Alhamdulillahi Robbil ‘Alamien.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Sholawat dan Salam semoga tetap tercurah atas Nabi Muhammad SAW, yang tiada nabi lagi susudahnya, dan atas keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.

Amma Ba’du,

Buku ini kami beri judul KUPAS TUNTAS KESESATAN DAN KEBOHONGAN LDII, berisi bukti-bukti yang sangat nyata tentang ke-bohongan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia).

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muttafaqqun ‘alaihi yang berasal dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa kata Shiddiq (benar, jujur) dan Kadzdzab  (dusta, bohong) itu diucapkan oleh Rasulullah SAW dalam satu hadist yaitu: “’alaikum bishshidqi“ (wajib atas kamu berlaku jujur atau benar) dan “iyyakum wal kadziba” (jauhilah oleh kamu dusta atau bohong), sehingga judul buku ini kami beri judul seperti yang tersebut di atas.

Apa dan bagaimana sebenarnya kesesatan dan kebohongan LDII? Silahkan baca dan teliti dengan cermat materi-materi pengajian dan buku-buku ajaran milik LDII yang kami kutip dalam buku ini. Oleh sebab itu, dengan data-data yang kami kemukakan, kesesatan dan kebohongan yang dilakukan oleh LDII sungguh sangat nyata. Di antara buku-buku yang dicetak khusus bagi interen LDII yaitu Kitab AL JAAMI’USH SHOHIH MINAL QUR’ANI WAL AHAADISTISH SHOHI-HAH sebanyak tiga jilid dan makalah-makalah yang dikeluarkan oleh pihak LDII sendiri seperti buku/makalah Cinta Alam Indnesia (CAI) yang diadakan oleh LDII setiap tahun khusus bagi generasi muda LDII atau yang disebut dengan GENERUS (generasi muda penerus) LDII.

Materi dari buku ini sengaja dikutip berulangkali dari materi CAI yang mereka adakan setiap tahunnya, dari mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2006. Bahkan sampai materi pengajian bulanan LDII, yaitu bulan September 2006, dengan maksud agar pembaca mengetahui bahwa doktrin LDII itu tidak berubah dari dahulu sampai sekarang, serta sebagai bantahan atas pernyataan LDII bahwa LDII sudah berubah dan tidak lagi menyebarkan ajaran Islam Jamaah (Istilah LDII sudah mempunyai paradigma baru).

Coba perhatikan isi buku LDII yang berjudul TUGAS DAN KEWAJIBAN, EMPAT SERANGKAI, KEUANGAN ORGANISASI DAN TIM TUJUH (Tim Tujuh  yaitu: Tim Surga-Neraka, Tim Agniya(orang kaya), Tim Perkawinan (Tim yang menjaga jangan sampai orang LDII nikah dengan orang kafir atau orang di luar LDII), Tim Olah RagaTim Kematian, dan Tim Utang-Piutang. Semuanya bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Tim 7 ini dibina dan dihidupkanilaa yaumil  qiyamah (sampai hari kiamat).

Dalam buku pedoman LDII tersebut diatur bagaimana cara berbohong dengan cara yang sangat rapi, seperti bisa dibaca pada halaman 19 cetakan 2005 Bagian Ke-VI tentangPengurus Organisasi:

A. TUGAS-TUGAS

…………

2. Menyelesaikan kasus yang timbul dan cara mengatasinya lewat organisasi (bisa pandai membawa diri cara fathonah, bithonah (berbohong), budi luhur, bagai dalang tidak kekurangan lakon)

………..

  • Menangani secara serius pembekalan fathonah, bithonah (berbohong), budi luhur bagi jamaah baru/muallaf bersa-ma mubaligh/pengurus/tim lain.

6. Memberikan pertimbangan dari sisi fathonah, bithonah (berbohong), budi luhur terhadap program/rencana ke-giatan yang tergolong terkontrol/“Ke dalam”.

            …………

C. NASEHAT IJTIHAD YANG BERKAITAN

  1. Petunjuk praktek fathonah, bithonah (berbohong), sikap kita jika di tengah pengajian didatangi oleh pejabat.
  2. Nasehat bab para jamaah yang didapuk ngurusi organisasi supaya berfaham double.

Jamaah supaya faham dan mengerti bahwa organisasi yang dibentuk di dalam jamaah ini adalah salah satu alat untuk me-lancarkan agama Alloh yang haq, untuk melancarkan Qur’an hadist jamaah termasuk pelaksanaan budi luhur, agar Qur’an hadist Jamaah bisa hidup lancar, berkembang, berbuah baro-kah, sambung-bersambung ila yaumil qiyamah, maka didapuk sebagai pimpinan organisasi supaya mempunyai kefahaman double yaitu masalah luar dan dalam.

a. KE LUAR

………………

Kalau berbicara dimana tempat harus bisa membatasi diri, tidak cor-cor, tidak tluyar-tluyar dan bisa menjaga bithonah (berbohong) terhadap pejabat, bisa menggambuhi dengan baik sehingga para penjabat tidak mempunyai perasaan yang jelek/tidak curiga dan tidak menganggap negatif.

……………………….

Dan pengurus organisasi dalam menghadapi masalah luar supaya bisa pandai-pandai membawa diri cara fathonah, bithonah (berbohong), budi luhur bagai dalang yang tidak ku-rang lakon.

b. KE DALAM

Bisa membuat situasi aman, tenteram, tenang, rukun dan da-mai di dalam jamaah, tidak membuat keresahan, tidak me-nakut-nakuti, tidak memojokkan, tidak menjatuhkan kepada sesama jamaah…..

Kutipan di atas sekedar contoh bagaimana cara orang LDII berbuat dalam menipu orang di luar LDII yaitu tidak boleh kehabisan akal, tidak boleh kehabisan cara bagaikan dalang yang tidak kurang/ kehabisan lakon. Yang dikutip oleh penulis di atas baru sebagian kecil dari materi buku pedoman intern LDII yang berjudul TUGAS DAN KEWAJIBAN. (buku aslinya ada pada LPPI)  

Kemudian, dalam masalah hukum Islam penulis mengambil contoh fatwa Imam LDII sbb.:

KUMPULAN PENJELASAN PERATURAN AGAMA

(Materi Pengajian bulanan LDII, 16 September 2006, sebanyak 54 Masalah)

……….

  1. BAB KAFARAH:
  2. Onani, amal sholih pusat I bulan atau uang Rp 2000/hari  = Rp 60.000,-
  3. Sempetan/mairil (homo), amal sholih dipusat 3 bulan atau uang Rp 2000/hari = Rp 180.000,-
  4. Aborsi, amal sholih dipusat 6 bulan atau uang Rp 2000/hari = Rp 360.000,-

Dari peraturan agama yang dibuat oleh LDII tersebut di atas, secara jelas menyatakan bahwa perbuatan bejat seperti onani, homo, dan aborsi dijadikan proyek oleh Pusat organisasi LDII untuk memperoleh uang. Coba bayangkan perbuatan bejat berubah menjadi amal sholih setelah dibayar dengan uang. Perbuatan bejat tersebut bukan di-berantas malahan dipelihara demi untuk pemasukan uang. Ini semua bukan ajaran Islam tetapi ajaran setan dan iblis laknatullah. Dan sungguh terkutuk perbuatan ini.

Peraturan lainnya dalam Kumpulan Penjelasan Peraturan Agama tersebut adalah:

  1. BAB FARO’ID YANG PERLU DINASEHATKAN KE JAMAAH.

Masalah waris itu sudah ketentuan Alloh, contoh kasus. Pensiun Rp 600.000,- Sementara ahli warist tinggal istri (janda) yang dapat 1/3 dari uang pension tersebut, yaitu Rp 200.000,- dan yang 2/3 adalah “ROD” (Rp 400.000) masuk baitul maal (sabi-lillah). Lalu bagaimana kehidupan janda tersebut dengan uang Rp 200.000/bulan dalam kehidupan yang makin tinggi biaya hidupnya? Jawabnya: pada prinsipnya bagian harus diridloi dulu/diyakini itulah ketentuan Alloh yang harus ditaati adapun untuk kehidupan Rp 200.000 dirasa tidak cukup untuk masa sekarang, maka solusinya si janda atau tim faraid atau ke-imaman setempat nembung kepada bapak Imam Pusat bagai-mana kebijaksanaannya.”

Hukum Fara’id seperti ketentuan di atas bukan ketentuan Allah, tetapi ketentuan dari Imam LDII. Fara’id menurut ketentuan Allah dan Rasul tidak demikian. Coba bayangkan seorang janda yang ditinggal suami dengan gaji (alm) suaminya Rp. 600.000,- hanya mendapat bagian sebesar Rp 200.000,- Sedangkan sisanya sebesar Rp. 400.000, dirampok oleh Imam LDII dengan menjual hukum waris dalam Islam, bukan main jahatnya Imam LDII ini. Janda tersebut bu-kannya dibantu, malah dirampok haknya dengan berdalihkan hukum Islam untuk kepentingan baitul maal fii sabilillah LDII.

Dengan demikian, apa yang dikemukakan serta disebarkan oleh DPP LDII, baik dalam buku DIREKTORI-nya yang sudah dicetak berulang kali maupun maupun dalam CD ataupun dalam tulisan yang LDII sebarkan kepada masyarakat, Ormas Islam Tingkat Pusat, Majelis Ulama Indonesia, Pemerintah, dsb. adalah sebuah kedustaan yang dilakukan oleh LDII karena mengikuti doktrin BITHONAH-nya seperti yang banyak dikutip dalam buku ini. Dan harus diingat bahwa LDII berdakwah dengan tiga cara, yaitu: 1. Berdakwah bil lisan (dengan lisan);

2. Berdakwah bil haal (dengan perbuatan); dan 3. Berdakwah bis siyasah (dengan politik/strategi), yaitu: Fathonah, Bithonah, Budi Luhur.

Berdasarkan fakta yang dikemukakan di atas, jelas sudah bahwa LDII masih tetap seperti dahulu, tidak berubah sedikitpun, dan tidak ada paradigma baru yang mereka gembar gemborkan, yang ada adalah cara baru dalam hal menipu umat Islam. Ajarannya ada-lah ajaran Islam Jama’ah serta merupakan salah satu aliran sesat – menyesatkan, yang sudah dilarang oleh Kejaksaan Agung RI pada ta-hun 1971. oleh karena itu, kita wajib waspada dengan kelicikan LDII, juga umat Islam wajib dijaga dari tipu muslihat LDII, yaitu doktrinfathonah, bithonah, dan budi luhur-nya,-

Semoga kita selamat dari kesesatan dan senantiasa diberi hi-dayah oleh Allah SWT. Dan bagi siapa saja yang ingin membuktikan/ menyaksikan serta mengkopi buku-buku/makalah-makalah LDII yang menjadi sumber rujukan dalam tulisan ini, kami persilahkan untuk datang ke LPPI. Serta kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII, apabila merasa keberatan dengan isi buku ini, mari kita bersama-sama mengadakan Debat Terbuka di hadapan umat, dengan cara yang ditentukan dan diatur oleh Islam, yaitu: Wajaadilhum billatii hiya ahsan, dan tentunya penulis akan menunjukkan semua buku-buku LDII yang menjadi sumber rujukan dalam tulisan ini, agar umat dapat membuktikannya sendiri sejauh mana kesesatan dan kebo-hongan LDII.

Untuk memperkuat bukti tentang kebohongan LDII, kami ku-tipkan 55 Nasehat Tertulis Imam Kepada Jamaah (PERINTAH). Nomor 55 dari perintah IMAM tersebut berbunyi:

  1. Nasehat Imam kepada Jamaah supaya satu-satunya jamaah amar ma’ruf mencari penginsof menurut kemampuannya dengan cara fathonah, bithonah, budi luhur agar untung–menguntungkan.

Dan nasehat tersebut ditutup dengan kalimat:

Semua ijtihad dan nasehat yang diberi nomor 1 s/d 55 ini supaya dithoati dan dikerjakan dengan niat mukhlis lillahi karena Alloh dan jangan lupa fathonah, bithonah, budi luhur, mudah-mudahan Alloh paring manfaat dan berkah. Amin.- (hal.72 )

Apabila kita perhatikan, perintah tersebut sangat paradoks sekali, di satu sisi menyuruh jama’ahnya agar Mukhlis Lillahi karena Alloh, akan tetapi di sisi lain disuruh berbohong dengan istilah Bithonah. Sedangkan Alloh dan Rasul-Nya memberikan larangan yang keras terhadap perilaku bohong/dusta.

Begitu juga dengan Nasehat Tertulis Imam Kepada Jama’ah (LARANGAN), sebanyak 24 Larangan. Di akhir ke-24 larangan itu ditutup dengan kalimat:

Semua ijtihad dan nasehat yang diberi nomor 1s/d 24 di atas supaya dithoati dan dijauhi betul-betul dengan niat ibadah mukhlis lillahi karena Alloh dan jangan lupa fathonah, bithonah, budi luhur, mudah-mudahan Alloh paring manfaat dan berkah. Amin. (hal. 73)

Lagi-lagi disuruh Mukhlis karena Alloh di satu sisi, dan di sisi lain di-suruh bithonah(berbohong).

Pendeknya, tidak ada urusan dan pekerjaan yang dilakukan oleh pihak LDII seperti menengok orang sakit, melawat orang yang meninggal dunia, ikut mengantarkan yang meninggal ke pemakaman, saat mengaji kalau mendadak dimasuki pejabat, dan hal-hal lainnya, semua itu telah diatur dengan taktik Taqiyyah. Hal ini merupakan senjata pemungkas untuk menipu, mengibuli orang di luar jama’ah LDII, baik pejabat tingkat tinggi maupun rakyat biasa, yang dikenal dengan istilah doktrin fathonah, bithonah, budi luhur.

Demikianlah hasil pelacakan penulis terhadap doktrin Taqiyyah LDII yaitu fathonah, bithonah, budi luhur. Adapun ayat Al Qur’an yang dijadikan dasar/dalil sehingga mereka berbuat Bithonah (kebo-hongan) itu, yaitu berdasarkan doktrin yang diberikan oleh Nurhasan Ubaidah Lubis, Imam besar Islam Jama’ah dan dilanjutkan oleh LEMKARI, kemudian dilanjutkan lagi oleh LDII, dan berlaku ilaa yaumil qiyamah (sampai hari kiamat), adalah surat Ali Imran ayat 118, yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّواْ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاء مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ (سورة آل عمران : 118)

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi te-man kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata keben-cian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mere-ka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”(QS. Ali Imran: 118)

Akhir kata, Kami berterima kasih kepada semua pihak atas se-gala bentuk bantuannya, sehingga buku ini bisa diterbitkan. Semoga Allah SWT membalas semua amal baik dengan balasan yang berlipat ganda. Dan semoga Allah meridloi kita semua.

AmienYa Rabbal ‘alamien.

Wabillahit Taufiq Wal Hidayah.

Wasalam,

Jakarta, Dzulhijjah 1427 H / Desember 2006 M

Amin Djamaluddin

Penulis

Sumber: lppipusat.com/Januari 17, 2016

(nahimunkar.com)