Simak pengalaman seorang relawan medis Indonesia yang ditugaskan di Iran berikut;

Tahun 2003 akhir saat saya ditugaskan menjadi tim bantuan medis RI untuk korban gempa bumi di Iran bersama rombongan ada juga kawan yang syi’ah. Saat diskusi dengan anggota tim yang di antaranya juga ada tentara, kawan saya yang syi’ah ini mengajukan usul solusi bagi tentara yang dikirim ke medan perang dalam waktu lama itu sebaiknya menikah mut’ah saja katanya.

Saya sangat tersinggung dengan usulnya tersebut. Kelihatan banget kan asli syi’ahnya muncul.
Lalu saya katakan…”Usul yang bagus sekali bro… Btw saya boleh ya nanti minta izin untuk anakmu yang perempuan agar dinikah mut’ah oleh para lelaki ini….Ya masing masing satu jam saja…saya kira cukup lah.”

Langsung wajah kawan yang syi’ah ini merah dan akhirnya mingkem….hahaha.

Ternyata Syi’ah pun keberatan kalo anak perempuannya dinikah mut’ah secara bergilir oleh orang lain secara massal. Padahal dalam aqidah syi’ah itu pernikahan mut’ah sangat dianjurkan. Orang yang menikah mut’ah berulangkali mendapat kedudukan setara dengan para imam mereka bahkan setara dengan nabi saw, katanya. Tapiii jangan dengan anaknya sendiri ya…dengan orang lain boleh hahaha…dasar syi’ah sesat.

(dr Piprim Yanuarso)Syiahindonesia.com

***

Syiah lebih pilih Mazdak daripada Ali ra

Syiah lebih pilih ajaran zina dari Mazdak nabi palsu Majusi daripada larangan Mut’ah dari Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ali bin Abu Thalib. Padahal, syiah mengaku membela Ali, bahkan mengkultuskannya, namun ternyata justru Ali tidak diikuti, namun ajaran zina dari Mazdak yang dipakai. Itupun masih pula diamai nikah mut’ah yang larangannya telah disampaikan oleh Ali ra dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi intinya, syiah itu keyakinannya majusi, tapi covernya Islam. Maka mirip dengan orang munafik, isinya kekafiran, namun sampulnya Islam.

Perlu diingat, dedengkot munafik zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namanya Abdullah bin Ubay bin Salul boleh masuk masjid Haram Madinah (Nabawi) bahkan shalatnya di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh. Karena sampulnya Islam.

Begitu juga syiah, walau isinya Majusi, namun covernya Islam, maka boleh berhaji ke Makkah.

Tentang sejarah kejahatan Mazdak yang jadi anutan syiah dapat anda baca di sini:Kejahatan Syiah dari Mazdak hingga Tajul Muluk Sampang

By nahimunkar.com on 26 January 2014

https://www.nahimunkar.org/kejahatan-syiah-dari-mazdak-hingga-tajul-muluk-sampang/

(nahimunkar.com)