Kisah Pejabat Sederhana

Muhammad Natsir, Antara Jas Tambalan & Mobil Butut

Ilustrasi. Buku Terbitan Pustaka al-Kautsar Jakarta/ 656 halaman, Rp 185.000

Jakarta – Di tengah langkanya sifat sederhana para pejabat saat ini, rasanya pantas untuk berpaling sejenak melihat kehidupan mantan Perdana Menteri Muhammad Natsir. Lepas dari segala kontoversinya dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Natsir adalah tipe pejabat yang tak bergelimang harta.

Natsir kecil lahir di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Ia merupakan pendiri Partai Masyumi yang dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960. Selain pernah menjadi perdana menteri, ia sempat menjabat sebagai menteri penerangan selama beberapa periode.

Natsir, yang mendapat gelar sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2008 dikenal sebagai sosok yang penuh sopan-santun dan rendah hati. Natsir juga negarawan yang sangat bersahaja dalam kehidupan sehari-harinya.

Indonesianis terkemuka dari Cornell University, Amerika Serikat (AS), George McTurnan Kahin, menuturkan kesan sederhana yang ia tangkap dari Natsir. Ketika itu, tahun 1948, Kahin tengah berkunjung ke Yogyakarta yang menjadi pusat pemerintahan RI dan bertemu Natsir.

Penulis buku “Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia” (1952) ini melihat penampilan Natsir yang hampir-hampir tak menunjukkan seorang menteri penerangan. Natsir mengenakan jas yang penuh dengan tambalan di sana-sini. Kahin belakangan tahu kalau para staf Kementerian Penerangan mengumpulkan uang untuk membeli baju buat Natsir.

Ketika menjadi perdana menteri pada Agustus 1950, penampilan Natsir juga tidak banyak berubah. Natsir menempati rumah bekas Soekarno di Jl Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi), Jakarta Pusat. Sebelum pindah ke rumah tersebut, Natsir dan keluarganya tinggal menumpang di sebuah gang di Jl Jawa dan lalu di kawasan Tanah Abang.

Mengenai tunggangan Natsir kala itu, Majalah Tempo Edisi 14 Juli 2008 menulis, sang menteri penerangan itu pun cuma mempunyai mobil bermerk DeSoto yang telah kusam. Pada 1956, Natsir ditawari sebuah mobil sedan mewah buatan AS, namun ia menolak dengan halus.

Setelah melepas jabatan sebagai perdana menteri, Natsir menanggalkan mobil dinasnya di Istana Kepresidenan. Ia memilih untuk membonceng sopirnya pulang ke rumah Jl Proklamasi. Tak berapa lama, Natsir dan keluarga kembali pindah ke Jl Jawa.

Masih menurut Tempo, Natsir mengaku tidak punya uang ketika ada Ketua Muhammadiyah Kalimantan Selatan minta uang untuk pulang ke Kalsel. Natsir juga menolak sisa dana taktis kala menjabat sebagai perdana menteri. Dana itu akhirnya dimasukkan ke koperasi karyawan.

Semasa bergabung dengan PRRI, Natsir bersama anak istrinya menjalani hidup dari hutan ke hutan di Sumatera Barat (Sumbar). Ia lalu ditangkap dan dipenjarakan oleh Soekarno selama tahun 1960-1966. Karena kehilangan rumahnya di Jl Jawa, Natsir lalu membeli rumah yang kini berada di Jl HOS Cokroaminoto, Jakpus. Rumah itu ditempatinya hingga wafat pada 6 Februari 1993.

(irw/asy)
– detikNews, Selasa, 15 Nov 2011 18:59 WIB

(nahimunkar.org)