Kyai Jadug/Kebal pun Dibantah Orang


Ilustrasi: Coba Nilai Sendiri,Ulama Tapi Ngajarin Ilmu Kebal! Ajaran Siapa Dlm Isl4m Ada Sprti Itu?/ foto YouTube

Diberitakan, kyai jadug/Kebal melatih ilmu kebal untuk 50 Banser NU di Kencong Jember Jawa Timur (Ramadhan 1439H/ Mei 2018) agar tahan bom demi apa yang disebut menangkal teror bom.

Orang pun ada yang berupaya meluruskan masalah itu, jangan sampai menjurus ke syirik alias kemusyrikan, dosa terbesar. Maka dimuatlah artikel sebagai berikut.

Masalah Ilmu Kebal

Ilmu kebal bisa disebut bukan dari setan, kalau ilmu itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau para sahabat. karena ini menyangkut hal ghaib dan kekuatan, serta jurusan sihir. Ternyata tidak ada ilmu kebal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun sahabat.

Dalam Islam justru adanya adalah berupa larangan-larangan, misalnya mengenai waahinah (aji-aji untuk melemahkan musuh, untuk menguatkan diri pemiliknya) maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membuangnya. Bila tidak, maka pemiliknya tidak akan beruntung (di akherat). Maka tanggung jawabnya besar/ berat sekali, orang yang bilang bahwa “Tidak semua ilmu kebal dan sakti berasal dari setan”, karena perkataan itu bertentangan dengan Islam, karena Islam justru sangat melarangnya, di antaranya yaitu hadits mengenai waahinah.

 

عن عمران بن حصين رض{ : أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً – أَرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ – فَقَالَ : وَيْحَك مَا هَذِهِ ؟ قَالَ : مِنْ الْوَاهِنَةِ . قَالَ أَمَّا إنَّهَا لَا تَزِيدُك إلَّا وَهْنًا , انْبِذْهَا عَنْك فَإِنَّك لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْك مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا } . (رواه أحمد بسند لا بأس به).

أنَّه صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أبصرَ على عضدِ رجلٍ حلقةً أراهُ قالَ: من صُفرٍ قال: ويحَكَ ما هذِهِ؟ قال: منَ الواهنة قال: أما إنَّها لا تزيدُكُ إلَّا وَهنًا انبِذها عنك فإنَّكَ لو متَّ وَهيَ عليكَ ما أفلحتَ أبدًا.

الراوي : – | المحدث : الهيتمي المكي | المصدر : الزواجر

الصفحة أو الرقم: 1/1666 | خلاصة حكم المحدث : صحيح

“Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, celaka kamu, apa ini?? Orang itu menjawab: menolak lemah (wahinah)?. Maka Nabi berkata kepada orang itu, Adapun sesungguhnya ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, maka lepaskanlah gelang itu darimu, karena sesungguhnya apabila kamu mati sedangkan ia masih ada padamu, tentulah engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.?(HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba’sa bih, menurut Al-Haitami: shahih ).

Hadits tersebut kaitannya adalah dengan kemusyrikan. Silakan simak di link ini: https://www.nahimunkar.org/batu-dan-kemusyrikan/

 

Ketika Al-Lajnah Al-Daaimah di Saudi Arabia (terdiri dari kibar ulama/ ulama-ulama besar) ditanya tentang sepotong kain atau sepotong kulit dan sejenisnya diletakkan di atas perut anak laki-laki dan perempuan pada usia menyusu dan juga sesudah besar, maka jawabnya:

 

“Jika meletakkan sepotong kain atau kulit yang diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan. Jika itu untuk tujuan yang benar seperti menahan pusar bayi agar tidak menyembul atau meluruskan punggung, maka ini tidak apa-apa.” (Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fatawa al-‘Ilaj bi Al-Qur’an wa Assunnah, ar-Ruqo wamaa yata’allaqu biha, halaman 93).

 

***

 

Ilmu Kebal Dari Setan Bukan Ajaran Islam. . . !!!

Rasulullah ﷺ saja saat perang Uhud sudah memakai baju besi, memakai pelindung kepala dari besi, masih tetap berdarah dan terluka.

 

عَنْ سَهْلٍ، قَالَ: ” لَمَّا كُسِرَتْ بَيْضَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِهِ، وَأُدْمِيَ وَجْهُهُ وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ، وَكَانَ عَلِيٌّ يَخْتَلِفُ بِالْمَاءِ فِي المِجَنِّ، وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَغْسِلُهُ، فَلَمَّا رَأَتِ الدَّمَ يَزِيدُ عَلَى المَاءِ كَثْرَةً، عَمَدَتْ إِلَى حَصِيرٍ فَأَحْرَقَتْهَا وَأَلْصَقَتْهَا عَلَى جُرْحِهِ، فَرَقَأَ الدَّمُ

Dari Sahl –semoga Allah meridhainya-, ia berkata, “Tatkala pecah pelindung kepala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wajah beliau berdarah dan pecah gigi seri beliau Ali bolak-balik mengambil air dengan menggunakan perisai (sebagai wadah air) dan Fatimah mencuci darah yang ada di wajah beliau. Tatkala Fatimah melihat darah semakin banyak lebih daripada airnya maka Fatimahpun mengambil hasir (yaitu tikar yang terbuat dari daun) lalu diapun merobeknya dan menempelkan robekan tersebut pada luka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berhentilah aliran darah” (HR. Bukhari no 2903)

 

Via FB Hadis Shahih

 

(nahimunkar.com)

 

***

 

Mengajukan pertanyaan (bantahan) demi membela kyai jadug

Dari pihak yang membela Kyai Jadug/ Kebal rupanya ada yang mengajukan pertanyaan yang tampaknya sopan, tetapi di balik itu mengandung jebakan. Kurang lebih pertanyaannya:

 

Anda pernah dengar nama Kyai Anu (disebut nama kyai tersohor yang sangat dihormati di golongan tertentu). Pertanyaan itu ditujukan kepada pihak yang mengkritik Kyai Jadug/Kebal.

 

Apabila dijawab pernah dengar, dan sebagainya, maka dimungkinkan masuk perangkap. Tinggal ditanyakan, beranikah anda menyebut Kyai tersebut sebagai pengamal ilmu setan (karena beliau juga jadug/ kebal?).

 

Rupanaya yang ditanya itu tidak mau masuk perangkap, maka dijawab: Contoh terbaik adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau adalah uswatun hasanah.

 

Dalam Al-Qur’an ayatnya jelas:

 

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا} [الأحزاب: 21]

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah [Al Ahzab21]

Mengajukan pertanyaan (bantahan) demi membela kyai jadug, kadang sampai njlimet (ngejlimet). Ada yang sampai pertanyaannya begini:

 

Nabi yusuf menyuruh saudaranya mmbw baju dan menyapukannya ke muka nabi yakub pertanyaannya, 1. knp mesti baju bukan doa saja, 2. Mengapa cerita ini disebutkan dlm alquran, whai ustadz

 

Ketika pertanyaan itu dijawab, namun pihak penanya (pembantah demi membela kyai jadug) tetap ga’ terima, maka jawabannya sebagai berikut:

 

Allah yang Maha Tahu tentang itu. Dan Allah tentu tahu akan ada orang yang mempertanyakan itu, maka mengutus Rasulullah saw yang memberi peringatan kepada manusia, di antaranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوا الْجَدَلَ. ثُمَّ تَلاَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ اْلآيَةَ:

Tidaklah tersesat satu kaum setelah mendapatkan hidayah yang dahulu mereka di atasnya melainkan mereka diberi sifat berdebat.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ

Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5633)

 

***

 

Waahinah dan Tamiimah Tidak Bisa Diqiyaskan dengan Baju Nabi Yusuf

Pertanyaan njlimet itu kenapa diajukan, kemungkinan memang ada tujuan yaitu arahnya mengqiyaskan baju Nabi Yusuf dengan (apa yang dipraktekkan sebagian orang dalam hal ilmu kebal di ataranya ) aji-aji (waahinah) dan jimat-jimat atau tangkal-tangkal (tamiimah).

 

Nabi saw telah melarang waahinah (aji2 untuk melemahkan musuh, atupun diyakini untuk memperkuat diri), dan melarang tamiimah (jimat, tangkal).

 

Hadits tentang waahinah telah disebutkan di atas, yakni: “Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, celaka kamu, apa ini?? Orang itu menjawab: menolak lemah (wahinah)?. Maka Nabi berkata kepada orang itu, Adapun sesungguhnya ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, maka lepaskanlah gelang itu darimu, karena sesungguhnya apabila kamu mati sedangkan ia masih ada padamu, tentulah engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.?(HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba’sa bih, menurut Al-Haitami: shahih ).

Hadits tersebut kaitannya adalah dengan kemusyrikan.

 

Adapun tentang tamiimah (jimat atau tangkal) larangan itu tegas, bahkan disebutnya syirik.

 

Sayangnya, jimat, aji-aji, pelet, aji pengasihan, tangkal-tangkal jampe-jampe/ ruqyah yang tidak syar’i, masih mereka pakai dan percayai. Padahal itu kesyirikan, dosa terbesar.

 

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

Sesungguhnya mantra-mantra, jimat, dan tiwalah (pelet – aji pengasihan), adalah syirik.” (HR. Abu Daud No. 3383, Ibnu Majah No.3530, Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3530)

 

Kalau ada yang membantahnya dengan mengqiyaskan waahinah (aji2) dan tamiimah (jimat, tangkal) itu (diqiyaskan) dengan baju Nabi Yusuf yang dikirimkan ke bapaknya (yakni Nabi Ya’qub, hingga ketika baju itu diusapkan maka Nabi Ya’qub yang tidak bisa melihat jadi bisa melihat lagi); maka pengqiyasan seperti itu sama dengan menganggap baju Nabi Yusuf itu tamiimah (jimat). Celoteh orang seperti Itu lebih buruk dibanding menyamakan emas dengan kotoran manusia hanya karena sama2 warnanya kuning.

 

Kenapa tidak boleh diqiyaskan?

 

Karena mengenai waahinah (benda sebagai aji-aji untuk diyakini sebagai menguatkan diri dan melemahkan musuh) dan tamiimah (jimat-jimat, tangkal-tangkal) itu sudah jelas larangannya dalam hadits, bahkan dalam jurusan syirik (kemusyrikan). Ketika dalilnya sudah ada dan jelas, maka tidak boleh diqiyaskan lagi. (dalam hal ini diqiyaskan untuk dicari hukum baru lagi yang bukan melarangnya tapi untuk dibolehkannya). Itu tidak boleh. Karena sudah ada kaidah:

 

لَا قِيَاسَ مَعَ النَّصِّ

Tidak ada qiyas (analog, perbandingan untuk menentukan hukum) jika sudah ada nash (teks dalil yang jelas). Atau

 

لا اجتهاد مع النص

Tidak ada ijtihad jika sudah ada nash”

 

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

 

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا (275) }

padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS Al-Baqarah: 275).

 

{وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ2 وَحَرَّمَ الرِّبا}

أيسر التفاسير للجزائري (1/ 269)

2 في هذا دليل على أنه لا قياس مع النص، فالمشركون قاسوا الربا على البيع فأبطل الله قياسهم؛ لأن الربا حرام فلا يقاس على البيع الحلال.

Dalam hal ini ada dalil bahwa ” Tidak ada qiyas jika sudah ada nash”. Orang-orang musyrik mengqiyaskan riba dengan jual beli, maka Allah membatalkan qiyas mereka. Karena riba itu haram, maka tidak boleh diqiyaskan dengan jual beli yang halal. (Aisarut Tafasir oleh Al-Jazairi).

 

Demikian pula, waahinah (aji-aji kekuatan dan untuk melemahkan musuh) dan tamiimah (tangkal – jimat) yang telah dilarang/ haram dalam Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh diqiyaskan dengan baju Nabi Yusuf (yang justru merupakah anugerah keberkahan dari Allah Ta’ala) yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 586 kali, 1 untuk hari ini)