Konsep “Kita”, tutur Salim Said pengamat militer, bermula pada Perang Paderi. Kala itu, kaum Paderi perang melawan kekuatan kaum adat. Penjajah Belanda lalu datang ke sana membantu kaum adat.

“Kaum Paderi melihat yang mereka perangi itu adalah orang Belanda selain orang adat. Mereka merumuskan yang kita lawan ini kafir. Kita ini siapa? Kita ini Islam. Jadi mulailah lahir konsep ‘Kita’,” ujarnya.

Konsep “Kita” ini, lanjutnya, kemudian menular ke Perang Aceh dan Diponegoro. Sejak saat itu ada kata “Kita”. Tapi “Kita” itu baru orang Islam. Karena itu gerakan massal pertama di Indonesia adalah Sarekat Islam. Menurutnya peranan Islam besar sekali dalam sejarah.

Melihat apa yang dituturkan pengamat militer itu, para pejuang Islam di negeri ini tampak nyata faham akan isi Al-Qur’an, kitab suci Umat Islam. Konsep “kita” itu tdak jauh dari ayat dalam Kitab Suci Al-Qur’an, di anaranya ini:

{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ} [آل عمران: 64]

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” [Al ‘Imran64]

Video:

Ada Nama Orang Minang disebut sebut oleh Bapak ini….

Posted by Dodi P Tanjung on Wednesday, October 18, 2017

***

Salim Said: Kirimlah Anak-anakmu ke Akademi Militer

Ia bercerita, pada tahun 50-an -ketika Indonesia baru merdeka, semua pemimpin tentara yang dilatih Jepang itu adalah orang Islam.

YAHYA G NASRULLAH/HIDAYATULLAH.COM Pakar militer Prof. Dr Salim Said

Hidayatullah.com– Dalam pengajian bulanan Muhammadiyah yang bertema “Islam, TNI, dan Kedaulatan Bangsa” di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, pengamat militer Salim Said menceritakan konsep “Kita” di Indonesia.

Konsep “Kita”, tuturnya, bermula pada Perang Paderi. Kala itu, kaum Paderi perang melawan kekuatan kaum adat. Penjajah Belanda lalu datang ke sana membantu kaum adat.

“Kaum Paderi melihat yang mereka perangi itu adalah orang Belanda selain orang adat. Mereka merumuskan yang kita lawan ini kafir. Kita ini siapa? Kita ini Islam. Jadi mulailah lahir konsep ‘Kita’,” ujarnya.

Konsep “Kita” ini, lanjutnya, kemudian menular ke Perang Aceh dan Diponegoro. Sejak saat itu ada kata “Kita”. Tapi “Kita” itu baru orang Islam. Karena itu gerakan massal pertama di Indonesia adalah Sarekat Islam. Menurutnya peranan Islam besar sekali dalam sejarah.

“Pertanyaannya buat Anda semua. Anda diminta tidak hanya teriak Allahu Akbar. Apa yang bisa Anda lakukan supaya orang Islam terhormat dan tidak dihinakan di negeri ini?” serunya disambut tepuk tangan jamaah pengajian.

Lebih lanjut, ia bercerita, pada tahun 50-an -ketika Indonesia baru merdeka, semua pemimpin tentara yang dilatih Jepang itu adalah orang Islam.

“Apa kalian pernah tahu ada Komandan Batalion yang tidak pernah pakai celana panjang, (tapi) pakai jubah terus. Namanya Kiai Syam’un di Banten?” ucapnya.

Namun setelah penyerahan kedaulatan, kebanyakan tentara Sabilillah dan Hizbullah berhenti menjadi tentara. Sebab bagi mereka tidak ada budaya bekerja menjadi pegawai pemerintah.

“Jadi yang menguasai tentara kita kebanyakan bukan lagi orang santri. Jadi kalau Anda ingin budaya itu bertahan, kirimlah anak-anakmu ke akademi militer,” pesannya disambut tepuk tangan.* Andi

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Sumber : hidayatullah.com – Ahad, 8 Oktober 2017

(nahimunkar.org)