Pengajian di Masjid Nabawi Madinah/ pkrn rkyt

 Para mahasiswa bisa memilih para masyayikh sendiri.

  • Yang banyak diminati para mahasiswa asal Indonesia adalah bertalaqi dengan Syeikh Muhsin al- ‘Abbad, seorang ulama hadits yang biasa membawakan materi Shahih Bukhari.
  • Di antara para mahasiswa itu juga antusias mengaji kepada Syeikh Anis Jamil Thohir , seorang ulama kelahiran Indonesia, tapi Syeikh Anis tidak bisa berbahasa Indonesia.
  • Di Kota Madinah, khususnya di Jami’ah Islamiyah, ada sekitar 300 lebih mahasiswa Indonesia sedang sibuk menuntut ilmu, 20 lebih di antaranya, kini sedang menyelesaikan program S2 dan S3.
  •  Dari 18.000 mahasiwa Universitas Madinah, Indonesia, termasuk paling besar.

Inilah catatan wartawan hidayatullah.com tentang itu.

***

Catatan Dari Tanah Haram

Diskusi Irshad Manji di Halaman Masjid Nabawi

Selasa, 15 Mei 2012 

Hidayatullah.com—Jika suatu hari Anda diberi kesempatan Allah Subhanahu Wata’ala ke Masjid Nabawi, sekali waktu, sempatkan mampir ke bab (pintu) 8 . Tepat di tiang pertama dan ke dua, bernomor 9-10, di situ berkumpul banyak pria rapi, sebagian berjenggot tebal, bajunya putih-putih rapi sedang khusuk dalam majelis ilmu, mendengar taushiyah dari seorang ulama.

Jangan keliru, itu bukan warga Arab atau Yaman, mereka adalah  warga asli Indonesia yang tengah menempuh studi di Universitas Islam Madinah atau Jamiah Islamiyah.

Kegiatan rutin seperti ini adalah bagian penting para mahasiswa di sela-sela mereka mengikuti perkuliahan setiap hari, kecuali hari Kamis dan Jum’at.

“Biasanya, para mahasiswa mengikuti kegiatan seperti ini ba’da maghrib dan isya, “ ujar Rizqo Ibrahim, mahasiswa tahun pertama asal Banjarmasin ini.

Senin malam (14/05/2012) lalu, hidayatullah.com, berkesempatan bertemu para mahasiswa asal Indonesia usai mengikuti kajian habis shalat Isya’.

“Wah, Anda agak telat, sebenarnya kemarin malam kita semua (mahasiswa asal Indonesia, red) sedang berkumpul semua, “ ujar Iqbal Gunawan, mahasiswa S2 di Universitas Madinah asal Makassar.

“Bagus juga bisa sharing soal perkembangan tanah air dengan teman-teman media hidayatullah, “ tambah yang lain.

Menurut, Muhammad Haikal Basyarahil, Lc, mahasiswa program S2 pada jurusan Ilmu Hadits, komunitas talaqi mahasiswa Indonesia ini bukan materi wajib kampus. Namun hanya kegiatan tambahan para mahasiswa di luar program resmi universitas.

“Para mahasiswa bisa memilih para masyayikh sendiri, “ ujar pria asal Kalimantan ini.

Namun yang banyak diminati para mahasiswa asal Indonesia adalah bertalaqi dengan Syeikh Muhsin al- ‘Abbad, seorang ulama hadits yang biasa membawakan materi Shahih Bukhari.

Yang menarik, di antara para mahasiswa itu juga antusias mengaji kepada Syeikh Anis Jamil Thohir , seorang ulama kelahiran Indonesia. Santrinya tak hanya dari Indonesia, bahwan dari warga asing, termasuk Arab sendiri.

“Meski asli kelahiran Indonesia, tapi Syeikh Anis tidak bisa berbahasa Indonesia, “ ujar Rizqo, yang pernah mengenyam pendidikan di KMI PP Darussalam Gontor Ponorogo ini.

Madinah yang diberkahi

Lorong yang dikunjungi hidayatullah.com malam itu adalah tempat mangkal kominitas mahasiswa asal Indonesia yang sedang studi di Madinah.

Meski tidak semua ikut rutin, setidaknya, di tempat ini mereka bisa bertemu, berbagi dan menuntut ilmu.

Menurut Muhammad Haikal Basyarahil, di Kota Madinah, khususnya di Jami’ah Islamiyah, ada sekitar 3oo lebih mahasiswa Indonesia sedang sibuk menuntut ilmu, 20 lebih di antaranya, kini sedang menyelesaikan program S2 dan S3.

Dari 18.000 mahasiwa Universitas Madinah, Indonesia, termasuk paling besar.

“Indonesia masih terbesar untuk selain mahasiswa non Arab, “ ujarnya.

Silaturrahim para mahasiswa asal Indonesia di Masjid Nabawi malam itu berjalan cukup gayeng. Selain acara perkenalan, acara juga berlanjut membahas persolan-persoalan yang melanda bangsa Indonesia.

Banyak hal yang ditanyakan para mahasiswa asal Indonesia pada hidayatullah.com. Di antaranya perkembangan kasus Syi’ah di Sampang, kehadiran tokoh feminis asal Kanada, Irshad Manji ke Indonesia hinggal rencana kedatangan artis asal Amerika, Lady Gaga, ke Jakarta.

 “Jika tidak ada cerita perkembangan Indonesia seperti itu, teman-teman di sini tenang-tenang saja. Alhamdulillah, silaturrahim ini biar bisa menyemangati mereka lebih giat menuntut ilmu, “ ujar Haikal Basyarahil.

Selain bisa kuliah dan mengaji kepada para ulama ahli di Masjid Nabawi, umumnya, para mahasiswa Indonesia mengaku telah nyaman tinggal di Kota Suci ini, karena banyaknya keistimewaan.

Rizqo, misalnya, selama dia belajar, sudah dua kali melakukan ibadah haji dan telah beberapa kali melakukan ibadah umroh. Begitu juga mahasiswa yang lain. Mereka mengaku bisa setiap saat datang ke tanah haram dan berlama-lama beribadah sambil berdoa di raudah.*/cha

Red: Cholis Akbar

/ Hidayatullah.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.564 kali, 1 untuk hari ini)