1. Eli Maliki
  • Biografinya

Eli al Maliki adalah doktor bidang fiqh dan juga merupakan doktor lulusan Al Azhar.[1]

  • Kritiknya Terhadap M. Quraish Shihab

Sebenarnya yang menjadi pembicara sebelum Ibu Eli Al Maliki yang ditunjuk adalah Bapak Anwar Ibrahim yang merupakan anggota Komisi Fatwa MUI tetapi karena beliau tidak bisa hadir, maka orang yang menggantikan beliau adalah Eli Maliki.

Berkenaan pendapat M. Quraish Shihab yang mengatakan bahwa ayat di dalam Alquran yaitu pada QS. An Nûr [24]: 31 yaitu:

Dan juga pada QS. Al Ahzab [33]: 59 yaitu:

Eli Maliki menjelaskan bahwa di dalam kedua ayat tersebut sebenarnya sudah secara tegas menyebutkan batas aurat wanita yaitu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Menurutnya lagi bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang masalah ini. Yang berbeda hanyalah pada masalah apakah wajah dan telapak tangan yang wajib ditutup. Sebagian mengatakan wajib menutup wajah dan sebagian lagi menyatakan wajah boleh dibuka.

Adapun ulama yang menganggap wajah dan telapak tangan bukan aurat yaitu; Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Hijabul Mar’atil Muslimah fil Kitab wa Sunnah dan mayoritas ulama al azhar, serta beberapa ulama empat madzhab sepakat bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan aurat bila sekiranya tidak menimbulkan fitnah. Sedangkan ulama yang menganggap wajah wajib ditutup atau dalam hal ini kewajiban bercadar bagi wanita adalah ulama Arab Saudi yaitu Syekh Abdul Aziz bin Baz dan juga Abû A’la Maududi dalam kitabnya al Hijab.[2]

Eli Maliki juga menyayangkan sikap M. Quraish Shihab yang sama sekali tidak mentarjih salah satu pendapat dari para ulama yang telah dikemukakannya dan menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat luas untuk memilih pendapat yang bermacam-macam itu. Padahal menurutnya lebih lanjut bahwa tugas ulama adalah membimbing masyarakat, dengan menunjukkan mana pendapat yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lain karena sebagaimana kita ketahui bahwa ulama adalah pewaris para Nabi untuk menyampaikan risalah agama Islam kesegenap umat manusia.

Beliau juga mengkritik pendapat Quraish yang menyatakan, bahwa Perintah mengenakan jilbab adalah bukan berarti sebuah kewajiban[3]. Karena setiap perintah itu bisa juga berupa anjuran seperti dalam QS. Al Baqarah [2]: 282. begitu juga di dalam hadis Nabi tentang perintah mendo’akan orang bersin apabila ia mengucapkan al Hamdulillâh atau perintah mengunjungi orang sakit, yang hanya merupakan anjuran yang sebaiknya dilakukan bukanseharusnya”[4]. padahal menurutnya ayat tentang perintah mengenakan jilbab itu sudah tegas dan jelas menyuruh para muslimah untuk memakai jilbab.[5]

  1. Mukhlis Hanafi
  • Biografinya

Mukhlis Hanafi adalah doktor muda bidang tafsir Alquran, gelar doktor ini diraihnya pada usia 35 tahun di Universitas al Azhar. Adapun disertasinya berjudul al Burhan wa Qawathi Bayan fi Ma’ani al Qur’an, Dirasah wa Tahqiq (Studi Filologi yang meliputi editing naskah, komentar, analisa dan kritik). Mukhlis Hanafi meneliti manuskrip yang ditulis oleh Imam al Ma’ani, salah seorang ahli tafsir abad ke Lima hijriyah (w. 537).

Disertasinya setebal 1.423 halaman itu akhirnya berhasil diujikan dimuka Dewan Penguji dengan hasil yang gemilang yaitusumma cumlaude, hasil yang sama pernah juga pernah diraih gurunya yaitu M. Quraish Shihab. Mukhlis Hanafi yang merupakan putra Betawi ini yang lahir 18 agustus 1971 ini adalah doktor tafsir kelima dari al Azhar.

Setelah kembali ke Indonesia, alumni Pondok Pesantren Modern Gontor ini langsung mendapat amanah berat. Baik dari tempat kerjanya, UIN syarif Hidayatullah, Pusat Studi Alquran, maupun dari Depertemen Agama. Di Departemen Agama inilah akhirnya Mukhlis ditunjuk sebagai konsultan di bidang kerja sama luar negri untuk pendidikan tinggi wilayah Timur Tengah.[6]

  • Kritiknya Terhadap M. Quraish Shihab.

Mukhlis Hanafi yang merupakan doktor tafsir yang ke-lima dan juga merupakan murid dari M. Quraish Shihab, dalam hal ini menyampaikan pendapat yang berbeda dengan gurunya. Contohnya pada pendapat M. Quraish Shihab yang menyatakan bahwa tidak ada keharusan bagi wanita memakai jilbab dan dalil-dalil baik dari Alquran dan hadis yang berkenaan dengan hijab dan jilbab bersifat zhanbukan qathi dan juga para ulama juga masih berbeda pendapat tentang masalah tersebut. Dia secara tegas tidak sependapat dengan gurunya dengan menyatakan bahwa praktik shahabiyat (para sahabat wanita) yang memakai jilbab tidak disanggah oleh Nabi, bahkan dikuatkan.

Pemahaman para shahabiyin, serta penerimaan ummat dari generasi ke generasi, secara keseluruhan menjadi bukti dan qarinah(benang merah) bahwa apa yang dimaksud dengan ayat hijab dan jilbab adalah para wanita harus menutup seluruh tubuh tanpa kecuali, atau dengan pengecualian wajah dan telapak tangan ditambah kelonggaran sedikit; setengah tangan dan kedua kaki tidak lebih dari itu. Lebih lanjut lagi menurutnya tidak ada ulama yang diakui otoritasnya baik dalam masalah fiqh maupun tafsir berpendapat bahwa rambut, leher, betis dan lainnya boleh dibuka.

Mukhlis menyatakan bahwa pendapat yang diambil dari gurunya tersebut tidak memiliki otoritas dalam bidang tersebut. Seharusnya pendapat yang seharusnya diambil gurunya tersebut adalah pendapat dari ulama yang keilmuan tidak diragukan lagi seperti Imam empat madzhab maupun Imam Nawawi yang telah diakui keilmuannya oleh dunia Islam.

Adapun pendapat ulama atau cendikiawan kontemporer yang menjadi rujukan M. Quraish Shihab adalah Muhammad Syahrur,Nawal as Sa’dawi dan Hibah Ra’ûf ‘izzat, serta Muhammad Sa’id al Asymawi. Diantara cendikiawan kontemporer tersebut yang sering dikutip oleh Quraish Shihab adalah Muhammad Sa’id al Asymawi. Dalam hal ini Quraish Shihab menyatakan pendapat yang sama dengan al Asymawi yaitu bahwa perintah memakai jilbab bukan suatu kewajiban. Karena menurutnya ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah kewajiban jilbab sangat terkait dengan konteks tertentu (asbab an Nuzulnya) dan konteks ini hendaknya menjadi pertimbangan utama sebuah keputusan hukum.

Untuk membantah pendapat Asymawi tersebut Mukhlis Hanafi mempunyai dua hal yang perlu kita perhatikan yaitu;

Pertama, rangkaian sebelum dan sesudah ayat jilbab dan hijab dalam surah an-Nûr dan al-Ahzâb, menunjukkan bahwa alasan diwajibkannya memakai jilbab adalah demi al-Hisymah (menjaga kehormatan wanita agar tetap terpuji), bukan sekedar untuk membedakan mana wanita merdeka dan mana yang hamba sahaya.

Kedua, istilah asbab an Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat Alquran), dalam tradisi Ulama Islam tidak dimaksudkan untuk menggambarkan hubungan sebab-akibat (kausalitas), yang berarti kalau peristiwa itu tidak turun, maka ayatnya tidak turun. Tapi lebih berperan sebagai peristiwa/ audio visual (alat peraga) yang mengiringi turunnya ayat. Selain itu, mengkhususkan lafal ayat Al-Quran hanya berlaku pada kasus tertentu, tidak bersifat umum, berarti menzalimi lafal itu sendiri.[7]

Meskipun kelihatannya Mukhlis Hanafi berbeda pendapat dengan gurunya, ia tetap menjalin hubungan baik dengan gurunya tersebut. Dia juga menambahkan bahwa perbedaan pendapat itu biasa, akan tetapi menurutnya harus didasari dengan hujjah dan kritik ilmiah, bukan emosional. Hal tersebut ditunjukkan oleh M. Quraish Shihab, meski dirinya mengkritik, namun gurunya tidak sakit hati malahan Mukhlis Hanafi termasuk orang kepercayaan gurunya tersebut.

  1. Adian Husaini
  • Biografinya

Adian Husaini lahir di Bojonegoro tanggal 17 Desember 1965. Dia adalah Ketua Dakwah Islamiyah Indonesia, Sekretaris Jendral Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama dan Indonesia (KISP-MUI), Anggota Komisi Kerukunan Umat beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan anggota pengurus Majelis Tabligh Muhammadiyah.

Adian Husaini memperoleh pendidikan Islamnya dari Madrasah Diniyah Nurul Ilmi Bojonegoro (1981), Pondok Pesantren Ar Rasyid Kendal Bojonegoro (1981-1984), Pondok Pesantren Ulil Albab Bogor (1988-1989), dan Lembaga Pendidikan Bahasa Arab, LIPIA Jakarta (1988). Gelar sarjananya dibidang Kedokteran Hewan diraih dari IPB, sedangkan gelar Master dalam bidang hubungan International diperoleh dari Pasca Sarjana Program Hubungan International Universitas Jayabaya Jakarta, dengan Tesis BerjudulPragmatisme Politik Luar Negri Israel. Saat ini sedang menempuh pendidikan program doktor di Institut of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malasyia (ISTAC-IIUM) dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam.

Salah satu aktivitas ilmiah dan organisasinya adalah sebagai peneliti di Indonesian society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta, Institute for the strudy of Islamic thought and Civilization (INSIST), dan Staf di Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PKTTI-UI) Jakarta.

Ia juga pernah menjadi Guru Biologi, Wartawan Harian Berita Buana Jakarta, Harian Republika Jakarta, dan Analis berita di Radio Muslim FM Jakarta, serta Dosen Jurnalistik dan pemikiran Islam di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Dosen (luar biasa mata kuliah Islamic Worldview) di Pasca Sarjana Program Studi Timur Tengah dan Islam-Universitas Indonesia, dan Pesantren Tinggi (Ma’had ‘Aly) Husnayain Jakarta. Selain itu juga dia menjadi Penulis tetap Program “Catatan Akhir Pekan Adian Husaini” di Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com.

Produktivitasnya dalam menulis buku cukup tinggi dengan kebanyakan karyanya bersifat kontrainformasi terhadap maraknya gerakan Liberalisme Islam (khususnya di Indonesia). Buku yang telah ditulis Adian Husaini telah ditulis lebih dari 20 judul buku diantaranya yaitu: “Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi” (2006). Buku ini terpilih menjadi yang terbaik ke-2 dalamIslamic Book Fair tahun 2007. Pada forum yang sama setahun sebelumnya. Bukunya yang berjudul “Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal” (2006) menjadi buku non-fiksi yang terbaik. Dan buku dia yang lainya yaitu Pragmatisme Politik Luar Negeri Zionis Israel (2003), Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya (2002), dan Pluralisme Agama-agama (DDI, 2006). [8]

  • Kritiknya terhadap M. Quraish Shihab

Dalam diskusi tersebut Adian Husaini menjadi pembicara dalam membedah buku M. Quraish Shihab yang bertempat di Pusat Studi Al Qur’an, Ciputat. Menanggapi pendapat M. Quraish Shihab tersebut Adian Husaini juga menolak pendapat dari bapak Quraish yang mengatakan bahwa masalah jilbab adalah masalah khilafiyah. Padahal menurut Adian Husaini perbedaan pendapat mereka itu tidak terlepas dari apakah muka dan telapak tangan, telapak kaki dan sebagian tangan sampai pergelangan tangan jika ada hajat yang mendesak.

Menurutnya lagi bahwa kesimpulan yang dikemukakan oleh M. Quraish Shihab yang menyatakan bahwa jilbab adalah masalah khilafiyah, seyogyanya perlu diklarifikasi lagi karena perbedaan mereka tidak lebih dari apakah muka dan telapak tangan wajib ditutup, dan ulama sepakat bahwa bagian yang boleh nampak hanyalah muka dan telapak tangan.[9]

Adapun yang menurut M. Quraish Shihab bahwa konsep “aurat wanita” dalam Islam bersifat “kondisional”, “local” dan “temporal”. Adian Husaini mengatakan bahwa kesimpulan itu cukup riskan karena bisa menimbulkan penafsiran baru terhadap hukum-hukum Islam lainnya sesuai dengan asas lokalitas, seperti yang banyak dilakukan sejumlah orang dalam menghalalkan perkawinan antara Muslimah dengan laki-laki non Muslim dengan alasan QS. Al Mumthahanah [60]: 10 hanya berlaku untuk kondisi Arab waktu itu, karena rumah tangga Arab didominasi oleh laki-laki. Sedangkan sekarang, karena wanita sudah setara dengan laki-laki di rumah tangga-sesuai dengan perinsip gender equlity –maka hukum itu sudah tidak relevan lagi. Dari pendapat ulama yang otoratif dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang aurat wanita dan pakaian wanita bersifat universal berlaku untuk semua Mukminat.

  1. Aep Saipullah Darusmanwiati, S Ag.
  • Biografinya

Aep Saipullah Darusmanwiati merupakan Mahasiswa asal Ciamis yang sekarang sedang menyelesaikan Thesis di Pasca Sarjana Universitas al Azhar Kairo Jurusan Ushul Fiqh. Selain itu beliau juga merupakan Penasehat Perwakilan PERSIS Mesir.

  • Kritiknya terhadap M. Quraish Shihab.

Aep Saipullah dalam menanggapi hasil penafsiran M. Quraish Shihab memberikan beberapa catatan penting buat Quraish Shihab diantaranya:

Pertama, M. Quraish Shihab dalam bukunya tersebut banyak menghidangkan pendapat pakar tentang persoalan jilbab tanpa menetapkan satu pilihan yang jelas. Sebagaimana pernyataan beliau bahwa “hingga saat itu penulis belum lagi dapat mentarjihkan setelah dari sekian pendapat yang beragam itu”.[10]

Menurut Saipullah kata “itu” mempunyai banyak pemahaman atau tafsir namun, paling tidak mengisyaratkan bahwa Quraish belum mentarjih salah satunya. Terlebih harus diakui, dalam radd kepada ulama dahulu, atau ketika mengungkapkan tafsiran baru, Quraish tidak menyebutkan siapa cendikiawan yang berpendapat seperti itu. Sehingga hal itu menimbulkan praduga bahwa sesungguhnya pendapat tersebut adalah pendapat Quraish. Beliau juga dalam hal ini untuk terlepas dari perdebatan pendapat tersebut beliau menggunakan kalimat ‘sementar ulama’ atau ‘Sementara cendikiawan’ atau ‘Sementara orang’.

Kedua, kekurangtepatan M. Quraish Shihab dalam mengutip atau menyandarkan pendapat. Di dalam kata pengantar M. Quraish Shihab menulis bahwa Imam Syatibi dalam bukunya al Muwafaqat mengatakan bahwa Syari’ah itu ummiyah. Dan yang dimaksud dengan syari’ah ummiyah adalah bahwa Syari’ah harus dipahami sebagaimana pemahaman para sahabat Nabi saw.[11] Padahal sebenarnya menurut Saipullah syari’ah ummiyah yang dimaksud oleh Imam Syathibi adalah syariah agama Islam ini dapat dipahami oleh siapa saja, tidak memerlukan perangkat ilmu seperti matematika, kimia dan lainnya.

Selain itu, menurut Aep Saipullah bahwa di dalam buku Quraish tersebut banyak mengutip dari pendapat Muhammad Sa’id Asymawi. Apalagi ketika beliau mengemukakan argumen dari beberapa pendapat cendikiawan kontemporer maka, sangat jelas kita akan mendapati bahwa beliau banyak megutip pendapat dari Muhammad Sa’id Asymawi yang diambil dari buku Asymawi yang berjudul Haqiyatul Hijab wa Hujiyatul Hadis[12] yaitu sekitar 20% dari bukunya. Baik yang disebutkan bahwa itu adalah pendapat Asymawi maupun tidak. Diantara pendapat Asymawi yang tidak disebutkan oleh Quraish Shihab yaitu di dalam bukunya pada halaman 2 ketika beliau menyebut “sebagian pakar” ketika beliau menyatakan bahwa:

Salah satu faktor yang juga diduga sebagai pendorong maraknya pemakaian jilbab adalah faktor ekonomi. Mahalnya salon-salon kecantikan serta tuntutan gerak cepat dan praktis menjadikan sementara perempuan memilih jalan pintas dengan mengenakan jilbab. Demikian pandangan sementara pakar.

Menurut Syaipullah kemungkinan kata “sebagian pakar” tersebut adalah Muhammad Sa’id Asymawi. Karena hal itu nampak di dalam buku Asymawi pada halaman 31.

Di halaman 3 Quraish Shihab menyebutkan bahwa

Ada juga yang menduga pemakaian jilbab adalah simbol pandangan politik yang pada mulanya diwajibkan oleh kelompok-kelompok Islam guna membedakan sementara wanita yang berada pada panji-panji kelompok-kelompok itu dengan wanita-wanita muslimah yang lain atau yang non Muslimah. Lalu kelompok ini berpegang teguh dengannya sebagai simbol mereka. Sebagaimana dilakukan oleh sementara pria yang memakai pakaian yang longgar dan panjang (ala Mesir atau Saudi Arabia) atau ala India dan Pakistan dan menduga bahwa itu adalah pakaian Islami.

Pernyataan tersebut diambil dari buku Muhammad Sa’id Asymawi pada halaman 3.

Selain itu juga pada halaman 158 disebutkan bahwa:

Dalam masyarakat Mesir Kuno, rambut dianggap sebagai sumber kekuatan manusia dan pertanda keperpakasaannya. Para pemuka agama Mesir kuno-baik pria maupun wanita enggan menghadap Dewa yang mereka sembah dalam keadaan menampakkan tanda keperkasaan itu. Karena itu, mereka tampil gundul tanpa sehelai rambut pun”.

Pernyataan tersebut juga diambil di dalam buku Asymawi pada halaman 71-72.

Demikian juga ketika Quraish Shihab mengupas tentang rambut pada agama Yahudi dan Nasrani pada halaman 158, juga diambil dari buku Muhammad Sa’id Asymawi pada halaman 72.

Ketiga, kekeliruan dalam penerjemahan istilah-istilah seperti tangan dan telapak tangan.

Bukti kekeliruan tersebut dapat dilihat di dalam buku beliau tentang jilbab dihalaman 50. pada halaman tersebut beliau menulis bahwa: “Memikirkan bukan menganjurkan untuk menerapkannya-karena betapapun seperti tulis Imam Qurtubi sebagaimana Penulis akan kutip nanti-memakai jilbab dengan hanya membuka wajah dan tangan, adalah pandangan yang lebih baik dalam rangka kehati-hatian”.

Dari pernyataan tersebut, terkesan bahwa Imam al Qurtubi membolehkan seorang wanita untuk menutup wajah dan kedua tangannya (bukan telapak tangan) karena bukan aurat. Tetapi pada lembaran lain yaitu pada halaman 173, beliau menulis “… sehingga mufassir dan pakar hukum al Qurtubi mengatakan bahwa pendapat yang mengecualikan wajah dan telapak tangan dari tubuh perempuan yang harus ditutup, merupakan pendapat yang lebih kuat atas dasar kehati-hatian”.

Dari kedua halaman tersebut nampaknya Quraish Shihab kurang hati-hati dalam mengutip. Di halaman 50 disebutkan tangan sedangkan di halaman 173 ditulis telapak tangan. Tentu hal ini sangat besar akibat hukumnya. Apabila yang pertama diambil berarti Imam al Qurtubi membolehkan wanita untuk membuka wajah dan tangannya dari ujung jari sampai sebelum bahunya karena bukan aurat.

Akan hal itu menurut Aep Saipullah ada baiknya kita merujuk kepada buku aslinya atau Ta’shil Maraji’ yaitu tafsir yang berjudul al Jami’ Li Ahkam al Qur’an . Di dalam tafsirnya tersebut, Imam al Qurtubi tidak mengatakan bahwa yang boleh terbuka adalah muka dan tangan. Akan tetapi beliau mengatakan sebagaimana disebutkan Quraish pada halaman 173, bahwa Imam al Qurtubi membolehkan terbukanya wajah dan telapak tangan. Hal itu dapat dilihat langsung dari Kitab tafsir al Qurtubi yaitu:

فهذا أقوي في جانب الاحتيط : والمراعاة فساد الناس فلاتبدي المرأة من زينتها إلا ماظهر من وجهها وكفيها[13]

Kata كفيها inilah yang diartikan dengan telapak tangan. Seandainya yang dimaksud adalah tangan mesti di dalam tafsir tersebut adalahيد
Hal yang sama juga terjadi ketika Quraish mengutip pendapat dari Ibnul Araby melaui Tafsir Ibnu Asyur yaitu Tafsir at Tahrir wat Tanwirketika menjelaskan perhiasan yang bersifat Khilqiyah/ melekat yaitu pada halaman 70 yang menyebutkan bahwa

Hiasan Khilqiyah yang dapat ditoleransi adalah hiasan yang bila ditutup mengakibatkan kesulitan bagi wanita seperti wajah, kedua tangan dan kedua kaki, lawannya adalah hiasan yang disembunyikan/ harus ditutup seperti bagian atas kedua betis, kedua pergelangan, kedua bahu, leher dan bagian atas dada dan kedua telinga.

Dari pemaparan tersebut nampaknya bahwa Ibnul Araby membolehkan kedua tangan tidak ditutup karena apabila tertutup akan mengakibatkan kesulitan bagi wanita. Hanya saja, sayangnya, Quraish dalam hal ini menukil pendapat Ibnul Araby melalui tâfsir Ibnu Asyur yaitu Tafsir at Tahrir wat Tanwir, bukan langsung ke Tafsir Ibnul Araby-nya yaitu Ahkamul Qur’an. Menurut Syaipullah kalau kita merujuk kepada buku asal muasal pendapat tersebut yaitu Tafsir Ibnul Araby[14] maka kita akan mendapati kekeliruannya dalam menterjemahkan[15] كَفًّا(Kaffan) yang seharusnya diterjemahkan dengan “kedua telapak tangan” malah diterjemahkan dengan “kedua tangan”, yang tentunya akan berakibat hukum yang sangat jauh dan besar. Agar kita tidak penasaran marilah kita lihat tafsir Ibnul Araby tersebut yaitu sebagai berikut:

واختلف في الزينة الظاهر على ثلاثة أقوال:

الأول: انها ألثياب, يعني أنّها يظهر منها ثيابها خاصة. قاله ابن مسعود

الثاني: الكحل والخاتم, قاله ابن مسعود والمسوار

الثالث : أنه الوجه والكفان[16]

Menurut Saipullah lagi, mana mungkin Ibnul Araby mengatakan bahwa wanita boleh menampakkan wajah dan kedua tangan boleh terbuka sementara dalam kesempatan lain, ia malah mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang harus ditutupi termasuk kedua telapak tangan dan wajahnya.[17]

Kesalahan yang sama juga terjadi pada catatan kaki buku Quraish pada halaman 97 yaitu bahwa: “Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam keadaan berihram perempuan harus membuka wajah dan tangannya”. Dalam hal ini Saipullah memberikan dua catatan untuk Quraish diantaranya; pertama, tidak tepat kalau disebutkan, bahwa jumhur ulama mengharuskan wanita dalam keadaan berihram untuk membuka wajah dan tangannya. Yang tepat adalah wajah dan kedua telapak tangan. Kedua, kata ‘harus’ dalam pernyataan buku tersebut juga kurang tepat. Karena walaupun mayoritas ulama mentidakbolehkan wanita yang sedang ihram untuk menutup kedua telapak tangannya, dan memakai cadar, niqab, namun para ulama tidak melarang untuk menutup wajah dengan jalan isdal.[18]

Selain itu, ada Satu lagi pendapat M. Quraish Shihab yang dikritiknya yaitu bahwa ‘jiwa kritis dan skeptis sangat dibutuhkan terhadap apa yang diungkapkan oleh para ulama yang salah satunya adalah ketika para ulama mengatakan bahwa satu masalah sudah ijma’. Hal itu menurut Saipullah dapat diatasi dengan mengecek ke buku-buku yang mengumpulkan perkara-perkara yang apakah sudah dianggap ijma’ yaitu pada buku-buku Ushul diantaranya yaitu al Ihkam karya Ibnu Hazm, al Ihkam karya al Amidy, al Mustasyfa karya Imam al Gazali, dan lain-lain. Hal itu juga dapat dilihat dalam buku Maratibul Ijma’ karya Ibnu Hazm, al Ifshah karya Ibnu Hubairah, al Ijma’ karya Ibnu Mundzir, Mausua’ah al Ijma’ karya Sa’id Abu Jaib dan Imam Ibnu Mundzir an Naisabury dalam karyanya berjudul al Ijma’: Ma Ajma’a ‘Alaihil Fuqaha Minal Ahkam al Fiqhiyyah. Buku inilah yang merupakan rujukan yang harus dijadikan pegangan oleh mereka para pengkaji hukum ketika hendak membuktikan apakah betul sudah terjadi ijma’ dalam masalah tersebut ataupun tidak.

Ada suatu hal yang menjadi heran bagi Aep Saipullah yaitu ketika Quraish Shihab mengambil kesimpulan yang diambil dari Forum Pengkajian Islam Syarif Hidayatullah pada bulan Maret 1988 yang berbunyi: “Tidak menunjukkan batas aurat yang wajib ditutup menurut hukum Islam dan menyerahkan kepada masing-masing menurut situasi, kondisi dan kebutuhan”[19] dari kesimpulan yang diberikan oleh Quraish Shihab tersebut timbul satu pertanyaan kenapa beliau tidak mengambil atau mengutip pendapat dari hasil keputusan Lajnah Fatwa al Azhar atau Kuwait, Darul Ifta Mesir yang keabsahannya lebih dapat dipertanggunggjawabkan. Meski demikian menurutnya bahwa Quraish Shihab tidak sependapat dengan kesimpulan di atas.

Adapun kalau kita melihat hasil keputusan Lajnah Fatwa al Azhar yang diterbitkan melalui majalah al Azhar, Juz III, edisi ke 67, bulan Rabiul Awwal tahun 1415 H/ Agustus/September 1994 pada halaman 275-279 disebutkan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Hal ini didasarkan pada dalil Alquran, Sunnah, dan Ijma’.[20]

Aep Saipullah dalam hal ini juga menggaris bawahi bahwa perbedaan para ulama yang dikemukakan oleh Quraish Shihab dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Para ulama telah sepakat bahwa wanita wajib menutup seluruh tubuhnya selain muka dan kedua telapak tangannya, tentu termasuk di dalamnya rambut dan yang lainnya.
  2. Mengenai apakah muka dan telapak tangan adalah aurat atau tidak sehingga apakah wajib untuk di tutup atau tidak, terjadi perbedaan pendapat. Meski demikian mereka, mereka beranggapan bahwa muka dan kedua telapak tangan bukanlah aurat, menganjurkan (Sunnah saja), atau membolehkan wanita untuk menutup juga muka dan kedua telapak tangannya terlebih apabila dikhawatirkan akan banyak menimbulkan fitnah.
  3. Tidak ada satupun, dari para ulama yang menyerahkan batasan aurat ini kepada keadaan atau kondisi masing-masing, sebagaimana tidak ada yang berpendapat selain dari kedua telapak tangan dan wajah. Misalnya rambut, betis, leher, bukan aurat. Semua sepakat semua itu aurat yang wajib ditutup.
  4. Dalam keadaan darurat, darurat disini bukan kebutuhan sebagaimana sering disebut oleh Quraish Shihab dalam buku jilbabnya, seseorang diperbolehkan melihat aurat lainnya dengan tentu menurut batasan-batasan tertentu ditambah setelah memenuhi persyaratan yang telah dibahas oleh para ulama dalam buku-buku fiqh.

Ada beberapa buku tambahan sebagai bahan perbandingan dalam membaca buku M. Quraish Shihab menurut Aep Saipullah yaitu:

  1. Muhammad Nashruddin al Albany, Hijabul Mar’ah al Muslimah Fil Kitab was Sunnah, al Maktab al Islamy, Beirut, Cet. Ke-8, 1987.
  2. Muhammad Nashruddin al Albany, Jilbabul Mar’ah al Muslimah fil Kitab Was Sunnah, Maktab al Ma’arif, Riyadh, 2002. (isi buku sama dengan buku Hijabul Mar’ah al Muslimah Fil Kitab was Sunnah).
  3. Musthafa as Shiba’I, al Mar’ah Bainal Fiqh wal Qanun, Dar as Salam, Kairo, 2006.
  4. Muhammad Baltagi, Makanatul Mar’ah fil Qur’an al Karim was Sunnah ash Shahihah,Dar as Salam, Cet. III, 2005.
  5. Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, al Albisah wa az Zinah, Dar as Salam, Kairo, 2006.
  6. Abdul Halim Muhammad Abu Syuqqah, Tahrirul Mar’ah fi Ashrir Risalah, Dar al Kalam, Kuwait, Cet. VI, 2002.
  7. Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, Hijabul Mar’ah wa Libasuha fi as Shalah, al Maktab al Islamy, Beirut, Cet. VI, 1985.
  8. Abu Abdullah Musthafa bin al adway, al Hijab: Ahkamun Nisa fi Sual wa Jawab, Dar Ibn Affan, Kairo, 2002.
  9. Muhammad Ahmad Ismail al Muaqaddam, Adullatul Hijab: Bahtsun Jami’un li Fadhailil Hijab wa Adillah Wujubihi war Radd ‘Ala Man Abahas Sufur, Dar al Iman, Iskandariah, 2002.
  10. Muhammad al Gazhali, Qadhayal Mar’ah Bainat Taqalid ar Rakidah wal Wafidah, Dar as Syuruq, Kairo, Cet. VIII, 2005.
  11. Sua’ad Ibrahim Shalih, Qadhayal Mar’ah al Mua’shirah: Ru’yah Syar’iyyah wa Nadhrah Waqi’ah, Maktabah at Turats al Islamy, Kairo, 2003.

Menanggapi berbagai kritikan cendikiawan muslim tersebut Quraish Shihab berusaha bersikap tenang dengan menyatakan bahwa apa yang dikemukakannya berkenaan dengan ketidakharusannya berkenaan dengan jilbab adalah karena beliau hanya mengemukakan berbagai macam pendapat pakar tentang jilbab tanpa menentukan suatu pilihan atau belum bisa mentarjih berbagai macam pendapat. Hal tersebut karena apabila menghidangkan satu pendapat saja disamping dapat mempersempit dan membatasi seseorang, juga berbeda dengan kenyataan bahwa hampir dalam semua persoalan rinci keagamaan Islam ditemukan keragaman pendapat dan juga hal itu sejalan dengan redaksi Alquran dan hadis yang sungguh menampung aneka pendapat.

Begitu juga berkenaan nasehat beberapa teman Quraish Shihab agar jangan diterbitkan buku jilbab tersebut karena khawatir jangan sampai timbul kesalahpahaman dan tuduhan serta caci maki dari sementara kalangan sebagaimana pernah dialami Nâshruddin al Albâni yang menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat. Dari nasehat yang ditujukan kepada Quraish Shihab tersebut beliau mengucapkan terimakasih dan atas nasehatnya dan beberapa kritiknya, sambil memohon ma’af tidak bisa mengabulkan permintaan mereka dengan alasan-alasan yang dikemukakannya tersebut.[21]

Analisis Terhadap Penafsiran M. Quraish Shihab dan Kritik Cendikiawan Muslim Terhadap Penafsirannya.

Menurut M. Quraish Shihab ayat-ayat tentang batasan aurat dan jilbab yaitu di dalam QS. Al Ahzab [33]: 59, QS. Al Ahzab [33]: 53 dan QS. An Nûr [24]: 30-31 tidak memiliki ketegasan hukum atau dalil tersebut tidak qath’i karena apabila sesuatu masih bersifat Zhan maka dalil tersebut tidak dapat dijadikan ketetapan hukum. Hal tersebut dapat dilihat menurutnya banyaknya perbedaan ulama baik dalam pengertian jilbab itu sendiri maupun dari batasan-batasan mana yang boleh ditampakkan kepada yang bukan mahram. Dalam hal ini mereka masih berbeda pendapat tentang pemahaman ayat berikut ini :

Ÿwur šúïωö7ム£`ßgtFt^ƒÎ— žwÎ) $tB tygsß $yg÷YÏB

Walaupun mereka berbeda pendapat tentang bagian mana yang harus nampak, tetapi perbedaan mereka tidak jauh berkisar antara apakah wajah dan telapak tangan saja yang boleh dilihat atau seluruh tubuh wanita adalah aurat. Bukan sampai apakah rambut juga bagian yang nampak. Memang kita sadari bahwa ada juga ulama yang menganggap rambut bukan aurat yaitu Muhammad Sa’id Asymawi. Akan tetapi ulama tersebut tidak memiliki otoritas dalam bidang hukum fiqh sehingga tidak dapat kita jadikan pegangan.

Dari beberapa Penafsiran M. Quraish Shihab tersebut yang dianggap ganjil oleh beberapa kalangan, akhirnya penafsiran beliau tersebut dikritik para cendikiawan muslim yang penulis kemukakan di atas tadi. Adapun kritik mereka antara lain:

Pertama, Mereka sepakat bahwa ayat-ayat tentang jilbab yaitu QS. An Nûr [24]: 31 dan QS. Al Ahzab [33] tersebut sudah merupakan dalil kuat yang menunjukkan batas aurat wanita, yaitu seluruh tubuh wanita, kecuali yang biasa nampak yaitu muka dan telapak tangan. Perbedaan mereka hanya terletak pada apakah boleh wajah dan telapak tangan boleh dibuka. Bukan sampai bolehnya membuka rambut.

Kedua, apabila konsep aurat wanita dalam Islam bersifat “Kondisional”, “Lokal” dan “Temporal”. Maka, dampaknya akan membuka pintu bagi “penafsiran baru” terhadap hukum-hukum Islam lainnya sesuai asas lokalitas, seperti yang sekarang banyak dilakukan sejumlah orang dalam menghalalkan perkawinan antara muslimah dengan laki-laki non Muslim dengan alasan QS. Al Mumthahanah [60]: 10 hanya berlaku untuk kondisi Arab waktu itu, karena rumah tangga Arab didominasi oleh laki-laki. Sedangkan sekarang karena wanita sudah setara dengan laki-laki dalam rumah tangga-sesuai dengan konteks gender equlity maka hukum itu sudah tidak relevan lagi.

Ketiga, Mereka juga menyayangkan sikap M. Quraish Shihab tidak merajihkan beberapa pendapat yang diutarakannya dan beliau hanya memberikan berbagai macam pendapat yang terserah orang, mana yang hendak dipakai.

Keempat, Mereka mengkritik Quraish Shihab bahwa di dalam beberapa penafsirannya tersebut beliau banyak mengutip pendapat ulama yang tidak memiliki otoritas dalam bidang fiqih seperti Muhammad Said Asymawi, Muhammad Syahrur, dan Nawal as Sa’dawi. Dan di dalam tersebut pak Quraish secara tidak langsung sependapat dengan pada cendikiawan kontemporer tersebut.

Kelimadalam menafsirkan ayat-ayat tentang jilbab ini beliau tidak melakukan Ta’shil Maraji’ merujuk kepada buku aslinya langsung sehingga banyak didapati kesalahan dalam pengutipan contohnya kata “Kaffan” diartikan dengan tangan seharusnya telapak tangan.

Keenam, mereka sepakat bahwa ayat tentang jilbab itu sudah merupakan kewajiban karena Asbab an Nuzul ayat tersebut sudah menunjukkan adanya sebab akibat adanya perintah tersebut.

Dalam hal ini penulis sependapat atas kritikan-kritikan cendikiawan muslim yang dilontarkan kepada M. Quraish Shihab tersebut karena dari penafsiran Quraish tersebut dapat dinetralkan mana pendapat yang lebih rajih dari beberapa ulama yang diakui otoritasnya. Memang dalam buku beliau tentang jilbab tidak secara kongkrit menyatakan bahwa rambut bukan aurat. Akan tetapi di dalam bukunya tersebut ada beberapa indikasi yang mengarah kepada hal tersebut, seperti pertama, dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam pada Pemikiran dan Peradaban bahwa: “Menyangkut jilbab misalnya, Quraish Shihab menyatakan ketidakharusannya”. Kedua, pada buku jilbab yaitu

……bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, menjalankan bunyi teks ayat itu, bahkan mungkin berlebih. Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan sebagian tangannya, bahwa mereka “secara pasti telah melanggar petunjuk agama. “Bukankah Alquran tidak menyebut batas aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.[22]

Ketiga, pada hadis Nabi saw., yaitu:

لاتقبل الصلاة الحائض إلا بخمار

Berkenaan dengan hadis tersebut M. Quraish Shihab menyatakan bahwa

Betapapun, hadis di atas tidak dapat dijadikan alasan untuk mewajibkan pemakaian kerudung bagi wanita di luar shalat. Menutup seluruh kepala baru menjadi wajib, jika kita menilai shahih hadis dari ‘Âisyah ra., yang mengecualikan hanya wajah dan telapak tangan wanita yang ditoleransi yang boleh terbuka.[23]

Sebenarnya M. Quraish Shihab dalam hal ini bersifat lunak dan bersifat netral terhadap beberapa pendapat yang diutarakan oleh beberapa ulama baik ulama masa lalu maupun masa kini buktinya Quraish Shihab tidak mau menyalahkan pendapat yang mengatakan bahwa rambut aurat atau perempuan yang tidak memakai kerudung sudah keluar dari ajaran agama begitu juga bagi perempuan yang sudah memakai kerudung, agar mereka tidak serta merta menanggalkan kerudungnya. Namun sekali lagi kita katakan bahwa walaupun mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim akan tetapi diantara kita menginginkan hukum yang praktis atau tegas. Karena masih banyak diantara kita yang ajaran agamanya yang masih kurang, yang akibatnya terjadi kebingungan dalam menjalankan ajaran agama. Beda dengan orang yang sudah mempunyai ilmu agama yang cukup dan mempunyai basic keagamaan yang memadai tentunya hal itu bisa dapat dipilah-pilah mana pendapat yang sesuai dengan ajaran agama atau pendapat yang lebih kuat.

Pada persoalan apakah rambut bukan aurat Ibnu Qayyim pernah ditanya tentang hal itu beliau mengatakan bahwa diantara fitnah yang besar dan perang pikiran yang dimasukkan ke Dunia Umat Islam adalah mengubah masalah-masalah yang meyakinkan dalam Islam menjadi masalah-masalah yang diperdebatkan. Seperti apakah rambut termasuk aurat. Para ulama sudah sepakat dalam hal ini bahwa aurat bagi wanita adalah selain wajah dan telapak tangan. Mereka yang berpendapat bahwa rambut bukan aurat adalah memaknai kata khumur dengan penutup segala sesuatu. Bukan menutup rambut. Padahal asbab an Nuzul ayat tersebut sudah jelas bahwa khumur disana adalah penutup kepala.[24]

Menurut penulis walaupun ayat-ayat yang berkenaan dengan jilbab tersebut masih diperselisihkan hukumnya, akan tetapi perintah berjilbab merupakan bukti kasih sayang Allah swt., kepada wanita agar mereka terlindungi dari para lelaki yang ingin melakukan perbuatan usil kepadanya. Karena di dalam diri wanita tersimpan suatu keindahan yang menarik untuk laki-laki.

Walaupun kelihatannya penafsiran M. Quraish Shihab tersebut berseberangan dengan ulama-ulama terdahulu, namun beliau juga menyepakati bahwa ada beberapa aturan bagi wanita dalam hal berpakaian yaitu: jangan ber-tabarruj, jangan mengundang perhatian pria, jangan memakai pakaian transparan, dan jangan memakai pakaian yang menyerupai pakaian laki-laki.

Hal yang sama juga dalam berpakaian di ungkapkan oleh Abu al Ghifari ketika mengutip pendapat Syekh Nasirudin Al Albani dalam bukunya “Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah fil Kitabi was Sunnati” ada delapan syarat yang harus dipenuhi dalam berjilbab yaitu:

  1. Menutup seluruh badan selain yang dikecualikan yaitu pada QS. An Nûr [24]: 31. yang dikecualikan tersebut adalah wajah dan telapak tangan. Dan juga QS. Al Ahzab [33]:59.
  2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan. Sebagaimana firman Allah QS. An Nur: 31. fungsi jilbab disini adalah pelindung wanita bagi godaan laki-laki. Dan juga tidak boleh berlebihan dalam mengikuti trend mode tertentu. Berkenaan dengan trend berpakaian ini banyak perempuan yang kurang benar dalam hal berpakaian dan mereka tidak sadar bahwa itu adalah pakaian orang zaman jahiliah dahulu. Khususnya dalam halnya berjilbab sebagaimana pernyataan Muhammad bin Muhammad ‘Âli bahwa “Wanita di Tanah ‘Arab pada zaman jahiliah dahulu mendedahkan ‘aurat mereka lebih jurang seperti wanita modern. Ada diantara mereka yang menutup kepala dan belakang leher, tetapi membukakan muka, depan leher dan dada.[25]
  3. Kainnya harus tebal, tidak tipis. Sebagaimana hadis Nabi yaitu: Bahwa Asma binti Abi Bakar masuk kerumah Rasul dengan mengenakan pakain tipis, maka Rasullulah bersabda: “Wahai Asma, Sesungguhnya wanita yang telah Haid (baligh) tidak diperkenankan untuk dilihat dari padanya kecuali ini dan ini, dengan mengisyaratkan wajah dan telapak tangan”. (HR. Abu Daud).
  4. Harus Longgar, tidak ketat, sehingga tidak menggambarkan sesuatu dari tubuhnya. Sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Abu Nu’aim bahwa Fatimah Putri Rasullulah pernah berkata kepada Asma: “Wahai Asma! Sesungguhnya Aku Memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan bentuk tubuhnya.
  5. Tidak diberi wewangian atau parfum. Sebagaimana hadis Nabi yaitu: “Siapapun perempuan yang memakai wewangian. Lalu ia melewati kaum laki-laki agar ia menghirup wanginya, maka ia sudah berzina” (HR. Muslim).
  6. Tidak Menyerupai laki-laki. Sebagaimana hadis Nabi yaitu: “Rasullulah melaknat pria yang menyerupai pakain wanita yang menyerupai pakaian wanita dan wanita yang menyerupai pakain laki-laki. (HR. Abu Daud).
  7. Tidak menyerupai pakain pakain wanita Kafir. Sebagaimana hadis Nabi yaitu: “Janganlah kalian memakai pakaian para Pendeta, karena barang siapa memakai pakaian mereka atau menyerupai diri dengan mereka, bukan dari golonganku.”. (HR. at Tabrani)
  8. Bukan Libas Syuhrah (Pakaian Popularitas), Sebagaimana hadis Nabi yaitu:“Barangsiapa memakai pakaian Syuhrah (untuk mencari popularitas) di Dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada hari kiamat,kemudian membakarnya dengan api Neraka”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)[26]

[1] Adian Husaini, “Jilbab: M Quraish Shihab”, Suara Hidayatullah, XXIV, 7 (November, 2006), h. 92-93. dan juga padaPakaian dan Perhiasanwww.hidayatullah.com, 23 sepetember 2006. Berkenaan dengan biografi Eli Maliki ini penulis tidak banyak mendapatkan keterangan tentang beliau, sehingga penulis hanya memuat biografi beliau seadanya saja.

[2] Cadar,http://www.mambaussholihin.com/forum/forum3.php?category_id=5&topic_id=47, diakses tanggal 3 Juni 2008.

[3] Pernyataan Quraish Shihab berkenaan tentang jilbab bahwa jilbab bukan kewajiban atau bisa juga dalam hal ini dalam hal ini ketidakharusan bisa juga dapat dilihat dari Ensklopedi Tematis Dunia Islam, Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2002) h. 56.

[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al Qur’anop.cit, Vol. 15, h.333.

[5] Adian Husaini, op.cit., h. 93.

[6] Bahrul Ulum, “Dr. Muhlis Hanafi Bintang Muda Tafsir Al-Qur’an”, Suara Hidayatullah, XX, 1 (Mei, 2007), h. 53.

[7] Adian Husaini, “Mengkritik Quraish Shihab”,http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3160&Itemid=55, 21 Mei 2006.

[8] Adian Husaini, http://www.immasjid.com/?=lihat&id=391, di akses pada tanggal 11 April 2008.

[9] Adian Husaini, op.cit., h.33.

[10] M. Quraish Shihab, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendikiwan Kontemporer, op. cit.,h. 4.

[11]Aep Saipullah Darusmanwiati,http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3732&Itemid=60 ,di akses pada 18 Oktober 2006.

[12] Buku Muhammad al Asymawi tersebut sekarang telah diterjemahkan oleh Nong Darol Mahmada. Dengan judul Kritik Atas Jilbab yang diterbitkan oleh JIL pada bulan April 2003. di dalam buku tersebutlah Asymawi mengkritik secara tajam tentang jilbab. Menurut penulis buku tersebut bisa terbit dan bisa dipasarkan kepada masyarakat karena penerbitnya adalah dari JIL yang berpikiran liberal yang pendapatnya selalu berseberangan dengan ulama-ulama kita. Seandainya saja buku tersebut diterbitkan oleh penerbit yang Islami tentunya buku tersebut tidak diterbitkan karena buku tersebut sepertinya melegalkan perempuan yang tidak memakai jilbab.

[13] Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al Anshari al Qurtubi, al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, (Beirut: Darul Fikr, 1995M/ 1415H), Jilid 6, h. 212.

[14] Alasan Kenapa Aep syaipullah langsung merujuk kepada tafsir Ibnul Araby karena beliau tidak mendapatkan buku tafsir Ibnu Asyur yaitu Tafsir at Tahrir wat Tanwir.

[15] Di dalam kamus al Munawwir juga disebutkan bahwa kata كَفًّ berarti: “telapak tangan”.

[16] Abi Bakr Muhammad bin Abdillah al Ma’ruf bin Ibnu Arabi, Ahkamul Qur’an, (Darul Fikr: Beirut, t.th), Jilid 3, h. 381.

[17] Aep Syaipullah, loc. cit,.

[18] Isdal adalah memanjangkan kain dari kerudung atau dari kain penutup kepala untuk ditutupkan ke wajah.

[19] Lihat di dalam buku M. Quraish Shihab tentang jilbab pada halaman 166.

[20] Aep Syaipullah Darusmanwiati, loc.cit,.

[21], M. Quraish Shihab, Jilbab Wanita Pakaian Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendikiwan Kontemporer, op. cit.,h. 4-6.

[22] M. Quraish Shihab, Tafsir al Misbah: Pesan, Kesan, Keserasian Al Qur’anop. cit., h. 333.

[23] M. Quraish Shihab, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendikiwan Kontemporer, op. cit.,h. 170.

[24] Yusuf al Qardhawi, Hady Al Islam; Fatawa Mua’ashirah, di terjemahkan oleh H. M.H. al Hamidy al Husaini dengan judul Fatwa-fatwa Mutakhir Yusuf al Qardhawi, (Jakarta: Yayasan al Hamidy, 1995), Jilid I, cet. 2, h. 569.

[25] Muhammad bin Muhammad ‘Âli, Hijab, (Kuala Lumpur: Watan, 1980), cet.IV, h. 28

[26] Abu Al Ghifari, Kudung Gaul: Berjilbab tapi Telanjang, (Bandung: Mujahid Pers, 2003), h. 51-65.

http://jilbabzaini.blogspot.co.id/2008/08/skripsi-kritik-cendikiawan-muslim-atas.html

(Diambil sebagian dari yang Diposkan oleh M. Fahru Zaini S.THidi 19.18, dari skripsi yang berjudul “KRITIK CENDIKIAWAN MUSLIM ATAS PENAFSIRAN M. QURAISH SHIHAB TENTANG AYAT-AYAT JILBAB”.)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.236 kali, 1 untuk hari ini)