Imam Adz-Dzahabi juga menshahihkan dalam At-Talkhis-nya, / seperti dikutip dkwtncom).

Kembali lagi, menyerahkan urusan bukan kepada ahlinya saja sudah menunjukkan tanda-tanda dekatnya Qiyamat. Apalagi (di tahun2 tipuan) justru yang diserahi itu pengkhianat lagi bodoh, menurut hadits tersebut.

Dalam hal urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya saja, dijelaskan haditsnya oleh Al-Munawi; Ini menunjukkan dekatnya kiamat, sebab menyerahkan urusan dalam hal amar (perintah) dan nahi (larangan) kepada yang tidak amanah, rapuh agamanya, lemah Islamnya, dan (mengakibatkan) merajalelanya kebodohan, hilangnya ilmu dan lemahnya ahli kebenaran untuk pelaksanaan dan penegakannya, maka itu adalah sebagian dari tanda-tanda kiamat. (Al-Munawi, Faidhul Qadir, juz 1, Darul Fikr, Beirut, cetakan 1, 1416H/ 1996M, hal 563-564).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 752 kali, 1 untuk hari ini)