Kopi Luwak Mutanajis atau ‘Ain Najis?

Kehalalan kopi luwak diungkapkan Ketua Fatwa MUI Ma’ruf Amin dalam jumpa pers di Gedung MUI, Jalan Proklamsi, Jakarta, Selasa (20/7/2010). Dalam kesempatan tersebut, MUI menjelaskan dalam empat poin yakni:

1. Kopi luwak mutanajis (barang terkena najis)

2. Kopi luwak adalah halal setelah disucikan

3. Mengonsumsi kopi luwak sesuai angka 2, hukumnya boleh

4. Memproduksi dan memperjualbelikan kopi luwak hukumnya boleh. (Selasa, 20 Jul 2010, voaislam).

Penjelasan MUI ini mungkin masih menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat. Karena kopi luwak itu adalah kotoran atau tai atau feses luwak. Kalau MUI mengakui bahwa tai luwak itu najis, maka seluruh tai luwak itu adalah ‘ain najis (barang najis), bukan mutanajis (barang terkena najis). Kecuali kalau keadaannya adalah biji kopi yang sedang dijemur kemudian diberaki luwak, maka itu namanya mutanajis (terkena najis). Karena biji kopi yang kena najis tai luwak dalam kasus kopi dijemur itu bukan tai luwak, tetapi hanya terkena.

Sehingga jelas beda:

a) Tai luwak kalau dihukumi najis, maka berarti ‘ain najis (walau ujudnya biji kopi).

b) Selasa, 20 Jul 2010, voaislam

c) Kopi yang dijemur atau kopi yang tidak pernah dimakan luwak atau tidak keluar dari dubur luwak, kemudian kena tai luwak, itu baru namanya biji kopi yang kena najisnya tai luwak.

Kasus ini tentunya juga akan beda dengan misalnya emas tertelan oleh luwak. Ketika emas tertelan oleh luwak, kemudian esoknya keluar dari pantat luwak, maka statusnya bisa disebut emas yang mutanajis (kena najis), karena dua sebab:

1. Emas itu bukan makanan luwak, jadi ketika dia berak berupa emas yang tertelan, statusnya bukan tai luwak (murni) tetapi emas yang tercampur tai luwak, sehingga terkena najisnya. Meskipun demikian, masih bisa juga disebut tai luwak, hanya saja tidak murni.

2. Dalam proses pencernaan dalam perut luwak kemungkinan besar tidak akan mempengaruhi isi dalam emas, karena fori-fori dan sebagainya tidak memungkinkan terproses atau terpengaruhi oleh enzim luwak dan sebagainya. Itu berbeda dengan kopi yang jelas terpengaruh oleh proses pencernaan dalam perut luwak, hingga rasanya jadi beda dengan yang tidak dimakan luwak.

Dari sisi ini, tampaknya masalah kopi luwak yang dihalalkan MUI dengan alasan hanya mutanajis itu masih perlu dibicarakan lagi. (nahimunkar.com).


(Dibaca 1.681 kali, 1 untuk hari ini)