1 Sabtu, 20 September 2014
Pukul ; 15.15 Wita Saya, Dian Widiastuti (Istri Korban) (19 Th) berada di dalam kamar menemani suami (korban) yang sedang sakit. Saat itu juga bersama anak kami yang masih berusia 19 bulan.
Pukul; 15.25 Wita, Adzan Shalat Ashar berkumandang dari Masjid Desa O’o
Pukul; 15.30 Wita, Kemudian korban beranjak dari tempat tidur ambil air wudhu untuk menunaikan sholat Ashar didalam kamar, sementara itu saya (isteri korban) keteras rumah menenangkan anak saya yang berusia 19 bulan karena sedang menangis dan saya kawatir tangisannya akan mengganggu abinya yang sholat.
Di depan rumah, selain saya juga terdapat Siti Hajar (55 Th) (Ibu Korban) yang sedang memotong kayu bakar untuk persiapan memasak sore itu, dan Mar’atu (25 Thn) (Kakak Korban) yang sedang menumbuk obat tradisional.
Pukul 15:34 Wita, Suami saya baru mulai menunaikan sholat Ashar.
Pukul; 15:36 Wita, Tiba-tiba terlihat datang 3 buah minibus sejenis Avanza berhenti persis didepan rumah (paling depan berwarna putih, tengah berwarna biru langit dan belakang berwarna hitam), bersamaan dengan itu keluar anggota Densus 88 (saksi tidak tau persis jumlah anggota Densus 88 yang ada di Mobil) yang langsung menodongkan senjata kearah kami dan dengan bentakan kami disuruh menjauhi rumah, sementara sebagian anggota Densus 88 masuk dan saat itulah terdengar 3 kali tembakan beruntun dari arah dalam rumah.
Pukul, 15.42 Wita, Sesaat kemudian, pasca suara tembakan terdengar, anggota Densus 88 keluar dari rumah dengan membawa jenazah Nurdin (23 Th) kemudian diangkut ke dalam mobil yang kemudian menuju arah Bima.
Pukul, 15.50 Wita, Setelah kepergian Densus-88, Tim gabungan Kepolisian Resort Dompu dan Brimob Kab. Dompu langsung mengamankan TKP dengan memasang Police Line dan menyisir barang-barang yang dianggap mencurigakan di dalam rumah. Kemudian pak Abdul Muis (40 Th) yang merupakan Pejabat Kesra Desa O’o didatangkan untuk mendampingi polisi dan menjadi saksi bahwa di dalam rumah tersebut terdapat tas pinggang yang diduga berisi BOM. Menurut penuturan Pak Abdul Muis, “pihak kepolisian menemukan tas pinggang tersebut di atas sandal-sandal di samping pintu masuk rumah,yang menurut pihak kepolisian tas tersebut berisi Bom dan langsung diamankan oleh pihak kepolisian”. Tim gegana meledakkan tas pinggang tersebut di depan rumah dan disaksikan oleh masyarakat Desa O’o, suara ledakan yangtidak lebih dari suara mercon murahan. Hal ini mengundang reaksi dan kecaman dari masyarakat bahwa bukti tersebut hasil rekayasa dan kebohongan yang dibuat-buat oleh Densus 88 untuk menghalalkan penembakan terhadap Nurdin. Menurut kesaksian Abdul Muis (Kesra Desa O’o) yang diminta polisi menjadi saksi keberadaan tas yang diduga Bom, mengatakan bahwa keluarga tidak mengakui keberadaan tas tersebut, setelah dikonfirmasi ke istri, kakak dan ibu korban semuanya membantah kepemilikan tas tersebut dan mengatakan sebelum penggerebekan barang-barang tersebut tidak ada didalam rumah. Aksi takbir dan kecaman masyarakat terhadap tindakan polisi yang merekayasa keberadaan barang bukti berlangsung hingga pukul 18.10 Wita
Pukul, 18.10 Wita, Masyarakat membubarkan diri bersamaan dengan dikumandangkannya adzan Sholat maghrib dan anggota Brimob menarik diri kembali ke markas.
Pukul 18:15 Wita, Setelah polisi tidak ada di TKP. Masyarakat berbondong-bondong masuk ke dalam rumah korban, melihat di dalam kamar terdapat bercak darah dan pecahan tulang kepala dari korban.

2 Senin, 22 September 2014
Pukul; 21.00 Wita, Jenazah tiba dirumah duka dengan menggunakan ambulan Rumah Sakit Mataram. Jenazah langsung disambut oleh keluarga dan warga dengan gema takbir saat dimasukan dalam rumah, saat peti jenazah dan kafan dibuka tampak muka korban membengkak dengan lebam kehitaman yang diduga disiram dengan air keras, dan masih tampak dari mulut serta telinga masih mengeluarkan darah segar, serta tampak luka jahitan pada pelipis kanan, dahi, dan mata kiri yang diduga kuat tembusan peluru yang ditembakan dari arah belakang pada saat korban sedang sujud saat sholat, menurut keterangan Siti Hajar (ibu korban) beberapa jam setelah penembakan (20 September 2014) beliau melihat percikan darah di lantai dan tembok bagian bawah serta ceceran otak dan serpihan tulang kepala yang berserahkan dilantai di dalam kamar tempat Nurdin sholat. Sementara anggota badan yang lain seperti badan, tangan dan kaki masih tampak normal seperti orang yang tidur pulas tanpa ada ada lebam mayat dan kaku mayat.

3 Selasa, 23 September 2014
Pukul 10.30 Wita Korban dimakamkan di TPU Desa O’o. Setelah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Desa O’o Kec. Dompu, Kab. Dompu. Pada Acara Pemakaman tersebut pihak keluarga memberikan sambutan di wakili oleh Ust. Abdul Jalil serta Ust. Muhammad Taqiyuddin.
Sumber: http://www.voa-islam.com/ arrahmah.com

Membunuh Satu Orang Muslim Seakan Membunuh Semuanya

Membunuh satu orang Muslim (yang tidak halal dibunuh) sama dengan membunuh seluruhnya, dan lebih dahsyat dibanding lenyapnya dunia. Karena telah ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dan ditegaskan pula oleh Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya.
Firman Allah Ta’ala,

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS Al-Maaidah:32).
Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. (HR. An-Nasai (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 366 kali, 1 untuk hari ini)