Warga Rawajati korban penggusuran paksa secara zalim atas rumah-rumah mereka tetap bertahan di tenda-tenda depan bekas rumah-rumah mereka yang telah dihancurkan paksa Kamis lalu (1/9 2016).

Mereka merasa haknya telah dirampas secara paksa, sedang rumah-rumah mereka pun telah dihancurkan semena-mena tanpa keadilan, tanpa ganti rugi apa-apa.

Penggusuran paksa semena-mena (60 rumah) itu sangat kontras bila dibanding dengan penggusuran masa lalu tahun 1980-an yang hanya bersebelahan dengan rel di Rawajati Kalibata Jakarta Selatan itu. Penggusuran masa lalu manusiawi dan manis, sedang penggusuran zaman gubernur cino kafir Ahok sekarang zalim lagi sadis.

Seorang saksi kejadian Bang Hasan bin Mat Nur (54 tahun) menceritakan, pihaknya pernah mengalami pula penggusuran persis di seberang rel tempat ini tahun 1980-an. Jadi sebelah timur rel (disebut Rawajati Timur), sedang penggusuran yang sekarang adalah sebelah barat rel (Rawajati Barat). Rumah-rumah di timur rel itu digusur karena untuk dibuat jalan raya (Rawa Jati Timur) yang sampai sekarang ada menuju Kalibata Indah terus ke arah Pasar Minggu itu, jelasnya.

Saat penggusuran sebelah timur rel itu, ungkap Bang Hasan, rumah ayahnya yakni Pak Mat Nur ikut tergusur. Juga Mushalla Al-Yaqin ikut tergusur, namun dipindahkan ke barat rel yang sekarang berdiri di tempat yang digusur sekarang ini, dan masih tetap berdiri karena tidak termasuk digusur.

“Itu dulu asalnya Mushalla al-Yaqin yang di timur rel, kemudian diangkat ke barat rel, karena ada penggusuran, dan saya ikut mengangkatnya ke sini,” ujarnya mengenang sambil menunjuk mushalla yang masih berdiri di lokasi yang kanan kirinya barusan digusur.

Hanya saja beda jauh antara penggusuran sekarang dengan yang dulu, ungkapnya.

Bedanya apa?

Bedanya, dulu rumah ayah sayaang digusur itu diganti dengan uang, bahkan sampai bisa untuk mendirikan bangunan rumah hingga sekarang masih ada di dekat masjid Rawajati Barat itu. Jadi sama sekali tidak ada penderitaan apa-apa apalagi sengsara, tandasnya.

Bahkan, orang yang hanya menanam singkong di tanah yang kemudian digusur di timur rel itu, lahan dan tanamannya itu diganti pula dengan uang yang cukup besar, ujarnya tanpa menyebut nominalnya. Dan bukan hanya yang menanam singkong, yang hanya menanam kangkung saja di situ, tetap mendapatkan ganti, diberi uang, ya cukup lumayan lah, jelasnya.

Saksi hidup yang merupakan cucu pertama dari H Sapidi yang dikenal mewakafkan tanah hingga jadi Masjid Rawa Jati Barat ini merasa heran, kenapa sekarang ada model penggusuran seperti ini?

“Beda jauh dengan yang dulu…” ucapnya heran sambil bermimik iba terhadap temannya yang kena gusur yang sedang asyik diceritai masa lalunya itu. Sedang temannya itu juga masih ingat apa yang dikishkan ini, hingga tampak matanya berair berkaca-kaca seolah mengutuk penguasa zalim yang menjadikannya sengsara.

Cerita Bang Hasan ini diucapkan langsung kepada temannya, jamaah masjid yang menderita di bawah tenda karena rumahnya telah digusur secara zalim itu, Selasa pagi (6/9).

Dari penuturan saksi hidup ini, maka wajar bila 60-an kepala keluarga yang rumahnya digusur semena-mena tanpa ganti rugi apa-apa itu tetap bertahan di tenda-tenda di lokasi penggusuran. Karena sebagai warga negara, hak-haknya pun tidak boleh dirampas oleh siapapun atas nama apapun. Harta bendanya pun tidak boleh dirusak oleh siapapun dengan alasan apapun. Keadilan pun perlu didapatkan, apalagi warga yang tergusur itu tidak terbukti salah apa-apa, sedang rumahnya pun sudah dihancurkan. Yang harus dimintai peranggungan jawab dan dipersoalkan tentu saja semua yang terlibat dalam penggusuran itu, bukan malah mengusir orang yang sedang menunggu adanya keadilan ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wanti-wanti kepada umatnya, agar takut doanya orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya itu dengan Allah.

Dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpesan kepada Mu’ad bin Jabal saat mengutusnya ke Yaman,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Dan takutlah doa orang terzalimi, karena tidak ada hijab (penghalang) antara doanya itu dengan Allah.” (Muttafaq ‘Alaih)

Riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

” اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ “

“Takutlah kalian dari doa orang yang didzalimi walaupun dia orang kafir, karena tidak ada antara doa dan Allah itu penutupnya (artinya: doanya langsung diijabah oleh Allah Ta’ala).” (H.R. Ahmad dan Adh-Dhiya’, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menghukuminya sebagai hadits Hasan dalam Silsilah As-Shohihah 767)

Hadis dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:

«دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ، وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ»

” Doa orang yang dizalimi adalah diterima sekalipun doa dari orang yang jahat. Kejahatannya itu memudaratkan dirinya dan tidak mempengaruhi pada doa tadi.” (Hadis hasan riwayat at-Thayalasi)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.081 kali, 1 untuk hari ini)