korupsi

Ilustrasi/ pepisusanti

 Lima kejahatan yang disebut mo limo, ada dua unsur yang tampaknya lekat satu sama lain, yaitu maling dan madon alias mencuri dan main perempuan.

 Dalam kehidupan nyata, kekayaan yang diperoleh dengan cara bathil seperti hasil korupsi, cenderung digunakan untuk hal-hal yang bathil juga.

 Contoh aktual untuk hal ini adalah kasus yang terjadi pada Fathanah, karib LHI (mantan Presiden partai berbau Islam) yang juga karib AM yang kini menggantikan LHI sebagai presiden partai berbau Islam tadi.

 Menurut pemberitaan media massa terakhir, di persidangan Fathanah mengakui bahwa uang Rp 10 juta yang ditemukan pada diri Maharani Suciyono merupakan imbalan yang diberikannya atas ‘jasa’ seks yang diberikan Maharani. Begitu juga dengan Maharani, di persidangan ia mengakui uang sebesar Rp 10 juta itu imbalan atas pelayanan seks yang diberikan kepada Fathanah.

 Sebelum berzina dengan Maharani, Fathanah mengambil uang sebesar Rp 1 miliar dari kantor PT Indoguna Utama (29 Januari 2013), perusahaan pengimpor daging sapi. Sepuluh juta rupiah yang digunakan Fathanah untuk membayar Maharani, berasal dari uang korupsi itu.

 Fathanah juga dikabarkan memberikan uang sebesar Rp 20 juta dan US $ 1.800 kepada (mantan) artis panas Ayu Azhari. Konon uang itu sudah dikembalikan ke KPK. Ayu beralasan, uang itu diberikan Fathanah agar Ayu menghibur di sejumlah acara partai berbau Islam. Namun acara tersebut tidak kunjung berlangsung. Belakangan, partai berbau Islam tadi juga membantah pernah mengundang Ayu untuk acara partainya.

 Keterkaitan antara Fathanah, Ayu Azhari dan sejumlah uang, meski pemaknaannya tidak setegas sebagaimana terjadi antara Fathanah-Maharani, publik bisa merasakan getar-getar yang sama. Tidak mungkin Fathanah menggelontorkan uang begitu mudah untuk sesuatu yang belum terjadi.

 Begitu juga ketika publik disodorkan sebuah nama, model seksi bernama Vitalia Sesha. Fathanah membelikan Vitalia Honda Jazz putih, yang harganya mencapai Rp 200 juta. Selain mobil, Fathanah juga membelikan Vitalia jam tangan mewah merk Chopard seharga Rp70 juta, juga uang tunai sekitar Rp 200-250 juta.

 Selain Vitalia, ada nama lain yaitu Tri Kurnia Puspita. Dari Fathanah Tri Kurnia pernah menerima mobil Honda Freed, gelang Hermes dengan kisaran harga Rp 50-70 juta dan jam tangan Rolex yang harganya di atas Rp 10 juta.

 Apakah pemberian dari Fathanah kepada Vitalia dan Tri Kurnia itu tanpa maksud apa-apa, sekedar pemberian dari seorang teman kepada temannya tanpa ada transaksi apa-apa? Akal sehat publik jelas menolaknya. Pemberian itu menurut logika publik adalah imbalan atas jasa tertentu, atau harga dari sebuah ‘produk’ tertentu yang telah dibeli Fathanah.

 Lain halnya bila sejumlah uang yang digelontorkan Fathanah tertuju kepada janda miskin tua renta sakit-sakitan kurus kering lagi asma masih pula menanggung anak banyak, maka publik bisa meyakini bahwa pemberian itu tanpa ada embel-embel transaksi tertentu di belakangnya.

 Sejauh ini belum pernah terkabarkan, koruptor menggunakan uang hasil korupsinya untuk menikahi janda miskin apalagi tua renta. Yang ada, koruptor menikahi wanita muda dan cantik, sebagaimana bisa dibuktikan pada kasus Irjen Pol Djoko Susilo yang melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang terkait proyek simulator ujian surat izin mengemudi (SIM) roda dua dan roda empat.

 Djoko Susilo beristri tiga. Poligami yang dipraktikkan Djoko Susilo, bukanlah praktik yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Djoko Susilo ketika menikahi istri pertama, Suratmi, pada tanggal 26 Juni 1985, Djoko menggunakan identitas dan nama sebenarnya.

 Namun ketika menikahi isteri kedua, Mahdiana, pada 27 Mei 2001, di KUA Pasar Minggu Jakarta, ia menggunakan identitas berbeda, antara lain ia mencantumkan data lahir di Madiun tanggal 9 Juli 1967, dengan status belum menikah. Padahal, kenyataannya ia lahir di Madiun pada tanggal 7 Oktober 1960, dan sudah menikah.

 Begitu juga ketika menikahi istri ketiga, Dipta Anindita, di KUA Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah tanggal 1 Desember 2008, ia mengaku lahir di Malang tanggal 7 Oktober 1970, dengan status belum menikah dan wiraswastawan.

 Mempraktikkan poligami dengan memalsu identitas, termasuk mengaku bujangan adalah bathil. Itu bukanlah poligami yang dibenarkan Islam. Apalagi bila praktik poligami yang dilakoninya itu, selain untuk mengumbar syahwat juga untuk ‘mencuci’ uang hasil korupsinya.

 Para koruptor, selain membelanjakan uang hasil korupsinya untuk berzina, juga untuk mempraktikkan poligami dengan cara tipu-tipu. Fathanah dikabarkan beristri lima. Selain beristri lima, ia juga dikabarkan berzina dengan sejumlah perempuan muda dan seksi.

 LHI mantan presiden partai berbau Islam, juga mempraktikkan poligami. Istri LHI ada tiga. Namun praktik poligami yang dilakoni LHI menurut Yusuf Supendi bermasalah.

 Para koruptor itu telah mengakibatkan timbulnya fitnah terhadap Islam. Seolah-olah perilaku korupsi merupakan ekses dari praktik poligami. Padahal, mereka cenderung berpoligami setelah memiliki uang hasil korupsi yang melimpah.

 Namun kesan yang terjadi di publik adalah poligami mendorong orang menjadi koruptor. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Pelaku poligami yang syar’i dan taat Islam tidak akan pernah mencampur-adukkannya dengan praktik korupsi. (tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 331 kali, 1 untuk hari ini)