Gempa bumi 7,7 skala richter yang mengguncang Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, mengakibatkan tsunami dan korban jiwa.

Guncangan pertama terjadi pada Jumat (28/9) pukul 15.00 Wita di Kota Palu dengan magnitudo 5,9 pada skala richter. Sebelumnya, gempa juga mengguncang Palu pada 22 September 2018 dengan magnitudo 5,1 SR.

Getaran yang dirasakan beberapa detik itu berjarak sekitar 8 kilometer barat laut dari Donggala atau 60 kilometer utara Kota Palu dengan kedalaman 10 kilometer.

Tak lama berselang, gempa kembali mengguncang titik yang sama di Donggala dengan magnitudo 5 SR pada pukul 15.28 Wita. Satu jam kemudian, gempa kembali terjadi pada koordinat yang sama dengan magnitudo 5,3 SR.

Menjelang petang, tepatnya pada pukul 18.02 Wita, guncangan gempa besar terjadi di Donggala. Puncak gempa yang memporak-porandakan Donggala mencapai 7,7 SR. Namun, pusat gempa menjauh dengan jarak 27 kilometer timur laut Donggala.

Selang 15 menit kemudian, guncangan gempa kembali terjadi. Sedikit menurun, kekuatan gempa pada pukul 18.14 Wita mencapai 6,1 SR. Lokasinya berada pada 58 Km timur laut Donggala.

Saat bersamaan, gempa bumi juga menggoyang Kota Palu dengan magnitudo 5,9 SR pada pukul 18.25 WIB. Jaraknya hanya 12 Km arah tenggara Palu.

Akan tetapi, Badan Meteorolgi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian merevisi magnitudo gempa pada pukul 18.02 Wita dari 7,7 SR menjadi 7,4 SR.

Kecamatan Sirenja di Kabupaten Donggala menjadi wilayah yang paling keras merasakan guncangan lantaran wilayah terdekat dengan pusat gempa.

Hingga pukul 22.26 WIB, gempa masih terus terjadi hingga tujuh kali di Donggala dengan magnitudo antara 5,0-5,9 SR. Kedalaman masih sama 10 Km dari atas permukaan laut, dengan jarak semakin menjauh hingga 60 Km barat laut Donggala.

Sumber gempa berasal dari sesar Palu Koro. Berdasarkan analisis peta, guncangan gempa bumi ini dilaporkan dirasakan di daerah Donggala IV MMI, Palu III MMI, Poso II MMI.

Pusat gempa bumi di Kabupaten Donggala dan Kota Palu, Sulawesi Tengah. (BMKG).

Tsunami menerjang pesisir 

Akibat gempa 7,7 SR yang mengguncang Donggala, terjadi gelombang tsunami di sejumlah pesisir pantai Sulawesi Tengah dan Barat. Sejumlah video detik-detik terjadinya gempa dan tsunami yang diunggah masyarakat beredar di media sosial.

BMKG mengaktifkan peringatan dini tsunami akibat gempa bumi 7,7 SR. Diperkirakan, tsunami akan tiba di pesisir pantai yang dekat dengan episentrum gempa. Di Donggala bagian barat, BMKG menetapkan status siaga. Sementara di Donggala bagian utara, Mamuju bagian utara (Sulawesi Barat), dan Kota Palu bagian barat, BMKG menetapkan status waspada.

BMKG juga mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah Sulteng dan Sulawesi Barat. Warga harus dievakuasi pada wilayah berstatus siaga. Masyarakat diarahkan untuk menjauhi wilayah pantai dan tepian sungai.

Benar saja, sejumlah video yang beredar di media sosial menunjukkan terjadi tsunami setelah gempa di Sulteng. Tsunami terjadi di pesisir pantai Donggala, Palu, dan Mamuju, dengan ketinggian gelombang antara 50 centimeter hingga 3 meter pada pukul 18.22 Wita.

“Hasil pengamatan ada kenaikan air muka laut mulai dari 6 cm dari tide gauge di Mamuju pada pukul 17.27 WIB dan terpantau dari saksi mata di lapangan mencapai 1,5 meter di pantai Palu,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat malam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi telah terjadi tsunami di Pantai Talise, Palu, dan Donggala, Sulteng. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho membenarkan video yang beredar di media sosial bahwa tsunami telah menerjang pesisir pantai Sulteng.

BMKG kemudian menyatakan peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 18.36 Wita, atau sekitar setengah jam setelah gempa. BMKG mengamati air semakin surut setelah terjadi tsunami.

“Artinya memang benar tsunami terjadi hingga 1,5 meter namun kejadian tersebut telah berakhir pada pukul 17.36 WIB dan BMKG sudah mengakhiri peringatan dini tsunami,” ujar Dwikorita.

https://www.instagram.com/p/BoRQ7vJgCMU/?utm_source=ig_embed

Korban tewas

Hingga Sabtu (29/9) dini hari, gempa bumi dan tsunami yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, menelan korban tewas 3 orang dan 10 lainnya luka-luka.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Donggala melaporkan untuk sementara, korban tewas dan luka-luka lantaran tertimpa bangunan roboh. Tercatat, puluhan rumah rusak.

Masyarakat panik dan berhamburan ke luar rumah saat gempa terjadi 2-10 detik. Hingga Sabtu pagi, warga Donggala dan Palu masih berada di luar rumah lantaran gempa susulan masih terus berlangsung.

Hingga kini, belum ada laporan kerusakan akibat gempa dan tsunami. Petugas BPBD, TNI, Polri, Basarnas, Pemda, serta relawan, masih melakukan evakuasi dan pertolongan pada korban.

Listrik di Donggala dan Palu mati. Komunikasi selular di wilayah tersebut juga lumpuh lantaran 276 base transceiver station (BTS) tak bisa digunakan.

Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufri Palu ditutup selama 24 jam akibat Aerodrome Control Tower retak dan rusak. Penerbangan komersial dari dan menuju Bandara Mutiara Palu dibatalkan.

Sementara itu, getaran gempa bumi juga dirasakan hingga Samarinda dan beberapa wilayah lain di Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Begitu pula di wilayah Sulawesi Barat, Tenggara, hingga Gorontalo.

Sebuah bangunan pusat perbelanjaan yang roboh akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9). ANTARA FOTO/HO/pras/18.

Gempa bumi membuat sejumlah bangunan di Donggala dan Palu, Sulteng, roboh. (Antara Foto).

Tanggap darurat

Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengoordinasikan penanganan dampak gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Donggala dan Palu.

“Saya juga telah memerintahkan Menkopolhukam untuk mengoordinasikan,” kata Presiden Joko Widodo di Solo, Jumat (28/9), melalui siaran langsung melalui media internet (live streaming) Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden RI.

Presiden Jokowi juga sudah menelepon Panglima TNI dan memerintahkan untuk bersama-sama menangani terutama yang berkaitan dengan penanganan darurat baik pencarian korban, evakuasi dan menyiapkan kebutuhan-kebutuhan dasar yang diperlukan.

“Kita harapkan besok sudah mendapatkan laporan dan informasi yang lebih detail karena memang para menteri, Kepala BNPB belum sampai ke sana, tapi menuju ke sana dan akan kita tunggu sampai besok pagi kira-kira lapangannya seperti apa,” katanya.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan tim evakuasi gabungan sudah bergerak ke wilayah gempa dan tsunami di Donggala dan Palu pada Jumat (28/9) malam, melalui jalan darat karena Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu belum dapat beroperasi.

“Kami kerahkan dahulu pasukan yang dekat dengan daerah bencana seperti dari Gorontalo, Mamuju, Parigi, Makassar,” kata Wiranto dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (29/9) dini hari.

Tim gabungan tersebut terdiri dari TNI dibantu oleh Kepolisian dan relawan. Hingga Sabtu dini hari, kata Wiranto, sambungan komunikasi ke daerah bencana di Donggala dan Palu masih terputus.

Selain itu, truk-truk yang diisi bantuan makanan dan juga alat rumah tangga sudah dikerahkan dari Makassar. Truk itu akan singgah di Parigi, kemudian ke ke Palu. Bersamaan dengan itu, kapal-kapal juga akan dikerahkan untuk bisa mengangkut bantuan ke Palu dan Donggala.

Adapun, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara akan mengirimkan 30 unit telepon satelit ke Donggala dan Palu. Pengiriman puluhan telepon satelit tersebut dilakukan melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI).

Bantuan dari segala penjuru

Senada, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kementerian bergerak cepat melakukan upaya tanggap darurat untuk menangani gempa Donggala.

“Kami lakukan identifikasi sumber daya yang dimiliki Kementerian Sosial dan mengaktivasi sistem penanggulangan bencana bidang sosial, baik bufferstok bantuan darurat, peralatan evakuasi, personel relawan Tagana, maupun kendaraan siaga bencana,” kata Agus Gumiwang.

Mensos juga berkoordinasi dengan Panglima TNI dalam rangka mobilisasi barang bantuan dan peralatan evakuasi yang sudah disiapkan dari Gudang Pusat Kemensos di Bekasi.

Bantuan yang dikirimkan adalah 1.000 kardus makanan cepat saji, 2.000 velbed, 25 tenda serbaguna, 3.000 tenda gulung, 2 paket perlengkapan dapur umum lapangan, 1.000 matras, dan 1.500 kasur.

“Mensos sudah berkoordinasi dengan Panglima TNI yang menyiapkan pesawat hercules untuk pengiriman bantuan darurat dari gudang pusat. Kemensos juga memerintahkan mobilisasi bantuan darurat dari stok yang ada di Gudang Regional Timur di Makassar melalui jalur darat,” katanya.

Bantuan dari Gudang Kemensos Regional Timur tersebut terdiri dari 100 velbed, 2 tenda serbaguna keluarga, 1.500 matras, 3.000 selimut, 200 family kit, 200 kids ware, 100 tenda gulung, 345 food ware, 100 paket sandang.

“Kami juga berkoordinasi dengan Pemda Provinsi Gorontalo karena di gudang Pemda Gorontalo terdapat barang dari Kementerian Sosial yang juga akan dimobilisasi ke daerah bencana,” tegasnya.

Kemensos, kata Menteri Agus, juga mengerahkan 100 relawan Tagana terdiri atas 30 Tagana Provinsi Gorontalo, 30 Tagana dari Sulawesi Barat, dan 40 Tagana dari Sulawesi Selatan. Mobilisasi kendaraan siaga bencana dari daerah penyangga berupa mobil rescue, truk, dan terutama mobil dapur umum lapangan yang bisa memasak cepat dalam jumlah besar.

“Beriringan dengan bantuan yang kami salurkan, saya minta kepada gubernur dan bupati/wali kota terdampak untuk melakukan berbagai langkah cepat guna mengatasi kebutuhan darurat serta menerbitan SK Tanggap Darurat untuk memudahkan penyaluran bantuan dari kementerian dan lembaga,” tegas Menteri.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan makanan dalam kondisi darurat, kementerian melakukan pembelian langsung 3.000 paket lauk pauk di lokasi terdekat yang memungkinkan untuk bisa didistribusikan cepat ke lokasi terdampak.

“Untuk pemenuhan kebutuhan beras, Kemensos sudah menyiapkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dengan ketentuan bupati/wali kota dapat mencairkan langsung ke Bulog setempat sebanyak 100 ton dan provinsi 200 ton. Jika kurang Menteri Sosial bisa langsung memberikan lebih dari itu sesuai kebutuhan,” papar Mensos.

Kementerian Sosial juga menyiapkan santunan untuk ahli waris korban meninggal. Hingga Jumat malam, sebanyak tiga orang dinyatakan meninggal dunia. Kepada mereka akan diberikan santunan sebesar Rp15 juta untuk setiap ahli waris. (Ant).

Sumber : alinea.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 4.449 kali, 1 untuk hari ini)