Ma’ruf Amin mengundurkan diri dari jabatan rais aam PBNU. Pengunduran diri ini dilakukan Sabtu 22/9, sehari sebelum melaksanakan kampanye Pemilu 2019 pada Ahad, 23 September 2018.

Ma’ruf Amin  menyerahkan jabatan rais aam itu kepada wakilnya (Wakil Rais Aam) Kyai Miftahul Akhyar untuk menggantikan posisi Ma’ruf Amin.

Siapakah Kyai Miftahul Akhyar itu? Dia adalah Kyai NU yang pernah mengecam GP Ansor dan semacamnya yang ditengarai mau pilih pemimpin non Muslim (pilih Ahok non Muslim dalam kasus Pilgub DKI Jakarta).

Di antara kecaman terhadap GP Ansor ataupun orang NU yang mau pilih Ahok (non Muslim), Kyai Miftahul Akhyar melontarkan perkataan: “Penista kok dibela-bela.” (Perlu diketahui, Ma’ruf Amin yang kini digantikan posisinya itu pun justru masuk ke barisan depan kelompok yang dikenal sebagai para pendukung Ahok penista Agama).

Untuk mengenal Kyai pengecam GP Ansor itu, mari kita simak ulang beritanya.

***

Kyai NU Kecam Ansor: Keputusan Muktamar NU Telah Haramkan Pilih Pemimpin Non Muslim, kok Ansor Masih Macam-Macam

Posted on 16 April 2017 – by Nahimunkar.com

Wakil Rais Am PBNU, KH Miftahul Akhyar menegaskan sikap NU dalam Pilkada DKI Jakarta di putaran kedua ini harus memilih pemimpin yang muslim. Karena memilih pemimpin non muslim itu haram hukumnya.

Sikap kyai sepuh NU ini menanggapi banyaknya pendapat generasi muda NU seperti dari Gerakan Pemuda Ansor yang malah memilih pemimpin non muslim.

“Memilih pemimpin Islam sebenarnya hak yang dijamin konstitusi. Tidak ada konstitusi yang dilanggar. Lalu kenapa malah memilih pemimpin non muslim? Keblinger itu,” kata Kyai Miftahul dalam keterangan resmi yang diterima wartwan, di Kantor PWNU DKI Jakarta, Sabtu (15/4).

Dia menegaskan, dirinya banyak mendengar banyak warga Nadhliyin yang menyebutkan kalau dari sudut pandang konstitusi dibolehkan pemimpin non muslim.

“Tapi kita sebagai warga NU harus ingat, secara fiqih kita mewajibkan umat Islam memilih pemimpin muslim. Dan itu juga (memililh pemimpin muslim) haknya dijamin konstitusi,” tandas dia.

Makanya, sambung dia, bagi yang memilih pemimpin non muslim seperti anak-anak GP Ansor itu, karena hanya melihat hendak menolak dhoror-nya cagub Anies (karena didukung PKS), padahal belum jelas dhoror-nya (mafhum).

“Akhirnya, mereka (Ansor) justru menarik beberapa dhoror yang nyata yaitu Ahok dan orang-orang kafir. Ini keblinger. Lho wong masih bisa memilih pemimpin muslim, kok malah menghalalkan memilih non muslim,” katanya.

Jadi menurut sang Kyai, tidak benar dalilnya anak-anak Ansor ini. Mestinya, kata dia, dipakai dalil sebaliknya, yaitu memperbolehkan memilih Ahok akan dipakai wasilah non muslim lainnya merebut pimpinan negara, termasuk Presiden. Itu haram!

“Ini modus (anak Ansor). Kelihatan sekali ada kepentingan. Masa’, pemuda-pemuda NU cuma mengerjakan ‘PR’ dari orang lain yang kepentingannya justru banyak merugikan,” kecam dia.

Bahkan mestinya, kata dia, Ansor menyuruh Ahok atau PDIP dan partai pendukungya supaya mundur. Karena, dia (Ahok) yang menjadi sebab.

“Ini malah dibolak-balik. Yang mengharamkan (pilih Ahok) dianggap sebab. Padahal, itu hanya akibat. Ya, akibat dari ulah Ahok sendiri. Karena Ahok itu, selain non muslim juga omongan dan akhlaknya itu jelek. Penista. Kok dibela-bela,” jelasnya.

Menurut dia, sudah ada keputusan Muktamar yang mengharamkan memilih gubernur non muslim. “Kok mereka (Ansor) masih neko-neko (macam-macam),” kecamnya.(jk/akt)

Sumber: eramuslim.com

(nahimunkar.com)

***

Adapun berita tentang Ma’ruf Amin mengundurkan diri dari jabatannya Rais Aam PBNU, silakan simak berikut ini.

***

Miftahul Akhyar Rais Aam PBNU

Penulis: MIPada: Minggu, 23 Sep 2018, 01:00 WIB

ANTARA/M Agung Rajasa

CALON wakil presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin resmi meninggalkan jabatannya Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pengunduran diri ini dilakukan sehari sebelum melaksanakan kampanye Pemilu 2019 pada Minggu, 23 September 2018.

Sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) PBNU, Ma’ruf menyerahkan jabatan rais aam itu kepada wakilnya. Orang yang menggantikan posisi Ma’ruf ialah Wakil Rais Aam, Miftahul Akhyar.

“Sesuai AD/ART PBNU, terhitung hari ini, saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Rais Aam PBNU,” kata Ma’ruf di Kantor PBNU, kemarin.

Mundurnya Ma’ruf dari jabatan di PBNU merupakan pilihan terbaik untuk kepentingan yang jauh lebih besar. Pemikiran Ma’ruf sebagai pimpinan organisasi masyarakat Islam terbesar di Tanah Air ini akan dituangkan untuk bangsa dan negara.

“Saya dididik di lingkungan pesantren yang memegang teguh keyakinan, bahwa apabila bangsa dan negara memanggil untuk mengabdi, siapa pun harus tunduk dan patuh,” ujarnya.

Sebelum menerima pinangan untuk mendampingi calon presiden petahana Joko Widodo, Ma’ruf meminta arahan dan saran dari banyak masyayikh dan para kiai. Hal itu dapat membawa manhajul fikri dan manhajul harakah NU ke ranah yang lebih luas, yaitu ranah berbangsa dan bernegara.

“Tugas sebagai rais aam merupakan amanah yang amat mulia bagi semua kader­ NU, tak terkecuali saya. Namun, di sisi lain ada situasi yang saya sebagai kader NU tidak bisa menghindar. Bangsa dan negara memanggil saya untuk memberikan pengabdian terbaik dengan dicalonkan sebagai wakil presiden,” ungkapnya.

Di sisi lain, cendekiawan muslim Din Syamsuddin juga mengajukan pengunduran dirinya menjadi utusan khusus Presiden Joko Widodo. Sikap itu diambil sebagai bentuk netralitasnya di Pilpres 2019.

“Saya sudah mengajukan pengunduran diri sebagai utusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban,” kata Din.

Surat pengunduran diri telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo. Presiden Joko Widodo mengatakan akan menerima kedatangan Din Syamsuddin terkait pengunduran dirinya sebagai utusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban.

“Saya juga belum terima beliau. Saya kira Senin (24/9) saya baru terima beliau ya,” kata Presiden. (Pol/Pro/Gol/*/P-1)/ http://mediaindonesia.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.349 kali, 1 untuk hari ini)