Oleh : Dr. Slamet Muliono (Dosen UIN Sunan Kalijaga dan Direktur PUSKIP/Pusat Kajian Islam dan Pendidikan)

Peran Mus’ab bin Umair dalam mengislamkan penduduk Madinah sangat besar. Hal itu bisa dilihat dari kontribusinya dalam meletakkan dasar Islam dan berdakwah kepada tokoh-tokoh penting Yatsrib, khususnya kabiah Khazraj dan Aus. Kelengkapan pribadi sosok Mush’ab seperti kekokohan tauhid, kepandaian dan kefasihan dalam berbicara, kematangan dalam berdakwah, serta sentuhan hati yang lembut, maka tidak ada satu pun pintu penduduk Madinah kecuali memeluk agama Islam.

Peran Mush’ab bin Umair bisa dilihat dalam sejarah awal sebelum adanya peristiwa hijrah, dimana orang-orang Madinah datang ke Mekkah dan melakukan pertemuan dengan Nabi Muhammad. Peristiwa perjanjian Aqabah tercatat bahwa terdapat 6 orang yang datang ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Pada tahun berikutnya, kembali 12 orang yang masuk ke dalam agama Islam. As’ad bin Zurarah merupakan muslim pertama yang nantinya akan didatangi oleh Mus’ab saat diutus Nabi untuk berangkat ke Madinah.

Perjanjian Aqabah dan Peran Mush’ab

Dalam perjanjian Aqabah pertama, nabi mengatakan untuk menghindari perbuatan syirik, mencuri, berzina, membunuh anak, berdusta, memaksiati perkara-perkara ma’ruf. Bahkan Nabi menyampaikan pesan bahwa barang siapa yang taat maka pahala dari Allah dan barangsiapa yang melanggar maka wajib ditegakkan had di dunia, dan hal itu sebagai penghapus dosa. Setelah delegasi pulang ke kampung mereka, maka Nabi Muhammad mengutus duta pertama untuk mengontrol keislaman orang-orang yang mengikuti perjanjian Aqabah.

Mus’ab bin ‘Umair dipilih Nabi untuk datang ke Madinah, dan langsung menuju rumah As’ad bin Zurarah. Kehadiran Mus’ab di rumah As’ad bin Zurarah mengusik Sa’ad bin Mu’ad dan Usaid bin Hudhair. Sa’ad yang memiliki hubungan persaudaraan dengan As’ad bin Zurarah, kemudian mengutus Usaid untuk mendatangi Mus’ab dan diperintahkan untuk mengusir keduanya.

Ketika akan didatangi Usaid, maka As’ad mengabarkan kepada Mush’ab tentang hadirinya seseorang yang akan mengusirnya. Usaid mendatangi keduanya dan memarahinya dengan alasan telah mencela agama nenek moyang mereka. Maka Mus’ab memerintahkan Usaid untuk duduk dan mendengarkan perkataannya. Apabila suka maka bisa melanjutkannya dan bila tidak suka, dia akan rela pergi. Mus’ab menjelas Islam, tauhid, pentingnya berbakti pada orang tua, kemudian dibacakan Al-Qur’an. Saat mendengar perkataan itu maka Usaid terkesima dan menyatakan dirinya untuk masuk Islam dan ingin mengetahui bagaimana caranya menjadi Islam. Maka diminta mandi, bersuci dan shalat 2 rakaat. Setelah masuk Islam, Usaid mengatakan bahwa di belakangnya ada orang penting yang apabila dia masuk Islam maka tidak akan tersisa penduduk Yatsrib kecuali masuk ke dalam agama Islam.

Ketika kembali kepada Sa’ad, maka Usaid terlihat tenang-tenang saja tanpa enjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Usaid berkeinginan untk mengajak Sa’ad masuk Islam tetapi dia tahu diri bahwa Sa’ad adalah pembesar yang disegani. Usaid justru mengatakan bahwa berkata bahwa As’ad bin Zurarah akan dibunuh Mush’ab. Karena memiliki hubungan saudara, maka Sa’ad mendatangi Mus’ab untuk melampiaskan amarahnya. Setelah sampai ke tempat Mus’ab, maka terlihat oleh keduanya dalam keadaan baik. Sehingga Sa’ad merasa tertipu Usaid karena As’ad tak terlihat dalam ancaman Mush’ab. Maka Sa’ad mengatakan kepada As’ad akan membunuhnya karena menjelek-jelekkan agama nenek moyangnya. Andaikata bukan karena anak bibinya, maka Sa’ad akan  akan membunuhnya.

Pada saat itu, Mus’ab dengan tenang meminta kepada Sa’ad untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan disampaikannya. Bila tidak cocok maka akan rela meninggalkan tempat ini dan bila sesuai maka boleh meneruskannya. Setelah Mush’ab menjelaskan Islam dan ajarannya, maka dia membacakan ayat, sehingga Sa’ad berubah wajah dan ingin masuk Islam. Setelah masuk ke dalam agama Islam, maka Sa’ad mengumumkan kepada kaumnya dan menyatakan “Demi  Allah, wahai kaumku, bagaimana posisiku di hadapanmu. Maka mereka menjawab, “Kamu adalah junjungan kami, orang yang paling utama. Maka Sa’ad mengatakan ” wahai kaumku, para laki-laki dan perempuan, haram hukumnya bagimu untuk berbicara denganku sebelum kalian masuk ke dalam agama Islam.” Setelah pernyataan Sa’ad, maka tidak ada dari penduduk Madinah yang masuk Islam kecuali hanya satu orang yang bernama Al-Usairin.

Diplomasi dan Jihad Dakwah Mush’ab

Tidak bisa dipungkiri bahwa peran dan kontribusi Mush’ab dalam mengislamkan penduduk Madinah sangat besar, sehingga ketika Nabi dan para sahabatnya hijrah ke Madinah, maka sambutan mereka sangat luar biasa. Kecerdasan Nabi dalam menanam duta Islam untuk membuka lahan dakwah begitu tepat. Betapa tidak, pilihan terhadap Mush’ab untuk memasuki kota Madinah dan tampil dengan gagah berani dan meyakinkan, sehingga dakwahnya bisa diterima oleh para pembesar dan tokoh masyarakat Madinah.

Kecerdasan dan kemampuan Mush’ab dalam mengajak berdialog dan berdiskusi dengan oarng yang berpengaruh sehingga membuatnya terkesima. Tokoh yang tadinya marah besar dan berniat mengusirnya, tetapi justru berhasil diyakinkan dan mau meniti jalan dakwah. Bukan hanya itu, Tokoh itu juga berhasil diyakinkan untuk berpegang teguh dengan Islam dan mengajak masyarakatnya untuk mengikuti jejaknya.

Mush’ab adalah anak tercinta dari keluarga kaya raya, namun karena memeluk Islam, maka keluarganya membuangnya dan mencabut semua fasilitas dari dirinya. Melepas kekayaan dan berjalan di atas yang jalan mulia benar-benar dijalani Mush’ab hingga akhir hayatnya. Mush’ab meninggal di medan jihad saat perang Uhud tanpa pernah merasakan nikmatnya kehidupan dunia. Dia meninggal di medan perang, dimana pakaiannya yang dikenakannya tidak bisa menutup seluruh tubuhnya. Kalau kain pakaiannya digunakan untuk menutup kepalanya, maka kakinya terlihat. Sebaliknya kalau kain pakaianna digunakan untuk menutup kakinya, maka wajahnya terbuka. Semoga Allah akan membalas kebaikannya dengan surga yang tiada kekurangan bagi hamba-Nya yang maksimal dalam berdakwah dan berjuang di jalan Islam.

Surabaya, 26 Agustus 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 203 kali, 1 untuk hari ini)