Pendeta Kristen bernama Gilbert Emanuel Lumoindong meledek penerapan Syariat Islam di Aceh berupa hukuman cambuk, melalui akun twitter pribadinya.

Ketika diberitakan, anggapan pendeta yang menohok Islam itu langsung mendapatkan reaksi keras dari para pembaca. Di antaranya:

Abdul Jabar ·

Advocad at Yayasan Lembaga Bantuan Hukum SULTRA INDONESIA

Sebenarnya kristen tidak di akui dalam perjuangan RI,,karena agama kristen itu titipan dr bangsa belanda..jd pak pendeta tidak usa ribut,syukur anda di akui di NKRI..

Like · Reply · 2 · Mar 3, 2016 8:28am

Tanggapan pembaca yang cukup tegas itu dapat ditengok sejarahnya, memang orang kristen atau pihak gereja justru menjadi penyusu penjajah Belanda.

Pihak Gereja perlu melek dan sadar, siapa yang berjuang

Pihak Gereja perlu melek dan sadar, siapa yang berjuang dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Penjajah. Bukankah pihak gereja merupakan pihak yang disusui penjajah Belanda? Kenapa justru sekarang nglunjak dan intoleran?

Juga Bung Tomo yang memimpin perjuangan 10 November 1945 di Surabaya, mengumandangkan Pekik Allahu Akbar, pengagungan kepada Allah dan merupakan syiar Islam. Berarti perjuangan kemerdekaan Indonesia ini oleh Umat Islam dan atas semangat Islam.

Penyusu penjajah, kini intoleran, kenapa?

Lihat betapa banyaknya gereja justru disusui oleh penjajah Belanda dengan dana yang besar. Dana yang jauh sangat berlipat-lipat dibanding terhadap Islam. Bisa disimak data berikut:

Subsidi dalam tahun (jumlah f – Gulden)

———————————————————————————–

Agama     1936       1937      1938          1939

————————————————————————————

Protestan  686.100   683.200      696.100       844.000

Katolik    286.500   290.700      296,400       335.700

Islam       7.500     7.500        7,500         7.600

___________________________________________________________

Sumber: Staatsblad 1936: No. 355 hal 25, 26; 1937 No. 410, hal 25,26; 1938: No. 511, hal 27,28; 1939: No. 593, hal 32, dikutip Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES, cetakan II, 1985, hal 39.https://www.nahimunkar.org/kristenisasi-di-indonesia-dan-rekayasa-snouck-hurgronje-2/

***

Bung Tomo: Pekik Allahu Akbar…

TEMPO.CO, Jakarta – Siaran radio berisi pidato Bung Tomo pada seputar Pertempuran Surabaya 10 November 1945 menjadi kenangan Moechtar, mantan Pemimpin Redaksi  Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa yang terbit di Surabaya. Ia kini berusia 90 tahun, lahir di Pacitan 22 Februari 1925.

Kini, Moechtar tinggal di Pucang Asri, Kota Surabaya dalam posisi banyak berbaring akibat pernah jatuh sehingga tulang belakangnya trauma.  Daya ingat Moechtar masih kuat, meski sekali-sekali ia perlu waktu lama untuk mengingat  sesuatu. Dalam situasi  yang tak menentu sehingga sekolah libur, Moechtar yang saat itu sekolah di Yogyakarta, mengungsi ke Kediri. “Saya ke tempat paman saya yang bernama Soedjito. Ia menjadi  Kepala Dinas Pekerjaan Umum di Kediri,” kata Moechtar, Ahad 22 Oktober 1945.

… teriakan Bung Tomo memuji kebesaran Tuhan.  “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,…” Lalu, suara berapi-api Bung Tomo bergema. Suara lantang berpidato ala Bung Karno inilah yang menurut Mochtar, menjadi daya tarik. Menurut dia, banyak orang yang merinding mendengarkan Bung Tomo membakar semangat untuk perang melawan penjajah. “Saya saja merinding mendengarkannya,” kata Moechtar. (Pimpinan Redaksi Panjebar Semangat, Moechtar (90) menceritakan pengalamanya saat bertemu Bung Tomo, di Surabaya, Jawa Timur, 24 Oktober 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat. By: nasional.tempo.co/Senin, 09 November 2015  ). https://www.nahimunkar.org/pihak-gereja-dulu-nyusu-penjajah-belanda-kini-melarang-masjid/

Oleh karena itu pihak gereja yang sudah ketahuan dulunya adalah para penyusu penjajah Belanda, dan terbukti perjuangan kemerdekaan Indonesia ini atas perjuangan Umat Isam dengan semangat pekik Takbir Allahu Akbar, maka justru yang tidak pantas adalah kaum gereja yang kini nglunjak, mentang-mentang dan sangat intoleran itu. Tidak tahu diri. Tidak tahu di untung.

Adapun berita tentang pendeta menganggap syariat Islam tidak pantas diterapkan, silakan disimak berikut ini.

***

Pendeta Kristen Ini Ledek Penerapan Syariat Islam di Aceh

– Kamis, 3 Maret 2016

Gilbert Emanuel Lumoindong

Gilbert Emanuel Lumoindong

Islamedia – Pendeta Kristen bernama Gilbert Emanuel Lumoindong meledek penerapan Syariat Islam di Aceh berupa hukuman cambuk. Melalui akun twitter pribadinya, Gilbert menganggap hukuman cambuk tidak pantas lagi di tahun 2016.

Gilbert juga mempertanyakan penerapan Syariat Islam berupa hukuman cambuk kepada Presiden Joko Widodo, dengan mention akun twitter @jokowi.

2016, Indonesia negara Pancasila masih berlakukan hukuman cambuk, mohon perhatian Bpk Presiden @jokowi” tweet Gilbert melalui akun twitternya @PastorGilbertL, senin(29/2/2016).

Gilbert Emanuel Lumoindong-twit

Tweet @PastorGilbertL

Kicauan pendeta asal Jakarta ini terus berlanjut dengan menuliskan kalimat bernada ledekan : “Hahaha Aceh tetap merupakan Indonesia khan?? Seru juga, kalau semua daerah buat hukuman masing2” tweet Gilbert, selasa(1/3/2016). [islamedia/mh]

***

Publik Indonesia Kecam Ledekan Pendeta Gilbert Soal Penerapan Syariat Islam Aceh

– Kamis, 3 Maret 2016

Hukum cambuk

Islamedia – Pernyataan pendeta Gilbert Emanuel Lumoindong yang bernada ledekan terhadap penerapan Syariat Islam Aceh menuai kecaman dari publik Indonesia khususnya para netizen, sebagian besar menganggap pendeta ini tidak memahami arti toleransi.

Aneh. Itu syariat Islam buat umat islam sendiri kok ribut. Mbok ya terapkan sendiri syariat kristen kepada umatnya sendiri, kan banyak syariat kristen yang ga dijalankan olehnya dan umatnya” tulis netizen bernama Santy.

Senada dengan Santy, netizen lain bernama Yani Syah menuliskan : “Non muslim tidak perlu ikt campur tentang agama kami, kamipun (muslim) tidak ingin ikut campur urusan agamamu !!”.

Sementara pengamat media sosial Eko Setiawan mengungkapkan bahwa pendeta Gilbert justru mempermalukan ajaran kristen itu sendiri dengan memperlihatkan gaya intoleran dengan ikut campur urusan agama Islam.

Pendeta Gilbert ini contoh sosok yang tak faham makna toleransi, padahal Aceh ini memiliki hak Istimewa yang sangat jelas diatur dalam Undang-Undang di Indonesia” ujar Eko kepada Islamedia, kamis (3/3/2016).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pendeta Kristen bernama Gilbert Emanuel Lumoindong meledek penerapan Syariat Islam di Aceh berupa hukuman cambuk. Melalui akun twitter pribadinya, secara tersirat Gilbert menganggap hukuman cambuk tidak pantas lagi di tahun 2016. (baca: Pendeta Kristen Ini Ledek Penerapan Syariat Islam di Aceh). [islamedia/mh]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.112 kali, 1 untuk hari ini)