• SBY sekeluarga ‘nonton’ kebakaran Setneg dari Wisma Negara
  • Tiga Kali Istana Presiden Diterjang Bencana Yang Tak Terduga, Musibah apa Kutukan?
  • Pertama Kali Kompleks Istana Negara Kebakaran, Istana Keukeuh Sistem Pengamanan Bagus

Inilah beritanya.

kebakaran gedung

Kebakaran di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2013) sore./ TRIBUN / HENDRA GUNAWAN.

***

Kompleks Istana terbakar, Ibu Ani sibuk foto-foto

Gedung Sekretariat Negara yang berada di lingkungan Istana Negara terbakar. Kebakaran terjadi sekitar pukul 17.15 WIB, Kamis (21/3 2013)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani serta Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) langsung mengunjungi lokasi kejadian.

Pantauan merdeka.com, Kamis (21/3) di lokasi, Ibu Ani memanfaatkan momen tersebut untuk diabadikan dengan kamera profesionalnya. Ibu Ani tampak memotret Gedung Setneg yang terbakar.

Diketahui, mobil pemadam yang datang ke lokasi baru lima armada. Mobil damkar yang lain saat ini masih terjebak macet saat menuju lokasi kejadian.

[ded] mrdkcom, Reporter : Harwanto Bimo Pratomo

Kamis, 21 Maret 2013 17:56:33

***

SBY sekeluarga ‘nonton’ kebakaran Setneg dari Wisma Negara

Reporter : Harwanto Bimo Pratomo

Kamis, 21 Maret 2013 19:38:15

Salah satu ruangan di lantai tiga Gedung Setneg, Kompleks Kepresidenan, terbakar sore tadi. Padahal saat itu, Presiden SBY dan sejumlah menteri sedangan mengadakan rapat Komite Ekonomi Nasional (KEN).
Mendapat kabar ada kebakaran di salah satu gedung, SBY dan sejumlah menteri berhamburan ke luar ruang rapat. SBY juga sempat meninjau lokasi bersama Menko Polhukam Djoko Suyanto dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa.
Di belakang SBY, tampak pula Ibu Negara Ani Yudhoyono yang mengenakan dress merah dibalut cardigan hitam sambil memegang kamera SLR. Wajahnya tampak bingung. Selang beberapa menit kemudian, putra SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab disapa Ibas juga datang ke lokasi.
Padahal sebelumnya Ibas baru saja melakukan jumpa pers soal KLB Demokrat di Kantor DPP, Jl Kramat Raya. Dia langsung menemui Bu Ani.
Untuk alasan keamanan, SBY, Bu Ani dan Ibas diminta para ajudan untuk menjauh dari lokasi kebakaran.
“Karena tidak memungkinkan, Presiden, Ibu Negara dan Ibas memasuki Gedung Wisma Negara,” kata Jubir Presiden SBY, Julian Adrin Pasha, kepada wartawan di lokasi, Kamis (21/3).
SBY keluarga tetap memantau kebakaran dari lantai enam Wisma Negara. “Kami di lantai 6 bisa lihat dari dekat secara jelas saat api berkobar tadi,” tambahnya.
Sampai pukul 19.32 WIB, api sudah padam. Namun petugas masih di lapangan untuk melakukan pendinginan.

[lia]mrdkcom

***

 Tiga Kali Istana Presiden Diterjang Bencana Yang Tak Terduga, Musibah apa Kutukan?

Fri, 22/03/2013 – 09:39 WIB

JAKARTA – Kemarin sore kompleks Istana Presiden terbakar. Meski tidak ada korban jiwa, kebakaran kompleks Istana bukan hal lumrah. Hingga kini pun belum diketahui penyebab pasti terbakarnya Gedung Setneg di kompleks Istana tersebut.

Jika ditengok dari sejarah, kompleks Istana memang pernah mengalami musibah atau bencana. Namun selama ini musibah yang menimpa kompleks Istana adalah banjir yang memang sudah langganan di Jakarta. Sedangkan untuk kebakaran, bisa jadi peristiwa kemarin sore adalah kali pertama yang terjadi di lingkungan Istana.

Namun demikian, Istana memang bukan tempat yang anti kena musibah. Beberapa kali Istana juga terkena musibah. Berikut 3 musibah yang pernah menimpa Istana.

1. Kebanjiran

Banjir besar yang terjadi pada pertengahan Januari lalu tak cuma menggenangi obyek-obyek vital di Jakarta, Istana Presiden pun terendam banjir. Bahkan banjir di Kompleks Istana mencapai 30 centimeter.

Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat itu pun langsung memantau banjir di Istana. Kepala Negara tampak menggulung celananya yang berwarna abu-abu, didampingi oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan sejumlah staf, Presiden tampak memantau banjir yang menggenangi Wisma Negara.

Banjir di Istana memang bukan kali pertama, pada tahun 2007 Istana juga terendam banjir. Bahkan sejak zaman Belanda, Istana sudah sering kebanjiran. Oleh sebab itu kemudian pemerintah kolonial membangun Kanal Banjir Barat (KBB) untuk mengalirkan air Kali Ciliwung ke laut saat musim hujan datang.

2. Kebakaran

Kompleks Istana Kepresidenan kemarin sore dilalap si jago merah. Api tiba-tiba muncul di Gedung Sekretariat Negara dan melahap habis ruangan di lantai 3.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Pihak Istana juga menyebut tidak ada dokumen penting yang terbakar dalam musibah itu.

Saat api mulai berkobar, Presiden SBY sendiri sedang memimpin rapat kabinet terbatas bidang ekonomi dengan Komite Ekonomi Nasional (KEN). Rapat pun segera diakhiri dan SBY langsung meninjau lokasi kebakaran.

“Selamatkan orang, tinggalkan yang lain,” ujar SBY singkat, Kamis (21/3) sore kemarin saat memberi instruksi.

Penyebab kebakaran belum dapat dipastikan, namun api diduga akibat hubungan arus pendek. Kebakaran ini pertama kali yang menimpa Kompleks Istana Kepresidenan.

3. Gempa Bumi

Tak hanya Istana Merdeka Jakarta yang sering kena musibah, Istana Bogor tak luput dari petaka. Istana Buitenzorg itu pernah mengalami kerusakan parah akibat gempa.

Pada tahun 1834 Istana Bogor pernah rusak berat setelah gempa bumi hebat terjadi akibat meletusnya Gunung Salak. Kemudian pada 1850 istana dibangun kembali, tetapi bentuknya tidak lagi bertingkat tiga. Perubahan itu disesuaikan dengan situasi daerah yang sering mengalami gempa bumi.

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duijmayer Van Wist (1851-1856), bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19.

Pada 1870, Istana Buitenzorg dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Setelah Indonesia merdeka dari tangan penjajah, Istana Kepresidenan Bogor mulai digunakan sebagai salah satu dari Istana Presiden Indonesia.[ian/mrd] rimanews.com

***

Pertama Kali Kompleks Istana Negara Kebakaran Istana Keukeuh Sistem Pengamanan Bagus

 JAKARTA–Ini pertama kalinya dalam sejarah Gedung Sekretariat Negara yang berdekatan dengan kompleks Istana Negara mengalami kebakaran. Peristiwa ini terjadi pada Kamis sore (21/3), ketika suasana kompleks Setneg dan Istana tengah lengang. Saat itu ada kegiatan rapat kabinet terbatas yang dilaksanakan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama sejumlah menteri bidang perekonomian.

Dugaan sementara, kebakaran ini terjadi karena korslet listrik di ruang sidang lantai III Gedung Setneg yang biasa dipakai Presiden untuk menggelar sidang. Saat itu ruangan yang terbakar tersebut kosong. Tak ada sidang.

Meski tak pernah ada kebakaran sebelumnya, pihak Setneg keukeuh menyebut bahwa tidak masalah dengan pengamanan dan sistem di gedung tersebut. “Memang kalau dilihat dari ruang sidang banyak bahan yang mudah terbakar. Tapi sebelum mobil damkar DKI datang kan sudah diupayakan semuanya. Makanya tidak merambat sampai ke tempat lain dan lantai II. Semuanya berfungsi keamanan. Tapi dengan cepatnya api karena banyak bahan yang mudah terbakar. Setelah itu baru damkar DKI datang,” ujar Menurut Sekretaris Menteri Sekretaris Negara (Sesmensesneg) Lambok V. Nahattands di Kompleks Setneg.

Ia pun menampik adanya pipa hidran kompleks Setneg yang berkarat dan sempat susah digunakan oleh petugas Damkar DKI Jakarta. Menurutnya, semua sistem keamanan selalu diperiksa secara berkala.

“Kesiapan dari semua peralatan hidran secara berkala diperiksa. Atau mungkin tadi terburu-buru. Tapi kan akhirnya bisa terbuka kan. Justru karena ini siap snmua makanya dioperasikan, kalau tidak mungkin gedung itu semua terbakar,” kelit Lambok.

Di akhir jumpa pers Lambok mengucapkan terimakasih karena kecepatan Damkar DKI yang langsung mendatangi lokasi sehingga mempercepat lalapan api di Gedung Setneg.

Seperti diketahui, letak kantor Setneg, memang berada di komplek Istana Kepresidenan atau Istana Negara. Namun lokasinya cukup jauh dari Kantor Presiden. Biasanya, untuk masuk ke komplek Istana Kepresidenan, bisa melalui berbagai pintu, salah satunya melalui pintu kantor Sekretariat Negara ini.

Lokasi kebakaran merupakan kantor Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi biasa berkantor. Penjagaan di kantor ini tidaklah seketat bila ingin masuk ke lingkungan Istana Negara. Karena bila ingin masuk ke lingkungan Istana Negara atau kantor Presiden, harus melewati pemeriksaan Paspampres.

Meski tidak berdekatan, namun kantor Setneg terlihat jelas dari kantor Presiden. Sehingga saat kebakaran terjadi, asap dan api yang membesar bisa terlihat jelas dari tempat Presiden dan para menteri biasanya melakukan rapat kabinet.

Berdasarkan laman Wikipedia, Istana Negara dan Istana Merdeka yang berada di satu kompleks di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, merupakan dua buah bangunan utama yang luasnya 6,8 hektare (1 hektare = 1 hektometer persegi = 10000 meter persegi) dan terletak di antara Jalan Medan Merdeka Utara dan Jalan Veteran, serta dikelilingi oleh sejumlah bangunan yang sering digunakan sebagai tempat kegiatan kenegaraan.

Dua bangunan utama adalah Istana Merdeka yang menghadap ke Taman Monumen Nasional (Monas) yang terletak di Jalan Medan Merdeka Utara dan Istana Negara yang menghadap ke Sungai Ciliwung (Jalan Veteran). Sejajar dengan Istana Negara ada pula Bina Graha. Sedangkan di sayap barat antara Istana Negara dan Istana Merdeka, ada Wisma Negara.

Pada awalnya di kompleks Istana di Jakarta ini hanya terdapat satu bangunan, yaitu Istana Negara. Gedung yang mulai dibangun 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg ini semula merupakan rumah peristirahatan luar kota milik pengusaha Belanda, J A Van Braam. Kala itu kawasan yang belakangan dikenal dengan nama Harmoni memang merupakan lokasi paling bergengsi di Batavia Baru.

Pada tahun 1820 rumah peristirahatan van Braam ini disewa dan kemudian dibeli (1821) oleh pemerintah kolonial untuk digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta tempat tinggal para gubernur jenderal bila berurusan di Batavia (Jakarta). Para gubernur jenderal waktu itu kebanyakan memang memilih tinggal di Istana Bogor yang lebih sejuk. Tetapi kadang-kadang mereka harus turun ke Batavia, khususnya untuk menghadiri pertemuan Dewan Hindia, setiap Rabu.

Rumah van Braam dipilih untuk kepala koloni, karena Istana Daendels di Lapangan Banteng belum selesai. Tapi setelah diselesaikan pun gedung itu hanya dipergunakan untuk kantor pemerintah.

Selama masa pemerintahan Hindia Belanda, beberapa peristiwa penting terjadi di gedung yang dikenal sebagai Istana Rijswijk (namun resminya disebut Hotel van den Gouverneur-Generaal, untuk menghindari kata Istana) ini. Di antaranya menjadi saksi ketika sistem tanam paksa atau cultuur stelsel ditetapkan Gubernur Jenderal Graaf van den Bosch. Lalu penandatanganan Persetujuan Linggarjati pada 25 Maret 1947, yang pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir dan pihak Belanda diwakili oleh H.J. van Mook.

Pada mulanya bangunan seluas 3.375 m2 berarsitektur gaya Yunani Kuno ini bertingkat dua. Tapi pada 1848 bagian atasnya dibongkar; dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang tanpa ada perubahan yang berarti.

Sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, saat ini Istana Negara menjadi tempat penyelenggaraan acara-acara yang bersifat kenegaraan, antara lain pelantikan pejabat-pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, kongres bersifat nasional dan internasional, dan jamuan kenegaraan.

Karena Istana Rijswijk mulai sesak, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge tahun 1873 dibangunlah istana baru pada kaveling yang sama, yang waktu itu dikenal dengan nama Istana Gambir. Istana yang diarsiteki Drossares pada awal masa pemerintahan RI sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Waktu itu RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan kerajaan Belanda diwakili A.H.J Lovinnk, wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia.

Dalam upacara yang mengharukan itu bendera Belanda diturunkan dan Bendera Indonesia dinaikkan ke langit biru. Ratusan ribu orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung ini diam mematung dan meneteskan air mata ketika bendera Merah Putih dinaikkan. Tetapi, ketika Sang Merah Putih menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan mereka dan terdengar teriakan: Merdeka! Merdeka! Sejak saat itu Istana Gambir dinamakan Istana Merdeka.

Sehari setelah pengakuan kedaulatan oleh kerajaan Belanda, pada 28 Desember 1949 Presiden Soekarno beserta keluarganya tiba dari Yogyakarta dan untuk pertama kalinya mendiami Istana Merdeka. Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di Istana Merdeka pertama kali diadakan pada 1950.

Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih dari 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Merdeka sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan negara.

Sebagai pusat pemerintahan negara, kini Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara-acara kenegaraan, antara lain Peringatan Detik-detik Proklamasi, upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat, dan pelantikan perwira muda (TNI dan Polri).

Bangunan seluas 2.400 m2 itu terbagi dalam beberapa ruang. Yakni serambi depan, ruang kredensial, ruang tamu/ruang jamuan, ruang resepsi, ruang bendera pusaka dan teks proklamasi. Kemudian ruang kerja, ruang tidur, ruang keluarga/istirahat, dan pantry (dapur).

Sepeninggal Presiden Soekarno, tidak ada lagi presiden yang tinggal di sini, kecuali Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden Soeharto yang menggantikan Soekarno memilih tinggal di Jalan Cendana. Tapi Soeharto tetap berkantor di gedung ini dengan men-set up sebuah ruang kerja bernuansa penuh ukir-ukiran khas Jepara, sehingga disebut sebagai Ruang Jepara serta lebih banyak berkantor di Bina Graha. (flo/jpnn) Kamis, 21 Maret 2013 , 20:46:00

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 1.126 kali, 1 untuk hari ini)