Kisah Melamar di Desa


Ilustrasi. Sebuah desa dipotret dari sawah./ foto sumber.sideka.id

Ketika seseorang punya paman banyak, punya adik banyak, dan punya anak banyak tentunya banyak hal yang dilihat bahkan dialami berkaitan dengan masalah kekeluargaan. Di antaranya soal lamar melamar.

Dari kecil seseorang yang dari keluarga besar ini sudah mendengar soal lamar melamar. Ini di atara kisahnya.

Suatu malam, ba’da isya’, ia menginap di kakeknya. Kakek itu punya anak banyak, dan masih ada dua yang belum nikah, sang bontot (ragil alias bungsu) dan abangnya. Yang abangnya ini orang terkemuka di desa tempatnya itu, walau belum nikah namun sudah terkenal karena beraninya mendobrak kebiasaan kurang bagus di tahun 1960-an yaitu zakat fitri tidak pernah dibagi ke faqir miskin, namun hanya disetorkan ke kyai ataupun modin. Pemuda ini sangat lantang mengkritik masalah itu. Maka terkenal.

Nah, suatu malam ba’da isya’ di rumah kakek tersebut ada tamu, orang terpandang pula, dia punya banyak sawah dan kebun. Tamu itu punya anak gadis-gadis. Rupanya tamu itu meminta ke Kakek, agar perjakanya yang pemberani itu dinikahkan dengan gadisnya yang tertua.

Lhah, si anak kecil (cucu yang menginap di tempat kakek) itu heran sekali, perjaka malah dilamar oleh orang tua gadis?

Tidak berapa lama, kemudian pernikahan terjadi. Tamu2 undangan yang hadir cukup banyak. Karena yang nikah adalah pemuda yang terkenal di desa itu. Tamu yang datang pun bukan hanya dari desa itu, karena di samping kakek itu punya kerabat di berbagai desa lainnya, masih pula sang pengantin ini punya teman-teman yang banyak karena dia sekolah di sekolahan yang muridnya dari berbagai tempat. Sehingga seakan belum pernah ada pengantin di desa itu yang tamunya sebanyak itu dan dari berbagai tempat.

Si cucu pun gembira karena ternyata Kakek menghadiahi sang cucu sebuah torpedo, yakni kontol wedus (buah zakar kambing yang gandul2 itu) yang sudah dimasak.

Kenapa dihadiahi itu? Apakah karena nguping kejadian lamaran, malah pihak perempuan yang melamar, lalu si cucu agar tidak membocorkannya, maka dihadiahi sebagai alat pembungkam?

Tidak begitu. Tidak ada bungkam membungkan untuk cucu dari kakek. Tapi hadiah itu, karena sebelumnya, Kakek wanti-wanti ketika sang cucu megangon kambing Kakek, agar kambing jantan yang diangon di antara kambing2 lainnya itu jangan sampai menghubungi kambing betina. Harus dicegah. Karena sebentar lagi akan disembelih untuk merayakan pernikahan sang Paman. Maka ketika kambing itu sudah disembelih dan dimasak, saat resepsi pernikahan alias walimah, sang cucu pun diahadiahi torpedo wedus tersebut. Alhamdulillah. Kakek sayang cucu, dan cucu sayang kakek.

Ketika sang paman berumah tangga, pengantin baru, kemesraan pun tampak dialami. Bahkan sebagian gajinya dibagi-bagikan ke saudara-saudaranya, kakang2nya dan mbakyu-mbakyunya. Sehingga kerukunan dan kedamaian keluarga dan antar keluarga cukup harmonis. Kata orang Jawa, pager mangkok luwih kuwat timbang pager bangkok. (Pagar mangkuk lebih kokoh ketimbang pagar bambu besar). Maksudnya, memberikan hadiah atau pemberian sesuatu makanan dan sebagainya itu lebih manfaat untuk menjaga diri dan keluarga dibanding sekadar memagari pekarangan dengan pagar yang kokoh. Kalau bahasa agamanya, tahaadau tahaabbuu, saling menghadiahilah maka kalian pasti saling mencintai.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tahaadau tahaabbu,

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1601. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam catatan kaki Fiqh Al-Akhlaq menyatakan bahwa sanad haditsnya hasan dengan syawahidnya) -lihat rumaysho.com.


Qadarulah, Paman yang pengantin baru ini tiba-tiba sakit keras yang sangat keras. Beberapa bulan. Istrinya sangat setia untuk menceboki, menyibini, menunggui dan melayani apa saja.

Suatu malam menjelang subuh, terdengar tangisan banyak orang di rumah Kakek. Ternyata ajal sang Paman telah sampai.

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Pemuda, pengantin baru, da’i terkemuka dan pemberani, telah dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sedihlah desa itu, tangisan menitikkan air mata membasahi pipi2 jamaah masjid yang baru saja dibangun oleh pemuda itu dengan Kakek dan anak-anaknya serta warga desa itu. Pemuda pemimpin masjid baru yang sangat dicintai jamaahnya ini telah dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta;ala.

Siangnya banyak sekali orang yang melayat, berta’ziyah. Saat itu belum pernah ada orang meninggal di desa itu yang penta’ziyahnya sebanyak itu.

Innaa lillaaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Seorang da’i yang berani menegakkan kebenaran di desa itu meninggal muda, ketika masih pengantin baru, dan meninggalkan masjid yang baru saja diresmikan.

Sampai kini sepertinya belum ada penggantinya yang selevel itu. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganti yang lebih baik lagi.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 271 kali, 1 untuk hari ini)