Pelaku Aksi Anarkhis di Tolikara Harus Dikategorikan Sebagai Teroris di Mata Hukum, tegas Ketua Umum Presidium Perhimpunan Indonesia Timur (PPIT), Laode Ida.

Setelah Bakar Masjid, Esoknya Papua Diguncang Gempa Bumi

Kapolri Badrodin mempertanyakan keluarnya surat edaran GIDI yang melarang muslim menggelar solat Id dan menjadi pemicu insiden penyerangan.

Inilah beritanya.

***

Kapolri: Surat GIDI Yang Melarang Perayaan Iedul Fitri di Tolikara Itu Benar Adanya

Redaksi – Senin, 4 Syawwal 1436 H / 20 Juli 2015 07:30 WIB

kapolri

Eramuslim.com – Untuk mengetahui akar masalah Tragedi Tolikara, Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mendatangi tempat kejadian perkara di Wamena, Papua. Dalam kesempatan itu, Badrodin bertemu dengan pengurus Gereja Injili di Indonesia (GIDI), tokoh muslim, dan jajaran Pemda Tolikara.

Badrodin mempertanyakan keluarnya surat edaran GIDI yang melarang muslim menggelar solat Id dan menjadi pemicu insiden penyerangan. Badrodin juga membenarkan keberadaan surat edaran larangan solat Id tersebut.

“Surat itu benar adanya. Kami sedang mendalami alasan surat itu keluar,” katanya (19/7)

Menurut Badrodin lagi, ada dua surat dari GIDI. Surat pertama dikirim ke pemda dan Polres Tolikara pada 11 Juli 2015 yang berisi larangan digelarnya solat Id dan larangan para Muslimah untuk mengenakan jilbab. Surat kemudian direvisi pada 15 Juli setelah ada kordinasi dengan aparat setempat. Dalam surat yang kedua yang direvisi, GIDI tidak melarang solat Id digelar. Hanya, solat Id tidak boleh dilakukan di halaman atau ruang terbuka, melainkan di musola. Selain itu, solat Id tidak boleh menggunakan pengeras suara dengan volume yang kencang karena di hari yang bersamaan ada seminar internasional GIDI yang dihadiri perwakilan dari seluruh Indonesia.

Hal ini aneh, karena Hari Raya Iedul Fitri harus mengalah pada acara seminar. Yang harus digugat adalah kenapa seminar malah diselenggarakan bertepatan dengan lebaran. Dengan logika yang sama, umat Islam bisa saja mengadakan tabligh akbar di saat Natal, 25 Desember, dan melarang umat Kristiani untuk merayakan Natal dan membunyikan lonceng gereja. Ini kan konyol!

GIDI sendiri kemudian diketahui sebagai organisasi yang berhubungan dengan pihak Zionis Israel, negara yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia karena bertentangan dengan Konstitusi Negara. Hal ini harus ditelusuri, karena dengan demikian GIDI telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Pancasila dan Konstitusi Negara. (rz)

***

Setelah Bakar Masjid, Esoknya Papua Diguncang Gempa Bumi

Redaksi – Senin, 4 Syawwal 1436 H / 20 Juli 2015 07:00 WIB

gempa

Eramuslim.com – Setelah peristiwa pembakaran masjid, Papua jadi buah bibir masyarakat Indonesia. Dan hari ini, lagi-lagi Papua jadi sorotan media, setelah siang tadi diguncang gempa darat berkekuatan 4,4 skala richter.

Dari informasi terkini kegempaan yang dipublish Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di situs resminya dinyatakan, gempa melanda Papua sekitar pukul 11.22.11 WIB, Sabtu 18 Juli 2015. Gempa tersebut merupakan jenis gempa darat yang guncangannya terasa sampai ke Sorong.

BMKG menyebutkan, lokasi gempa bersifat perusak itu berada pada titik koordinat 0.81 lintang selatan 131.54 bujur timur. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer, dengan jarak 27 kilometer sebelah timur laut Kabupaten Sorong, Papua.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, gempa darat merupakan gempa yang episentrumnya di darat. Pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja seperti dilansir Kompas, mengatakan gempa darat tak kalah berbahaya dari gempa laut, gempa darat juga bisa sangat merusak dan menimbulkan longsor.

Contoh nyata gempa daratan yang mematikan adalah gempa di Tahiti tahun 2010 yang menewaskan 200.000 jiwa dan gempa di Yogyakarta tahun 2006 yang menewaskan lebih dari 5.000 orang.

Banyak netizen (pengguna internet) yang mengaitkan gempa Papua hari ini dengan peristiwa pembakaran masjid kemarin saat  Hari Raya Idul Fitri. “Kemarin bakar masjid, hari ini Papua dilanda gempa. Peringatan itu boss! Jangan belagu bakar rumah ibadah!” tulis akun Jalu Sunda.(rz/wartapriangan)

***

Pelaku Aksi Anarkhis di Tolikara Harus Dikategorikan Sebagai Teroris di Mata Hukum

pelaku aksi

Eramuslim.com – Pelaku kerusuhan serta pembakaran masjid saat perayaan Hari Raya Idul Fitri di Tolikara, Papua, dinilai layak dikategorikan sebagai teroris. Penilaian itu disampaikan Ketua Umum Presidium Perhimpunan Indonesia Timur (PPIT), Laode Ida melalui siaran persnya, Minggu (19/7/2015).

Menurutnya, proses hukum terhadap para pelaku harus diperlakukan layaknya seorang terduga teroris yang menjalani proses hukum.

“Kami berharap polisi menemukan aktor di balik peristiwa itu berikut jaringannya dan mengkategorikan mereka sebagai kelompok teroris,” kata Laode.

Laode yakin provokator insiden itu justru berasal dari luar Papua. Sebab, kekerasan kepada kelompok agama bukan karakter warga Papua.

“Orang Papua tidak seperti itu. Mereka toleran dan menghormati kebebasan beragama orang lain. Kami duga kuat ada kelompok yang datang dari luar Papua lalu melakukan propaganda provokasi,” tegasnya.

Dikabarkan sebelum munculnya insiden kericuhan yang mengakibatkan pembakaran salah satu musola di Kabupaten Tolikara, Papua, beredar surat edaran larangan ibadah untuk penganut agama selain jemaat GIDI, di Kabupaten Tolikara, Papua pada 11 April 2015 lalu.

Imbauan larangan beribadah tersebut ditunjukkan untuk tanggal 13-17 Juli yang dikeluarkan oleh GIDI kabupaten Tolikara, Papua dengan alasan pihak GIDI akan mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR).

Pasca peredaran surat tersebut, tak ada sikap dari aparat penegak hukum maupun tokoh agama setempat untuk menyikapinya hingga akhirnya beredar luas melalui media sosial.(rz/inilah)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 568 kali, 1 untuk hari ini)