Komnas PA Jangan Cuma Ributin Kata ‘Anjay’, Tolong Fokus ke Tayangan TV Tidak Ramah Anak dan Bau Seksual

 

  • Inspirasi Qur’an: Mendidik Anak untuk Hidup Islami Cara Luqman Al Hakim

Silakan simak berikut ini.

***

 

Komnas PA Jangan Cuma Ributin Kata ‘Anjay’, Tolong Fokus ke Tayangan TV Tidak Ramah Anak dan Bau Seksual

 


Istilah “anjay” belakangan menjadi viral di media sosial. Hal itu dipicu oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang meminta kepada publik untuk menghentikan penggunaan kata tersebut.

Komnas PA beralasan, ungkapan “anjay” berpotensi mengandung unsur kekerasan. Bahkan, pengguna yang memakai kata ini dan dalam konteks berbahasa termasuk sebagai bentuk kekerasan verbal. Sehingga dapat dipidana berdasarkan UU 35/2014.

Menanggapi polemik ini, pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Andi Yusran menyatakan tidak salah jika Komnas PA menyoroti penggunaan kata “anjay” yang dinilai bisa mempengaruhi aksen komunikasi verbal anak.

“Namun Komnas PA seharusnya lebih fokus lagi pada tayangan televisi yang tidak ramah anak, karena menampilkan unsur kekerasan, adegan berbau seksual, merokok dan lain sebagainya,” ujarnya saat dihubungi Kantor Berita RMOLJakarta, Selasa (1/9).

Pelarangan penggunaan kata “anjay” ini pun menuai diskusi hangat di dunia maya. Bahkan sempat menjadi trending topic dan memenya bersliweran di jagat Twitter.

Polemik kata Anjay sendiri bermula dari YouTuber Lutfi Agizal yang mengadu ke Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Menurutnya, kata “anjay” berpotensi merusak moral bangsa.

Sumber : RMOL

 

[PORTAL-ISLAM.ID] Selasa, 01 September 2020 BERITA NASIONAL

***

Inspirasi Qur’an: Mendidik Anak untuk Hidup Islami Cara Luqman Al Hakim

 
 


Foto: Gambar Ilustrasi

Sebenarnya mendidik anak hidup Islami dan membentengi mereka dari kesesatan, tidak sulit mencarinya dalam Al-Qur’an. Prinsip-prinsip pendidikan anak yang Islami sangat jelas disampaikan dalam kisah Luqman al-Hakim berikut ini:

1. Aqidah Yang Kuat

(وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Bahasan yang paling awal dididikkan kepada anak adalah tentang keyakinan kepada Allah, Al-Ahad. Itulah pondasi pendidikan yang pertama dan utama ditanamkan dalam pikiran anak-anak. Sembahlah Allah saja, dan jangan menyekutukanNya dengan apa atau siapa pun, di mana pun dan kapan pun!

2. Kesadaran akan pengawasan Allah ‘azza wa jalla
Pada kesempatan berikutnya, setelah iman tertanam kuat di dada, Luqman berkata,

(يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16

“(Luqman berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (QS. Luqman: 16)
Di sini anak dididik sadar akan pengawasan dan hukum Allah. Betapa kebaikan dan keburukan yang diperbuat akan selalu diketahui-Nya, dan diberi balasan yang benar-benar setimpal oleh Allah ta’ala. Lathiifun, Maha Halus pengetahuan-Nya, sehingga segala sesuatu tiada yang tersembunyi betapa pun lembut dan halusnya. Khabiirun, Maha Mengetahui langkah-langkah semut sekecil apa pun yang ada di kegelapan malam yang sangat pekat. (Ibnu Katsir jilid III: 1990: 428-429).

3. Shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan sabar

Aqidah yang kokoh dan kesadaran akan pengawasan Allah perlu dibuktikan dengan perbuatan. Maka Luqman menuntun putranya kepada amal saleh atau kebaikan yang harus dilakukan. Di ayat ke-17 Luqman menasihati putranya:

(يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
Luqman menghasung putranya untuk melaksanakan shalat, berdakwah dan bersabar, sebagai tanda bakti dan bukti kesetiaan hamba kepada Penciptanya.

4. Tidak sombong

Seseorang tidak akan mampu hidup sendiri di dunia ini. Ia bersama triliunan makhluk Allah lainnya hidup bersama di jagat raya ini dan saling tergantung satu dengan lainnya. Karenanya tak ada satu makhluk pun yang patut membanggakan diri di hadapan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi pokok nasihat Luqman berikutnya.

(وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

5. Sederhana

(وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS.Luqman: 19)
Di bagian akhir nasihat Luqman kepada anaknya adalah hasungan untuk bertindak-tanduk dan bertutur kata yang sopan dan sederhana. Mengapa sikap tersebut demikian penting?

Tidak lain karena sikap sederhana menghindarkan manusia dari iri dengki yang membawa permusuhan. Bukankah banyak permasalahan hidup yang timbul gara-gara dipicu sikap atau tutur-kata yang berlebih-lebihan dan menyakitkan?

Apa yang diajarkan Luqman al-Hakim kepada putranya tampak jauh lebih sederhana dalam ukuran kita saat ini. Tetapi dalam kesederhanaan itu terdapat makna yang dalam, yang menjadi inti kepribadian muslim. Iman, sadar, shalat, amar makruf nahi mungkar, sabar, rendah hati, dan sederhana. Mari kita terapkan pada diri sendiri, kita tanamkan pada jiwa anak-anak dan keluarga tercinta, dan kita sebarkan pada lingkungan sekitar. Insya Allah negeri ini akan menjadi lebih Islami dan diberkahi Allah Subhaanahu wa ta’aala.

Reporter: Rudi
Editor: Agus Abdullah

kiblat.net, Jum’at, 16 Agustus 2013 09:04  

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 112 kali, 1 untuk hari ini)