Bendera Kuwait. (Foto: Reuters)


KUWAIT CITY – Kuwait menjadi negara kelima setelah Arab Saudi, Bahrain, Sudan, dan Uni Emirat Arab (UEA) yang menarik duta besarnya dari Iran pasca-penyerangan Kantor Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran oleh demonstran pada 2 Januari.

Massa yang berunjuk rasa memprotes eksekusi ulama Syiah Nimr al Nimr oleh Pemerintah Arab Saudi meluapkan kemarahan mereka dengan membakar dan menyerbu gedung kedutaan di Teheran.

Merespons peristiwa tersebut, Arab Saudi menarik duta besarnya dari Iran dan memutuskan hubungan diplomatik kedua negara. Langkah itu kemudian diikuti Bahrain, Sudan, dan UEA.

Seperti dilaporkan Associated Press, Selasa (5/1/2016), serupa dengan keempat negara tersebut, Kuwait pada Selasa 5 Januari juga mengumumkan penarikan duta besarnya dari Iran dengan pernyataan yang disampaikan melalui kantor beritanya.

Meski begitu, tidak dijelaskan bagaimana penarikan dubes tersebut memengaruhi hubungan diplomatik Iran-Kuwait.

Pemerintah Iran menyampaikan penyesalan atas serangan terhadap Kedutaan Arab Saudi di Teheran dan menahan berjanji akan menangkap orang-orang yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sampai saat ini dikabarkan pihak berwenang Iran telah menahan sedikitnya 40 orang dan masih mencari pelaku lainnya yang terlibat dalam serangan.

Pemutusan hubungan antara Iran dan Arab Saudi segera memicu reaksi dunia internasional yang meminta kedua negara berpengaruh di Timur Tengah itu untuk memperbaiki hubungan. Konflik keduanya dikhawatirkan akan mempengaruhi proses pembicaraan damai di Suriah dan Yaman yang tengah berlangsung.

Sumber: okezone.com/ Rahman Asmardika/Selasa, 5 Januari 2016

(nahimunkar.com)