• 95 persen sumber daya alam Indonesia sudah dikuasai asing selama 195 tahun, dan itu dampak dari amandemen UUD ’45.
  • Itu akibat dari: 82,5 persen UUD ’45 sudah menjadi liberal dari hasil amandemen.
  • Itu akibat dari: Sekarang, terjadi “mutualisma-simbiosa” antara pemimpin partai, penguasa dan pemiliki modal. Tentu yang menjadi “King maker” adalah para pemilik modal. Inilah demokrasi di Indonesia, yang dikendalikan oleh kaum pemilik modal alias kaum kapitalis.
  • Segala hal yang akan memuluskan pemilik modal maka dilakukan. Di antaranya langsung ke jantungnya yaitu:

–          bahwa Partai Demokrat Amerika telah mengeluarkan biaya $ 45 juta dollar, guna membiayai amandemen UUD ’45.

–          bahwa 82,5 persen UUD ’45 sudah menjadi liberal dari hasil amandemen.

Hasilnya:

–           Bahwa 95 persen sumber daya alam Indonesia sudah dikuasai asing selama 195 tahun, dan itu dampak dari amandemen UUD ’45.

  • Akibatnya, rakyat 200-an juta manusia dapat dibilang hampir gigit jari, sedang para calo yang terdiri dari penguasa, elit partai dan rekanannnya mengganyang fee ataupun komisi, saling menaikkan fasilitas dan gaji, sambil korupsi serta menunggu janji-janji para tengkulak asing.
  • Sedang para trengkulak asing tinggal mengontrol sambil mengacung-acungkan cemeti dan lainnya.

Kongkalikong seperti itu sama sekali tidak akan lepas dari pertanggungan jawab di akehart kelak. Cukuplah peringatan dalam agama telah menegaskan:

(( مَا مِنْ عَبْدٍ يَستَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً ، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ ، إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّة ))

‘Barangsiapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan Surga atasnya’.”  (HR Muslim – 203)

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, kecuali tak bakalan mendapat bau surga.” (HR Bukhari – 6617)

Inilah sorotannya, editorial dari sebuah situs.

***

Masuk Jebakan Liberalisasi

Ternyata semuanya telah terperangkap dalam jebakan liberalisasi. Dalam seluruh aspek kehidupan. Kehidupan bangsa ini sangat liberal dibandingkan dengan negara indukanya, seperti Amerika Serikat.

Kehidupan liberal telah menjadi gaya hidup rakyat. Tak ada aturan yang sekarang dianut dan menjadi patokan. Lucunya, UUD’45 yang selama ini dikeramatkan seperti “kitab suci” ternyata sudah menjadi konstitusi yang liberal. Dengan memberi keleluasaan kepada kepentingan asing.

Ekonomi menjadi sangat liberal. Ekonomi bertumpu pada sistem pasar, di mana kaum pemilik modallah, yang menjadi penentu, tidak ada secuilpun ekonomi yang menggunakan landasan dari konstitusi UUD ’45. Ekonomi Indonesia hanyalah menjadi bagian dari sistem kapitalis global. Ekonomi kerakyatan yang diamanahkan dalam UUD’45 sudah tidak ada lagi. Siapa yang kuat, yang menang. Artinya para pemilik modal (kaum kapitalis) sepenuhnya menguasai ekonomi negara.

Kehidupan sosial sangat liberal. Benar-benar bebas.  Tidak ada lagi aturan dan hukum yang ditaati. Budaya yang dianut seratus persen budaya Barat. Bangsa Indonesia mengcopy paste budaya Barat. Free sek,  budaya pop,  dan pergaulan bebas serta hidup permisip telah mendarah dagaing dalam kehidupan.

Kehidupan politik bangsa benar-benar mengikuti cara-cara yang sangat absurd. Para pemilik modal (kaum kapitalis) menjadi penentu dalam berpolitik. Karena itu, partai politik, hanyalah menjadi alat para pemilik modal. Para pemimpin partai hanyalah menjadi “jongos” alias “kacung” para pemilik modal.

Partai politik yang sudah menjadi oligarki (sekelompok elit partai yang sangat berkuasa), dan sangat mudah dikendalikan para pemilik modal. Para elite partai itu hanya menjadi wayang, yang dimainkan oleh para pemilik modal. Semua elite partai ujung-ujungnya hanyalah menjadi perpanjangan tangan para kapitalis.

Sekarang, terjadi “mutualisma-simbiosa” antara pemimpin partai, penguasa dan pemiliki modal. Tentu yang menjadi “King maker” adalah para pemilik modal. Inilah demokrasi di Indonesia, yang dikendalikan oleh kaum pemilik modal alias kaum kapitalis.

Tak heran kalau mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Kiki Sjahnakri, mengatakan, bahwa Partai Demokrat Amerika telah mengeluarkan biaya $ 45 juta dollar, guna membiayai amandemen UUD ’45.

Sedangkan mantan Rektor UGM, mengatakan, bahwa 82,5 persen UUD ’45 sudah menjadi liberal dari hasil amandemen.

Kemudian, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, mengatakan, bahwa 95 persen sumber daya alam Indonesia sudah dikuasai asing selama 195 tahun, dan itu dampak dari amandemen UUD ’45.

Dampak dari penguasaan sumber daya alam oleh asing maka terjadi pembusukan birokrasi dan korupsi yang semakin meluas di seluruh elemen bangsa.

Anies Baswedan mengatakan, lewat liberalisasi parpol, seluruh bangsa terjebak pada demokrasi untuk elite semata. Demokrasi tidak untuk seluruh bangsa, tetapi menjadi ajang bagi elite mencari uang yang secara langsung juga merugikan partai. ”Bila alokasi anggaran rakyat beririsan dengan dana untuk partai, ini bahaya,” kata Anies.

Kiki Syahnakri menekankan, bagaimana liberalisme telah merasuk berbagai elemen bangsa, termasuk dalam sistem kenegaraan. Padahal, berdasarkan sejarah, walau mengambil ide-ide universal, para bapak bangsa mengombinasikannya dengan kearifan lokal. Namun, reformasi telah memasukkan sistem liberal, sehingga seakan semuanya diserahkan kepada pasar.

Bagaimana Pancasilan dan UUD’45 yang menjadi dasar negara, dan sumber hukum di Indonesia telah kemasukan “roh” jahat bernama liberal.

Tetapi, anehnya sistem yang sudah kerasukan “roh” jahat masih diagungkan, dan meminta kepada rakyat untuk tetap percaya, yakin, dan menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal, UUD’45 sudah kesusupan “roh” liberal yang disusupkan oleh asing. Wallahu a’lam.

ERAMUSLIM > EDITORIAL

http://www.eramuslim.com/editorial/masuk-jebakan-liberalisasi.htm
Publikasi: Senin, 27/02/2012 20:35 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 440 kali, 1 untuk hari ini)