• Murid Madrasah Aliyah yang jurusan Agama (Islam) hanya 0,05 dari jumlah murid 4 jurusan (IPA, IPS, Bahasa, dan keagamaan).

Untitled-2

Ilustrasi/ cetusanhati

Dari jumlah 345.603 siswa Madrasah Aliyah yang akan ujian nasional, ternyata yang dari jurusan agama (kini disebut keagamaan, entah apa maksud Kemenag, tadinya bernama jurusan agama) hanya 17.362 siswa. Ini berarti murid Aliyah yang jurusan Agama (Islam) hanya 0,05 dari jumlah keseluruhan (4 jurusan).

Yang banyak justru yang bukan jurusan keagamaan, yaitu: jurusan IPA: 103.835 siswa, IPS: 214.946 siswa, Bahasa: 9.460 siswa.

Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2012/2013 bagi siswa madrasah diberitakan akan diikuti 1.659.717 murid madrasah.

Itu terdiri dari: 484.230 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI), 829.884 siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 345.603 siswa Madrasyah Aliyah (MA), kata seorang pejabat Departemen Agama.

Rekayasa pengikisan pelajaran Islam

Kembali kepada minimnya murid Aliyah jurusan agama (Islam), itu bukan hal yang tiba-tiba terjadi. Namun rekayasa pengikisan agama Islam (dalam dunia pendidikan) sudah dimulai sejak awal Kemerdekaan oleh Kementerian Agama. Kyai Haji Muslih (alm) tokoh NU yang jadi saksi sejarah pernah mengisahkan di Departemen Agama tahun  1985-an bahwa upaya untuk menyedikitkan pelajaran agama (Islam) di madrasah-madrasah di Indonesia sudah dimulai sejak 1946-an. Pihak Departemen Agama/ Kementerian Agama saat itu (kalau tak salah Drs Sunardi) berbeda pendapat dengan KH Zarkasyi (Pendiri Pesantren Gontor) yang juga pegawai di Departemen Agama/ Kementerian Agama. Karena pendapat Kyai Zarkasyi yang menginginkan pelajaran agama (Islam) di Madrasah-madrasah itu `100 persen, dan pelajaran umum 100 persen tidak disepakati, sedang pihak Kementerian Agama menginginkan pelajaran agama (hanya) 30 persen, dan pelajaran umum 70 persen; maka Kyai Zarkasyi pilih “pulang kampong” dan mengasuh Pesantren Gontor Ponorogo saja.

Itu sejarahnya, menurut KH Muslih.

Kalau kita perhatikan, babak selanjutnya masih terus diadakan pengerdilan pelajaran agama di Madrasah oleh Kementerian Agama. Untuk mengerdilkan pelajaran agama yang 30 persen itupun ternyata kemudian dibuat jurusan-jurusan di Madrasah Aliyah. Kini ujung-ujungnya setelah diadakan jurusan-jurusan, yang namanya jurusan agama (kini tampaknya masih dihindari dari Islam, hingga dinamai keagamaan) tinggal sedikit peminatnya. Dan kemudian ketika mereka sudah lulus, lalu masuk ke perguruan tinggi Islam negeri se-Indonesia, para murid madrasah itu sudah disiapkan pendidikan untuk pemurtadan yang arahnya adalah pluralisme agama alias kemusyrikan baru, menyamakan semua agama. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2005).

Siapa yang tidak mengelus dada karena prihatin, generasi Islam telah direkayasa sedemikian dahsyatnya secara sistematis untuk menjauhi Islam, bahkan agar jadi orang musyrik dengan istilah dari Barat yang disebut pluralisme agama dan multikulturalisme. Kalau tidak untuk menyuburkan keyakinan kafir di Indonesia, apa gunanya Depag (kini Kemenag) selama ini gencar menyekolahkan dosen-dosen IAIN se-Indonesia ke negeri-negeri kafir?

Mari kita mengelus dada sekali lagi. Karena hal itu sama dengan pemurtadan terhadap Umat Islam pakai biaya dari Umat Islam, karena penyelenggaraan negeri ini tentunya biaya didapat dari penduduk, sedang penduduk mayoritas adalah Muslim. Itu lebih buruk dibanding isteri yang minta duit kepada suami namun untuk biaya menggugat cerai sang suami. Betapa jahatnya!

Di antara hasil rekayasa untuk menjauhkan Islam dari generasi Muslim Indonesia, kini telah terbukti minimnya murid Madrasah yang dari jurusan agama. Datanya dapat dilihat di dalam berita tentang jumlah murid madrasah pengikut ujian nasional tahun ini seperti tersebut, berdasarkan keterangan dari orang Kemenag berikut ini.

***

1,6 Juta Lebih Siswa Madrasah Siap Ikuti UN

Jakarta (ANTARA) – Tercatat sebanyak 1.659.717 siswa madrasah siap mengikuti Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2012/2013, terdiri dari: 484.230 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI), 829.884 siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 345.603 siswa Madrasyah Aliyah (MA), kata seorang pejabat Departemen Agama.

“Untuk siswa MA, terbagi dalam jurusan IPA: 103.835 siswa, IPS: 214.946 siswa, Bahasa: 9.460 siswa, dan Keagamaan: 17.362 siswa,” kata kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Agama, Zubaidi di Jakarta, Sabtu.

Terkait waktu pelaksanaan UN, ia menjelaskan bahwa UN siswa madrasah dilaksanakan berbarengan dengan UN siswa sekolah. Untuk UN siswa MA akan dilaksanakan pada 15-18 April 2013. Adapun ujian susulannya dijadwalkan pada 22 – 25 April 2013.

“Menteri Agama, Dirjen Pendidikan Islam, Direktur Pendidikan Madrasah, dan saya sendiri dijadwalkan akan melakukan pemantauan langsung di MAN Insan Cendekia Serpong,” tutur Zubaidi.

UN bagi siswa MTs, lanjut Zubaidi, akan dilaksanakan pada 22 – 25 April 2013, dengan susulan pada 29 April – 2 Mei 2013. Adapun UN bagi siswa MI, dilaksanakan pada 6 – 8 Mei 2013 dan ujian susulannya dilaksanakan pada 13 – 15 Mei 2013.

Ia menambahkan bahwa hasil UN ini nantinya akan digunakan sebagai bahan pemetaan program dan/atau satuan pendidikan dan dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. Hasil UN juga akan menjadi penentu kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, serta sebagai dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

“Mata pelajaran yang diujikan pada UN MA, selain Jurusan Keagamaan, sama dengan SMA. Mata pelajaran yang diujikan pada UN MTs sama dengan SMP. Mata pelajaran yang diujikan pada UN MI, sama dengan SD,” kata Zubaid.

Kementerian Agama terus berupaya meningkatkan angka dan kualitas kelulusan siswa madrasah tahun ini. Kalau tahun lalu angka kelulusan mencapai 99 persen, diharapkan tahun ini bisa mencapai 100 persen. “Kementerian Agama dan seluruh siswa madrasah siap menyukseskan Ujian Nasional dengan jujur dan berprestasi,” kata Zubaidi menambahkan.(rr)/ ant

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.333 kali, 1 untuk hari ini)