Zuhairi Misrawi orang NU liberal menulis di akunTwitternya@zuhairimisrawi, beberapa waktu lalu :  .

“Kita beruntung, publik di sini sadar akan bahaya Islamisme. Rakyat Mesir butuh 85 tahun untuk sadar bahaya Islamisme dalam politik,” kicaunya.

“Kaum Islamis di negeri ini harus bersyukur, karena “kita” tak akan membunuh mereka. Di Mesir, mereka di bunuh dan dinistakan,” tulis Zuhairi

Tulisan sengak manusia yang pernah dikhabarkan punya persoalan tentang shalat ketika di Mesir itu, ternyata bukan hanya kali ini. Beberapa waktu lalu, manusia NU liberal ini justru sikapnya berbalikan dengan liberal, malah sampai bernada mengkafirkan. Zuhairi diberitakan :

Rupanya, sikap mengkafir-kafirkan juga dipraktikkan generasi yang lebih muda lagi, yaitu ZUHAIRI MISRAWI, yang dijuluki INTELEKTUAL MUDA NU ini. Menurut Zuhairi Misrawi melalui akun twitternya, “…jika Luthfi Hasan divonis korupsi oleh pengadilan, maka merujuk pada fatwa NU dan Muhammadiyah, Luthfi adalah kafir…”[i][i] NU: Luthfi Hasan Ishaaq Kafir, Jika Divonis Terbukti Korupsi “Catat ya, jika Luthfi Hasan divonis korupsi oleh pengadilan, maka merujuk pada fatwa NU dan Muhammadiyah, Luthfi adalah kafir,” kata Zuhairi melalui akun Twitter @zuhairimisrawi.

Www.Itoday.Co.Id

Kalau benar tindakan korupsi itu sampai menjadikan pelakunya kafir, maka sosok Gus Dur yang saat menjadi Presiden RI pernah dipaksa turun karena terlibat korupsi (Bulog-gate dan Brunei-gate), maka kafirlah sang bapak bangsa versi NU ini.

Kasus BULOG-GATE terjadi pada tahun 2000. Sekitar bulan Januari 2000, Doktor Sapuan yang saat itu menjabat sebagai Waka Bulog, ditemui Soewondo, orang kepercayaan Gus Dur. Pada pertemuan itu, Soewondo menyampaikan ‘amanat’ dari Gus Dur (saat itu presiden RI) yang bermaksud menggunakan dana taktis Bulog dalam rangka membantu penyelesaian masalah Aceh. https://www.nahimunkar.org/praktisi-bidah-dan-liberal-yang-suka-mengkafir-kafirkan/#_edn1

Lontaran-lontaran Zuhairi semacam itu apakah justru oleh media seperkoncoannya sebagai bahan untuk diangkat-angkat sebagai seorang yang disebut intelektual muda NU, seperti yang tertulis dalam biografi ini? Wallahu a’lam, tetapi memang tertulis begini:

  • Zuhairi Misrawi, intelektual muda NU (Islam), kolomnis dan peneliti pemikiran keislaman kontemporer. Direktur Moderate Muslim Society (MMS) dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia ini lahir di Sumenep, Madura, 5 Pebruari 1977. Pernah nyantri di Pondok Pesantren TMI al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura (1995). Menamatkan S1 di Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo-Mesir (2000). http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/164-intelektual-muda-islam

Kembali pada kicauan Zuhairi, inilah beritanya.

***

Statemennya Dinilai Fasis, Zuhairi Misrawi Tuai Kecaman

“Kaum Islamis di negeri ini harus bersyukur, karena “kita” tak akan membunuh mereka. Di Mesir, mereka di bunuh dan dinistakan,” tulis Zuhairi

zuhairi

screen capture pernyataan Zuhairi Misrawi

Hidayatullah.com – Direktur Lembaga Kajian Politik dan Syariat Islam (LKPSI) Fauzan Al Anshari mengecam pernyataan caleg dari PDI Perjuangan Zuhairi Misrawi yang dinilainya menyetujui pembantaian militer Mesir atas demonstran pro mantan Preside Mohammad Mursy. Menurut Fauzan, pernyataan Zuhairi  bernada fasis.

Fauzan menilai,  Zuhairi Misrawi bermimpi meniru kekejian kaum liberal Mesir yang membantai umat Islam karena beda aliran, tapi dalam waktu yang sama tetap mengaku tidak anti Islam.

Zuhairi, tegas Fauzan, sedang mengigau bahwa kekalahan kaum liberal Mesir disebabkan oleh kejahatan kaum Islamis.

“Padahal, puluhan tahun kaum liberal menindas Mesir lalu tumbang oleh kesadaran umat Islam yang memilih Mursy lalu kaum liberal berkolaborasi dengan militer, Zionis dan Amerika untuk mengkudeta Mursy. Jadi siapa yang jahat,” imbuh mantan petinggi Majelis Mujahidin ini kepada hidayatullah.com, Ahad malam (28/07/2013).

Sebelumnya, Direktur LSM Moderate Moslem Society (MMS) yang juga tokoh muda Jaringan Islam Liberal (JIL) Zuhairi Misrawi, mencetuskan pernyataan melalui akun Twitternya yang menghebohkan dalam menyikapi serangan militer kepada kelompok pro Mursy.

“Kaum Islamis di negeri ini (Indonesia, red) harus bersyukur, karena “kita” tak akan membunuh mereka. Di Mesir, mereka di bunuh dan dinistakan,” tulis dia di akunTwitternya@zuhairimisrawi, beberapa waktu lalu.

Di akun yang sama ia juga menulis, ‘hidup mulia atau mati syahid’ adalah ideologi Ikhwanul Muslimin dan menuduhnya sebagai penyebab politik di Mesir berdarah-darah.

“Kita beruntung, publik di sini sadar akan bahaya Islamisme. Rakyat Mesir butuh 85 tahun untuk sadar bahaya Islamisme dalam politik,” kicaunya.

Tanggapan atas pernyataan Zuhairi juga datang dari kader PKS,  Fahri Hamzah di akun@Fahrihamzah.

Menurut Anggota Komisi III DPR RI itu  berfantasi seperti Zuhairi seperti itu adalah sesuatu yang mustahil.

“Darimana mereka dapat ini pikiran “islamophobia” ya? Zaman2 apa sih yg mereka takutkan?

Emangnya kalau kita Islamist trus dianggap bisa ngapain? Emang ada masalah apa buat loh?

Heran deh gue..hari gini masi ada yg mikir beginian..kayak militer pakai helm tapi otaknya kosong, begitu balas Fahri.

Sementara itu, Zuhairi Misrawi yang dihubungi hidayatullah.com terkait pernyataannya itu, hingga laporan ini diturunkan belum memberikan tanggapan.*

Rep:

Ainuddin Chalik

Editor: Cholis Akbar

Topik: 

Hidayatullah.com

(nahimunkar.com)