Komut KAI Said Aqil Siradj dan Menag Yaqut Semoga Tergugah Hatinya

  • Trims untuk Dirut KAI Didiek Hartantyo dengan Didirikannya Masjid Stasiun Batu Garut Jabar, dan Masjid di area Stasiun Bandung sebelah utara

 

Pantas disyukuri dan diucapi terimakasih untuk Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo yang meresmikan masjid di Stasiun Cibatu, Kab. Garut, Jawa Barat, Kamis (8/4/2021).

Tentunya masjid stasiun itu sangat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Dan itu menunjukkan betapa pedulinya Dirut KAI terhadap kebutuhan masyarakat berkaitan dengan perkeretaapian, di antaranya sarana ibadah Umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini, ketika mereka sedang berada di kawasan stasiun kereta api.

Walau Komisaris Utama KAI Said Aqil Siradj sebagai seorang kyai tidak tampak hadir dalam peresmian msjid stasiun Batu di Garut itu, namun semoga saja Said Aqil Siradj dan juga Menteri Agama Yaqut tergugah hatinya.

Lebih-lebih, dalam sejarahnya masjid-masjid di seluruh stasiun kereta api itu, justru didirikan secara serempak oleh Menteri Perhubungan RI yang pertama yaitu Abi Koesno Tjokrosujoso, menurut penuturan M Shodiq Humas Depag (kini Kementerian Agama). Humas Kemenag tersebut tahun 1987 mengemukakan kepada wartawan di antaranya mengenai Sejarah pendirian masjid2 seluruh stasiun kereta api se-Indonesia demi melayani Umat Islam itu berhasil dibangun oleh Menteri Perhubungan RI pertama, Abi Koesno Tjokrosujoso, padahal kemerdekaan baru saja diraih.

Anehnya, setelah sekian puluh tahun Indonesia merdeka, masjid2 stasiun yang bersejarah itu justru tampaknya sebagian telah digusur oleh di antara pejabat. Menyedihkan sekali.

Sebagai contoh, Bang Udin seorang warga di Kalibata mengeluh dengan sedih, masa’ masjid stasiun di Duren Kalibata Jakarta digusur, dan kini lokasinya hanya dijadikan kios2 tukang kembang. Sedangkan masjid di stasiun Bogor yang cukup besar, kini telah digusur jadi tempat parkir kendaraan. Itu baru contoh yang dikeluhkan oleh Bang Udin yang sering ke Bogor karena istrinya orang sana. Belum masjid2 di stasiun KAI lainnya yang mungkin digusur pula oleh pihak2 yang kurang amanah.

Nah, di saat sebagian masjid stasiun yang bersejarah itu digusuri, apakah Komut KAI Kyai Said Aqil Siradj dan Menteri Agama Yaqut tidak tergugah hatinya untuk mengembalikan masjid2 stasiun kereta api yang bersejarah karena didirikan sejak setelah baru saja Indonesia merdeka 1945, yang kini telah lenyap tiada lagi bahkan dijadikan tempat-tempat yang tidak menunjukkan pelayanan sama sekali seperti kios kembang tersebut?

Pernah terjadi, sehabis lebaran, banyak masyarakat yang berjubel di stasiun. Termasuk di antaranya stsiun Jebres di Solo Jawa Tengah. Para pengantar familinya yang akan naik kereta api mengeluh, karena di stasiun itu tidak ada masjidnya. Adanya musholla kecil di dalam stasiun, harus antri ketika mau shalat maghrib, padahal pengantar tidak boleh masuk ke stasiun. Ketika minta izin masuk untuk shalat maghrib pun tampaknya petugasnya kurang suka, diharuskan hanya sebentar, harus cepat keluar lagi, dan harus menaruh KTP atau semacamnya di tempat petugas. Itu kan menyulitkan masyarakat, bukan melayani tapi malah menyulitkan, bukan?

Kalau sampai Komut KAI yang gelarnya Kyai yakni Kyai Said Aqil Siradj dan juga Menag yaqut yang cucu Kyai Besar di kalangan NU tidak terketuk hatinya atas kejadian macam ini, maka tidak bisa kita ngomog lagi. Apa yang akan diomongin, kalau hati mereka telah mati, misalnya?

Jasa Abi Koesno Menteri Perhubungan RI Pertama, tokoh panitia 9 BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan penggagas sumpah Presiden itu, yakni keberhasilan beliau sebagai Menub pertama RI mendirikan masjid2 stasiun seluruh Indonesia jangan dibuang begitu saja, sambil tak mempedulikan pelayanan kepentingan masyarakat. Justru yang harus dijadikan pelajaran adalah kepedulian Abi Koesno dalam melayani kepentingan masyarakat tersebut, sejak baru saja kemerdekaan diraih bangsa Indonesia atas berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal Abi Koesno adalah seorang arsitek dari sekolah Belanda di Surabaya, bukan seorang alumni sekolah khusus agama dan bukan kyai, dan juga bukan meteri agama, namun menteri perhubungan. Namun kepeduliannya terhadap kepentingan masyarakat melekat di hati dalam menjalankan jabatan yang dipegangnya, hingga mampu membangun masjid2 di seluruh stasiun kereta api di Indonesia pada masa itu yang belum lama meraih kemerdekaan.

Nah, jejak itu semoga saja diwarisi oleh pejabat kini dan yang akan datang. Di antaranya terbukti Dirut KAI kini juga mendirikan masjid stasiun di Batu Garut Jawa Barat.

Inilah beritanya.

***

 

Berikan Manfaat kepada Masyarakat, Direktur Utama KAI Resmikan Masjid Al-fattah di Stasiun Cibatu


Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo meresmikan masjid di Stasiun Cibatu, Kab. Garut, Kamis (8/4/2021). Acara peresmian masjid yang diberi nama Al-fattah ini selain dihadiri oleh Komisaris dan Direksi KAI, turut hadir pula Camat Cibatu Sardiman Tanjung, Komandan Koramil Cibatu Kapten Inf. Ade Army Barkah, Kapolsek Cibatu AKP M. Duhri, dan Kepala Desa Cibatu Dadang Sulaeman. Masjid ini KAI bangun untuk memberikan manfaat bagi masyarakat Cibatu.

“Pembangunan masjid ini sebagai wujud syukur KAI untuk terus melakukan sesuatu yang bernilai,” ujar Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo.

Didiek mengatakan, meski masih dalam masa pandemi Covid-19, KAI tetap berupaya agar dapat memberikan pelayanan semaksimal mungkin kepada seluruh pelanggan KAI dan masyarakat umum.

Masjid Al-fattah dibangun oleh Anak Perusahaan KAI yaitu KAI Properti dengan desain arsitektur yang modern, struktur bangunan yang megah, sehingga memberikan kenyamanan lebih untuk melaksanakan ibadah di tempat yang mulia ini. Nama Al-fattah sendiri merupakan salah satu nama Allah atau asmaul husna yang artinya adalah Maha Pembuka Berkah.

Didiek mengatakan, pihaknya meniatkan nama ini sebagai penanda dan doa agar menjadi pembuka berkah bagi seluruh insan KAI.

“Semoga Allah memberikan KAI bisa segera bangkit di masa pandemi ini sehingga kita bisa terus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat baik untuk angkutan penumpang maupun angkutan barang,” kata Didiek.

Didiek menambahkan, adanya masjid ini diharapkan dapat menjadi salah satu landmark baru di daerah Cibatu. Sehingga orang-orang yang berkunjung di Cibatu belum komplit rasanya kalau belum menunaikan sholat di masjid yang kita cintai ini.

“Kami sangat berharap apa yang menjadi niat kita bahwa masjid ini menjadikan ruang dan wahana bagi masyarakat sekitar dan bagi pelanggan kereta api di Cibatu untuk melaksanakan ibadah. Semoga masyarakat Cibatu dan seluruh stakeholder KAI terus diberi kesehatan pada masa pandemi Covid-19 dengan terus menerapkan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak,” tutup Didiek.

Sementara itu Komisaris KAI Riza Primadi yang juga hadir dalam peresmian masjid tersebut mengucapkan terima kasih kepada manajemen KAI atas terbangunnya masjid yang megah itu.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada manajemen KAI atas masjid yang luar biasa ini. Saya tidak membayangkan sebelumnya, masjid ini dibangun sedemikian luar biasa. Saya berharap secara fisik masjid ini bisa menjadi penanda Cibatu. Di samping itu, saya juga berharap masjid ini dapat dimanfaatkan dengan baik, baik oleh pelanggan KAI maupun warga Cibatu,” kata Riza.

Masjid Al-fattah Stasiun Cibatu dibangun dengan total luas 4.858,75 m2 dan dapat menampung hingga 1.150 orang. Masjid ini dilengkapi dengan fasilitas pedestrian, taman, serta kamar mandi & tempat wudu baik pria maupun wanita. Dibangun sejak September 2019, masjid Al-fattah juga dilengkapi dengan menara setinggi 30 meter.

Peresmian masjid di stasiun ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan di stasiun area Daop 2 Bandung. Sebelumnya pada 5 Maret 2021, Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo juga telah meresmikan Masjid Al-Mukmin yang berlokasi di area Stasiun Bandung sebelah utara. (Public Relations KAI)

https://kai.id/ Posted: 09.04.2021 Categories: Siaran Pers

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 460 kali, 1 untuk hari ini)