• Centang perenang di tubuh NU

Di Sumatera Barat ada anggota DPRD dari PKB tertangkap basah, diduga sedang berzina di mobil menjelang tahun baru kemarin. Tapi di tempat lain ada kyai NU yang bukunya dibagi-bagi di daerah Purbalingga Jawa Tengah, Selasa 8/1 2013 . di antara isinya: “Barang siapa yang tidak mencoblos PKB, partai politik yang didirikan oleh PBNU pada tahun 1998, maka orang NU itu jika wafat dipastikan tidak akan masuk surga.” (buku KH. Ushfuri Anshor, Belum Terlambat Sebelum Kiamat, halaman 8)

Ancaman dalam buku itu sangat kontras dengan keadaan PKB itu sendiri, yang di antaranya ada berita seperti ini:

Anggota DPRD PKB tertangkap mesum di mobil

PADANG – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pasaman Barat (Pasbar), “J”, diduga melakukan perbuatan tidak senonoh di dalam mobil pribadinya bersama seorang wanita di Korong Simpang, Kenagarian Ketaping, Kabupaten Padangpariaman, Sabtu (29/12) malam lalu. https://www.nahimunkar.org/19360/limbah-perayaan-tahun-baru-aqidah-jebol-akhlaq-ambrol/

Anggota DPRD PKB yang tertangkap basah itu tentu saja hasil dari pemilu yang lalu. Dan Kyai NU yang diberitakan ini ternyata ketika menjelang pemilu yang lalu, dia sudah menulis di situsnya tahun 2008.

Situs ushfurianshor.wordpress.com menampilkan tulisan KH Ushfuri Anshor berjudul :

Warga NU Wajib dan Fardlu ‘Ain Pilih PKB

Tulisan panjang dalam situs itu ringkasnya sebagai berikut:

Fahamilah firman Allah SWT, dibawah ini :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan para pemimpin dari golongan kamu” (QS. An-Nisa : 59)

Dan yang dimaksud wajib taat kepada “Ulil amri dari golongan kamu” adalah tergantung dari golongan (organisasi) manakah mereka itu.

QS. An-Nisa ayat 59 tersebut berlaku untuk umum tidak pandang bulu, berlaku untuk kyai, ustadz,pejabat, tokoh masyarakat dan masyarakat pada umumnya…

Dengan pengertian ayat tersebut itu berlaku untuk umum, siapa saja, kapan saja, bahkan berandaikan bagaimanapun masuk dalam pengertian ayat tersebut, maka :

  1. Seandainya Hadratusy Syaikh Kyai Hasim Asy’ari sekarang hidup lagi dan beliau masih tetap merasa bahwa dirinya NU,kemudian tidak dukung PKB. Maka Kyai Hasim Asy’ari KHIANAT terhadap NU.
  2. Seandaninya malaikat Jibril turun ke bumi dan diberinya sifat-sifat manusia oleh Allah SWT sebagaimana malaikat Harut Marut dahulu, lalu malaikat Jibril sowan ke PBNU (KH. Hasyim Muzadi). Beliau berkata kepada Pak Kyai Hasyim : “Pak Kyai! Saya malaikat Jibril”, seketika itu Pak Kyai HAsim kaget dan bertanya kepadanya “Ada perlu apa malaikat?”. Malaikat Jibril menjawab “Saya perlu menyampiakan pernyataan untuk menjadi warga NU”. Pak Kyai Hasyim dengan sangat bangga menerimanya. Eh… ternyata malaikat Jibril tidak dukung PKB, maka malaikat Jibril berarti KHIANAT terhadap NU.

USHFURI ANHSOR

Khodim Al-Ma’had Al-Ishlah Desa Jatireja Kec. Compreng Kabupaten Subang – Jawa Barat. 04/11/2008 Posted by ajisyach http://ushfurianshor.wordpress.com/

***

Betapa beraninya kyai NU itu dalam berbicara tentang ayat Al-Qur’an ditarik-tarik ke coblosan dalam pemilu. Sampai-sampai malaikat Jibril pun dibawa-bawa, diandaikan kalau masuk NU tapi tidak mencoblos PKB berarti khianat. Astaghfirullah… kenapa berani mengandai-andaikan seperti itu Pak Kyai?

Berikut ini berita tentang buku kyai NU tersebut yang dibagi-bagi di Purbalingga baru-baru ini.

***

Kyai NU: Siapa yang Tidak Coblos PKB, Jika Wafat Tidak Masuk Surga

BK KH Ushrufi  Anshor_84652375

PURBALINGGA (an-najah.net) – DPP PKB menerbitkan sebuah buku kontroversial yang ditulis oleh KH. Ushfuri Anshor yang berjudul “Belum Terlambat Sebelum Kiamat.” Buku tersebut terbilang kontroversial dan tendensius karena menghukumi orang-orang NU (Nahdlatul Ulama) yang tidak mencoblos Partai PKB jika wafat tidak akan masuk surga.

Di halaman 8 buku tersebut, KH Ushfuri Anshor menulis, “Barang siapa yang tidak mencoblos PKB, partai politik yang didirikan oleh PBNU pada tahun 1998, maka orang NU itu jika wafat dipastikan tidak akan masuk surga.”

Selain itu, di halaman lainnya, Kyai Pesantren Buntet Cirebon ini juga mengutip pendapat Kyai Mustahdi Abbas yang menafsirkan kata “syibron” dalam hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Abbas:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

”Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah”. (Muttafaq ‘Alaih)

Menurut penulis buku tersebut, Kyai Mustahdi Abbas menafsirkan kata( شِبْرًا ) dalam hadits tersebut antara lain yaitu, termasuk warga NU yang benar-benar patuh kepada NU-nya tetapi tidak mau memilih PPP pada pemilu waktu itu. “Saya yakin seandainya KH Mustahdi Abbas sampai sekarang masih hidup, pasti beliau akan berfatwa: Seluruh warga NU wajib pilih PKB, jika tidak maka dosanya tidak diampuni oleh Allah SWT. 

BK KH Ushrufi  Anshor_84652376

Menurut sumber an-najah.net yang enggan disebutkan namanya di Purbalingga, pada Kamis (10/01), buku ini dibagikan kepada pengurus DPC PKB Purbalingga dan juga tokoh-tokoh di lingkungan Nahdlatul Ulama di Purbalingga saat gelaran Silaturahmi NU dan PKB di Gedung PKB Purbalingga, Selasa (8/1).

Pada acara tersebut DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Purbalingga menyerukan agar warga NU bersatu guna memenangkan PKB pada Pemilu 2014. Partai tersebut tengah mengincar sembilan kursi di DPRD Purbalingga.

BK KH Ushrufi  Anshor_84652377

“PKB besar, NU besar. NU besar PKB juga besar,” tegas Ketua Dewan Syuro DPC PKB Purbalingga, Supono kepada Suara Merdeka dalam acara yang dihadiri ribuan warga NU di Kota Perwira tersebut.

Dia mengungkapkan, PKB memasang target untuk bisa menduduki sembilan kursi di DPRD Purbalingga. Pada periode sekarang, mereka mendapat jatah lima kursi. Untuk mencapai target, kesolidan warga NU jadi kuncinya.

Sikap warga NU untuk merapat kepada PKB dinilai wajar. Sebab, menurut Deklarator PKB, Sudarno, posisi NU dan PKB seperti layaknya hubungan antara anak dan ayah.

Ketika menyampaikan sambutan, Ketua DPC PKB Purbalingga, Slamet Wahidin mengatakan, sudah waktunya orang NU berpikir bahwa warga NU dipimpin warga NU. “Percayakan perjuangan kepada orang NU,” serunya. [fajar]

Publikasi: Kamis, 27 Safar 1434 H / 10 Januari 2013 16:03

***

Dengan menulis seberani itu, maka Kyai NU ini akan kewalahan menghadapi konsekuensi-konsekuensi. Di dunia ini saja, dia harus mengubah pengandaiannya tentang Malaikat Jibril yang tahun 2008 diandaikan sowan ke Hasyim Muzadi ketua umum NU, kini harus mengubah, Malaikat Jibril sowan ke Said Aqil Siradj (SAS). Kalau diumpamakan Said Aqil Siradj didatangi Malaikat Jibril, maka Pak Kyai NU ini juga harus mengubah jaminan apa yang dilontarkan SAS untuk warga NU. Karena sebelumnya, SAS sudah menjamin iman warga NU tidak luntur walau mengucapkan selamat natal kepada orang Kristen. Sebagaimana diberitakan:

itoday – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menjamin keimanan warga NU tidak luntur walau mengucapkan selamat Natal bagi warga Kristiani.

“Terutama warga NU tidak luntur imannya kepada Allah walau walaupun mengucapkan selamat Natal,” kata Kyai Said, Kamis (20/12) sebagaimana dikutip dari Rakyat Merdeka Online.

Kata Kiai Said, umat Islam tidak perlu dilarang memberikan ucapan selamat Natal karena tidak mengubah akidah seseorang. “Saya pastikan akidahnya tidak akan bergeser dan berkurang atau luntur imannya kepada Allah. Maka menurut saya, tidak perlu dilarang seperti itu,” tegasnya.

Www.Itoday.Co.Id

Friday, 21 December 2012 09:44

Jaminan itu sendiri telah bertentangan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang khawatir akan goyahnya keimanan ummat Islam.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu memohon kepada Allah agar hatinya diberi kekuatan untuk tetap teguh di atas agama-Nya. Anas radhiallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seringkali mengucapkan, “Wahai (Dzat) Yang membolak balikkan hati, kuatkanlah hatiku di atas agamamu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan apa yang engkau bawa, apakah engkau mengkhawatirkan kami?” Beliau menjawab, “Iya, sesungguhnya hati itu berada di antara dua jari-jemari Allah yang Dia bolak-balikkan sesuai dengan kehendak-Nya.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya,  Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Silsilah Shahihah no.2091.)

Kenyataan yang terjadi di NU ini, baik ketua umumnya maupun kyainya yang sedang dibicarakan ini, kedua-duanya tampaknya terkena penyakit kebangetan. Yang satu kebangetan untuk berkarib-karib dengan kekufuran, padahal Allah tidak ridha kepada kekufuran (lihat QS 39:7);  yang satunya kebangetan dalam fanatic golongan yang dapat menjadi ‘ashobiyah yang dilarang Islam. Bahkan sampai mewajibkan mencoblos PKB dengan mengancam, kalau tidak maka tidak masuk surga. Kebangetan-kebangetan itu ketika tujuannya untuk mengabdi kepada Allah saja menjadi ghuluw (melampaui batas) dan dilarang, apalagi kearah membela kekufuran dan fanatic golongan sampai sebegitu. Sedangkan  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk menjauhi ghuluw karena ghuluw itu penyebab utama kerusakan agama.

” إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ ” رواه   أحمد إسناده صحيح على شرط مسلم

Jauhilah olehmu sikap ghuluw (melampaui batas) karena sesungguhnya orang dulu sebelum kamu sekalian rusak hanyalah karena melampaui batas dalam agama. (HR Ahmad, isnadnya shahih atas syarat Muslim).

Dari kenyataan di lapangan dan petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, pantas untuk diajukan suatu pertanyaan: Apakah ketika ketua umum suatu golongan sudah sebegitunya, dan juga di antara kyainya ada yang sebegitu, belum merupakan bukti nyata bahwa sejatinya golongan ini adalah rusak parah dalam agamanya?

Sekaligus gejala nyata itu menjadi jawaban dari sebagian orang yang bertanya, kenapa kalangan sepilis (sekuler, pluralis agama, dan liberalis) yang aqidahnya rusak dan bahkan merusak aqidah itu tampaknya banyak yang berasal dari golongan yang dibicarakan ini.

Wallahu a’lam.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.943 kali, 1 untuk hari ini)