Seorang demonstran mengibarkan bendera dalam aksi dalam aksi 4 November di Jakarta, Jumat (4/11).


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Aksi kericuhan terjadi setelah massa selesai melakukan aksi damai ‘Bela Islam Jilid II’ pada Jumat (4/11) waktu maghrib. Banyak korban cedera dalam insiden kericuhan yang pecah selepas Isya dan kini sudah mereda tersebut.

Dr Syarif Darmawan dari Rumah Sakit Dompet Dhuafa mengatakan ada 30 korban yang menyelamatkan diri ke resto di sekitar lokasi insiden di jalan Abdul Muis. Mereka ada yang mengalami sesak nafas, mata pedih, dan luka akibat terinjak-injak.

”Dari 30 orang, dua orang dilarikan ke rumah sakit Budi Kemuliaan yang jaraknya memang sekitar setengah kilo dari sini,” kata Syarif kepada Republika.co.id, Jumat (4/11) malam.

Syarif mengatakan dua korban yang dilarikan ke RS Budi Kemulian itu mengalami gangguan sesak nafas. Meski sudah diberi pertolongan, keduanya masih mengalami sesak nafas sehingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Sementara, selebihnya masih bisa ditangani di tempat darurat di ruang mushalah di salah satu resto di jalan Abdul Muis tersebut. Termasuk korban yang mengalami cedera akibat terinjak-injak badannya. ”Ketika diperiksa paru-parunya, tidak ada pecah paru-paru atau patah tulang paru-paru,” katanya.

Salah satu saksi mata yang tidak ingin disebutkan namanya, sebelumnya mengatakan kericuhan dipicu dari aksi segerombolan orang yang memakai label komponen HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) memprovokasi aparat kepolisian dengan lemparan botol.

”Massa berlabel komponen HMI memprovokasi polisi dengan melempari botol minuman,” kata saksi mata kepada Republika.co.id, di Jakarta, Jumat (4/11) malam. ”Polisi jadi represif dan melepaskan tembakan gas air mata.”

Saksi mata yang merupakan demonstran dari komponen masyarakat umum saat itu sedang berada di belakang kelompok HMI. Kelompok berlabel HMI yang jumlahnya tidak lebih dari 20 orang itu berhadap-hadapan langsung dengan aparat kepolisian.

”Awalnya ada lemparan botol, lalu ada lepasan tembakan gas air mata,” kata saksi mata yang terkena tembakan gas air mata pada bagian kakinya. ”Kejadiannya persis selepas adzan Isya.”

Saksi mata yang datang dari Grogol, Jakarta Barat itu langsung melarikan diri ke arah jalan Abdul Muis. Dia mendapat perawatan di mushalah salah satu resto di sana.

Red: Didi Purwadi

Antara/Akbar Nugroho Gumay

***

Ketua HMI: Sumber Kericuhan Bukan dari Kami

hmi

Peristiwa kericuhan yang terjadi di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (4/11) malam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kericuhan sempat mewarnani aksi unjuk rasa menuntut penuntasan kasus dugaan penistaan agama oleh pejawat Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Jumat (4/11) malam. Penyebabnya belum dapat dipastikan.

Sebelumnya dilaporkan bahwa kericuhan berawal dari aksi lempar botol yang dilakukan puluhan orang berlabel Himpunan Mahasiswa Islam. Namun Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Mulyadi Tamsir membantah hal tersebut. Menurutnya sumber kericuhan bukanlah dari arah kelompok massa HMI berada, yakni depan gedung Kementerian Koordinator Bidang PMK.

Dia menjelaskan, kelompok HMI sendiri sudah berencana membubarkan diri pada pukul 18.00 WIB. Mereka pun berposisi di dekat aparat kepolisian dan awak media yakni sekitar 50 meter. Sehingga, ketika kericuhan terjadi, sambung Mulyadi, demonstran asal HMI tidak terlibat.

“Posisi kami paling depan. Kami sampaikan ke teman-teman, kita diam di sini (depan Gedung Kemenko PMK), sampai massa aksi selesai,” ucap Mulyadi Tamsir saat dihubungi, Jumat (4/11) malam.

“Jam setengah 8 tadi, kita tidak tahu. Ternyata ada suara benturan-benturan. Teman-teman juga terkejut. (Arah suara sumber kericuhan) itu, saya tanya teman-teman, itu dari Aliansi Aksi Bersama Rakyat. Itu yang di depan posisinya. Sampai akhirnya menembakkan gas air mata,” lanjutnya.

Dia menduga, kericuhan itu merupakan imbas dari beberapa kalangan demonstran yang tidak puas karena tidak bertemu dengan Presiden Joko Widodo.

“Yang kita dengar itu, massa tidak terima. Awalnya kan ada perwakilan yang bertemu sama JK. Kemudian disampaikan, bahwa Wapres meminta kita memberikan waktu kepada kepolisian selama dua minggu, untuk proses hukum Ahok. Nah, massa tidak terima. Sudah itu terjadi benturan-benturan.”

HMI tidak berencana untuk menginap di sekitar Monas. Situasi kini di lokasi bekas kericuhan mulai kondusif. “Sampai sekarang, tidak ada anak HMI yang diamankan,” tukasnya.

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Yudha Manggala P Pautra

Republika/Tahta Aidilla

Sumber : republika.co.id

(nahimunkar.com)