Islamedia – Dharma Diani, istri Edi Ruliyanto a.ka Edot, sempat menangis di tengah sesi wawancara dengan aku. Dia teringat kesulitan yang sedang membelit keluarganya pasca Ahok menggusur Kampung Aquarium 11 April silam.

Kamis sore, 26 Mei 2016, aku kembali menginjakan kaki di atas puing-puing bekas rumah sekitar 2 ribu orang warga. Air laut sedang naik. Bocah-bocah bercanda. Tenda-tenda simbol pemiskinan terencana (well-planned poverty) karya Gubernur Plt Ahok berserakan tak tentu arah. Panorama ini mengingatkan aku dengan slide foto Nagasaki pasca dibombardir “The Fat Man”.

Edot memanggilku dari kejauhan. Dia tau aku hendak mewawancarai istrinya. Di dalam ‘sesuatu’ yang lebih ironis dari sebuah gubuk kami berdialog. Di atas puing-puing tempat kami duduk, dahulu merupakan warung gas subsidi (sejak tahun 2006) sekaligus tempat kediaman keluarga Edot dan Dharma.

Dari usaha berdagang gas dan serabutan, Edot bisa menghidupi istri dan membiayai sekolah empat orang anak. Si Sulung kuliah di Akademi Perawat Husada, di Jalan Mangga Besar. Kini dia terancam putus sekolah. Sumber rezeki dan nafkah orang tuanya dihancurkan buldozer Ahok.

“Usaha yang saya rintis selama 20 tahun dimusnahkan hanya dalam waktu sehari oleh si Ahok,” kata Dharma Diani.

Dia minta maaf, tidak bisa menyebut kata “Bapak Gubernur”. Dia sebut “Si Ahok”. Di mata banyak orang, termasuk Dharma Diani, Ahok telah kehilangan legitimasi sebagai DKI-1.

Hembusan angin laut dari Teluk Jakarta terasa lebih kencang di atas hamparan puing tanpa sekat dinding beton. Kampung Aquarium tampak gersang. Tanpa apa pun kecuali puing berserakan. Di tahun 2010, area ini pernah alami bencana kebakaran. Walikota Bambang sempat dialog dengan warga. Dia bilang, “Monggo bu dibangun. Tapi jangan kumuh, jaga lingkungan dan kesehatan.” Tidak ada gagasan penggusuran.

Jokowi pernah empat kali datang ke Pasar Ikan. Semasa pilgub dan pilpres, Jokowi menang 90% di Kampung Aquarium.

Dharma Diani mendengar langsung kata-kata Mas Jokowi saat masa kampanye itu. Dia bilang wilayah ini ngga akan dibuldozer. “Penggusuran bukan solusi mbak,” kata Jokowi saat itu. Malah ada timses Jokowi sempat janjikan warga akan dibikinkan SHM.

Menurut Dharma, bahkan Jenderal Besar Suharto saja tidak semena-mena seperti Ahok. Dahulu Pa Harto pun pernah berencana membuatkan sertifikat hak milik kepada warga. Tampaknya para makelar property dan developer kakap memperoleh momentum saat “si Ahok” berkuasa. Sekarang, tidak ada lagi sekat penghalang bagi mereka merampas “tanah negara” dan mengusir 2 ribu orang warga. Jahatnya, kelompok Ahok ini lantas melancarkan fabrikasi stereotyping dengan label “kumuh”, “miskin”, “sumber TBC” dan lain sebagainya kepada warga Pasar Ikan. Semua “label kusam” itu berguna sebagai pretext dan pembenaran bagi aksi penggusuran.

Bila ada 2-3 orang dari 2000-an warga menderita TBC maka tidak bisa semerta-merta Kampung Aquarium dinyatakan sebagai “sarang TBC”. Di komplex perumahan elite macam Citra Garden pun pasti ada 2-3 orang berpenyakit TBC. Aku ngga perna baca report resmi dari Kementerian Kesehatan bahwa Pasar Ikan merupakan zona merah TBC. Itu cuma akal-akalan Pa Gubernur saja.

Si Ahok bicara tanpa dasar data statistik atau risalah ilmiah apa pun. Seperti biasa. Itu sudah jadi habitnya; asal ngomong.

Di atas reruntuhan puing tanpa nyawa, Dharma Diani tidak tahu lagi harus melakukan apa. Anaknya terancam putus sekolah. Bank Mandiri tetap menuntut cicilan 2,7 juta per bulan harus dibayar. Dharma Diani mengagunkan surat akta jual beli rumah untuk meminjam dana modal usaha sebesar 50 juta rupiah. Bunganya 1,25%.

Ini bukan kali pertama bank meloloskan proposal pinjaman mantan Ibu RT 11 RW 04 Pasar Ikan itu. Bank BRI pun pernah memberikan pinjaman kredit. Karena punya reputasi baik, maka Dharma Diani bisa berulang kali meminjam modal kepada bank tersebut. Sekarang dia bingung bagaimana membayar cicilan yang masih tersisa 21 bulan.

Aku heran, apakah benar “si Ahok” hendak memberantas kemiskinan seperti yang acap kali diseru-serukan ahokers. Aku melihat, sebenarnya dia sukses membangkrutkan dan memiskinkan dua ribu orang warga Pasar Ikan dalam waktu sehari saja. Alih-alih mensejahterakan orang miskin, “si Ahok” malah lebih memiskinkan si miskin.

Ditulis oleh Zeng Wei Jian

Sumber: islamedia.id/Selasa, 13 September 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 701 kali, 1 untuk hari ini)