Inilah beritanya.

***

 

Ini Alasan Historis di Balik Kongres Umat Islam Indonesia ke-6 di Yogya

 

Sunday, 08 February 2015, 22:27 WIB

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada malam hari ini (8/2) membuka rangkaian acara Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) Keenam di Yogyakarta. Acara dibuka dengan malam ramah tamah yang antara lain akan diisi dengan sambutan dari Ketua MPR RI Zulkifli Hasan via sambungan teleconference. 

“Kongres ini merupakan ajang silaturahim di antara sesama tokoh Muslim, baik itu ulama, zuama, tokoh ormas, cendekiawan, maupun partai Islam. Dengan duduk bersama saja, bisa dikatakan sebagian masalah umat terselesaikan. Apalagi, bila itu dilanjut dengan silatuh fikri, lalu silatuh amal,” jelas Ketua Umum MUI, Din Syamsuddin di Yogyakarta, Ahad (8/2).

Menurut Din, pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi KUII Keenam bukan tanpa alasan. Sebab, KUII yang monumental pada 1945 lalu juga berlangsung di Yogyakarta. Itu melahirkan konsolidasi historis persatuan umat Islam Indonesia dengan terbentuknya Masyumi, sebagai satu-satunya partai politik Islam saat itu. 

“Kita kembali ke Yogyakarta untuk kongres keenam ini, dengan harapan akan lahir ‘Komitmen Yogyakarta’ atau apa pun itu namanya nanti tergantung peserta. Yang mana, menegaskan kembali, NKRI lahir dari jihad fi sabilillah umat Islam,” ujar Din Syamsuddin, Ahad (8/2).

Karenanya, menurut Din, umat Islam adalah garda terdepan Indonesia. Dalam pandangan Din, penegasan demikian penting untuk dicuatkan kembali. Mengingat, tujuan bernegara belakangan ini mulai terlupakan. Apalagi, arus globalisasi dan liberalisasi yang kian deras kini masuk ke Indonesia.

***

 

Sultan se-Nusantara Hadiri Kongres Umat Islam Indonesia

 

Sunday, 08 February 2015, 21:38 WIB

Komentar : 0

 

Republika/Tahta Aidilla

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin berbicara saat diskusi publik di PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (26/1).

A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 mulai diselenggarakan pada Ahad (8/2) malam ini di Yogyakarta.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin mengatakan ada yang berbeda dengan penyelenggaraan KUII tahun ini.

“Untuk pertama kalinya, KUII dihadiri oleh para sultan Nusantara. Seperti misalnya, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dari Palembang. Jumlahnya sekitar 42 orang (sultan),” ujarnya.

Selain itu, KUII Keenam ini dihadiri total sekira 700 peserta yang merupakan tokoh Muslim dari pelbagai lini. Yakni, para ulama, zuama, tokoh ormas, pengusaha, tokoh partai politik, dan cendekiawan. 

“KUII ini merupakan ajang silaturahim puncak para tokoh Muslim demi memecahkan persoalan bersama umat Islam,” katanya.

KUII ke-6 dimulai dengan acara malan malam bersama sekaligus sambutan ramah tamah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai penyelenggara dan juga Ketua MPR RI Zulkifli Hasan via sambungan teleconference.

Reporter : C14

Redaktur : Bayu Hermawan

***  

 

Kritikan dari Aliran Sesat dan pembelanya disebar media sekuler

 

 

Sementara itu dikabarkan, aliran sesat Syiah dan Ahmadiyah tidak diundang. Itu dijadikan celah oleh media sekuler atau bahkan anti Islam untuk mengkritik MUI sambil membela aliran sesat. Baik lewat mulut pentolan aliran sesat maupun mulut lain yang walaupun berkecimpung di agama namun cenderung membela yang sesat.

Di antara tujuan mengkritik itu sudah ada arah yang terbaca, sebelum Kongres ini menegaskan pentingnya mewaspadai aliran sesat yang merusak aqidah Islam, lebih dulu dilontarkan kritikan agar luntur.

 

Ketakutan aliran sesat dan para pembelanya plus media sekuler dan anti Islam adalah ketika MUI ataupun bahkan Kongres Umat Islam mengeluarkan fatwa atau rekomendasi yang menegaskan pentingnya mewaspadai aliran sesat. Tahun 2014, rekomendasi MUI cukup tegas. Beritanya sebagai berikut:

Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Syiah, Itulah Rekomendasi Rakernas MUI 2014

By nahimunkar.com on 19 August 2014

  • Ada 15 rekomendasi berhasil dirumuskan untuk kepentingan umat dan bangsa secara nasional. Satu diantara poinnya, MUI berharap agar semua pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap penyimpangan aliran-aliran sesat yang semakin menyebar dan meresahkan bahkan sangat berpotensi konflik.
  • Salah satu aliran menyimpang yang disebut MUI itu adalah Syiah Rafidhah. MUI mensejajarkan Syiah Rafidhah dengan kelompok aliran sesat lainnya seperti Ahmadiyah dan liberal.

 

https://www.nahimunkar.org/aliran-sesat-syiah-resmi-tidak-diundang-mui-ke-kongres-umat-islam-2015/

(nahimunkar.com)