Kisah Pelacur Diampuni Allah karena Beri Minum Anjing Kehausan, Bukan Bermakna Zina Itu Kejelekan Biasa

  • Kisah Pelacur Diampuni Allah karena Beri Minum Anjing Kehausan, Bukan Berarti Keburukan Zina Itu Kejelekan Biasa, Sebagaimana Pembunuh 100 Orang Lalu Mau Bertobat dan Diampuni Bukan Berarti Membunuh Itu Kejahatan Biasa.
  • Lebih buruk lagi bila menganggap dengan adanya ‘Kisah Pelacur Diampuni Allah karena beri minum anjing kehausan’ sebagai mengangkat derajat pezina. Sama sekali tidak demikian. Bila ada yang berpandangan begitu, maka betapa jauhnya dari yang sebenarnya bahwa kisah dalam hadits itu bahkan menunjukkan betapa tingginya keburukan zina, sebagaimana betapa tingginya kejahatan membunuh; namun kejahatan besar itu diampuni Allah Ta’ala karena upaya pelakunya dalam beramal baik begitu sungguh2nya, dan ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala, tidak ada riya’, pamrih dan sebagainya. Benar2 tulus ikhlas karena Allah dan sebagai perwujudan dari keimanan, ketauhidan. Hingga benar2 diterima Allah Ta’ala, bahkan diampuni dosa2 kejahatannya yang sangat tinggi.

Letak keikhlasan dalam beramal kebaikan sebagai inti keimanan ketauhidan hanya untuk Allah Ta’ala itulah yang menjadikan dosa besar bahkan kejahatan tingkat tinggi pun diampuni, lantaran kebaikan yang dilakukan dengan betul2 ikhlas lilLahi Ta’ala itu.

Tidak adanya campur riya’ atau bahkan kemusyrikan tidak ada padanya itulah maka amalnya yang baik diterima hingga diampuni.

Sebaliknya, bila ada noda berupa kemusyrikan, bahkan hanya riya’ pamer kepada orang atau ada pamrih untuk mendapatkan pujian dan semacamnya dari orang, maka kebaikan tertinggi pun menjadikan murkanya Allah Ta’ala, amalnya yang tingkat berpahala tinggi pun tidak diterima, bahkan pelakunya dicemplungkan ke neraka, karena ketidak ikhlasannya.


Ilustrasi. Unggahan Nikita Mirzani [Instagram/@nikitamirzanimawardi_17]

Nikita mencomot hadits sahih yang diriwayatkan Imam Tirmidzi. Dalam hadists itu dijelaskan bagaimana seorang mukmin seharusnya./ SuaraJatim.id  Senin, 16 November 2020 | 12:46 WIB

 

 

Dalam kaitan beramal tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala, tapi untuk pamer, riya’ dan semacamnya ada hadits terkenal. Silakan simak ini.

***

Orang Jihad, Penuntut Ilmu, Dermawan tapi Masuk Neraka karena Tidak Ikhlas

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره


Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.'”

Hadits ini diriwayatkan oleh :
1. Muslim, Kitabul Imarah, bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau (III/1513-1514 no. 1905).
2. An Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari’, Sunan Nasa-i (VI/23-24), Ahmad dalam Musnad-nya (II/322) dan Baihaqi (IX/168).

https://sunnisalafygarut.wordpress.com/

***

Hadits tersebut justru menunjukkan amalan jihad, berilmu, dan berderma itu amalan2 yang tinggi nilainya, namun bisa hancur lebur pahalanya karena ketidak ikhlasan pelakunya. Itu bukan berarti jihad, berilmu, dan berderma itu rendah nilainya; tapi menunjukkan sebegitu bahayanya ketika beramal kebaikan sampai yang aslinya berpahala tnggi pun bila kosong keikhlasannya, maka tidak diterima, bahkan dicemplungkan ke neraka. Karena tujuannya bukan untuk Allah Ta’ala.

Dengan membandingkan keburukan tingkat tinggi (pezina dan pembunuh 100 orang) diampuni dosanya karena amal yang benar2 ikhlas karena Allah tanpa pamrih; dan kebaikan tingkat tinggi (jihad, berilmu, berderma) namun dimasukkan ke neraka karena beramalnya tidak ikhlas murni untuk Allah Ta’ala tapi karena riya’ ada pamrih kepada selain Allah ta’ala; maka jelas2 menunjukkan pentingnya keikhlasan dalam beramal, hanya untuk Allah Ta’ala. Hingga kejahatan tingkat tinggi bisa diampuni karena mengerjakan amal kebaikan yang dilakukannya benar2 niatnya ikhlas untuk Allah Ta’ala. Sebaliknya, kebaikan tingkat sangat tinggi namun dalam pelaksanaannya diniatkan bukan murni ikhlas untuk Allah Ta’ala tapi punya tujuan lain untuk mendapatkan pujian manusia dan semacamnya, maka menghancurkan keikhlasan, hingga menghancurkan pahalanya, bahkan dimasukkan ke neraka.

Sekali lagi itu justru menegaskan zina dan membunuh itu keburukan tingkat tinggi, sedang jihad, berilmu, dan berderma itu kebaikan tingkat tinggi. Hanya saja, bila kejahatan tingkat tinggi itu ditobati dengan disertai amalan baik yang benar2 ikhlas, maka diampuni. Sebaliknya, kebaikan tingkat tinggi ketika dilakukannya tanpa ikhlas bahkan bertujuan lain, ingin pujian manusia dan semacamnya maka tidak diterima kebaikan tingkat tngginya itu, bahkan mendatangkan murka Allah Ta’ala dan dimasukkan ke neraka.

***

Mari kita simak hadits tentang kisah pezina yang diampuni karena memberi minum anjing yang kehausan.

***

TENTANG HADITS WANITA PEZINA DAN SEEKOR ANJING YANG KEHAUSAN

 

TENTANG HADITS

 

‏« ﺑَﻴْﻨَﻤَﺎ ﻛَﻠْﺐٌ ﻳُﻄِﻴﻒُ ﺑِﺮَﻛِﻴَّﺔٍ ﻛَﺎﺩَ ﻳَﻘْﺘُﻠُﻪُ ﺍﻟْﻌَﻄَﺶُ؛ ﺇِﺫْ ﺭَﺃَﺗْﻪُ ﺑَﻐِﻲٌّ ﻣِﻦْ ﺑَﻐَﺎﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ؛ ﻓَﻨَﺰَﻋَﺖْ ﻣُﻮﻗَﻬَﺎ ﻓَﺴَﻘَﺘْﻪُ؛ ﻓَﻐُﻔِﺮَ ﻟَﻬَﺎ ﺑِﻪِ‏»

 

ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ‏( 3321، 3467‏ ) ﻭﻣﺴﻠﻢ ‏( 2245 )

 

――――

 

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ :

 

‏« ﺑَﻴْﻨَﻤَﺎ ﻛَﻠْﺐٌ ﻳُﻄِﻴﻒُ ﺑِﺮَﻛِﻴَّﺔٍ ﻛَﺎﺩَ ﻳَﻘْﺘُﻠُﻪُ ﺍﻟْﻌَﻄَﺶُ؛ ﺇِﺫْ ﺭَﺃَﺗْﻪُ ﺑَﻐِﻲٌّ ﻣِﻦْ ﺑَﻐَﺎﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ؛ ﻓَﻨَﺰَﻋَﺖْ ﻣُﻮﻗَﻬَﺎ ﻓَﺴَﻘَﺘْﻪُ؛ ﻓَﻐُﻔِﺮَ ﻟَﻬَﺎ ﺑِﻪِ‏»

 

ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ‏( 3321، 3467‏ ) ﻭﻣﺴﻠﻢ ‏( 2245 )

 

قال شيخ الإسلام إبن تيمية رحمه الله :

 

فهذه ﺳﻘﺖ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺑﺈﻳﻤﺎﻥ ﺧﺎﻟﺺ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻬﺎ، ﻓﻐﻔﺮ ﻟﻬﺎ، ﻭﺇﻻ ﻓﻠﻴﺲ ﻛﻞ ﺑﻐﻲ ﺳﻘﺖ ﻛﻠﺒﺎ ﻳﻐﻔﺮ ﻟﻬﺎ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﺤﻰ ﻏﺼﻦ ﺍﻟﺸﻮﻙ ﻋﻦ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ، ﻓﻌﻠﻪ ﺇﺫ ﺫﺍﻙ ﺑﺈﻳﻤﺎﻥ ﺧﺎﻟﺺ، ﻭﺇﺧﻼﺹ ﻗﺎﺋﻢ ﺑﻘﻠﺒﻪ، ﻓﻐﻔﺮ ﻟﻪ ﺑﺬﻟﻚ؛ ﻓﺈﻥ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺗﺘﻔﺎﺿﻞ ﺑﺘﻔﺎﺿﻞ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﻣﻦ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﺍﻹﺧﻼﺹ،

 

ﻭﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﻣﻘﺎﻣﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻒ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻭﺑﻴﻦ ﺻﻼﺗﻴﻬﻤﺎ ﻛﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻭﺍﻷﺭﺽ. ﻭﻟﻴﺲ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻧﺤﻰ ﻏﺼﻦ ﺷﻮﻙ ﻋﻦ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ، ﻳﻐﻔﺮ ﻟﻪ؛

 

منهاج السنة ٦ /٢٢١-٢٢٢

 

قال إبن القيم رحمه الله :

 

ﻣﺎ ﻗﺎﻡ ﺑﻘﻠﺐ ﺍﻟﺒﻐﻲ ﺍﻟﺘﻲ ﺭﺃﺕ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻜﻠﺐ، ﻭﻗﺪ ﺍﺷﺘﺪ ﺑﻪ ﺍﻟﻌﻄﺶ ﻳﺄﻛﻞ ﺍﻟﺜﺮﻯ، ﻓﻘﺎﻡ ﺑﻘﻠﺒﻬﺎ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻣﻊ ﻋﺪﻡ ﺍﻵﻟﺔ، ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ، ﻭﻋﺪﻡ ﻣﻦ ﺗﺮﺍﺋﻴﻪ ﺑﻌﻤﻠﻬﺎ، ﻣﺎ ﺣﻤﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻏﺮﺭﺕ ﺑﻨﻔﺴﻬﺎ ﻓﻲ ﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﺒﺌﺮ ﻭﻣﻞﺀ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺧﻔﻬﺎ، ﻭﻟﻢ ﺗﻌﺒﺄ ﺑﺘﻌﺮﺿﻬﺎ ﻟﻠﺘﻠﻒ، ﻭﺣﻤﻠﻬﺎ ﺧﻔﻬﺎ ﺑﻔﻴﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﻣﻶﻥ، ﺣﺘﻰ ﺃﻣﻜﻨﻬﺎ ﺍﻟﺮﻗﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺌﺮ، ﺛﻢ ﺗﻮﺍﺿﻌﻬﺎ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﻤﺨﻠﻮﻕ ﺍﻟﺬﻱ ﺟﺮﺕ ﻋﺎﺩﺓ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻀﺮﺑﻪ، ﻓﺄﻣﺴﻜﺖ ﻟﻪ ﺍﻟﺨﻒ ﺑﻴﺪﻳﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺷﺮﺏ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﺗﺮﺟﻮ ﻣﻨﻪ ﺟﺰﺍﺀ ﻭﻻ ﺷﻜﻮﺭًﺍ، ﻓﺄﺣﺮﻗﺖ ﺃﻧﻮﺍﺭ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻨﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﻐﺎﺀ ﻓﻐﻔﺮ ﻟﻬﺎ،

 

ﻣﺪﺍﺭﺝ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ١/ ٢٨٠-٢٨١

 

――――――――――――

••••••••••••••

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

 

‏« ﺑَﻴْﻨَﻤَﺎ ﻛَﻠْﺐٌ ﻳُﻄِﻴﻒُ ﺑِﺮَﻛِﻴَّﺔٍ ﻛَﺎﺩَ ﻳَﻘْﺘُﻠُﻪُ ﺍﻟْﻌَﻄَﺶُ؛ ﺇِﺫْ ﺭَﺃَﺗْﻪُ ﺑَﻐِﻲٌّ ﻣِﻦْ ﺑَﻐَﺎﻳَﺎ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ؛ ﻓَﻨَﺰَﻋَﺖْ ﻣُﻮﻗَﻬَﺎ ﻓَﺴَﻘَﺘْﻪُ؛ ﻓَﻐُﻔِﺮَ ﻟَﻬَﺎ ﺑِﻪِ‏»

 

“Tatkala ada seekor anjing yang hampir mati karena kehausan berputar-putar mengelilingi sebuah sumur yang berisi air, tiba- tiba anjing tersebut dilihat oleh seorang wanita pezina dari kaum bani Israil, maka wanita tersebut melepaskan khufnya (sepatunya untuk turun ke sumur dan mengisi air ke sepatu tersebut) lalu memberi minum kepada si anjing tersebut. Maka Allah pun mengampuni wanita tersebut karena

amalannya itu ”

 

HR. Al Bukhariy (3321, 3467) dan Muslim 2245

———————

▪ ▪ ▪ ▪

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah

berkata:

 

“Wanita (pezina) ini memberi minum kepada seekor anjing dengan keimanan yang murni yang terdapat dalam hatinya maka diapun diampuni (oleh Allah), tentu saja tidak semua pezina yang memberi minum kepada seekor anjing maka akan diampuni. Demikian pula lelaki yang menjauhkan dahan berduri dari tengah jalan, tatkala itu dia melakukannya dengan keimanan yang murni dan keikhlasan yang memenuhi hatinya, karenanya diapun diampuni. Karena sesungguhnya amalan-amalan bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar keimanan dan keikhlasan yang ada di hati.

 

Sesungguhnya ada dua orang yang berdiri dalam satu shaf sholat akan tetapi pahala sholat mereka jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya seperti jauhnya jarak antara langit dan bumi. Dan tidak semua orang yang memindahkan dahan berduri dari tengah jalan otomatis diampuni dosa-dosanya”

 

Minhajus Sunnah 6 / (221, 222)

———————

▪ ▪ ▪ ▪

 

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

 

“Apa yang ada di hati wanita pezina yang melihat seekor anjing yang sangat kehausan hingga menjilat-jilat tanah. Meskipun tidak ada alat, tidak ada penolong, dan tidak ada orang yang bisa dia nampakkan amalannya, namun tegak di hatinya (tauhid dan keikhlasan) yang mendorongnya untuk turun ke sumur dan mengisi air di sepatunya, dengan tanpa mempedulikan bisa jadi dia celaka, lalu membawa air yang penuh dalam sepatu tersebut dengan mulutnya agar memungkinkan dirinya untuk memanjat sumur. Selain itu tawadhu’ wanita pezina ini terhadap makhluk yang biasanya dipukul oleh manusia. Lalu diapun memegang sepatu tersebut dengan tangannya lalu menyodorkannya ke mulut anjing tanpa ada rasa mengharap sedikitpun dari anjing adanya balas jasa atau rasa terima kasih. Maka sinar tauhid yang ada di hatinya tersebut pun membakar dosa -dosa zina yang pernah dilakukannya, maka Allah pun mengampuninya”

 

Madarijus Salikiin 1 / (280, 281)

 

――――――――――――

•••••••••••••••

Syabab Ashhabus Sunnah

 

Untuk fawaid lainnya bisa kunjungi website kami:

 

www.ittibaus-sunnah.net

أصحاب السنة

 

Ashhabus Sunnah

Selasa, 31 Maret 2015

 

http://fawaaidwa.blogspot.com/2015/03/tentang-hadits-wanita-pezina-dan-seekor.html

***

Hadits Pembunuh 100 Nyawa

عن أبي سعيدٍ الخدريِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: كَانَ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ، فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لاَ، فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُوْلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ اِنْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُوْنَ اللهَ تَعَالَى فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوْءٍ. فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيْقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ، فَاخْتَصَمَتْ فِيْهِ مَلآئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلآئِكَةُ الْعَذَابِ. فَقَالَتْ مَلآئِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَقَالَتْ مَلآئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُوْرَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوْهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ: قِيْسُوْا مَا بَيْنَ اْلأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ. فَقَاسُوْا فَوَجَدُوْهُ أَدْنَى إِلَى اْلأَرْضِ الَّتِى أَرَادَ، فَقَبَضَتْهُ مَلآئِكَةُ الرَّحْمَةِ. ﴿متفق عليه﴾

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dulu sebelum kalian ada seorang laki-laki yang membunuh sembilan puluh sembilan orang, hingga ia bertanya tentang orang yang alim di kalangan penduduk bumi. Mereka menunjuk kepada seorang rahib (ahli ibadah), kemudian orang tersebut mendatanginya dan berkata bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertaubat? Rahib tadi berkata: “Tidak.” Orang itu malah membunuhnya, sehingga genap menjadi seratus orang. Kemudian ia bertanya tentang penduduk bumi yang paling alim. Maka ditunjukkan kepadanya seorang alim. Ia berkata kepadanya bahwa ia telah membunuh seratus orang. Apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertaubat? Orang alim tersebut menjawab: “Ya! Dan siapa yang bisa menghalangi antaramu dengan taubat. Pergilah ke negeri ini dan itu, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala. Beribadahlah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang jelek.” Kemudian orang itu pergi tapi di tengah-tengah perjalanan ia meninggal. Sehingga malaikat rahmat dan malaikat adzab saling berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata: “Dia datang dalam keadaan bertaubat, menghadap Allah.” Malaikat adzab berkata: “Dia belum beramal shalih sama sekali.” Kemudian datanglah kepada kedua malaikat itu seorang malaikat dalam wujud manusia. Mereka (kedua malaikat itu) menjadikannya sebagai pemutus urusan mereka. Malaikat itu berkata: “Ukurlah antara dua negeri tersebut. Mana yang lebih dekat (jaraknya dengan kedua negeri itu) maka itulah lebih berhak.” Mereka kemudian mengukurnya. Ternyata mereka dapati bahwa ia (orang yang mati itu) lebih dekat ke negeri yang baik. Maka malaikat rahmat mengambilnya. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Allah menyukai taubat hamba-Nya, bagaimanapun banyak dosanya:

عن أنسِ بنِ مالكٍ قَالَ: سَمِعْتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي، غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ! لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ! لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي وَلاَ تُشْرِكُوْا بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً ﴿رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح، وأخرجه أحمد والدارمي عن أبي ذر. انظر تحفة الأحوذي ٩/٣٦٨ (٣٧٧٢) والصحيحة ١/٢٥٠ (١٢٧). حديث صحيح بشواهده كما في ((صحيح الأذكار)) ١٢٣٤/٩٦٨﴾

“Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku. Niscaya Aku ampuni dosa-dosa yang ada padamu dan aku tidak peduli. Hai anak Adam, kalau dosa-dosamu mencapai setinggi langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam, kalau engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan Aku dalam keadaan tidak berbuat syirik. Niscaya akan Aku ganti dengan ampunan sepenuh itu pula.'” [HR. Tirmidzi dan beliau berkata: hadits ini hasan shahih. Juga oleh Ahmad dan Darimi dari Abu Dzar. Lihat Tuhfatul Ahwadzi (9/368), As-Shahihah 1/250 no. 127. Hadits ini SHAHIH, lihat Shahih Al-Adzkar]

Kedua hadits tersebut dinukil dari artikel Hadits Pembunuh 100 Nyawa, Oleh: Al-Ustadz Muhammad Ali Ishmah. Sumber: Majalah Salafy/Edisi III/Syawwal /1416/1996 rubrik Hadits dalam http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=36

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 291 kali, 291 untuk hari ini)