Kotornya Pejabat, Tokoh Agama, dan Wadyabalanya

  • Sudah saatnya mereka di dunia ini mengaku saja bahwa mereka banyak yang jadi orang-orang zalim dan menyelisihi Islam, menyelisihi perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Dengan mau mengakui dirinya kotor itu, lalu mau mendengarkan nasihat agama, walaupun pahit dan menohok jiwa-jiwa kotor, hingga menyadari dan bersedia untuk bertaubat.
  • Nasihat pahit dan menohok jiwa-jiwa kotor diantaranya seperti ini:

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ} [الروم: 41]

41. telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Ar-Rum/30: 41).

{وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ} [هود: 117]

117. dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Hud/11: 117).


Cocoklah antara ayat-ayat Al-Qur’an, kenyataan, dan apa yang dikemukakan oleh media umum yang masih menggunakan nalar yang sehat. Kalau penduduk negeri ini orang-orang yang shalih, maka Allah tidak akan mengazabnya. Tetapi ketika para pejabatnya korup, lalu masih pula bersama wadyabalanya membiarkan adanya perzinaan bahkan homosex terjadi di mana-mana; apakah itu dapat disebut sebagai negeri yang penduduknya shalih-shalih? Sama sekali tidak. justru sebaliknya, kotor lagi bejat-bejat.

Silakan simak ini:

Umat Islam Indonesia Resah karena Zina dan Homosex Diputuskan MK Tak Bisa Dipidanakan, Gempa pun Menggoncang di Mana-mana 

Umat Islam Indonesia Resah karena Zina dan Homosex Diputuskan MK Tak Bisa Dipidanakan, Gempa pun Menggoncang di Mana-mana (Arsip)

Nah, sudah pejabat dan wadyabalanya banyak yang rusak akhlaqnya bahkan bejat, masih pula para pemimpin agamanya entah itu kyai, ajengan, da’I, muballigh, khatib, tukang do’a dan semacamnya justru menggalakkan bid’ah-bid’ah. Aneka macam bid’ah dikembangkan dan dibesar-besarkan hingga seakan wajib. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wanti-wanti:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Artinya: “Jauhilah perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap yang baru (dalam agama) adalah perbuatan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan di dalam neraka”[  Hadits riwayat Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43, 42), Ahmad (4/126-127) dan dishahihkan oleh Tirmidzi dan Al Hakim di dalam Al Mustadrak (1/95) dan juga Al Albani di dalam Irwa Al Ghalil (no. 2455).1].

Bagaimanapun, seharusnya manusia ini mengakui. Terutama para pemuka masyarakat. Yang pemuka masyarakat secara umum seperti pejabat dan pemimpin masyarakat lainnya ternyata bukan orang-orang shalih. Demikian pula para pemuka agama, sudah saatnya mereka di dunia ini mengaku saja bahwa mereka banyak yang jadi orang-orang zalim dan menyelisihi Islam, menyelisihi perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang wanti-wanti agar umat Islam menjauhi bid’ah, malah para tokoh Islam, kyai-kyai, muballigh, da’I, khatib dan sebagainya jualan bid’ah dengan gencarnya. Masih pula menyerang sejadi-jadinya terhadap yang tidak mau ikut-ikutan melakukan bid’ah. Lebih gencar lagi mereka menyerang siapa saja yang menolak bid’ah.

Kezaliman Para pejabat saja sebenarnya sudah pantas mendapatkan azab. Ternyata lebih dari itu, kezaliman para kyai dan pemimpin agama tidak kalah buruknya. Sehingga pantas azab Allah turun sebagai peringatan. Semoga saja teguran Allah Ta’ala (diantaranya sering terjadi bencana di negeri ini) menyadarkan kita. Bahwa manusia ini sejatinya adalah lemah, namun adalah pembantah yang sombong.

{أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ } [يس: 77]

77. dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! (QS Yasin/36: 77).

Bukankah ayat itu senantiasa dibaca terutama oleh para kyai? Kenapa justru selama ini mereka langgar secara ramai-ramai?

Mana yang lebih buruk, para rahib Yahudi yang dikecam sebagai keledai yang memikul kitab, atau para kyai yang hafal dan berulang-ulang membaca Yasin namun justru mengusung bid’ah ramai-ramai hingga jadi orang-orang yang dijuluki خَصِيمٌ مُبِينٌ penantang yang nyata!?

Mari kita sadari, dan mari kembali ke jalan Allah Ta’ala, mengakui kekeliruan, dan bertaubat dengan taubatan nashuha, taubat yang semurni-murninya. Mumpung sisa umur masih ada, sebagaimana yang sering kita khutbahkan dan nasehatkan di majelis-majelis penyiaran agama.

Ilustrasi. Foto /mjlh asy-syariah

(nahimunkar.org)

(Dibaca 427 kali, 1 untuk hari ini)