Hidayatullah.com–Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan tindakan Densus 88 Polri yang telah menodongkan senjata api di depan anak-anak pada saat penggerebekan rumah terduga teroris di Bekasi, Jawa Barat.

“Dalam penegakan hukum tidak boleh melanggar hukum, yang melanggar prinsip perlindungan anak. Tidak boleh semena-mena,” kata Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua Divisi Sosialisasi KPAI kepada hidayatullah.com, Sabtu (24/08/2013) sore.

Tindakan Densus 88 Polri ini, jelas Ni’am, membuat trauma anak dan dapat mengganggu psikologi anak.

“Negara dan pemerintah wajib menjamin pemenuhan hak dasar anak dalam situasi dan kondisi apapun,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, oknum pasukan Densus 88 diduga kembali mempertontonkan senjata dan kekerasan di depan anak-anak. Hal ini terjadi saat oknum satuan berlogo burung hantu ini menangkap salah satu terduga kasus terorisme Iswahyudin (38 tahun) pada Selasa (20/08/2013) di Bekasi.

Menurut Kuswati, ibu dari Iswahyudin, saat penangkapan di rumah kala itu terdapat anak-anak Iswahyudin dan para keponakan. Oknum Densus menggerebek rumah dan menodongkan pistol dan senjata di hadapan anak-anak.

“Saya tanya ini ada apa, saya justru didorong hingga jatuh,” jelas Kusmawati kepadahidayatullah.com di kantor Komnas HAM, Jum’at (23/08/2013) Jakarta.

Kusmawati mengaku, saat kejadian, ia sedang menggendong anak Iswahyudin bernama Azzam yang masih berumur 3 tahun. Kala itu Kusmawati terjengkang jatuh bersama cucunya setelah mendapat dorongan dari oknum Densus 88.

“Memang nggak bisa nangkap dengan baik-baik, saya tidak percaya anak saya terlibat terorisme,” jelasnya.*

Rep:

Ibnu Syafaat

Editor: Cholis Akbar, Minggu, 25 Agustus 2013 – 07:02 WIB

***

Densus Todongkan Pistol, Anak-anak Histeris Orang Tua Iswahyudi Shock

BEKASI (voa-islam.com) – Ummu Azzam, istri dari Iswahyudi mengungkapkan kronologis penangkapan suaminya oleh Densus 88 di Bekasi yang disertai kekerasan di depan anak-anak dan membuat orang tuanya yang sudah sepuh menjadi shock.

Saat itu, Densus 88 dengan bersenjata lengkap menyergap Iswahyudi saat sedang berbaring bercengkrama bersama keluarga besar dan keponakannya di Kampung Pintu Air, Jalan Jembatan Barokah, Gang Mandiri RT 06/03 Kelurahan Harapan Mulya, Kecamatan Medan Satria Bekasi kota.

Densus dengan kasar menodongkan senjata di depan anak-anak bahkan mendorong orang tua Iswahyudi yang sudah sepuh, hingga ia terjatuh menimpa cucunya yang masih balita.

…lalu Densus 88 jorogin ibu mertua saya yang sudah tua sambil ditodong sama pistol lalu jatuh menimpa anak saya yang paling kecil. Kami semua didorong-dorong ditodong pistol

“Penangkapan suami saya dilakukan pas azan shalat Isya’ waktu itu suami saya sedang tidur rebahan, lalu Densus 88 datang, jumlahnya sekitar 15 orang langsung menangkap suami saya. Suami saya hanya sempat ngomong; ada apa ini? Lalu kami yang waktu itu sedang kumpul bersama keluarga juga berkata sama; ada apa? Termasuk ibu saya berkata demikian, lalu Densus 88 jorogin ibu mertua saya yang sudah tua sambil ditodong sama pistol lalu jatuh menimpa anak saya yang paling kecil. Kami semua didorong-dorong ditodong pistol,” ujar Ummu Azzam kepada voa-islam.com, saat ditemui di TKP penangkapan Iswahyudi, Rabu (21/8/2013).

Ia tidak menyangka Densus 88 yang dikerahkan begitu banyak dan bersenjata lengkap, sementara suaminya tidak melakukan perlawanan dan tidak membawa apa-apa.

“Saya tidak menyangka, hanya untuk menangkap satu orang saja mereka mengerahkan sampai lima belas orang Densus dengan senjata lengkap. Padahal suami saya tidak ada apa-apa, tidak membawa apa-apa,” tuturnya.

…ada bapak saya juga yang sedang sakit langsung shock, anak-anak pun menangis histeris

Malam itu pun menjadi malam yang amat mencekam bagi keluaga besar Iswahyudi, padahal awalanya mereka sedang berkumpul untuk bersuka cita menghadiri wisuda salah seorang adik Iswahyudi keesokan harinya.

“Di dalam rumah ini banyak anak-anak kecil, ada orang tua lansia juga karena kami sedang berkumpul karena rencananya besok akan ada wisuda adik saya yang terakhir, lalu ada bapak saya juga yang sedang sakit langsung shock, anak-anak pun menangis histeris,” ungkapnya.

Tak hanya kepada orang dewasa, bahkan kepada anak-anak pun Densus 88 berlaku kasar.

Densus 88 tidak membawa surat penangkapan, salah seorang anggota aparat bernama Jefri hanya menunjukkan surat tugas, itu pun sudah kadaluarsa

“Densus pun membentak; diam, jangan ada yang bergerak sambil menodongkan pistol. Lalu anak saya yang paling besar umur 5 tahun didorong Densus diperlakukan kasar,” ujarnya.

Saat ditanya, apakah Densus 88 membawa surat penangkapan, Ummu Azzam menjawab, “Densus 88 tidak membawa surat penangkapan, salah seorang anggota aparat bernama Jefri hanya menunjukkan surat tugas, itu pun sudah kadaluarsa,” ucapnya.

Akibat tindakan kekerasan yang dilakukan Densus 88 tersebut, keluarga Iswahyudi melaporkan hal tersebut ke Komnas HAM siang tadi. [Ahmed Widad] Jum’at, 23 Aug 2013

***

Akibat Kebrutalan Densus 88, Anak & Istri Iwan Sasongko Trauma Berat

15-05-2013 10:02

 state are terror

KENDAL (voa-islam.com) – Kebrutalan dan perilaku tak manusiawi Densus 88 saat “menculik” seseorang yang baru diduga sebagai teroris kembali menelan korban. Tak hanya kepada terduga sendiri, keluarga dan sanak saudara seseorang yang diduga teroris kerap kali juga menjadi korban aksi biadab Densus 88.

Kali ini efek negatif dari kekejian Densus 88 dalam menangkap terduga teroris terjadi kepada anak pertama dan istri Purnawan Adi Sasongko alias Iwan. Hasan (6 tahun), anak pertama Iwan mengalami syok dan trauma berat setelah dibentak-bentak sambil ditodong senapan laras panjang Densus 88.

Sedangkan Kussetyorini atau yang lebih akrab disapa Bu Rini, istri Iwan mengalami trauma dan takut keluar rumah setelah dibentak-bentak oleh Densus 88, dan tidak diperbolehkan memakai jilbab saat dirinya hendak dibawa keluar kerumah tetangganya karena Densus 88 ingin menggeledah rumah kontrakannya.

…Ini mas kebiadaban Densus kemarin. Sampai mau keluar rumah jemur pakaian aja, Bu Rini masih takut karena trauma…

Ketika Bu Ida (nama samaran) mengantar team voa-islam.com untuk menemui Bu Rini disebuah rumah di Rowosari Kendal, memang begitu terlihat syok, trauma berat dan menangis terus. Jangankan untuk keluar rumah, diambil gambar dan ditanya wartawan saja Bu Rini mengaku takut.

“Ini mas kebiadaban Densus kemarin. Sampai mau keluar rumah jemur pakaian aja, Bu Rini masih takut karena trauma. Sedangkan anaknya yang barep (pertama -red) sekarang diungsikan kerumah neneknya di Weleri,” kata Bu Ida yang merupakan tetangga dan teman seprofesi sebagai guru SDIT, pada Minggu (12/5/2013).

Untuk itu Bu Ida meminta pihak terkait seperti Komnas HAM atau Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk memperhatikan hal ini dengan sungguh-sungguh. “Jika yang dijadikan target itu bapaknya, harusnya anak dan istrinya jangan diperlakukan seperti ini. Densus ini punya otak gak?,” tutur Bu Ida penuh geram.

…Kemarin yang saya lihat itu dia (Hasan -red) masih ketakutan. Sampai untuk kembali kerumahnya saja di Tambaksari juga masih gak mau…

Sementara itu, Pak Ahmad yang merupakan tetangga dari orangtua Iwan di Kelurahan Payung, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal mengungkapkan bahwa Hasan sepengetahuan dirinya masih tidak mau kembali kerumahnya sendiri dan terlihat ketakutan.

“Kemarin yang saya lihat itu dia (Hasan -red) masih ketakutan. Sampai untuk kembali kerumahnya saja di Tambaksari juga masih gak mau dianya,” ujarnya yang ditemui voa-islam.com pada Senin (13/5/2013) di Weleri. [Khalid Khalifah]/ kaskus.co.id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 490 kali, 1 untuk hari ini)