Kiyai Ahmad Zahro Pertanyakan Swab Test Santri Tengah Malam, dan Minta Daftar Nama Para Ustadz dan Santri. Simak Videonya

  • Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Kiyai Prof DR Ahmad Zahro ingatkan seluruh ponpes di Indonesia untuk mewaspadai kebangkitan Komunis.
  • “Saya geram karena saya ingat betul apa yang terjadi tahun 1964 lalu. Ayah saya pernah digerebek jam 10 malam,” kata Kiyai Zahro yangmenjabat Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I).
  • Kiyai Zahro menceritakan, aparat itu tetap bersikeras meminta daftar nama ustaz dan santri sampai marah-marah. Melihat itu, Kiyai Zahro meminta pengasuh pesantren agar jangan sampai memberikan daftar nama-nama santri dan ustaz di ponpes itu.
  • “… kepada semua pengasuh ponpes di seluruh Indonesia saya sebagai Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), saya serukan tolong waspada sejarah akan berulang. Ini yang terjadi pada tahun 1964 lalu,” tegas Kiyai Zahro.

views: 21.889

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Kiyai Prof DR Ahmad Zahro Foto/Ist

 

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof KH Ahmad Zahro mengingatkan para pengasuh pondok pesantren (ponpes) di seluruh Indonesia agar mewaspadai hal-hal mencurigakan. Ini disampaikannya dalam sebuah ceramah yang disiarkan Channel NU Garis Lurus melalui saluran Youtube, 26 September 2020.

(Baca Juga: Virus Corona Bisa Disembuhkan dengan Ruqyah)

“Apa yang terjadi akhir-akhir ini. Dua hari yang lalu sekitar jam 12 malam saya mendapat pengaduan dari salah seorang pengasuh pesantren yang didatangi aparat untuk melakukan rapid test atau swab test (Covid-19) terhadap semua santri. Jam 12 malam pakai seragam tertentu, tapi bukan seragam petugas kesehatan. Saya bilang tolak, tidak mungkin pejabat negara menugasi aparatnya jam 12 malam. Kasihan juga pengasuh ponpes ini karena sendirian,” kata Kiyai yang juga Pengasuh Pondok Pesantren An-Najach Tambak Beras Jombang itu.

(Baca Juga: Amien Rais: Saya Melihat Komunisme Diberi Angin Kencang)

Kemudian aparat itu pulang. Lalu satu jam kemudian datang lagi aparat keamanan berseragam. Seragamnya mirip Satpol PP dan seragam polisi. Mereka meminta agar para santri dan ustaz didata.

“Saya geram karena saya ingat betul apa yang terjadi tahun 1964 lalu. Ayah saya pernah digerebek jam 10 malam,” kata Kiyai Zahro yangmenjabat Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I).

Kiyai Zahro menceritakan, aparat itu tetap bersikeras meminta daftar nama ustaz dan santri sampai marah-marah. Melihat itu, Kiyai Zahro meminta pengasuh pesantren agar jangan sampai memberikan daftar nama-nama santri dan ustaz di ponpes itu.

“Sampai di situ memang masih ada sambungan dialognya dengan pengasuh santri itu. Tapi intinya itu, melalui saluran Youtube ini, kepada semua pengasuh ponpes di seluruh Indonesia saya sebagai Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), saya serukan tolong waspada sejarah akan berulang. Ini yang terjadi pada tahun 1964 lalu,” tegas Kiyai Zahro.

 

Kiyai Zahro membeberkan penuturan ayahnya yang menyebutkan pada tahun 1948 juga terjadi hal seperti itu. Bahkan kalau membaca buku “Banjir Darah” betapa luar biasanya mereka datang membawa pedang dan celurit langsung mengambil.

“Saya tidak menuduh siapapun. Tapi saya serukan ayuk kita hadapi bersama, jangan gentar. Umat Islam kalau kompak kalau bersatu, Allah Ta’ala pasti memberikan pertolongan. Silakan baca Al-Qur’an Surah Al-Anfal, kenapa Nabi صلى
الله
عليه
وسلم
 dan para sahabatnya kuat, ternyata karena kompak dan bersatu,” terang Kiyai Zahro.

“Kita tidak akan menyerang siapa pun. Tapi kalau mereka jual, kita borong. Kalau mereka datang baik-baik kita terima baik-baik, kalau datang ada hal-hal mencurigakan maka sejarah akan berulang,” sambungnya.

Para pengasuh ponpes di Indonesia diimbau agar tidak terpengaruh modus orang-orang mencurigakan. Sekarang ini harus hati-hati. Ini benar terjadi, bukan khayalan.

“Mana ada pemeriksaan Swab Test dilakukan malam-malam dengan berkedok gratis. Kita patut curiga. Kita tidak ada kepentingan untuk tes apapun, panjenengan yang penting jaga kesehatan, hidup sehat dan bersih, protokol kesehatan dipatuhi, dzikir istiqamah. Tidak ada apa-apa kok tiba-tiba seperti itu,” kata Imam Besar Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya itu.

Berikut rekaman Video Kiyai Ahmad Zahro yaang disiarkan Channel NU Garis Lurus melalui saluran Youtube, 26 September 2020:

https://youtu.be/C8MU_eyNIQg

Rusman H Siregar

kalam.sindonews.com, Senin, 28 September 2020 – 09:10 WIB

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 777 kali, 1 untuk hari ini)