SOLO, (Panjimas.com) – “Ini dimulai tiga tahun lalu majalah Tempo mengungkap semuanya, Wah ini bahaya nih. Metro melawan lupa, ujungnya kan komunisme dibangkitkan, ini Metro TV, nih corongnya Komunis, termasuk majalah Tempo,” ungkap Kivlan Zen saat mengisi kajian di Joglo Ar Rohmah, Bratan, Pajang, Laweyan, Solo, Senin (23/5/2016).

Hal ini terkait kasus Pulau Buru, menurut Kivlan Zen kasus Pulau Buru yang tadinya Suharto mengamankan agar tidak terjadi kerusuhan, justru sekarang dibalik faktanya oleh majalah Tempo maupun Metro dengan memberitakan bahwa Suharto sebagai dalangnya. Kivlan Zen menilai bahwa pemberitaan kedua media tersebutlah yang membuat massa pendukung komunis mulai bergerak.

“Inilah mulai bergeraknya massa, berani mereka sekarang, pakai lambang Palu Arit itu di Sampang  photo-photo PKI masuk trus ditangkap tapi dilepaskan. Di Jember pasang Palu Arit semuanya didepan kampus UIN. Sekarang UIN itu isinya apa? UIN di Indonesia itu sekarang banyak orang komunis,” tegasnya.

Kivlan Zen bahkan menyayangkan adanya paham komunis sekarang telah masuk ke kampus yang justru seharusnya mengajarkan ilmu agama islam. Paham komunis semakin hidup dengan pemikiran liberal dan demokrasi sehingga menjadikan UIN di seluruh Indonesia sudah terpengaruh.

“Masak di UIN  Jakarta (Bandung, red NM) tertulis “Kampus Bebas Tuhan”, kampus yang seharusnya mengajarkan agama Islam dengan laa ilaa ha illallah, kok jadinya kampus bebas Tuhan, semua UIN, UIN Semarang LGBT boleh kata doktornya wah kacau ini, UIN Jogja sama,” tandasnya.

Tidak hanya di kampus, lebih parah lagi, menurut Kivlan Zen, paham komunis juga telah menyusup di pesantren-pesantren. [SY]
sumber: ponorogopos.com/ May 24, 2016

***

Spanduk ‘Tuhan Membusuk’ di UIN Surabaya, Kesombongan Luar Biasa

Spanduk-UIN Surabaya

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Penulis Buku Ada Pemurtadan di IAIN

Spanduk bertuliskan “Tuhan Membusuk” dalam kegiatan OSCAAR 2014 di UIN Surabaya menjadi berita ramai. Ada yang menulis, Setelah Dosennya Pernah Menginjak-injak Alquran, Kini Mahasiswa UIN Sunan Ampel Anggap Tuhan Membusuk.
Pada kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) tahun 2014 ini, Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat mengangkat sebuah grand tema, “Tuhan Membusuk”. OSCAAR 2014 bagi mahasiswa baru UIN Sunan Ampel itu berlangsung sejak Kamis 28 Agustus, dan berakhir pada 30 Agustus 2014.
Suaranews mengutip santrinews memberitakan, dari beberapa penelusuran alumni Ushuludin UIN Sunan Ampel, salah satu alumni menceritakan bahwa memang Ushuludin UIN Sunan Ampel sebenarnya sudah dari dulu mendogtrin mahasiswanya seperti itu. Ibaratnya mereka didogtrin membenci ‘agama’, terutama Islam.

“Sejak saya kuliah pertama kali sekitar tahun 2004. Ketika OSPEK/OSCAAR, kami sudah dididik untuk gemar mengkritisi agama, terutama Islam. Saya waktu itu sering mengkritisi kakak senior, karena didogtrin mengkritisi Islam yang lebih terasa sepertinya mereka membenci Islam.” Ungkap salah satu alumni Ushuluddin UIN Sunan Ampel yang tak ingin disebutkan namanya.

Bahkan seringkali kakak senior mereka menghambat waktu-waktu shalat. Dengan diberikan banyak aktivitas, sepertinya agar melupakan waktu shalat.

“Masjid UIN Sunan Ampel itu besar, dan adzannya terdengar keras. Tetapi waktu ospek, kami malah disibukkan dengan beragam aktivitas. Sepertinya ingin agar kami melupakan shalat, dan tak jarang kakak senior malah bilang, shalat itu tidak perlu di masjid cukup di hati saja kita shalatnya,” kata mantan mahasiwa UIN Sunan Ampel yang berdomisili di Siwalankerto, Surabaya. (Lihat Setelah Dosennya Pernah Menginjak-injak Alquran, Kini Mahasiswa UIN Sunan Ampel Anggap Tuhan Membusuk, santrinews/suaranews).

Untuk memahami kalimat ‘Tuhan Membususk’ dalam spanduk di UIN Surabaya yang jadi ramai di media itu, mari kita rujuk ke KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) apa makna lafal Tuhan, dan apa pula arti Membusuk.
Tuhan n 1 sesuatu yg diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sbg yg Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb: — Yang Maha Esa; 2 sesuatu yg dianggap sbg Tuhan: pd orang-orang tertentu uanglah sbg — nya;
mem•bu•suk v menjadi busuk: bangkai itu telah mulai -;
bu•suk a 1 rusak dan berbau tidak sedap (tt buah, daging, dsb): mangga itu sudah –; 2 berbau tidak sedap (tt bangkai dsb): bangkai tikus itu — benar baunya; (KBBI)

Merujuk kepada kamus tersebut, kalimat “Tuhan Membusuk” maknanya tidak jauh dari pengertian: Tuhan yang diyakini, dipuja, dan disembah telah menjadi busuk (sebagaimana bangkai tikus).

Ketika spanduk itu dibuat oleh mahasiswa perguruan tinggi Islam, berarti Tuhan itu maksudnya hanyalah Allah yang Maha Hidup. Karena dalam Islam, Tuhan yang berhak disembah itu hanya Allah. Itu telah dijelaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [طه/14]

  1. Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS Thaha: 14).
    Allah itu Maha Hidup tidak mati.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا (58) الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا [الفرقان/58، 59]

  1. dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.
  2. yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy [1071], (Dialah) yang Maha pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (QS Al-Furqan/25: 58-59).

[1071] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya.

Firman Allah: dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati itu jelas telah menolak bunyi spanduk yang kurangajar, “Tuhan Membusuk” itu.

Kalau pembuat tulisan di spanduk itu masih menggunakan otak, maka akan sangat malu sekali menulis kalimat itu.
Kenapa?

Karena, Allah menjadikan orang yang sudah mati namun tidak membusuk saja mampu, bahkan menghidupkan yang telah mati saja mampu, kenapa penulis spanduk itu sampai berani mengatakan “Tuhan Membusuk”? Bukankah itu pertanda penulis spanduk itu tidak menggunakan otak?

Bukti dari adanya jasad manusia yang tidak dibusukkan alias diutuhkan oleh Allah Ta’ala adalah yang telah Allah firmankan:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ (90) آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (91) فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ [يونس/90-92]

  1. dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
  2. Apakah sekarang (baru kamu percaya), Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
  3. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami. (QS Yunus/10: 90-92).

[704] Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.

Perkataan “Tuhan Membusuk” dalam spanduk itu setelah dalam analisa ini dapat diartikan bahwa itu ditulis oleh orang yang tidak menggunakan otak, masih pula menolak kebenaran, sekaligus menghina Allah Ta’ala.

Dalam Islam, menolak kebenaran sambil menghina atau meremehkan manusia itu disebut sombong, menurut Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: «لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: «إِنَّ الله جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ. الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ . [رواه مسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari Abdulah bin Mas’ud dari Nabi saw, beliau bersabda: ‘Tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan meski sebesar biji atom’. Seseorang berkata: ‘(Bagaimana jika) seseorang suka pakaiannya baik dan sandalnya juga baik’. Nabi saw bersabda: ‘Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. (Sedangkan) kesombongan adalah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia (lain)’.” [HR. Muslim]

Ketika menolak kebenaran dan memandang rendah manusia itu adalah kesombongan, maka bagaimana pula ketika sudah menolak kebenaran, sedang yang direndahkan bahkan dihina, disebut membusuk itu adalah Tuhan (Allah). Bukankah itu benar-benar kesombongan yang luar biasa? Padahal, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut:

«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

‘Tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan meski sebesar biji atom’.
Lha, perkataan “Tuhan Membusuk” itu kesombongan yang berapa juta kali lipat dibanding besarnya partikel atom (مِثْقَالُ ذَرَّةٍ) ?
Ingatlah, orang tua menguliahkan anaknya ke perguruan tinggi Islam tentu saja bukan untuk menjadi orang yang sombong luar biasa. Bahkan Umat Islam pada umumnya juga sama sekali tidak menginginkan perguruan tinggi Islam se-Indonesia ini jadi ajang pemurtadan luar biasa seperti itu. Apalagi sudah sejak tahun 2005 telah diingatkan dengan tegas dalam satu buku berjudul Ada Pemurtadan di IAIN yang maksudnya memperingatkan seluruh perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Tegakah kita membiarkan generasi penerus bangsa ini digarap besar-besaran oleh para penentang Allah Ta’ala untuk menjadi manusia- manusia yang kurangajar lagi super sombong?

Tentu saja tidak tega. Tetapi, apa reaksi dan aksi kita, itu masih dipertanyakan, karena selama ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa kita tidak tega generasi bangsa ini dirusak secara besar-besaran itu. Sudah saatnya kita tunjukkan bukti. Paling kurang, para pelaku itu ditindak tegas dan disosialisasikan hukumannya, agar tidak lebih rusak lagi, dan tidak berani mengadakan penodaan agama lagi. Semoga.

Jakarta, Senin 6 Dzulqa’dah 1435H/ 1 September 2014.

by nahimunkar.com, Sep 21st, 2014

***

Dididik Faham Inklusivisme, Pluralisme Agama, dan Multikulturalisme Akhirnya Berani Nyatakan Tuhan Membusuk

by nahimunkar.com, Sep 20th, 2014

ust hartono ahmad jaiz

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Apa itu inklusivisme?

Inklusivisme itu adalah faham yang berbahaya bagi Islam. Apa itu inklusivisme? Berikut ini penjelasan dari pihak mereka sendiri:

Yang dikembangkan dalam Islam Liberal adalah inklusivisme dan pluralisme. Inklusivisme itu menegaskan, kebenaran setiap agama harus terbuka. Perasaan soliter sebagai penghuni tunggal pulau kebenaran cukup dihindari oleh faksi inklusif ini. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan ada kebenaran pada agama lain yang tidak kita anut, dan sebaliknya terdapat kekeliruan pada agama yang kita anut. Tapi, paradigma ini tetap tidak kedap kritik. Oleh paradigma pluralis, ia dianggap membaca agama lain dengan kacamata agamanya sendiri. Sedang paradigma plural (pluralisme): Setiap agama adalah jalan keselamatan.

Perbedaan agama satu dengan yang lain, hanyalah masalah teknis, tidak prinsipil. Pandangan Plural ini tidak hanya berhenti pada sikap terbuka, melainkan juga sikap paralelisme. Yaitu sikap yang memandang semua agama sebagai jalan-jalan yang sejajar. Dengan itu, klaim kristianitas bahwa ia adalah satu-satunya jalan (paradigma eksklusif) atau yang melengkapi jalan yang lain (paradigma inklusif) harus ditolak demi alasan-alasan teologis dan fenomenologis (Rahman: 1996). Dari Islam yang tercatat sebagai tokoh pluralis adalah Gus Dur, Fazlurrahman (guru Nurcholish Madjid, Syafi’I Ma’arif dll di Chicago Amerika, pen), Masdar F Mas’udi, dan Djohan Effendi. (Abdul Moqsith Ghazali, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Jakarta, Media Indonesia, Jum’at 26 Mei 2000, hal 8). (Lihat Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf, Pluralisme dan Pemurtadan, Pustaka Al-Kautsar, Jakrta, cetakan pertama, 2001, hal 116-117).

Inklusivisme itu menganggap ada kebenaran pada agama lain yang tidak kita anut, dan sebaliknya terdapat kekeliruan pada agama yang kita anut. Itu jelas meragukan benarnya Islam, maka di situlah rusaknya keislaman seseorang ketika sudah meragukan benarnya Islam; berarti dia telah keluar dari Islam alias murtad.

Masalah ini sebenarnya sangat berbahaya bagi Umat Islam. Namun, banyak yang tidak faham. Bahkan kaum terpelajar atau malahan sampai yang duduk di majelis yang disebut Majelis Ulama pun kadang tidak ngeh alias tak faham.

Contoh kasusnya seperti ini: Bagaimana bisa terjadi, MUI Bali kok pernah mengundang orang (yakni Eep Sefulloh Fatah) untuk diangsu (diambil) ilmunya, padahal anjuran darinya justru mengandung masalah yang sangat berbahaya bagi Islam.

Ada ungkapan-ungkapan Eep yang berbahaya di antaranya:

  1. MUI yang telah berfatwa Juli 2005 tentang haramnya faham sepilis (sekulerisme, pluralisme agama alias menyamakan semua
    agama, dan liberalisme) –yang di antara dedengkotnya adalah Ulil— malah Eep menyarankan agar MUI menghormati Ulil. Ini sama dengan membiarkan MUI pusat mengeluarkan fatwanya, namun Eep cukup menggerilya MUI daerah seperti yang ia lakukan terhadap MUI Bali itu.
  2. Eep menganjurkan bersikap inklusif, dengan mengatakan: “Jadi menurut saya yang terpenting adalah bersikap inklusif dengan ketegasan tertentu yang kita yakini, jangan bersikap eksklusif dengan ketegasan yang kita yakini.” Perkataann yaitu berbahaya, karena inklusivisme itu adalah faham yang berbahaya bagi Islam. (https://www.nahimunkar.org/eep-ajak-mui-bali-hormati-ulil/)

***

Inti faham inklusivisme: tidak menutup kemungkinan ada kebenaran pada agama lain yang tidak kita anut, dan sebaliknya terdapat kekeliruan pada agama yang kita anut.

Bagi Islam, faham inklusivisme itu adalah faham kufur alias ingkar terhadap Islam, pelakunya disebut kafir. Karena telah mengingkari mutlak benarnya Islam yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢)

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS Al-Baqarah:2).

Lebih dari itu, ketika inklusivisme meningkat jadi faham pluralism agama maka jelas sangat bertentangan dengan Islam. Karena menurut faham pluralisme agama, klaim bahwa ia (suatu agama, bagi muslim ya Islam) adalah satu-satunya jalan (paradigma eksklusif) atau yang melengkapi jalan yang lain (paradigma inklusif) harus ditolak demi alasan-alasan teologis dan fenomenologis.

Penolakan (terhadap aqidah Islam yang menegaskan Islam adalah satu-satunya jalan yang benar) itu sama dengan menolak Islam. Karena dalam Islam telah jelas,

{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران: 85] {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران: 85]

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(QS Ali ‘Imran/3 : 85).

Menolak Islam itu sendiri adalah kufur, orangnya disebut kafir. Nasib orang kafir telah dijelaskan, kekal di neraka Jahannam selama-lamanya.

{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ } [البينة: 6]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah/ 98 : 6).

Jadi faham inklusivisme dan pluralisme agama itu adalah faham kufur yang sangat berbahaya bagi Islam. Menjadikan keyakinan Tauhid diganti dengan kekufuran. Bahkan masih ditingkatkan lagi dengan faham yang mereka sebut multikulturalisme, yang itu sama dengan pluralism agama, hanya saja semua kultur dianggap sejajar, parallel, dan tidak boleh ada yang mengklaim bahwa hanya kulturnya sendiri saja yang benar. Ketika demikian maka dianggap sumber konflik. Padahal, agama (Islam) hanya dianggap sebagai sub kultur, bagian dari kultur atau bagian dari budaya. Sehingga ketika Islam jelas-jelas ajarannya mengklaim sebagai satu-satunya yang benar (mereka sebut eksklusivisme itu tadi) maka dianggapnya sumber konflik, maka dianggap sebagai musuh bersama. Itulah jahatnya faham multikulturalisme.

Kata multikulturalisme ini digunakan kelompok liberal sebagai usaha untuk tetap menyesatkan umat Islam yang mulai mengerti sesatnya pluralism agama yang pernah difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dan faham pluralism agama itu ditolak ormas-ormas Islam.

Celakanya, multikulturalisme ini sudah masuk ke kurikulum pendidikan agama Islam dari SD, SMP hingga SMA.

Yang cukup mencengangkan, pihak Kementerian Agama (Kemenag) sendiri justru sudah menerbitkan buku mengenai multikulturalisme ini. Salah satu judul buku Kemenag ini adalah“Panduan Integrasi Nilai Multikultur Dalam Pendidikan Agama Islam Pada SMA dan SMK.” (lihat Multikulturalisme Sama Bahayanya dengan Pluralisme https://www.nahimunkar.org/multikulturalisme-sama-bahayanya-dengan-pluralisme/)

Apa bahayanya?

Bahayanya, tiga faham tersebut (inklusivisme, pluralisme agama, dan multikulturalisme) itu adalah semua menolak Islam yang menegaskan hanya Islam lah yang benar, yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yang pemeluknya yang beriman dan beramal shalih ikhlas untuk Allah maka dijanjikan surga oleh Allah Ta’ala. Penolakan itu adalah kekafiran. Bahkan kemusyrikan. Karena dalam riwayatnya, orang Majusi yang menolak haramnya bangkai lalu dibisikkan kepada kafir Quraisy agar membantah Islam tentang itu, kemudian dijawab oleh Allah Ta’ala,

{وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ} [الأنعام: 121]

..dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS Al-An’am : 121). (Lihat Tuhfatul Ahwadzi 7/391)

Ketika yang dibantah itu hanya satu bagian dari hukum Islam yakni haramnya bangkai saja ternyata bila diikuti maka menjadi orang-orang musyrik ; apalagi kalau yang dibantah itu seluruh Islam, disamakan dengan agama lain, maka jelas-jelas lebih nyata jadi orang musyrik. Dan itulah yang dilakukan oleh faham inklusivisame, pluralisme agama, dan multikulturalisme. Jadi tidak lain hanyalah kemusyrikan baru yang sangat dahsyat, namun karena istilahnya bukan dari Islam, maka Umat Islam banyak yang tidak tahu dan tidak menyadari bahwa inklusivisme, pluralisme agama, dan mukltikulturalisme itu adalah kemusyrikan baru.

Ketika yang dikembangkan di pendidikan tinggi Islam se-Indonesia, bahkan kini Kementerian Agama telah membuat panduan buku mutikulturalisme dalam apa yang disebut “Panduan Integrasi Nilai Multikultur Dalam Pendidikan Agama Islam Pada SMA dan SMK,” maka sebenarnya yang dilakukan oleh Kementerian Agama dan juga perguruan tinggi Islam se-Indonesia adalah pemusyrikan. Maka benarlah buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Ada Pemurtadan di IAIN. Maksudnya adalah di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Bahkan kini Kementerian Agama sudah menggarap sampai tingkat SMA dan SMK. Sehingga, namanya pendidikan (Islam) namun sejatinya pemusyrikan.

Oleh karena itu, ketika ada isu Kementerian Agama akan dihapus, maka saya tulis artikel tentang kiprah pemusyrikan Kementerian Agama itu; makanya untuk apa disedihi, kalau toh antinya dihapus. Kecuali kalau kiprah Kementerian Agama itu untuk I’laai kalimatillahi hiyal ‘ulya, maka baru perlu disedihi bila dihapus. (lihat Isu Kementerian Agama Dihapus, Pembela Ahmadiyah Diangkat By nahimunkar.com on 17 September 2014)

Dari kiprah pendidikan tinggi Islam di Indonesia yang justru melancarkan pemusyrikan baru semacam itu, maka tidak mengherankan, di antara tokohnya seperti Azyumardi Azra yang kini jadi Kepala Sekolah Pasca Sarjana UIN Jakarta telah bangga dengan biografinya yang jelas-jelas menuturkan pembelaannya terhadap agama musuh Islam yakni Ahmadiyah.(lihat Azra “Jawara” Pembela Ahmadiyah Agama Nabi Palsuhttps://www.nahimunkar.org/azra-jawara-pembela-ahmadiyah-agama-nabi-palsu/) Betapa memprihatinkannya.

Lebih memprihatinkan lagi, Azra pembela Ahmadiyah agama bikinan nabi palsu itu kini muncul dalam nominasi Kabinet Jokowi-JK. (lihat Penghalal Homosex, Pembela Ahmadiyah, dan Tokoh Komunis Muncul di Nominasi Kabinet Jokowi-JK

Kabinet Alternatif Usulan Rakyat (KAUR) terdiri dari kalangan komunis, liberal muncul sebagai kandidat calon menteri. By nahimunkar.com on 19 September 2014 https://www.nahimunkar.org/penghalal-homosex-pembela-ahmadiyah-dan-tokoh-komunis-muncul-di-nominasi-kabinet-jokowi-jk/).

Lebih dahsyat daripada kejahatan pembunuhan. Itu semua berbahaya bagi Umat Islam. Kenapa berbahaya?

Karena pemusyrikan baru yang dilancarkan di dalam pendidikan Islam di Indonesia dengan nama inklusivisme, pluralism agama, dan multikulturalisme itu menurut Al-Qur’an adalah lebih dahsyat bahayanya dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga. Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari Tauhid diganti dengan kemusyrikan baru yakni inklusivisme ataupun pluralism agama, ataupun multikulturalisme, maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan; maka masuk neraka. Hingga ditegaskan dalam Al-Qur’an,

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Al-Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya,

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir Ath-Thabari juz 3 halaman 565).

Itulah betapa dahsyatnya pemusyrikan yang kini justru digalakkan secara intensif dan sistematis di perguruan tinggi Islam se-Indonesia, bahkan sudah dilancarkan pula ke sekolah-sekolah.

Baru-baru ini pengenalan mahasiswa baru di UIN Surabaya, tema utamanya adalah “Tuhan Membusuk”. Keruan saja Umat Islam marah terhadap bahaya yang sangat melecehkan Islam itu. (Lihat IAIN atau UIN Banyak Melahirkan Kader Sekuler, Liberal dan Kiri)

Tuhan tidak akan membusuk justru yang membuat tema ‘Tuhan Membusuk’ lah yang akan membusuk, dan wajib diseret ke penjara karena sudah melecehkan Tuhan berarti melecehkan agama. By nahimunkar.com on 18 September 2014 https://www.nahimunkar.org/iain-atau-uin-banyak-melahirkan-kader-sekuler-liberal-dan-kiri/).

Relakah generasi Muslim yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia bahkan merupakan penduduk yang jumlah Muslimnya terbesar di dunia ini dibunuhi imannya secara sistematis dijadikan pelaku-pelaku kemusyrikan baru dengan sebutan inklusivisme, pluralism agama, dan multikulturalisme itu? 

Relakah generasi dan anak-anak Muslim se-Indonesia ini dijerumuskan oleh para pembawa ajaran kemusyrikan baru itu? 
Dan relakah negeri ini menyedot uang dari rakyat (ingat, 70 persen penghasilan Negara adalah dari

pajak, dan itu tentu disedot dari penduduk) yang mayoritas Muslim namun justru untuk membiayai perusakan iman Umat Islam diganti dengan kemusyrikan baru yang akan menjerumuskan ke neraka kekal selama-lamanya? 
Relakah wahai saudara-saudara?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.280 kali, 1 untuk hari ini)