.

 

Kuasa hukum menyebut bahwa somasi dari pihak Senkom harus dibuktikan. Dakwaan yang menyebut Adam ‘menghina’ Senkom adalah topeng Islam Jamaah harus menghadirkan ahli tata bahasa untuk membuktikannya.

“Topeng. Apakah topeng itu penghinaan? Apakah bila disandingkan dengan kelompok tertentu memenuhi unsur- untuk dituntut? Sebab penghinaan itu ada bentuknya dua, ada formil ada materil. Kita akan bawa itu ke pengadilan, apakah ini sudah sesuai prosedur atau belum,” ujar Farhan yang juga anggota TPM Bekasi.

Inilah beritanya.

***

 

Penasehat Hukum Adam: Penerapan Pasal UU ITE Tak Bisa Sembarangan

Publikasi: Selasa, 17 Rabiul Akhir 1435 H / 18 Februari 2014 14:30

Farhan Hazairin, Tim Pengacara Muslim (TPM) Bekasi, pertanyakan penetapan pasal UU ITE

Bekasi, An-Najah.Net – Kuasa hukum Adam Amrullah, Farhan Hazairin SH menyatakan bahwa penerapan pasal UU ITE tak bisa dikenakan kepada sesorang secara sembarangan. Sebab, untuk menyatakan seseorang terbukti menghina harus disertai alasan dan bukti yang jelas.

Menurut Sumber Kiblat.Net Penasehat Hukum Adam Amrullah, Farhan Hazairin menyatakan tidak bisa sembarangan seseorang melakukan penghinaan dengan mengenakan sangsi hukum UU ITE.

“Penghinaan itu tak bisa disebut sembarangan ini penghinaan, UU ITE ini sangat hati-hati sebenarnya, gak bisa sembarangan. Kalau kita mau menyebut seseorang itu menghina harus ada digital forensiknya, harus ada ahli bahasanya”, tutur Farhan di ruang pemeriksaan Polsek Bekasi Selatan, Jumat, (20/09) saat mendapingi Kliennya..

Seperti diberitakan Kiblatnet sebelumnya, Adam Amrullah mantan anggota LDII/Islam Jama’ah dikenai pasal pencemaran nama baik dan tindak pidana UU ITE Pasal 27 ayat 3 oleh Ormas Senkom.

Menurut Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) apabila terbukti menghina seseorang, bisa diancam pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar.

Secara lengkap, ayat itu berbunyi “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” Selanjutnya, tercantum di Pasal 45 UU ITE, sanksi pidana bagi pelanggar pasal 27 ayat (3) yaitu penjara enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

Namun, pihak kuasa hukum menyebut bahwa somasi dari pihak Senkom harus dibuktikan. Dakwaan yang menyebut Adam ‘menghina’ Senkom adalah topeng Islam Jamaah harus menghadirkan ahli tata bahasa untuk membuktikannya.

“Topeng. Apakah topeng itu penghinaan? Apakah bila disandingkan dengan kelompok tertentu memenuhi unsur- untuk dituntut? Sebab penghinaan itu ada bentuknya dua, ada formil ada materil. Kita akan bawa itu ke pengadilan, apakah ini sudah sesuai prosedur atau belum,” ujar Farhan yang juga anggota TPM Bekasi. (Ismet).

***

Apa itu topeng?

Inilah makna topeng dan  contoh penggunaannya dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

to·peng /topéng/ n 1 penutup muka (dr kayu, kertas, dsb) yg menyerupai muka orang, binatang, dsb: waktu merampok dia memakai –; 2 ki kepura-puraan untuk menutupi maksud sebenarnya; kedok: gerakan kebatinan itu sebenarnya hanya sbg — organisasi yg terlarang; (KBBI).

 Ketika ada kalimat, “Senkom adalah topeng Islam Jamaah” seharusnya diteliti.

Pertama, apakah Adam itu mengatakan dari dirinya sendiri atau mengutip. Kalau mengutip dari siapa.

Kedua, Islam Jamaah apakah ada hubungannya dengan Senkom.

Dengan menelusuri seperti itu, baru dapat dinilai apakah perkataan  “Senkom adalah topeng Islam Jamaah” itu benar atau tidak. Seberapa nilai benar dan tidaknya, serta apakah memenuhi syarat untuk dituntut sebagai penghinaan.
Ketiga, apakah Islam Jamaah itu ada ajaran pura-pura atau tidak. Di aliran sesat tertentu ada semacam kewajiban pura-pura yang disebut taqiyah, dan aliran yang lain menyebutnya bukan taqiyah tetapi bithonah. Kalau memang Islam Jamaah ada ajaran taqiyah atau bithonah atau apalah namanya, berarti kalimat “Senkom adalah topeng Islam Jamaah” itu hanyalah berita mengenai keadaan. Dan itu nilainya tidak sampai pada pensifatan. Kecuali misalnya ditambah dengan sang, jadi « sang topeng » (“Senkom adalah sang topeng Islam Jamaah”) maka baru pensifatan. Sebagaimana kalimat «Kang Mbedigol si pincang itu baru saja lewat »  berbeda dengan kalimat « Kang Mbedigol yang jalannya pincang itu baru saja lewat » . Lafal si pincang sudah merupakan penetapan sifat, Sedang lafal « yang jalannya pincang » hanyalah keterangan keadaan sebagai penjelasan. Dalam hal ini lafal si pincang yang sudah jelas menetapkan sifat, (bukan hanya keadaan saat lewat saja) pun masih perlu diteliti dulu, apakah ada muatan penghinaan atau tidak. Apalagi yang hanya menyebut keterangan keadaan untuk menjelaskan, maka hanyalah berita keadaan belaka.

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 2.009 kali, 1 untuk hari ini)