Jakarta (kabarsatu) –Sosok Afi sudah mulai redup sejak kasus plagiasi terkuak. Ditambah lagi kepongahan untuk meminta maaf atas perbuatan tak patut yang dilakukannya, muak sudah netizen dengan sikapnya. Bila dirunut ke belakang, sifat dan sikap Afi seperti ini sudah sangat dihapal oleh para guru dan  teman-temannya.

Afi dikenal sebagai sosok yang tidak nyaman dijadikan teman. Bukan hanya tidak nyaman, mayoritas bila tak bisa dibilang semua teman memilih menjauh darinya. Hanya satu nama, sebut saja inisialnya Vn yang agak dekat dengan Afi. Vn ini memunyai sifat suka mengalah dan lebih bisa bersabar dengan sifat Afi. Tapi teman tinggal satu itu pun, ternyata memilih menjauh dari Afi setelah dia merasa dikhianati kepercayaannya.

Di sekolah pun, Afi cukup sering membuat masalah. Beberapa kali orang tuanya dipanggil oleh guru untuk membicarakan sikap Afi. Tapi menurut beberapa guru yang berhasil dihubungi oleh voa-islam, sikap Afi tidak berubah. Sebagaimana sikapnya dalam menanggapi pihak yang menasehati, Afi selalu memandang orang yang tidak sepakat dengannya itu membully. Dia pun menjadi pribadi yang menyukai sanjungan dan puji-puja daripada nasehat dan masukan demi kebaikan dirinya.

“…Afi dikenal sebagai sosok yang tidak nyaman dijadikan teman. Bukan hanya tidak nyaman, mayoritas bila tak bisa dibilang semua teman memilih menjauh darinya…”

Tidak memunyai teman dan sering bermasalah di sekolah, membuat Afi memilih banyak membaca dan aktif di sosial media. Di situlah dia berkenalan dengan kumpulan orang-orang atheis dan liberal. Ada dua nama yang cukup dekat dengan Afi, Arief di Jogja dan Gobind di Bali. Salah satu sosok yang sering dijadikan panutan oleh Afi adalah Abu Janda si penyebar fitnah dan hoax, sebelum kemudian ditegur oleh guru yang peduli dengan gadis 19 tahun ini.

Sosok Afi yang mudah dipengaruhi untuk menyuarakan pemikiran liberal, menjadi sasaran empuk untuk didekati dan diorbitkan. Dia pun didapuk sebagai salah satu admin di laman Turn Back Hoax. Terbukti dengan tulisan yang temanya tidak baru sebetulnya, nama Afi langsung melambung. Itu sebelum netizen bernama Pringadi menulis tentang dugaan plagiasi. Diundang kesana-sini, hingga kampus ternama dan gedung istana, semua terkecoh oleh tulisan hasil plagiat. Sesaat sebelum masuk istana, kepada salah satu wartawan Afi masih menyangkal telah melakukan kecurangan intelektual.

Di titik inilah muncul ‘keanehan’ yang terjadi beruntun. Entah berapa akun berusaha melindungi Afi dengan menyunting postingan di dinding FB masing-masing. Suntingan itu memperlihatkan seolah tulisan Afi sudah ada lebih lama daripada yang ada di akun FB Mita, orang yang diduga tulisannya diplagiat oleh Afi.

Akhir kata, drama Afi dan kehebohannya tak lebih dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyuarakan aspirasinya. Setelah kecurangan berupa plagiasi terbongkar, kehebohan itu mulai meredup. Kita tunggu saja tulisan Afi yang menghebohkan berikutnya. Akankah dia bisa berkreasi murni tanpa curang berupa plagiat? Ataukah akan ada episode selanjutnya plagiasi demi plagiasi yang dilakukannya? Semoga saja tidak.[voa-islam/fatur/ kabarsatu.news]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.684 kali, 1 untuk hari ini)