Kisah Sumringah di saat Banyak Orang Kesusahan – Kematian

Banyaknya orang yang menderita kesusahan bahkan kematian keluarganya menjadikan prihatinnya Umat Islam yang masih ada rasa kasih sayang sesama Muslim. Hanya saja, rasa prihatin dan ikut sedih duka cita atas wafatnya saudara2 seIslam itu belum tentu masuk ke relung hati orang-orang tertentu.

Kenapa?

Karena orang yang relung hatinya seolah tertutup itu justru girang gemuyu dalam keadaan sumringah. Seolah sedang ada lahan basah yang jadi obyek untuk mendapatkan rejeki.

Apa maksudnya?

Bagaimana untuk menjelaskannya, agak kikuk juga. Tapi silakan simak kisah yang diceritakan seorang yang berteman dengan yang dikisahkan ini.

Kata dia, temannya itu seakan bangga dengan larisnya (banyaknya orderan) bagi dirinya. Bukan hanya diceritakan ke sang teman yang menceritakan ini, tapi justru dipasang di fb-nya berupa jadwal kegiatan yang isinya kurang lebih:

Tanggal sekian ke rumah keluarga Fulan, ba’da Isya’, acara tahlilan atas kematian Bang Fulan, selamatan tujuh hari kematian.

Tanggal sekian ke rumah keluarga Fulanah dst dalam rangka tahlilan selamatan 40 hari kematian Mpok Fulanah dst.

  • Terus, apa yang dia ungkapkan dengan larisnya hingga dia pasang jadwal di akun medsosnya itu?

Katanya, saya mau dibilang ga’ ada ilmu ya terserah. Yang penting laris…

***

Pihak ketiga yang diceritai ini bilang: kelak di akherat bagaimana pertanggungan jawabnya ya? Tanyanya kepda pihak yang bercerita.

Ya itu urusan dia lah. Karena dia malah bangga dengan ‘cari makan’ di tempat orang-orang yang lagi kesusahan seperti itu, jawab pihak yang bercerita.

***

Sepenggal kisah itu mengingatkan pada karikatur ‘Kalam Kyai’ yang sebenarnya tahu ilmunya, tapi malah ngeles.

Ini wujudnya.

***

Ngakunya Ahli Sunnah tapi kok Nekat Melestarikan Bid’ah

Posted on 1 Agustus 2020

by Nahimunkar.org

Ngakunya Ahli Sunnah tapi kok Nekat Melestarikan Bid’ah

 
 

Silakan simak ini.

https://www.nahimunkar.org/macam-inikah-ketuhanan-yang-berkebudayaan/

 
 

Macam Inikah ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’?

Posted on 25 Juni 2020

by Nahimunkar.org

 
 

Macam Inikah ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’?

  
 

Lagi Ramai Umat Islam Menolak RUU HIP, Muncul di Medsos soal Tahlilan, Macam Inikah ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’?

Umat Islam Indonesia sedang ramai memprotes RUU HIP, karena sila Ketuhanan Yang Maha Esa diganti dengan Ketuhanan Yang Berkebudayaan di RUU HIP. Protes keras Umat Islam Itu karena RUU tersebut ditengarai memberi peluang bangkitnya komunis PKI musuh agama dan telah 4 kali memberntak RI dan membantai Umat Islam dan tantara. Nah, sasaran akhir RUU HIP itu adalah mendudukkan agama (Islam) sebagai budaya. Itu telah dikembangkan di sekolah dan perguruan tinggi Islam oleh kementerian Agama, disebut dengan multikulturalisme. Menurut multikulturalisme ini, tidak boleh ada kultur yang mengaku hanya kulturnya sendirilah yang benar. Bila mengaku hanya kulturnya sendiri yang benar, maka disebut sebagai sumber konflik, hingga disebut sebagai musuh Bersama. Nah, Ketika Islam itu mengaku bahwa hanya Islam lah yang benar (lihat QS Ali ‘Imran ayat 19 dan ayat 85), maka (bila RUU HIP itu disahkan jadi Undang Undang) jadinya Islam (yang sudah didudukkan sebagai kultur alias budaya itu) dinilai sebagai sumber konflik, jadi Islam menjadi musuh Bersama, musuh dari semuanya yang bukan Islam ataupun yang ngaku Islam namun benci Islam (munafik). Dan itu sudah disediakan perangkatnya, yaitu BPIP yang ketuanya pernah bilang, musuh terbesar Pancasila adalah agama. Dan Kemenag juga sudah membuat buku multikulturalisme bahkan diajarkan di sekolah2 dan perguruan tinggi Islam, dan sudah ditatarkan ke guru2 PAI (Pendidikan Agama Islam).

Salah satu judul buku Kemenag ini adalah“Panduan Integrasi Nilai Multikultur Dalam Pendidikan Agama Islam Pada SMA dan SMK.” (lihat Multikulturalisme Sama Bahayanya dengan Pluralisme https://www.nahimunkar.org/multikulturalisme-sama-bahayanya-dengan-pluralisme/)

Oleh karena itu, penggantian sila Ketuhanan Yang Maha Esa diganti dengan Ketuhanan Yang Berkebudayaan di RUU HIP itu adalah untuk menghancurkan Islam, menjadikan Islam sama dengan budaya, maka kalau tetap mengaku bahwa hanya Islamlah yang benar, tinggal disebut sebagai sumber konflik, lalu dijadikan sebagai musuh bersama. Lihat artikel selengkapnya di sini: https://www.nahimunkar.org/ruu-hip-jadikan-islam-sebagai-musuh-bersama/?

Di tengah ramainya kasus RUU HIP yang arahnya untuk menghancurkan Islam itu ternyata muncul di media social ‘kalam kyai soal tahlilan’. Ada yang mengaitkan dengan kasus yang sedang ramai, ‘Ketuhanan yang berkebudayaan’. Karena satu sisi sang kyai mengakui, di kitab rujukan, I’anatut Thalibin, upacara tahlilan itu disebut bid’ah munkarah. Orang yang memeranginya akan mendapat pahala.

Lalu komentar kyai yang mengutip kitab tersebut: tapi persoalannya ini sudah menjadi budaya. Sudah menjadi adat. Jika diperangi maka kita yang akan dimusuhi oleh orang-orang.

Demikian postingan yang memberi keterangan bahwa itu ucapan KH Muhamad Idrus Ramli – pendekar Aswaja.

Postingan itu disertai ungkapan: Mungkin ini ya maksudnya ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’… Ketuhanan yang tunduk pada budaya!
 

Silakan simak ini.

***

  
 

Ketuhanan yang Berkebudayaan?

 

Muhammad Abduh

Kemarin pukul 07.20

Mungkin ini ya maksudnya ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’… Ketuhanan yang tunduk pada budaya!

***

Postingan itu rupanya telah didahului adanya video yang beredar. Ini URL-nya:

https://www.youtube.com/watch?v=5lKqShQP0bI&fbclid=IwAR09eEI-8OOCAcbhwAEW3g-GQS91lXDZjVmXYSPLhpgtJgry7mLp4-97sLw

Adapun kitab I’anatut Thalibin yang menyebut bid’ah munkarah mengenai tahlilan itu silakan simak di sini: https://www.nahimunkar.org/tahlilan-dalam-pandangan-nu-muhammadiyah-persis-al-irsyad-wali-songo-ulama-salaf-dan-4-mazhab-ii/?

Terjemahan kalimat yang telah digaris bawahi di dalam Kitab I’anatut Thalibin :

  1. Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk Bid’ah Mungkar, yang bagi orang (ulil amri) yang melarangnya akan diberi pahala.
  2. Dan apa yang telah menjadi kebiasaan, ahli mayit membuat makanan untuk orang-orang yang diundang datang padanya, adalah Bid’ah yang dibenci.
  3. Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bid’ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah, mematikan Bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan, dan menutup banyak pintu keburukan.
  4. Dan dibenci bagi para tamu memakan makanan keluarga mayit, karena telah disyari’atkan tentang keburukannya, dan perkara itu adalah Bid’ah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih, dari Jarir ibnu Abdullah, berkata : “Kami menganggap berkumpulnya manusia di rumah keluarga mayit dan dihidangkan makanan , adalah termasuk Niyahah”
  5. Dan dibenci menyelenggarakan makanan pada hari pertama, ketiga, dan sesudah seminggu dst.
    https://www.nahimunkar.org/tahlilan-dalam-pandangan-nu-muhammadiyah-persis-al-irsyad-wali-songo-ulama-salaf-dan-4-mazhab-ii/?

(nahimunkar.org)

 

(Dibaca 339 kali, 2 untuk hari ini)