Ilustrasi Muslim.Or.Id


Oleh : Dr. Slamet Muliono*

Pentingnya tauhid dan keharusan menjauhkan syirik merupakan misi para Nabi dan Rasul, sehigga umatnya harus senantiasa waspada terhadap perbuatan syirik. Seringkali manusia mengira bahwa berbuat apapun, termasuk berbuat syirik tidak masalah, namun yang penting mendatangkan kebaikan. Mereka tidak peduli lagi soal cara yang penting akhirnya membawa kebaikan. Padahal, perbuatan syirik pada hakekatnya menghancurkan segala amal baik kita. Umar bin Khaththab merupakan figur yang sangat memperhatikan umatnya agar menjauhi dosa syirik. Kisah Danial, nama seorang Nabi era Bani Israil yang jenazahnya disimpan di suatu tempat, dan dikeluarkan ketika terjadi paceklik. Mayat sang Nabi ini dianggap bisa mendatangkan berkah ketika terjadi musibah. Ketika terjadi penaklukan era Umar, tradisi ini dihilangkan guna menjauhkan umat dari kesyikirikan dan mengembalikan penyembahan dan pengagungan hanya kepada Allah.

Kisah Mayat Yang Dinilai Memberkahi 

Allah menjaga jasad atas mayat orang-orang shalih dari kerusakan sebagaimana yang dikehendaki-Nya, dan itu berlaku bagi para nabi dan rasul-Nya. Karena mereka meniti jalan di dunia ini dan senantiasa mengisinya dengan berbagai amalan mulia. Salah satu kisah terjadi pada pemerintahan Umar bin Khaththab, ketika terwujud pembebasan Kota Tustar, ibukota kerajaan Khurmuzan. Dalam kitab “Sirah wal Maghaazi”,  Muhammad bin Ishaq bahwa Abul ‘Aliyah) mengisahkan bahwa di dalam ruang penyimpanan harta kerajaan, prajurit muslimin saat itu menemukan jenazah seorang laki-laki yang masih utuh. Jenazah itu diperkirakan mencapai usia 300 tahun, namun jenazahnya tidak membusuk sedikitpun. Di samping kepala jenazah tersebut ada sebuah mushaf bertuliskan kalimat dalam bahasa Khurmuzan. Abul ‘Aliyah lantas mengirim mushaf tersebut kepada Amirul Mukminin, ‘Umar bin al-Khattab sekaligus mengabarkan kepada beliau perihal jenazah yang mereka temukan.

Setelah isi mushaf ditelaah dan diterjemahkan, ternyata di dalamnya terdapat kabar-kabar tentang kehidupan di akhirat, tentang surga dan neraka, juga tentang kabar Rasulullah ﷺ bersama para Sahabatnya. Diperoleh kabar bahwa jenazah laki-laki itu dalam Baitul Maal, dan jika terjadi paceklik dan kekeringan di negeri tersebut, mereka mengeluarkan jenazah itu ke tanah lapang. Tiba-tiba saja langit menurunkan air hujan.

Jenazah itu dianggap sebagai jalan keluar bila ada problem menimpa, seperti kekeringan, kelaparan, atau penyakit. Ini merupakan salah satu bentuk ujian bagi orang-orang yang bertauhid dan siapapun yang kurang teguh tauhidnya, maka jalan-jalan kesesatan dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan.  Andaikata saat ini ada jenazah seperti ini, maka manusia akan terlibat konflik untuk memperebutkannya, dan bahkan akan diagungkan guna memperoleh manfaat duniawi.

Yang menarik adalah kebijakan Umar Rhadhiallahu ‘Anhu setelah menerima informasi ini. Setelah proses pengalihan harta kerajaan Khurmuzan menjadi perbendaharaan Baitul Maal kaum muslimin, maka Umar segera memerintahkan kepada Abul ‘Aliyah, yang ketika itu bersama prajurit kaum muslimin, untuk menggali 13 liang lahat yang berjauhan untuk dijadikan sebagai kuburan di tengah malam. Jenazah itu dikubur di salah satu liang lahat, dan kemudiaan menimbun semua liang lahat dan meratakannya dengan tanah. Abul ‘Aliyah mengatakan bahwa jenazah laki-laki, yang bernama Danial, dikubur di salah satu di antara 13 liang lahat itu.

Kebijakan Umar menguburkan jenazah semata-mata untuk melindungi umat ini dari kesesatan dan penyimpangan akidah. Dengan menggali 13 lubang, lalu menguburkan mayit di salah satu lubang, serta meratakannya dengan tanah, dilakukan di tengah malam yang gelap, merupakan cara memutus mata rantai kesyirikan. Di mata Umar, urusan tauhid merupakan hal utama dan kesyirikan merupakan dosa besar yang paling keji sehingga harus dijauhkan dari manusia. Allah memerintahkan kepada seluruh Nabi dan Rasul menjauhkaan syirik sebagaimana firman-Nya : “Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Syirik dan Terhapusnya Amal Kebaikan

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah ﷺ menyatakan, sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud meriwayatkan :“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ; dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab: engkau buatkan Allah tandingan (dengan makhluk-Nya) sementara Dia yang menciptakanmu. Aku berkata: sungguh itu amat dahsyat. Aku bertanya: kemudian dosa apa lagi (setelahnya)? Beliau menjawab: engkau membunuh anakmu gara-gara takut dia mengambil jatah makanmu. Aku bertanya lagi: kemudian dosa apa lagi? Beliau menjawab: engkau berzina dengan istri tetanggamu.” [al-Bukhari: 4477, Muslim: 86]

Perbuatan bapak membunuh anak, dinilai sebagai orang tua yang rusak akal pikirannya. Demikian pula seseeorang yang berzina dengan tetangganya maka dinilai masyarakat sebagai sebagai manusia yang bejat moralnya. Namun perilaku mengadakan tandingan (syirik) kepada Allah, yang jauh lebih besar dosanya daripada membunuh anak dan berzina dengan tetangganya, seringkali dinilai sebagai hal yang sepele. Doa Nabi Ibrahim yang sangat terkenal sebagaimana firman-Nya : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala. (QS. Ibrahim: 35).

Di era modern ini kita melihat banyak manusia meminta dan mengagungkan kuburan, melempar sesaji berupa kepala kerbau atau sapi ke laut, praktek pedukunan, percaya kekuatan akik, dan hal itu tidak disadari sebagai perbuatan yang menghapuskan amal kebaikannya. Disinilah pentingnya dakwah Tauhid dengan mengikuti Sunnah pada pendahulu kita yang shalih.

*Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

Surabaya, 4 Maret 2019

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.017 kali, 1 untuk hari ini)