• Di Dusun Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Magelang, penganut agama Islam hanya tersisa satu Kepala Keluarga (KK) saja dari 61 KK yang menghuni dusun itu. Yakni keluarga Tukimo yang bertempat tinggal di RT 2 RW 8. 
  • Tidak jauh dari wilayah ini memang ada pusat pengkristenan, yakni gereja dan komplek pasturan Van Lith di Muntilan. Gereja dan pusat pendidikan bagi para misionaris ini memang telah beroperasi sejak zaman Belanda. 
  • Nasib tragis umat Islam tidak hanya terjadi di Dusun Tangkil. Di sejumlah dusun lainnya, juga terjadi hal yang sama. Di Dusun Ngandong penganut Islam hanya ada 4 KK dari 39 KK yang menghuni dusun itu. Di Dusun Braman, Muslim hanya 11 KK dari 39 KK. Di Dusun Gemer dari 30 KK Muslim hanya tinggal 2 KK, sementara di dusun Dadapan, dari 30 KK Muslimnya hanya tinggal 3 KK.

Inilah beritanya:

Tragis, Hanya Tersisa Satu Keluarga Muslim di Dusun Tangkil Lereng Merapi

Magelang (SI ONLINE) – Secara nasional jumlah umat Islam di Indonesia memang mayoritas. Menurut data BPS tahun 2012, jumlah umat Islam mencapai 85,1 persen. Sementara Kristen (Katolik dan Protestan) mencapai 12,7 persen.

Tetapi angka mayoritas ini rupanya tidak meliputi sebagian wilayah Magelang, Jawa Tengah. Di salah satu dusun di Magelang, tepatnya di Dusun Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, penganut agama Islam hanya tersisa satu Kepala Keluarga (KK) saja dari 61 KK yang menghuni dusun itu. Yakni keluarga Tukimo yang bertempat tinggal di RT 2 RW 8.

Rata-rata di dusun ini rumah warga masih terbuat dari papan kayu atau bambu. Lantainya juga masih tanah. Bila ada warga yang membangun rumahnya, ada sebagian yang dindingnya menggunakan batu.

Demikian halnya dengan keluarga Muslim ini. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana, terbuat dari papan dan anyaman bambu (bhs Jawa: gedeg). Keluarga itu terdiri dari tujuh orang. Dua orang laki-laki (Tukimo dan menantunya, Purwanto), istri Tukimo, tiga anak perempuannya dan seorang cucunya yang berusia 1,5 tahun.

Saat Suara Islam Online dan Tim Wakaf Al Qur’an Suara Islam mengunjungi keluarga ini, Selasa (6/10/2012) lalu, Tukimo sedang bekerja. Hanya ada sang menantu, Purwanto (23), yang kebetulan sedang bekerja membangun saluran air (got) di samping rumahnya bersama sejumlah warga.

Bapak merumput, Ibu kaliyan istri kulo tindak peken (Bapak mencari rumput, Ibu dan Istri saya ke pasar, red)”, kata Purwanto yang bekerja sebagai kuli bangunan.

Purwanto sendiri berasal dari dusun sebelah. Ia menikahi salah satu anak Tukimo bernama Wati. Kini ia telah memiliki anak berusia 1,5 tahun.

Untuk menjalankan salat wajib lima waktu, keluarga ini membuat tempat salat di sudut ruang tamunya. Kira-kira berukuran 1,5 x 2 meter, disekat dengan anyaman bambu. Sementara di lantainya digelar sebuah tikar.

“Kalau salat Jumat saya ke Masjid sebelah”, kata Purwanto. Masjid sebalah yang dimaksud adalah Masjid yang berada di dusun yang berbeda yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Yang menyedihkan adalah saat Idul Fitri. Keluarga ini merayakan sendirian. “Ya sendirian,” katanya.

Purwanto bercerita, dirinya ketika hendak menikah sempat ditawari seorang gadis Katolik di dusun. “Tapi kulo mboten purun. Kulo pados seng Muslim (Tapi saya tidak mau, saya mencari yang muslim),” ceritanya.

Menurut Koordinator Relawan Dakwah Merapi, Ustad Hartono, yang menemani Tim Suara Islam, wilayah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang ini asalnya mayoritas Islam. Tapi Islam abangan. Sekitar tahun 60’an banyak waga di wilayah ini yang menjadi anggota BTI (Barisan Tani Indonesia), organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika tahun ’65 meletus pemberontakan PKI dan kemudian orang-orang PKI dibersihkan, warga diwilayah ini dirayu untuk masuk Katolik. “Mereka aman dapat perlindungan,” kata Ustad Hartono.

Tidak jauh dari wilayah ini memang ada pusat pengkristenan, yakni gereja dan komplek pasturan Van Lith di Muntilan. Gereja dan pusat pendidikan bagi para misionaris ini memang telah beroperasi sejak zaman Belanda.

Nasib tragis umat Islam tidak hanya terjadi di Dusun Tangkil. Di sejumlah dusun lainnya, juga terjadi hal yang sama. Di Dusun Ngandong penganut Islam hanya ada 4 KK dari 39 KK yang menghuni dusun itu. Di Dusun Braman, Muslim hanya 11 KK dari 39 KK. Di Dusun Gemer dari 30 KK Muslim hanya tinggal 2 KK, sementara di dusun Dadapan, dari 30 KK Muslimnya hanya tinggal 3 KK.

“Di dusun-dusun lain pemurtadan merayap, siap menerkam umat Islam yang rapuh iman dan harta,” jelas Ustad Hartono.

red: shodiq ramadhan (SI online)  Kamis, 08 November 2012 | 13:29:35 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 11.452 kali, 1 untuk hari ini)