densusu 88 ab

JAKARTA — Komnas HAM menyatakan, tindakan Densus 88 memang sering dibumbui dengan pelanggaran termasuk merampas hak untuk hidup.

Disebutkan, tanpa ada kepastian apakah individu yang ditembak ini benar teroris atau bukan, Densus 88 sudah berani mencabut nyawa orang tersebut.

Komnas HAM pun mengungkapkan, sedikitnya ada 83 nyawa yang sudah melayang atas tindakan Densus 88 di lapangan dalam kiprahnya membasmi terorisme ini sejak tahun 2003.

“Termasuk tiga belas diantaranya waktu kejadian di Poso pada 22 Januari 2012  yang videonya ramai disorot belakangan ini,” kata Ketua Komnas HAM, Siti Noor Laila kepada Republika, Rabu (20/3).

Noor melanjutkan, tindakan pemberantasan terorisme di Indonesia oleh Densus 88 selama ini seolah tak pernah dipersalahkan oleh Polri sebagai induk institusinya.

Dia berpendapat, seharusnya Polri mampu melakukan evaluasi pada tubuh Densus 88 karena banyaknya korban meninggal saat detasemen ini beroperasi.

Dia pun mengaku heran dengan fakta bahwa tak ada satu pun anggota Densus 88 sampai saat ini yang diseret untuk dimintai tanggung jawab atas banyaknya terduga teroris yang tewas di lapangan. Padahal kata dia, penembakan kepada seseorang yang bahkan sudah menjadi tersangka tak dibenarkan oleh Polri.

Hal ini menurutnya tertuang dalam Peraturan Kapolri (Perkap) 23 Tahun 2011 tentang prosedur penindakan tersangka tindak pidana terorisme Bab IV ayat 3. Dimana didalamnya menyebutkan, penindakan yang menyebabkan matinya seseorang/tersangka harus dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.

 

Reporter : Gilang Akbar Prambadi
Redaktur : A.Syalaby Ichsan

REPUBLIKA.CO.ID, Rabu, 20 Maret 2013, 20:13 WIB
***

Din Syamsuddin Tantang Polri Buktikan Kebenaran Video

Selasa, 19 Maret 2013, 17:40 WIB

YOGYAKARTA — Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta Mabes Polri untuk tidak berapologi (melakukan pembelaan) dalam menyikapi peredaran video Densus 88 saat menangani terorisme.

Din meminta Mabes Polri tidak menutup-nutupi hal tersebut dan mengusut serta menindak tegas pelaku yang ada.

“Video itu jelas asli tidak direkayasa. Kalau tidak percaya mari kita buktikan. Undang para ahli. Jelas ada Densus di dalamnya. Kecuali ada yang meminjam baju Densus,” ujar Din usai meresmikan Taman Pustaka Muhammadiyah di Kompleks SD Muhammadiyah Wirobrajan Yogyakarta, Selasa (19/3).

Menurut Din, penanganan masalah tersebut bukan terletak pada pembubaran Densus 88.

“Harus ganti pendekatan memerangi terorisme. Teroris musuh bersama tetapi jangan diberantas melalui teror juga. Itu justru akan melestarikan teror. Harus ada pendekatan lain,” tegasnya.

Reporter : Yulianingsih
Redaktur : Hazliansyah/ REPUBLIKA.CO.ID,

 

(nahimunkar.com)

(Dibaca 169 kali, 1 untuk hari ini)