Sekelas Syuriah NU tidak mungkin tidak mengerti ini (masalah petingnya kepemimpinan dalam Islam, red nm). Bisunya mereka pasti ada sesuatu yg amat dahsyat hingga menyebabkan amanat agama mereka tersandera.

Berikut ini tulisan seorang kyai dari Jombang Jawa Timur (tempat lahirnya NU 1926) yang mempertanyakan keadaan NU sekarang.

***

Tanzili Syams: ini adalah tulisan dari Dr. KH. A. Mustain Syafi’i, MA (Pengasuh ponpes Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang)

“MASIHKAH NU SEBAGAI ORGANISASI KEAGAMAAN?

Keputusan pemuda NU Jakarta dlm pilgub DKI NETRAL. Identik dengan para kiainya di jajaran Syuriah yg hingga kini membisu soal ini. Tak heran, siapa dulu dong bapaknya?. Artinya :

1. Rupanya, Penguasa NU skrang tdk menganggap NASHBUL IMAM sbgai bagian dr agama, shingga tidk masalah umat nahdliyin dipimpin nonmuslim. Lalu apa gunanya kiai sbagai pewaris Nabi? Pernahkh nabi, para sahabat, tabi’in, al-salaf al-shalih, kiai-kiai pendiri NU membiarkn nonmuslim menguasai umat Islam ? Sbagai muslim, Penjajah ditumpas bkn semata krn mmbela negara, tp lebih krn agama. Mknya ada istilah perang SABIL, RESOLUSI JIHAD dll. Pejuang Yg gugur dihukumi syahid, tnpa dimandikn, tanpa dikafani, tnpa dishalati

2. Nashbul Imam adalh masalah agama yg sangat serius. Krn pemimpin adlh penentu kebijakan yg bedampak besar kpd rakyat. Jk pemimpin nonmuslim menntukan kebijakn yg merugikan Islam / umat Islam , demi Allah- mereka yg memilih dia berdosa, termasuk yg membiarkn tnpa fatwa agama, apalagi tim suksesnya.

3. Netral, memangnya NU itu KPU?. Jk pr cagub seiman, wajar NU netral. Tp ini beda. Isu SARA dilarang jika utk mmprovokasi, menfitnah, merendahkn dll. Tapi apa salahnya , apa yg dilanggar bila muslim memilih pemimpin seiman dan menolak yg tdk seiman tnpa merendahkn keimann yg lain. Adalh hak bg Setiap warga memilih pemimpn sesama Suku, tnpa merendahkn suku lain. Sesama Ras, tnpa menfitnah Ras yg lain atau sama Adat tnpa menghina adat lain. Itu hak berdemokrasi.

4. Sangat mmprihatinkn jk NU hanya vokal soal tahlilan, yasinan, ziarah kubur yg diganggu. Tp tkd punya nyali memberi fatwa politik yg agamis & demokratis. Pdhal ini masalah besar trkait kemaslahatan umat baik di dunia lbih2 di akhirat. Hanya muslim minimalis (musailim) yg mmandang politik hanya masalh dunia. Sadarilah, Trcatat 65 kali perang (ghazwah & sariyah) selama preode Nabi demi memaslahatkan umat via kekuasaan.

5. Sekelas Syuriah NU tdk mungkin Tidak mengerti ini. Bisunya mereka pasti ada sesuatu yg amat dahsyat hingga menyebabkn amanat agama mereka tersandera. Dan umat sdh tahu hal itu dr omongan mereka sendiri (?).

6. Kiai Syuriah NU bukanlah kiai pesanan, bukn pula kiai jadian yg dijadikan oleh pr broker Politik. Kiai Syuriah adalh benar2 ulama pewaris Nabi yg dipilih secara mukhlis and bersih dr sum’ah dan ambisi sehingga memiliki sifat syaja’ah yg terpuji, selalu “YAKHSYA ALLAH” dan tidak “YAKHSYA AL-NAS”. Harusnya… Kiai Syuri’ah NU bukan Kiai yg diperalat broker politik.. Kiai NU adl Kiai yg mukhlis, ikhlas.. tidak sum’ah, yg beramal untuk diperdengarkan.. Miliki sifat syaja’ah, berani karena Allah dan (membela) Rasulullah.. selalu Yakhsya Allah, hanya takut pd Allah.. tdk Yakhsya Al Naas, takut pd manusia, celaan org2 yg mencela. (KH A. Musta’in Syafi’i, Ponpes Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang)

Via FB Tanzili Syams

(nahimunkar.com)

(Dibaca 74.115 kali, 1 untuk hari ini)