Ada sebutan di Jawa terhadap orang yang tidak mau tahu tentang aturan hidup. Orang seperti itu disebut “Koyo wong ora duwe agomo” (seperti orang tidak punya agama).
Apabila sudah dijuluki seperti itu, maka artinya orang itu sudah tidak ada lagi harganya, bagai binatang belaka. Ujas-ujus ora karuan (tanpa ikut aturan, tidak keruan). Tingkah lakunya tidak mau tahu terhdap aturan alias mblasur, tingkah polahnya tidak peduli lagi dengan halal haram, baik buruk, manfaat dan madharat bagi manusia dan masyarakat. Lebih tidak mau tahu lagi, apakah perbuatannya itu akan mengakibatkan masuk surga atau neraka.

Anehnya, manusia yang dalam penilaian pergaulan hidup telah dihitung sebagai sama dengan binatang itu kini justru akan dihormati sedemikian rupa, dan akan dilegalkan, bahkan kemungkinan ditujukan agar manusia normal ini nantinya akan berganti jadi seperti mereka. Ini benar-benar pembinatangan manusia.
Maka sebenarnya, gelagat ini sangat mengherankan, lagi memalukan!

Untuk menyadari hal itu, mari kita runtut secara akal sehat, apa yang ditempuh akhir-akhir ini. Coba kita simak ulasan Mashadi seorang wartawan senior berikut ini, mengenai arah pembinatangan itu.
Saat sebelum pilpres, sudah keluar isu yang akan menghapus kolom agama di KTP. Kalau tidak salah gagasan pengosongan kolom agama itu, dilansir dari kalangan pendukung Jokowi, yaitu Prof.Musdah Mulia.
Segungguhnya golongan Islam, masih meraba-raba, apa sejatinya tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan kebijakan mengosongkan kolom agama di KTP?
Seperti dikemukakan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, bahwa Indonesia menganut falsafah Pancasila. Di mana sila pertama, adalah ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Artinya, Indonesia bukan negara komunis yang menganut falsafah atheisme.
Betapapun 250 juta penduduknya beragama. Dengan rencana pengosongan kolom agama di KTP, yang menjadi sebuah identitas rakyat Indonesia, itu berarti seluruh rakyat Indonesia menjadi ‘la diniyah’ (sekuler-tanpa agama).
Apakah ada ‘grand design’ yang mengarah kepada masa depan Indonesia menjadi sebuah negara ‘la diniyah’ atau negara ‘atheis’, tanpa ada lagi agama? Mungkinkah juga memudahkan berlangsungnya pemurtadan? Sehingga, Muslim di Indonesia tidak lagi menjadi golongan mayoritas?
Ini menjadi persoalan yang serius, jika memang tujuannya ke sana. Berarti harus melikwidasi agama-agama yang ada di Indonesia. Sehingga, rakyat Indonesia menjadi bangsa yang ‘la diniyah’.
Jika rakyat Indonesia sudah menjadi ‘la diniyah’, apa yang ingin dicapai? Apakah dengan bangsa yang ‘la diniyah’, Indonesia akan menjadi bangsa yang tangguh dalam menghadapi persaingan global. Memiliki daya saing dan etos kerja yang tinggi? Indonesia bisa mengalahkan bangsa-bangsa lainnya di dunia dengan tanpa agama?

Bukankah almarhum Taufik Kemas, menegaskan tentang empat pilar negara, yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Pernyataan Taufik Kemas itu, menempatkan Pancasila sebagai pilar pertama dalam bangunan negara. Tapi, rencana penghapusan kolom agama di KTP itu, sama dengan menghapus salah satu pilar negara.

Tjahjo Kumolo, perlu mengingat kalau ada orang yang mati, terutama kecelakaan, lalu bagimana memperlakukan jenazahnya? Jika seorang korban kecelakaan dengan identitas KTP, dan disitu tertera dalam KTP nya, beragama Islam, maka jenazahnya akan diperlakukan sesuai dengan aturan atau syariah.
Bagi Muslim yang mati, maka harus dimandikan, dikafani, di shalatkan, dan dikuburkan. Sebagai fardhu kifayah. Bagaimana jika korban tanpa identitas yang jelas tentang status agamanya?
Semua manusia akan mati. Tidak ada yang kekal di dunia. Presiden, menteri, pejabat, orang berharta, orang miskin, semua pasti akan mati. Bentuk atau cara menghadapi kematian berbeda-beda. Ada karena sakit, ada karena kecelakaan, dan lainnya.
Persoalan yang akan dihadapi, bagaimana memperlakukan jenazah atau mayit, ketika ia mati? Akankah dibiarkan begitu saja, dan langsung dikuburkan seperti binatang? Tanpa ada kewajiban apapun terhadap jenazah itu? Karena tidak ada lagi kolom agama di KTP? Wallahu’alam.
[email protected] / voa-islam.com/
***
Bagi yang tidak mampu berfikir, mengosongi kolom agama di KTP itu dianggapnya suatu penghormatan kepada mereka yang berkeinginan begitu. Tetapi bagi yang mampu berfikir, pada dasarnya itu justru menghinakan manusia. Dan berbeda lagi bagi yang sebenarnya mampu berfikir, namun memang sengaja ada misi untuk membinatangkan manusia, itu adalah sejatinya penjahat di dunia ini. Yaitu anti Tuhan, anti prikemanusiaan, hingga memposisikan manusia bagai binatang belaka. Dan itulah sebenarnya sejak dahulu kala telah dicela sama sekali dengan istilah Jawa” koyo wong ora duwe agomo” itu tadi.

(nahimunkar.com)