Konser Musik Jelang Pelantikan Presiden, Kerahkan Pasukan Gabungan 1.700 Personel untuk Apa?

 

 


Foto Qanita Shirin
Simak berikut ini.

***

Jokowi Dipastikan Hadir ke Acara Konser Untuk Republik

 

Perwakilan penyelenggara Konser Musik Untuk Republik (MUR) Sylvana memastikan kehadiran Jokowi ke acara tersebut.


Jakarta – Perwakilan penyelenggara Konser Musik Untuk Republik (MUR) Sylvana memastikan kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada helatan musik yang sedianya diadakan pada 18-19-20 Oktober 2019 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur.

“Kalau bapak (Jokowi) sih pasti datang. Tapi kita belum tahu beliau datangnya hari apa,” kata dia saat ditemui Tagar di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Rabu, 16 Oktober 2019.

“Iya, tapi untuk harinya belum bisa kita konfirmasi,” ujarnya.

Pagelaran MUR bakal menggunakan panggung dengan total panjang 52 Meter, lebar 20 Meter (1.040 Meter persegi), LED total 152 meter, Sound System 150.000 Watt, Listrik 1.200 KVA, ada Ratusan Lighting dengan tata cahaya dan desain panggung berskala Internasional.

Panggung tersebut bakal diisi puluhan artis tenar seperti grup musik Godbless, Slank, Jamrud, Steven & Coconuttreez, Edane, Siksakubur, Indische Party, NTRL, /Rif, Vodoo, Superglad, Revenge The Fate dan lain-lain.

Serta sederet musisi solo seperti, Glenn Fredly, Iwa K, Denny Frust, Inul Daratista, Trison Roxx, Ikke Nurjanah,. Iis Dahlia, Sandhy Sondoro, Siti Badriah dan lain-lain.

Dalam keterangannya, penyelenggara memastikan acara tersebut digelar tanpa sponsor, tanpa tiket masuk dan tanpa profit.

Demi mengantisi ancaman keamanan, penyelenggara bakal melakukan pengamanan dengan melibatkan pasukan gabungan sebanyak 1.700 personel, masing-masing dari unsur TNI, Polri, Banser. dan sejumlah anggota komunitas sepeda motor.

Penyelenggara juga menyiapkan sebanyak 25 pintu metal detektor demi memastikan acara tersebut dapat berjalan lancar. []

https://www.tagar.id/

 

***

Kontroversi Konser Musik untuk Republik: Politis & Tak Kontekstual?

Oleh: Haris Prabowo – 6 Oktober 2019

 

Rencana sejumlah musisi menggelar konser bertajuk “Musik untuk Republik” menuai kritik karena dinilai politis dan tak kontekstual.

tirto.id – Sejumlah musisi dari berbagai genre, mulai rock, pop hingga dangdut akan menggelar konser bertajuk “Musik untuk Republik” di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, pada 18-20 Oktober 2019. Raiden Soedjono, ketua pelaksana konser menyebut, kegiatan ini bertujuan menyatukan masyarakat yang sempat terpecah karena pemilu.

“Kami dari musisi merasa ada keresahan karena polarisasi setelah pesta demokrasi kemarin. Keresahan ini juga sekarang sudah ke mana-mana, sudah bawa etnis, ras dan kalau bukan musisi, siapa lagi yang memberi contoh,” kata Raiden seperti dikutip Antara.

Sementara itu, creative director konser, Lilo “Kla” mengatakan konser bertajuk ‘Musik untuk Republik’ ini digelar tanpa sponsor dan gratis.

“Kenapa tidak ada sponsor? Karena untuk yang pertama ini kami tidak ingin dibilang ditunggangi,” kata Lilo.

Konser ini akan diisi lebih dari 50 musisi seperti Godbless, Edane, Cokelat, Kikan Namara, Glenn Fredly, Iwa K, Inul Darastita, Iis Dahlia, NTRL, Jamrud, Slank, The Fly, /rif, Voodoo, Tony Q Rastafara, Java Jive, Kotak, Pas Band, Superglad, Sandhy Sondoro, Siksakubur, Mulan Jameela, Saint Loco dan lainnya.

Namun demikian, konser ini sempat dikritik oleh sebagian kalangan dan dinilai tak peka serta tak kontekstual dengan permasalahan yang sedang terjadi, seperti gelombang aksi #ReformasiDikorupsi, krisis di Wamena, hingga Karhutla.

Salah satu yang mengkritik adalah politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahean. Ditambah lagi, belum lama ini, puluhan musisi yang akan tampil di “Konser untuk Republik” ini mendatangi Istana Bogor untuk bertemu Presiden Jokowi sekaligus mengundangnya untuk datang ke acara itu.

Dalam akun Instagramnya, @ferdinand_hutahean, ia mengunggah gambar bertuliskan “Konser dalam kondisi negara memperihatinkan aku mau bilang, hei musisi, otak kau dimana? jangan sesatkan Presiden” sembari ditambah dengan caption, “Betul kata Masinton Pasaribu, orang sekeliling Jokowi itu amatiran.” / https://tirto.id

 

***

Dikecam, Konser Musik Jelang Pelantikan

Posted on 15 Oktober 2019

by Nahimunkar.org

 

Inilah beritanya.

***

Konser ‘Musik Untuk Republik’, Mengusik Nurani Publik

ISTANA kedatangan perwakilan musisi Indonesia. Mereka datang dalam rangka menyampaikan rencana konser bertajuk, ‘Musik untuk Republik’. Konser itu rencananya diadakan tanggal 18-20 Oktober 2019 (18, 19 dan 20 Oktober 2019 di Bumi Perkemahan Cibubur, red NM) tepat menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

Mereka mengklaim pagelaran konser musik ini diselenggarakan untuk merajut persatuan Indonesia yang masih terbelah dengan berbagai peristiwa demo besar-besaran mahasiswa dan kerusuhan di Papua. Mereka berharap Jokowi turut hadir dalam acara tersebut. Sebagai ikon persatuan Indonesia, katanya.

Kritik pun bermunculan. Banyak pihak menyayangkan rencana pagelaran tersebut. Baik dari kalangan politisi hingga musisi sendiri. Sebab, di tengah masalah yang mendera Indonesia, para musisi itu dianggap tak peka.

Indonesia sedang berduka karena korban pembantaian dan pengusiran warga non Papua di Wamena. Ditambah demo mahasiswa menolak RUU bermasalah hingga jatuh korban jiwa. Belum lagi bencana kabut asap di Riau, Kalimantan, dan sekitarnya. Ada pula bencana Ambon di Maluku baru-baru ini. Rentetan peristiwa memilukan ini sangat melukai Ibu Pertiwi. Di saat negeri ini bersedih, sangat tak etis konser musik digelar hanya untuk memeriahkan  pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

Tak heran bila masyarakat menilai miring terhadap konser tersebut. Nurani publik terusik. Kalaulah ingin menyatukan nusantara, tak harus dengan konsep acara yang lebih banyak hura-huranya dibanding bermuhasabah. Negeri ini membutuhkan empati dan simpati dari berbagai pihak. Musik bukan solusi. Malah banyak melalaikan masyarakat bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja.

Yang dibutuhkan mereka adalah penegakan hukum yang tegas pada pelaku penembakan mahasiswa dan perusuh di Wamena. Yang diperlukan mereka adalah perhatian penuh pemerintah dalam memberi perlindungan dan keamanan. Betapa sedihnya kita menyaksikan negeri ini porak peranda. Persatuannya tersayat.

Bila para musisi itu berniat ingin menyambungkan kembali persatuan yang terkoyak, semestinya mereka suarakan itu saat berkunjung ke Istana. Mereka bertemu langsung dengan Presiden. Negara seharusnya hadir menjadi penjaga dan pengayom rakyat. Sejauh ini tak ada ketegasan sikap dari pemerintah. Kebrutalan aparat terhadap mahasiswa seolah didiamkan. Tak segera ambil tindakan. Kerusuhan Wamena juga menjadi sinyal bahwa negeri multietnis ini memang berpotensi terjadi disintegrasi.

Sejatinya musisi juga bagian dari elemen masyarakat. Saat duka menyelimuti, jangan menyajikan konser musik untuk rakyat. Alangkah baiknya instropeksi berjamaah. Merenungi setiap kejadian adalah teguran dari Sang Maha Kuasa. Aksi galang dana dan kemanusiaan jauh lebih berharga untuk para korban dibanding bermusik ria. Jadi, pekalah dengan kondisi negeri ini. Pagelaran konser musik tidak tepat diadakan di tengah cobaan menimpa negeri ini. Wallahu a’lam[]

Chusnatul Jannah

Aktivis dari Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban.

 
 

rmolbanten.com Suara Publik  Kamis, 03 Oktober 2019 , 13:11:00 Wib

***
 

Muktamar pertama NU di Surabaya,  21 Oktober 1926 M tegas mengharamkan alat-alat musik:

“Muktamar memutuskan bahwa segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes lainnya, kesemuanya itu haram, kecuali terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala, dan seruling permainan anak-anak dan lain-lain sebagainya yang tidak dimaksudkan dipergunakan hiburan.”

Inilah isi keputusan Muktamar NU ke-1 tentang Musik (alat-alat orkes untuk hiburan).

***

KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-1 Di Surabaya pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926 M

  
 

  1. Alat-alat Orkes untuk Hiburan

Soal : Bagaimana hukum alat-alat orkes (mazammirul-lahwi) yang dipergunakan untuk bersenang-senang (hiburan)? Apabila haram, apakah termasuk juga terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala dan seruling permainan anak-anak (damenan, Jawa)?

Jawab : Muktamar memutuskan bahwa segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes lainnya, kesemuanya itu haram, kecuali terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala, dan seruling permainan anak-anak dan lain-lain sebagainya yang tidak dimaksudkan dipergunakan hiburan.

Keterangan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din:

فَبِهَذِهِ الْمَعَانِي يَحْرُمُ الْمِزْمَارُ الْعِرَقِيُّ وَ الْأَوْتَارُ كُلُّهَا كَالْعُوْدِ وَ الضَّبْحِ وَ الرَّبَّابِ وَ الْبَرِيْطِ وَ غَيْرِهَا وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَلَيْسَ فِي مَعْنَاهَا كَشَاهِيْنٍ الرُّعَاةِ وَ الْحَجِيْجِ وَ شَاهِيْنٍ الطَّبَالِيْنَ.

“Dengan pengertian ini maka haramlah seruling Irak dan seluruh peralatan musik yang menggunakan senar seperti ‘ud (potongan kayu), al-dhabh, rabbab dan barith (nama-nama peralatan musik Arab). Sedangkan yang selain itu maka tidak termasuk dalam pengertian yang diharamkan seperti bunyi suara (menyerupai) burung elang yang dilakukan para penggembala, jama’ah haji, dan suara gendering”.

Sumber :

Buku “Masalah Keagamaan” Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni.

https://aslibumiayu.wordpress.com/2011/09/25/hukum-musik-menurut-nu-dan-muhammadiyah/

***

Terlepas dari fatwa NU, para ulama juga telah memfatwakan tentang haramnya musik. Di antaranya ini.

***

Fatwa tentang Haramnya Musik

وقد دلت السنة الصريحة الصحيحة عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ على تحريم سماع آلات الموسيقى .

روى البخاري تعليقاً أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : (لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَالْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ . . .) . والحديث وصله الطبراني والبيهقي .

والمراد بـ (الحر) الزنى .

والمعازف هي آلات الموسيقى .

والحديث يدل على تحريم آلات الموسيقى من وجهين :

الأول : قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (يستحلون) فإنه صريح في أن الأشياء المذكورة محرمة، فيستحلها أولئك القوم .

الثاني : قرن المعازف مع المقطوع حرمته وهو الزنا والخمر ، ولو لم تكن محرمة لما قرنها معها .

انظر : السلسلة الصحيحة للألباني حديث رقم (91) . فتاوى الإسلام سؤال وجواب بإشراف : الشيخ محمد صالح المنجدالمصدر :www.islam-qa.com سؤال رقم 12647(

Sunnah yang jelas lagi shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan atas haramnya mendengarkan alat-alat musik. Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

“Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَ al-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَal-ma’azif adalah alat-alat musik.

Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamيَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu.

(Fatawa Islam, Soal dan Jawab juz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber:www.islam-qa.com, soal nomor12647).

https://www.nahimunkar.org/fatwa-haramnya-musik-dan-bukti-joroknya-dangdut/

https://www.nahimunkar.org/kiprah-nu-banser-dll-dan-hari-santri/

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 388 kali, 1 untuk hari ini)