Oleh : Dr. Slamet Muliono[1]

Zaid bin Haritsah bukan hanya sahabat agung, tetapi sahabat mulia dalam sejarah Islam. Zaid merupakan sahabat yang pertama kali percaya terhadap berita nubuwwah yang diemban oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia meninggal di medan perang saat perang Mu’tah. Zaid memiliki anak laki-laki yang bernama Usamah. Usamah bin Zaid merupakan hasil perkawinan Zaid dengan perempuan mulia yakni Ummu Aiman. Antara Zaid dan Usamah sama-sama dipercaya dan pernah ditunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai panglima perang. Hal ini menunjukkan kemuliaan keduanya.

Zaid, Awal Pemeluk Islam dan Panglima yang Syahid

Zaid bin Haritsah bukan hanya sekedar pendamping Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tetapi membela dan memback up perjuangan sekuat tenaga. Sebelum diasuh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Zaid diculik dan ke pasar, dan kemudian dijadikan budak. Keluarganya mencari ke seluruh wilayah Arab namun tidak ketemu. Sehingga ayahnya membuat sebuah syair yang amat terkenal dan tersebar di penjuru tanah Arab. Berkat syair itulah, maka ayahnya menemukan tempat dimana Zaid berada. Ternyata Zaid bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Begitu ayahnya menemukan diri Zaid, maka dia menawarkan harga dan siap membayar tebusan demi memperoleh anaknya kembali. Tetapi Nabi mengatakan tidak perlu membayar bila anaknya mau. Begitu ditawari oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk memilih ayaahnya untuk diajak pulang, Zaid justru menolak dan tidak ingin pulang ke rumahnya. Dia lebih memilih hidup bersama Nabi. Sehingga orang tuanya pulang dan membiarkan Zaid tinggal bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kesayangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap Zaid terlihat ketika menawarkann putri yang cantik jelita dari kalangan banagsawan yang bernama Zainab binti Jahsy. Awalnya Zainab menolak karena Zaid dianggap mantan budak, tetapi karena yang memerintahkan Nabi maka dia menjalaninya. Zaid juga mengalami perasaan yang sama karena harus menikah dengan perempuan bangsawan yang berbeda dari berbagai sisi, sosial, ekonomi, dan kebiasaan hidup.

Akhirnya keduanya berumah tangga sebagaimana umumnya, dan hubungan suami istri berjalan. Keduanya merasa kurang cocok dan kurang menemukan kebahagiaan. Zaid sudah berkali-kali akan menceraikan istrinya tetapi dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta Zaid untuk bersabar. Namun karena sudah dirasa tidak ada kecocokan maka Zaid menceraikan Zainab. Setelah perceraian itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahi Zainab, sehingga menghebohkan masyarakat Arab. Heboh karena nabi menikah dengan menantunya sendiri.

Setelah cerai dengan Zainab, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahkan Zaid dengan Ummu Aiman. Ummu Aiman adalah seorang perempuan yang pernah menggendong Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat kecil. Zaid berkulit putih sementara Ummu Aiman berkulit hitam keriting. Hasil pernikahan keduanya, melahirkan Usamah yang mirip ibunya.

Kisah heroik Zaid terlihat ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menunjuknya sebagai panglima perang saat perang Mu’tah. Zaid ditunjuk sebagai salah satu dari empat panglima, yakni Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Rawahah, Khalid bin Walid. Dalam peperangan melawan tentara Romawi itu, semua panglima gugur, kecuali Khalid bin Walid. Dalam perang itu, Zaid mati sebagai syuhada’.

Usamah, Sahabat Dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Sebelum meninggal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menunjuk Usamah bin Zaid untuk memimpin perang melawan Romawi. Penunjukan Usamah sempat mengganjal para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dimana usianya yang masih belasan tahun. Padahal pada saat itu ada Khalid bin Walid, Umar bin Khaththab, atau Ali bin Abi Thalib, sementara Romawi memiliki kekuatan yang tangguh yang memiliki pasukan dan pengalaman perang serta persenjataan yang lebih canggih. Dalam peperangan yang berlangsung setelah kematian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu, Usamah berhasil memenangkan dan mengalahkan pasukan Romawi. Ini menunjukkan keutamaan Usamah dan kegigihan dalam membela Islam.

Usamah dikenal sebagai orang yang dicintai dan dekat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Salah satu bukti kedekatan Usamah dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika ada peristiwa pencurian yang dilakukan oleh seorang perempuan bangsawan. Ada kasak kusuk agar perempuan bangsawan itu bisa bebas dari hukuman potong tangan. Para sahabat tidak ada yang berani melakukan lobi kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah semuanya menemui jalan buntu, maka ditemukan satu orang yang dianggap dekat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Satu-satunya sahabat yang dianggap dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sanggup menyampaikan perihal keringanan hukum itu tidak lain adalah Usamah bin Zaid. Akhirnya, Usamah memberanikan diri untuk menyampaikan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mendengar penuturan Usamah bin Zaid itu, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memuncak kemarahannya, dan kemudian mengatakan : Kaum Yahudi dahulu dihancurkan Allah karena ketika pencurian yang melibatkan seorang bangsawan maka dibebaskan tetapi ketika yang terlibat pencurian itu dari kalangan masyarakat biasa, maka hukum potong tangan ditegakkan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam langsung mengatakan : “Andaikata Fatimah, putriku mencuri, maka aku akan potong tangannya”.

Kisah ini menunjukkan bahwa Usamah bin Zaid adalah orang yang dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga berani menyampaikan permohonan maaf untuk membebaskan perempuan bangsawan yang mencuri dari hukum potong tangan.

Zaid dan Usamah benar-benar memberi inspirasi kepada kita untuk memiliki spirit beragama sehingga memiliki derajat yang dicintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tentu saja manusia yang dicintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan berupaya untukmengikuti apa-apa yang diperintahkan dan dilarang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Konskuensinya, orang yang dicintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam karena melakukan apa yang diperitahkannya, akan berada di surga bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Surabaya, 8 Nopember 2018

[1] Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya & Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.357 kali, 1 untuk hari ini)