Ilustrasi : padienamempat.blogspot.com


Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

Ini di antara kisah haru seorang dai. Layak Anda baca, apalagi buat anak-anak alumni al-Irsyad Tengaran era mutaqaddimin dan muta’akhkhirin. Seri kedua cerita seorang Mas Boy. Silakan share.

***

Serial SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [4] “Mas Boy, Dai Teladan”

Status ini adalah episode selanjutnya tentang Mas Boy. Ada cerita yang bertahun-tahun terkubur tak tersiar di telinga manusia tentang perjalanan dakwah Mas Boy yang one in a million. Jarang ditemukan orang seperti beliau. Rela berkorban, ikhlas dan diridhai manusia.

Saya pribadi ‘menganjurkan’ pembaca, jika bisa men-share cerita ini, agar tidak berat hati untuk men-share nya. Jika bisa meng-copas nya ke blog atau apapun wadahnya, agar ringan hati untuk men-share-nya. Dan saya meminta para pembaca, jika sedianya ada yang bisa ditiru dari beliau dari metode atau inspirasi, maka MOHON DOAKAN beliau. Semoga Allah meninggikan derajat beliau. Tulisan ini dibuat tanpa sepengetahuan beliau sama sekali. Dan mungkin beliau sudah lupa akan penulis ini.

MAS BOY, DAI TELADAN YANG TERKENANG

Tahun 2000, Mas Boy dikirim oleh pondok saya untuk mengabdi di MTS Al-Irsyad desa Wonosari, Kabupaten Ngawi. Letaknya di kaki Gunung Lawu. Di pondok saya, tiap santri yang lulus akan kena jatah mengabdi, yaitu menjadi dai. Disebar atau dikirim ke pondok-pondok atau daerah-daerah untuk mengajar apapun yang dibutuhkan di sana. Namun, tidak semua kebagian nasib baik mengajar di luar pondok.

Mas Boy yang kami ketahui beliau bukanlah seperti mereka yang hebat dalam ceramah berapi-api. Beliau juga bukan seperti mereka yang penuh prestasi terkenal. Beliau hanyalah seorang Tafkurrahman, pecinta anak-anak, pelindung, penaung, perangkul dan pengajar orang-orang yang membutuhkan.

Sampai di MTS Wonosari, beliau ditugasi untuk mengajar di masjid MTS. Mengajar ngaji. Suatu saat, pengajiannya dipindah ke masjid desa. Namanya Masjid Baitul Muttaqiin. Beliau ajarkan anak-anak desa Iqro. Di kaki gunung, hampir semua anak tentunya buta membaca Al-Qur’an. Bahkan banyak pula orang tua mereka yang serupa nasib.

Kian lama, pengajian beliau kian banyak pengunjungnya dari anak-anak. Allah memberkati upaya beliau. Bahkan anak-anak dari desa tetangga pun banyak yang sedia jalan kaki untuk belajar dengan beliau. Ada dari desa Ngadiluih dan Sedonorejo. Anak-anak berjalan kaki siang atau sore selama 15 menitan demi menghadiri pengajian Iqro bersama beliau. Lebih menakjubkan lagi, ada sekitar 4 atau 5 anak dari desa Tedunan yang rela pula datang ke pengajian beliau. Padahal, desa itu cukup jauh dari tempat beliau mengajar. Dan jalannya pun menanjak. Allah sungguh memberkati usaha dakwah beliau.

Beliau mengajar anak-anak [SD dan SMP] jam 2 siang hingga 5 sore. Sedangkan setelah maghrib di Masjid Al-Irsyad, beliau mengajar anak 15+ ke atas. Nah, di antara anak SMP yang beliau ajarkan itu, ada seorang anak bernama Nardi, yang darinyalah cerita ini terceritakan. Ia baru kelas 2 SMP dan belum begitu mampu membaca Al-Qur’an. Berawal dari penasaran dan ingin ikut-ikutan teman, karena makin lama terihat makin banyak anak desanya yang ngaji di Masjid Baitul Muttaqiin. Dan karena tiap Maghrib dan Isya dia shalat berjamaah di sana.

Selain mengajarkan Iqra dan ngaji, beliau juga mengajarkan adab dan akhlak buat anak-anak. Beliau disenangi anak-anak dan orang dewasa. Sebabnya: beliau mahir melempar lelucon yang menyenangkan anak-anak. Beliau juga bertutur halus terhadap orang-orang tua dan murah senyum.

Metode mengajar adab dari beliau pun cukup menarik. Semoga ada yang mencontohnya. Jika minggu ini beliau membahas tentang adab makan secara oral, minggu depan beliau langsung meminta anak-anak praktek. Caranya: semua anak diminta membuat tabel sendiri-sendiri di buku catatannya. Di tabel itu, tertulis banyak kolom. Satu kolom tentang makan dengan tangan kanan. Satu kolom tentang cuci tangan sebelum makan dahulu. Dan kolom-kolom lain. Nah, di tiap baris dalam tiap kolom tersebut, anak-anak diminta untuk jujur mencentang jika melakukan adab-adab itu, atau menanda silang jika melanggar. Anak-anak desa yang rata-rata polos tentu saja berlaku jujur. Begitu juga ketika beliau membahas materi tentang Sholat 5 Waktu, Berbakti pada Orang Tua dan lain-lain.

Cara di atas menarik dan disukai banyak pihak. Nardi, yang ketika itu masih polos dan lugu, adalah salah satu praktisi. Ia pun bilang ke saya kemarin, “Suatu saat insya Allah kalau saya sudah punya umat dididik, akan saya terapkan metode beliau itu.” Karena Nardi sendiri merasakan dirinya yang dulunya adalah anak desa, tidak begitu kenal mengaji, tapi sekarang malah bisa kuliah di LIPIA. Artinya: bisa ngaji lancar, bisa bahasa Arab lancar, bisa baca kitab-kitab ulama dari zaman ke zaman, bisa ini dan itu yang mana kyai di kampungnya tidak bisa lakukan. Itu semua berawal dari kehadiran Mas Boy, Ust. Tafkurrahman di desanya. Dan tiada yang terjadi melainkan atas izin Allah.

Di antara yang menarik dari beliau, adalah seringkali di Hari Minggu pagi, beliau mengajak anak-anak untuk jalan-jalan. Jalan keliling kampung. Tiap anak membawa bekal makanan dari rumah masing-masing. Nardi, anak desa kelas 2 SMP, seringkali pula ikut untuk mengawasi anak-anak. Yang mengharukan : ketika sudah tiba waktu makan, mereka [anak-anak] membuka bekalnya masing-masing dan makan bersama. Dan, di sinilah Mas Boy kembali mengajari anak-anak sesuatu yang berarti. Di antara anak-anak, tentu ada yang berasal dari keluarga kurang mampu. Maka, bekal milik anak-anak yang berasal dari keluarga mampu pun dibagi-bagi ke mereka. Sehingga terjadi equality, kesama rataan. Yang berlebih memberi yang kurang. Yang di atas mengasihi yang di bawah.

Selain mengajar anak-anak, beliau juga mengajar orang-orang tua di masjid. Tapi, hanya sekali atau dua kali seminggu. Yang hadir banyak sekali. Berpuluh-puluh orang. Itu karena beliau mempunyai kemampuan mengambil hati manusia dengan senyuman dan enak dipergauli. Juga tutur bahasa dan wajah yang bersahaja. Ia adalah pemakai peci putih, pemilik jenggot panjang dan celana cingkrang. Ia tidak membahas topik-topik berat di sana. Bukan topik manhaj, atau topik aliran sesat. Tapi, beliau membahas topik-topik ringan yang membekas dan tidak membuat perpecahan juga persinggungan. Saya sendiri pernah mendengar cerita dari Lampung. Ada dai datang ke desa di sana, baru datang mengatasnamakan Salaf, langsung main tahdzir dan memecah belah umat desa yang tadinya bersatu saling membahu. Bukannya merangkul umat, tapi malah merusak hati ratusan manusia. Jadi, dakwah juga ada metodenya. Terlebih di kampung. Yang pertama dibutuhkan bukan 100 dalil atau artikel copas panjang-panjang. Itu kalau di depan manusia umum.

Lalu, pertengahan 2001, masa pengabdian beliau habis. Beliau harus kembali ke pondok Al-Irsyad Tengaran Salatiga untuk melaporkan hasil pengabdiannya. Desa itu pun berguncang. Para penghuninya sudah terlanjur cinta beliau. Mereka tidak rela beliau pergi. Mereka ingin beliau tetap di desa mengajari mereka.

Ini adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Bahkan, orang-orang desa pun menyewa 2 bus untuk mengantar Mas Boy ke Salatiga. Di dalam 2 bus itu, ada puluhan bapak-bapak asli kampung yang meminta pondok saya agar Mas Boy tetap mengajar di desa Wonosari. Ini adalah hal yang paling mengharukan sepanjang sejarah pengiriman dan pengabdian di pondok. AKhirnya Mas Boy pun mengajar dan menetap di desa kaki gunung Lawu itu setahun ke depan.

Oleh : Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy31 Oktober 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.365 kali, 1 untuk hari ini)