Gudang VOC (foto : Ilustrasi / Istimewa)

JAKARTA, 17/6 – KEPENGURUSAN DEMOKRAT. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum (kanan) didampingi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono dalam Pengumuman Susunan Nama dan Jabatan Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat periode 2010-2015 di Kantor DPP Demokrat, Jakarta, Kamis (17/6). Jumlah pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat periode 2010-2015 mencapai 130 orang. FOTO ANTARA/Rosa Panggabean/MES/10. 17/6/2010 18:10

Ada dua sikap kompeni yang tampaknya ditiru.

  1. Korupsi yang menjadikan gulung tikar alias bubar.
  2. Membuat jaring laba-laba imperialisme untuk mengangkangi kedaulatan bangsa.

Masalah korupsi, telah mengakibatkan gulung tikarnya kompeni Belanda. Apakah Partai Demokrat yang para pentolannya berbuat korupsi dan satu persatu masuk bui itu akan gulung tikar juga?

Dan apakah utang-utang kompeni yang kemudian harus ditanggung oleh pemerintah Belanda akan dialami pula bila Demokrat jatuh kemudian utang-utangnya (kalau ada) harus ditanggung pemerintah Indonesia? Yang jelas Negara telah dirugikan triliunan rupiah akibat korupsi para pentolan Demokrat.

Masalah jaring laba-laba imperalisme, ada yang telah mengingatkan sejak beberapa tahun lalu sebagai berikut.

Amin Rais (2008) telah mengingatkan bangsa ini bahwa sekalipun kaum imperialis telah hengkang dari bumi pertiwi, tetapi jaring laba-laba imperialisme masih mengangkangi kedaulatan bangsa. Mereka bukan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau kompeni, tetapi telah bermetamorfosa dalam bentuk korporasi besar transnasional.

“ …perlahan-lahan tapi pasti, kita tengah menyaksikan di seluruh dunia terjadinya proses pengambilan kekuasaan dan otoritas negara oleh kekuatan korporasi-korporasi trans-nasional”, demikian pernyataan Dr. Nasikun dalam sebuah diskusi digedung pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta pertengahan tahun 2005. http://baktinusaddugm.wordpress.com/author/baktinusaugm/

***

Untuk mengetahui sejarah bangkrutnya kompeni atau VOC, berikut ini gambaran singkatnya.

VOC mendadak bangkrut secara tiba-tiba. Sejak tahun 1789, pembukuan VOC telah mengalami defisit sebesar 74 juta gulden, dua tahun kemudian meningkat menjadi 96 juta gulden. Dan, pada saat dibubarkan, total beban hutang yang harus ditanggung VOC adalah sebesar 134 juta gulden.

Sebagian dokumen malah menyebut angka 219 juta gulden. Setelah VOC dibekukan pada tahun 1798 dan kemudian dibubarkan pada 31 Desember 1799, semua hutangnya diambil alih pemerintah Belanda. Jadi, kekayaan yang ditinggalkan VOC adalah hutang sebesar 134 atau 219 juta gulden. ”Bagaimana mungkin semua kekayaan yang bersumber dari monopoli beragam komoditas bernilai jutaan gulden itu lenyap begitu saja ?” kata E.S. Ito saat ditanya soal mitos itu.

Keserakahan, salah urus dan korupsi diduga menjadi salah satu penyebab bangkrutnya VOC. Anehnya, menjelang bangkrutnya VOC ketika perusahaan dagang tersebut nyaris tak lagi bisa membayar dividen tahunannya, pengiriman rempah-rempah bernilai mahal ke Eropa masih mampu menunjukkan tingkat keuntungan rata-rata yang tinggi. Dari sinilah muncul dugaan bahwa jutaan gulden harta kekayaan VOC telah digelapkan.

Kekayaan VOC yang digelapkan oleh pejabatnya sendiri itu diduga dalam bentuk emas batangan, dan tak sempat terangkut ke negeri Belanda. Harta kekayaan itu diduga disembunyikan di salah satu tempat di negeri ini. Pulau Onrust, salah satu pulau yang menjadi tempat asal muasal kekuasaan maha dahsyat VOC diduga menjadi tempat penyembunyian harta karun tersebut. http://isandri.blogspot.com/2008/09/mitos-dan-misteri-harta-karun-voc.html

***

Dalam hal korupsi, pentolan Demokrat, partai besutan Presiden SBY, satu persatu masuk bui. 

Ocehan Nazar akhirnya direspons KPK dengan mengeluarkan surat cekal kepada Andi serta menetapkannya sebagai tersangka pada 3 Desember lalu.

Kini, kita masih menunggu KPK untuk membuktikan ocehan Nazar terkait keterlibatan Anas dalam proyek Hambalang yang bernilai Rp2,5 triliun. Karena diduga kerugian negara senilai Rp1,5 triliun akibat proyek Hambalang ini, digunakan Anas saat kongres Partai Demokrat pada 2010.

Nampaknya, Partai Demokrat dengan kondisi yang ada tidak sampai 2014 sudah gulung tikar. Tokoh-tokoh puncaknya semua menjadi tersangka korupsi, dan bahkan sudah ada yang masuk penjara. Sulit membangun kembali Partai Demokrat di masa depan.

Sementara itu, Presiden SBY sudah tidak mungkin manggung lagi menjadi Presiden, karena sudah dua periode menduduki jabatan sebagai Presiden.

Inilah sorotannya.

***

Akankah Anas Urbaningrum Menyusul Andi Mallangrangeng?

Jakarta (voa-islam.com) Partai Demokrat seperti menghadapi puputan. Satu-satu tokoh utama masuk bui. Seperti bakal tak bersisa tokoh-tokoh Partai Demokrat akan menghadapi KPK.

Betapa banyaknya tokoh Partai Demokrat yang berurusan dengan KPK. Kemudian, menjadi tersangka, sejak mulai Nazaruddin, Angelina Sondak, Siti Murdaya, dan sekarang Andi Malangreng. Adakah Ketua Umum Partai Demokrat akan menyusul Andi Malangreng?

Sekarang, KPK resmi menetapkan Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Alifian Mallarangeng, sebagai tersangka kasus Proyek Sekolah Olahraga Nasional (SON) Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (7/12/2012). Bahkan, Andi Malangreng juga sudah mengundurkan diri dari Kabinet dan Partai Demokrat.

Kasus dugaan korupsi di proyek Hambalang pertama kali dibeberkan oleh mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin. Nazar menuding bahwa ada kejanggalan di pembangunan Hambalang.

Keterlibatan Andi dalam kasus Hambalang, menurut Nazar, Andi menerima jatah dari proyek pembangunan Hambalang, Jawa Barat, yang diterima melalui Direktur PT. Cipta Laras, Mahfud Suroso.

“Andi Mallarangeng itu dapat Rp10 miliar dari Mahfud Suroso. Uangnya berasal dari Rp100 miliar yang dikumpulkan PT Adhi Karya bersama dengan PT Wijaya Karya,“ kata Nazar, beberapa waktu lalu.

Bahkan, Nazar menuding, aliran dana Rp100 miliar tersebut diserahkan kepada Yulianis dan dibawanya ke Bandung untuk dibagikan ke DPC-DPC Partai Demokrat pada kongres 2009. Sisanya, Rp50 miliar itu dibagikan ke anggota DPR termasuk Andi. Nazar juga menyebut Andi menerima fee Rp20 miliar dari PT Adhi Karya.

Namun begitu, Nazar mengatakan, Andi tidak menerima uang tersebut secara langsung, melainkan melalu Andi Zulkarnaen Mallarangeng atau Choel, adik Andi yang juga dicekal KPK.

Selain Andi, Nazar juga menyebut nama Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, Ketua Fraksi Demokrat Djafar Hafsah dan Sekretaris Farksi Demokrat Saan Mustopa, terlibat dalam proyek Hambalang.

Ocehan Nazar terkait Hambalang sempat membuat publik kecewa. Saat KPK malah menetapkan Dedy Kusnidar, yang menjabat Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Kemenpora, sebagai tersangka. Bahkan, Nazar sempat menyebut KPK takut menyeret Andi dan Anas menjadi tersangka dalam kasus Hamabalng.

Tapi, ocehan Nazar akhirnya direspons KPK dengan mengeluarkan surat cekal kepada Andi serta menetapkannya sebagai tersangka pada 3 Desember lalu.

Kini, kita masih menunggu KPK untuk membuktikan ocehan Nazar terkait keterlibatan Anas dalam proyek Hambalang yang bernilai Rp2,5 triliun. Karena diduga kerugian negara senilai Rp1,5 triliun akibat proyek Hambalang ini, digunakan Anas saat kongres Partai Demokrat pada 2010.

Nampaknya, Partai Demokrat dengan kondisi yang ada tidak sampai 2014 sudah gulung tikar. Tokoh-tokoh puncaknya semua menjadi tersangka korupsi, dan bahkan sudah ada yang masuk penjara. Sulit membangun kembali Partai Demokrat di masa depan.

Sementara itu, Presiden SBY sudah tidak mungkin manggung lagi menjadi Presiden, karena sudah dua periode menduduki jabatan sebagai Presiden. Lalu, siapa tokoh yang akan manggung di Partai Demokrat, jika Ketua Umumnya, Anas Urbaningrum menjadi tersangka? af/okz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.331 kali, 1 untuk hari ini)