KOMPAS / AGUS SUSANTOIlustrasi pembangkit listrik tenaga panas bumi

.

 

Perusahaan Chevron dikabarkan bakal “menguasai” potensi panas bumi di Gunung Ciremai di Jawa Barat. Di media sosial ramai beredar kabar tersebut, dengan penyebutan “Gunung Ciremai Dijual ke Chevron”.

Pemprov Jabar: Chevron Ikuti Tender Pembangunan PLTP di Ciremai

Senin, 3 Maret 2014 | 18:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Jabar Sumarwan HS membantah informasi Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan, Jabar, telah dijual kepada Chevron Corporation.

Dia menyebutkan, perusahaan energi asal Amerika tersebut merupakan salah satu peserta tender PLTP Ciremai.

“Kabar itu pesan berantai di dunia maya tentang Gunung Ceramai akan dijual ke Chevron itu tidak benar, yang benar ialah Chevron adalah salah satu perusahaan peserta tender PLTP Ciremai,” kata Sumarwan, dikutip dari Antara Senin (3/3/2014).

Hal itu diungkapkan untuk menanggapi beredarnya kabar yang berembus, bahwa Chevron akan mengeksploitasi panas bumi di Gunung Ciremai dan aktivitas itu memberikan dampak negatif bagi masyarakat di sekitarnya. Selain itu juga beredar kabar bahwa Ciremai diawasi BIN dan CIA.

Oleh karena itu, pihaknya membantah kabar tersebut. Dia mengaku heran dengan angka Rp60 triliun yang dicantumkan pesan berantai di dunia maya itu karena tanpa pengirim jelas tersebut.

“Sebenarnya nanti di konsorsium dengan beberapa perusahaan dalam negeri. Jadi Chevron juga telah ditetapkan sebagai pemenang tahun lalu. Namun, untuk memulai eksploitasi, Chevron belum mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP),” katanya.

Ia mengatakan, proses lelang investor beda dengan kegiatan lelang pengadaan barang dan jasa karena peserta lelang harus membuat perencanaan sampai nanti diterbitkan IUP-nya. “Nah, sekarang kan belum ada IUP-nya,” kata dia.

Pihaknya menambahkan, harga investasi geothermal di Jabar per 1 megawatt, membutuhkan sekitar 3 juta dollar AS hingga 4 juta dolar AS, sementara potensi di Ciremai sekitar 55 megawatt.

Sumarwan menduga beredarnya kabar Gunung Ciremai akan dijual kemungkinan karena ada ketakutan eksploitasi seperti di Kamojang Papandayan Kabupaten Garut dan Gunung Salak Bogor.

“Sehingga, sebagian masyarakat tampak ketakutan. Jadi saya tegaskan bahwa tidak ada transaksi, dan angka investasi yang ditetapkan hingga saat ini. Angka Rp 60 triliun itu dari mana? Yang jelas, transaksi itu tidak benar,” ujar Sumarwan.

***

Kronologi Rencana Pembangunan Proyek Chevron ke Kuningan I

Oleh Adigana / I-I Pada Pukul 10:06 wib | Senin, 03 Maret 2014

Kuningan – SetaraNews.com, Rencana pembangunan proyek Chevron yakni membangun sebuah PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) sudah direncanakan dari beberapa tahun yang lalu, menuai pro dan kontra dari masyarakat.

Berawal dari penetapan Taman Nasional Gunung Ciremai secara sepihak dari status Hutan Lindung menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) melalui SK Menhut RI No. 424/Menhut-II/2004 bertanggal 19 Oktober 2004 silam. Koordinator Gerakan Massa dan Pemuda Untuk Rakyat (Gempur) Kuningan, Okki Satrio Djati, mengomentari tentang hal ini.

“Periode 2008-2013, di saat Ahmad Heryawan menjadi Gubernur Jawa Barat adalah periode yang terbanyak meloloskan Chevron untuk mengeruk dan memonopoli sumber daya panas bumi di Jawa Barat. Sebut saja di wilayah Awi Bengkok, Gunung Salak Gunung Patuha, Darajad Garut. Dan yang terakhir adalah wilayah Gunung Ciremai,” kata Okki pada (8/2/2013) lalu [via lensa Indonesia].

Ia juga menyayangkan bahwa pemerintah lebih mementingkan pemodal asing dibandingkan dengan cita-cita bangsa Indonesia.

“Ketika Aher berkuasa, ia malah menyejahterakan kepentingan pemodal asing. Cita-cita bangsa Indonesia yang termuat dalam pembukaan UUD 45 (preambule), tidak dinomorsatukan. Aher malah lebih mendahulukan pemodal asing,” sambung Okki.

Sementara itu, Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda,  mengaku daerahnya siap jika diminta menyertakan saham dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) Ciremai.

“Siap, memang daerah harus dilibatkan. Kalau tidak ada sharing untuk Kuningan, tentu sudah saya tolak proyek panas bumi ini,” katanya pada (16/4/2012) via Bisnis Jabar .

Menurut Aang, Kuningan butuh terobosan seperti kepemilikan saham dalam proyek-proyek besar. “Kuningan sangat membutuhkan. Karena daerahnya kecil, jadi sumber-sumber pendapatan asli daerahnya ditargetkan ke depan salah satunya dari panas bumi,” paparnya.

“Minimal kami memiliki sharing 10%, wong Kuningan yang punya lahan,” katanya saat ditanya besaran saham yang akan disertakan. Pihaknya kini menunggu pemenang PLTP segera diumumkan.

Menurutnya persoalan di lapangan seperti pembebasan lahan sudah selesai. “Kita harus mengikuti proses birokrasi yang kadang-kadang tidak tepat [waktu]. Di Kuningan sendiri sudah tidak ada masalah,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mendorong kepemilikan saham daerah di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ciremai. Daerah diharapkan ikut berpartisipasi mengelola dengan membentuk badan usaha milik daerah (BUMD) khusus.

Berdasarkan prediksi hasil survey akhir melalui penyelidikan geofisika, analisis geokimia dan magneto teluric (MT) menunjukkan Gunung Ciremai memiliki potensi panas bumi sebesar 235 megawatt electric

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ciremai tinggal menunggu rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Adapun perusahaan pemenang tender untuk proyek pengelolaan PLTP Ciremai ini adalah PT Jasa Daya Chevron. PT Jasa Daya Chevron sendiri adalah anak perusahaan dari PT Chevron Pacific Indonesia.

Foto: #SaveCiremai

***

Inilah Dampak Lingkungan Jika Ada Geothermal

Oleh Adigana / I-I Pada Pukul 19:41 wib | Senin, 03 Maret 2014

Bandung – SetaraNews.com, Isu mengenai Gunung Ciremai yang dijual oleh pemerintah ke pihak Chevron di media sosial dan membuatDede Yusuf mantan pejabat wakil Gubernur Barat, Menteri Perhutanan Zulkifli Hasan, Manager Policy Government Public Affairs PT Jasa Daya Chevron, Ida Bagus Wibatsya, dan Guberbur Jawa Barat Aher pun angkat bicara pada hari ini (3/3).

Ada sebuah film dokumentar yang menggambarkan tentang dampak lingkungan, jika perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi itu akan dijalankan di sebuah gunung, yang masih mengandung magma aktif. Laskar Bangun Kertasari aktivis lingkungan dari daerah Kertasari, kabupaten Bandung mencoba menggambarkan kepada kita tentang dampak lingkungan yang mereka rasakan.
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=njdsdTVSxH0

Pada hari ini, @Aheryawan Gubernur Jawa Barat berpendapat bahwa geothermal adalah sumber Energi Listrik yang paling ramah lingkungan, dan merupakan energi terbarukan.

“Geothermal menuntut kondisi hutan yang terpelihara dengan baik, karena sangat tergantung pada suplai air. Geothermal jauh dari kawasan penduduk, justru akan memberi manfaat besar bagi masyarakat.” ujarnya (3/3).

Foto: Jaga Ciremai

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.888 kali, 1 untuk hari ini)